Minggu, 08 Agustus 2010

Monolog : MATINYA TOEKANG KRITIK – Agus Noor




Sebuah Teater Monolog
MATINYA TOEKANG KRITIK
Karya Agus Noor


Terdengar detak nafas waktu…

Sebelum pertunjukan – sebelum dunia diciptakan – denyut waktu itu mengambang memenuhi ruang – semesta yang hampa. Seperti denyut jantung. Terdengar detak-detik waktu bergerak. Seperti merembes dari balik dinding. Seperti muncul dan mengalir menyebar di antara kursi-kursi yang (masih) kosong…

Ketika para penonton mulai masuk ruang pertunjukan, mereka mendengar waktu yang terus berdedak berdenyut itu. Mereka mendengar suara detik jam yang terus berputar. Suara ddetak-detik waktu yang bagai mengepungnya dari mana-mana.[1] Sementara pada satu bagian panggung, mereka menyaksikan kursi goyang yang terus bergerak pelan seakan mengingatkan pada ayunan bandul jam. Bergoyang-goyang. Kursi itu temaram dalam cahaya. Terlihat selimut menutupi kursi itu, seperti ada orang yang tertidur abadi di atas kursi itu. Waktu berdenyut. Kursi terus bergoyangan.

Sesekali menggema dentang lonceng, terdengar berat dan tua.[2]
Kemudian bermunculan orang-orang berjubah gelap,[3] lamban berkelindan, seperti bayangan yang muncul dari rerimbun kabut waktu. Mereka bergerak menuju kursi goyang yang berayun-ayun pelan itu, berputaran mengepungnya, seperti para immortal yang tengah melakukan ritus purba.[4] Dan cahaya bagai gugusan kabut yang berputaran. Sampai kemudian sosok-sosok berjubah menjauhi kursi goyang itu.[5]

Kini, di bawah cahaya yang kepucatan, di kursi itu terlihat Raden Mas Suhikayatno, tokoh dalam monolog ini. Dia terlihat terlelap, bagai tertidur di rahim waktu yang abadi. Tapi ia juga terlihat gelisah, seperti dikepung mimpi. Makin lama ia terlihat semakin resah. Dan ia tiba-tiba tersentak meledak, tepat ketika terdengar jerit waktu: dering jam weker terdengar dari semua sudut. Jutaan jam weker berdering serentak di seluruh dunia. Disertai dentang berualang-ulang. Gema lonceng gereja. Bermacam-macam suara. Tumpuk-menumpuk. Mengembang dan menyusut. Kelebatan gambar-gambar.[6] Semua seperti muncul dan menggulung-gulung dalam ingatan Raden Mas Suhikayatno: Suara pesawat supersonik. Badai menggemuruh beergulung-gulung. Teriakan-teriakan. Suara perang. Suara-suara kemerosak gelombang radio. Di antara suara-suara itu terdengar suara Bung Karno membacakan Proklamasi[7] … lalu menghilang. Muncul suara lain, suara iklan yang lebih modern, lalu kemerosak gelombang radio lagi. Suara-suara dan gambar-gambar yang terus mengalir. Suara Bung Karno pidato berapi-api. Lenyap lagi. Dentang lonceng. Jam berdering. Suara Presiden Soeharto berpidato di depan MPR.[8] Gambar-gambar masa silam.[9] Gambar bertumpuk-tumpuk terus menerus. Kemudian perlahan menghilang…

Dan kesenyapan perlahan menjalar. Hanya terdengar waktu yang terus berdeyut.

Di kursi goyang itu. Raden Mas Suhikayatno terlihat begitu kelisah. Meracau kacau. Sampai kemudian dia terjaga, terengah-engah gelisah, kebingungan.

RADEN MAS SUHIKAYATNO:[10]
(Mengigau risau) Ini jam berapa?.. Tahun berapa?…
Sunyi, hanya terdengar desah nafas waktu yang pelan…

DENMAS:
(Pelan-pelan terbangun, berteriak memanggil) Bambaaang.[11] Bammbanggg!!! (Jeda) Di mana anak itu… (Kembali berteriak, jengkel) Bambaaaannggg!!… Ya, ampun, Mbang… Baru jadi pembantu saja sudah susah kalau dibutuhkan. Gimana nanti kalau jadi presiden! (Kembali berteriak memanggil) Mbaaanggg….. Bambanggg!!!

Terus saja sunyi, hanya terdengar desah nafas waktu. Raden Mas Suhikayatno kemudian bersandar di kursi goyang. Terlihat begitu kesepian. Seperti mengeluh. Seperti mendesah…

DENMAS:

Ini kutukan… Ataukah kemuliaan….

Terdengar jam tua bertendang, kemudian ada ketukan-ketukan, seperti suara tik-tak jam berdetak.

DENMAS:
(Seakan hanyut oleh gema suara yang didengarnya, kemudian bertanya entah pada siapa)
Kalian dengar suara itu?… Tua dan purba. Kalian bisa merasakan? Begitu lembut… bersijengkat lembut mendatangimu.

Suara tik-ak itu pelan konstan, seirama bicara Raden Mas Suhikayatno.

DENMAS:
Suara waktu! Berabab-abad aku mendengarnya… Terdengar di keretap hujan…, diantara kereta yang menderu… Dengung di sayap lebah… Desah di setiap pencintaa… (Menjadi melankolis dan merasa bahagia, seperti menghayati butiran-butiran waktu yang merembes ke dalam tubuhnya) Ya, itu suara waktu…

Tiba-tiba suara tik-tak itu berubah cepat – berdetak-detak dipukul-pukul jadi suara ketukan orang jualan siomay. Dan terdengar teriakan pedagang itu, “Maaayy…. Siomay…”

DENMAS:
(Jengkel, berteriak ke arah ‘pedagang siomay’ itu) Brengsek! (lalu ngomel sendiri) Saya kira suara waktu!… (Tergeragap, seperti tersadar, ingat sesuatu) Waduh… Jangan-jangan saya memang sudah ditinggalkan waktu. Terlambat! Ini ‘kan tanggal tujuh belas!

Raden Mas Suhikayatno cemas, gelisah…

DENMAS:
(Berteriak memannggil mencari-cari pembantunya) Bambaaangg… cepet ambilkan jas saya! Mereka pasti sudah menunggu saya….

Terdengar celetukan dari para pemusik; “Hai, Mas… Gelisah begitu kenapa?…”

DENMAS:
Saya mau ikut upacara tujuh belasan di Istana Negara…

Terdengar jawaban dan celotehan dari para pemusik: “Tujuh belasan apa!… Merdeka saja belum, kok!… Mas, ini masih jaman pra sejarah. Homo sapien saja belum ada… Adanya homoseks… dst”

Raden Mas Suhikayatno jadi bingung, tak percaya. Linglung kembali duduk di kursi goyang…

DENMAS:
Apa saya menderita amnesia, ya? (Menunjuk kepalanya) Waktu seperti ingatan yang bertumpuk-tumpuk. Saya mengira Minggu… ternyata Rabu. Sering saya mendapati diri saya berada di waktu yang salah.

Bersamaan dengan itu terlihat lagi tumpukan gambar-gambar berbagai peristiwa, menyorot ke arah Raden Mas Suhikayatno, seperti ingatan-ingatan yang berpusaran dalam kepalanya…

DENMAS:
Ini tahun berapa sebenarnya… Ini tahun berapa…

Sampai terlihat gambar orang-orang bersorban putih, berbaris berteriak.[12] Tapi bersamaan itu terdengar suara derap dan ringkik kuda…

Tiba-tiba terdengar suara,[13] bernada menggema: “Ta-hun… 1.9.9.8…”

DENMAS:
(Bingung, tak percaya) 1998?? Yang bener!

Suara itu terdengar lagi, menegaskan: “Ta-hun… 1.9.9.8…”

DENMAS:
Bukannya ini tahun 1828?

Suara itu kembali menegaskan dengan nada sama: “Ta-hun… 1.9.9.8…”

DENMAS:
Lha itu siapa…, orang-orang yang pakai seragam putih-putih itu…

Suara itu menjawab: “Mereka pasukan jihad.”

DENMAS:
Pasukan Jihad? (Sadar berada di waktu yang salah, waktu yang tak sebagaimana dikiranya) Saya kira pasukan Pangeran Diponegoro… (Bertanya meyakinkan) Bener, ini bukan tahun 1828?!

Suara itu memotong tegas menggema: “In-i Ta-hun… 1.9.9.8… In-i Ta-hun… 1.9.9.8… In-i Ta-hun… 1.9.9.8…”

DENMAS:
(Jengkel) Iya! Iya! Tapi ngomongmu nggak usah bergaya begitu dong! Malah kayak film hantu. Persis Uka-uka![14]

Tiba-tiba suara itu menjawab dengan biasa, memaki: “Oo asu!”

DENMAS:
Eeeh, malah memaki! Saya kutuk jadi Presiden Indonesia, mampus kamu! (Seperti tiba-tiba sadar, dan mencoba menjelaskan, ke arah penonton) Lho iya kan? Jadi Presiden Indonesia itu seperti dapat kutukan kok! Apa sih enaknya jadi Presiden Indonesia, coba? Di Indonesia, profesi presiden itu profesi yang sama sekali tidak menarik. Dari dulu kerjanya gitu-gituuuu melulu: selalu nyusahin rakyat. Kalau kalian termasuk golongan orang kreatif, tolong deh, nggak usah punya cita-cita jadi Presiden Indonesia. Malah nanti tidak kreatif.

Tugas, kewajiban dan tanggung jawab Presiden Indonesia itu monoton kok. Dari tahun ke tahun, sia pun yang jadi presiden, ya tugasnya tetap sama: meningkatkan angka… pengangguran; menambah jumlah devi… apa? Devisit uang Negara…; mencari pijaman luar negeri, menaikan harga BBM… Sama sekali nggak kreatif kan. Mbosenin.

Saya ngomong gitu, bukan karena saya dengki nggak jadi presiden, lho. (Seperti orang yang jijik pada sesuatu) Hiiihhh…., saya nggak mau jadi presiden.

Jangankan Presiden Indonesia… ditawarin jadi raja Hastina saja saya tidak mau kok. Emoh! Padahal Romo Semar sendiri lho yang nawarin. Katanya, saya ini lebih pantas jadi raja Hastina, ketimbang Yusdhistira, si Pandawa paling tua itu.

Saya ingat betuk kok waktu itu… Itu jaman ketika belum ada kerajaan-kerajaan di Jawa. Tapi saya sudah ada. Sudah tua dan imut seperti ini.

Waktu itu terjadi krisis di Hastina, karena Pandawa kalah main dadu. Romo Semar langsung tergopoh-gopoh menemui saya. (Bergaya wayang orang) “Kakang Raden Mas Suhikayatno, kamu harus menyelamatkan Hastina. Kamu harus jadi raja Hastina!” (Pause) Dengan halus saya menjawab, (kembali bergaya wayang orang) “Maaf, Dimas Semar…, maaf. Bukannya menolak, Dimas Semar. Tapi Maaf, Dimas Semar…, maaf. Saya sama sekali tidak punya cita-cita jadi raja di dunia wayang. Maaf lho, Dimas Semar…, maaf. Sekali lagi, maaf Dimas Semar… maaf…” [15]

Itulah track record saya… Saya memilih konstinten sebagai Tukang Kritik yang martabat. Itu yang saya pegang teguh sejak dulu. Sejak zaman Musa, zaman Babilonia… Sejak zaman saya masih jadi pacar gelapnya Cleopatra. Saya menolak diagung-agungkan seperti Julius Caecar. Saya menolak jadi tangan kanan Napoleon…, karena dia kidal.

Saya ini terlalu low profile untuk dijadikan pemimpin…

Itulah sebabnya, dulu saya sempet berantem sama Gajah Mada – karena saya menolak membantunya. Padahal kami temen sepermainan sejak kecil. Temen gaul gitu loh![16] . Suka main gundu dan mencuri buah maja sama-sama.

(Kepada para pemusik) Sssttt…, saya mau cerita…. Tapi ini rahasia lho ya… Jangan disebar-sebarin. Nanti penonton tahu… (Bergaya membisik, seolah berahasia, tapi bersuara keras hingga suara itu tetap saja sampai didengar penonton) Dulu…, semasa remaja, si Gajah Mada itu hobinya ngintip lho!… Nggak nyangka ‘kan, orang yang doyan ngintip begitu, bisa menyatukan Nusantara

Para pemusik menaggapi, tak mempercayai.

DENMAS:
Dibilangin nggak percaya!! Saya ini sering diajak dia ngintip perempuan yang lagi mandi (Sok gaya) Saya, sebagai orang yang menghargai perempuan, ya jelas tidak mau… Tidak mau ketinggalan ikut ngintip.

Nah, suatu senja…. (Mulai bergaya mempraktekkan apa yang dikisahkannya) si Gajah Mada mau ngintip nih… Ia mengendap-endap, sembunyi di balik belukar dan pepohonan. Persis Jaka Tarub ngintip bidadari mandi. Saya ngikut dibelakangnya, gemeteran… Takut ketahuan. Saya bilang, “Mad, Mad… Mada… kita pulang saja yuk…” Tapi dia tak mau. Dia malah naik ke pohon. Welah, sial! Di pohon itu ada sarang lebah, dan si Gajah Mada menyenggolnya. Langsung tawon-tawon itu menyerbu wajahnya…. Wuuut…wuuut… Itulah sebabnya, seperti pada gambar di buku sejarah yang sering kalian lihat: Gajah Mada bengkak wajahnya…[17]

Raden Mas Suhikayatno berjalan ke arah meja yang di tempatkan sedemikian rupa menurut kebutuhan tata setting dan artistik. Meja itu bergaya kuno, dengan sepasang kursi yang juga tua. Mengingatkan pada perabot seorang priyayi Jawa. Ada cangkir dan gelas di atas meja itu. Juga majalah dan koran yang tak rapi. Raden Mas Suhikayatno yang kecapaian karena terus-terusan bercerita, segera duduk di kursi. Menikmati minuman. Tapi kaget tersedak…

DENMAS:
(Menyemburkan minuman dari mulutnya, ngomel dan mengeluh) Astaga… Bambang! Ini kan teh dua hari lalu. (Berdahak seperti mencoba mengeluarkan sesuatu dari kerongkongannya) Saya sampai tersedak cicak! Bambanggg!!! Bambanggg….. (Jeda) Bener-bener punya bakat jadi presiden dia: kagak dengar meski sudah diteriakin… Alias budeg! Kata orang, budeg itu memang penyakit permanen presiden.

(Mengomel sambil mengambili majalah dan koran) Meja sampai berantakan begini… (Mencari-cari sesuatu di tumpukan koran dan majalah itu, sambil terus ngomel dan memanggil) Mbang, apa ada surat buat saya?… Saya ‘kan sudah bilang, semua mesti rapi. Biar saya tidak bingung begini. Dibilangin dari dulu, eh tetap nggak didengerin. Apa sih susahnya ndengerin. Dibilangin baik-baik, eh malah ngata-ngatain, “Dasar Tukang Kritik sirik!”

Saya ngritik bukan karna sirik. Saya ngritik karena saya ingin semuanya baik. Hingga hidup bertambah baik. ‘Kan enak kalau semua kelihatan baik. Saya nggak seneng kalau kamu jorok. Baju kotor. Jangan kayak seniman: celana dalem, lima minggu sekali baru ganti.

Dikritik memang sakit… Itu tak seberapa. Sebab orang yang suka mengritik itu justru lebih merasa sakit, bila kritiknya nggak didengerin. (Jeda) Untung saya cukup sabar sebagai Tukang Kritik. Saya nggak pernah marah, meski disepelekan. Buat apa marah? Nggak ada gunanya…… (Lalu berteriak memanggil pembantunya lagi, pelan) Mbang… Bambangg…. Orang itu mesti yang sabar…. Bambaaangg… (Lama-lama teriakannya makin tinggi dan bernada marah) Diancuk! Mbang, mana surat itu!… Bambaaang!! (ke arah penonton, masih mengeram marah) Kalian lihat sendiri kan, dia selalu menyepelekan saya… tapi saya tetep sabar… (kembali berteriak marah) Kamu taruh mana surat itu?!

(Sampai kemudian merasa disepelekan, dan mulai mengeluh kepada siapa pun yang mendengarnya, mengeluh ke arah penonton) Sakiiittt ati saya. Sakit, sakit, sakitttttt kik kik kit…. Kadang saya pikir, buat apa saya teriak-teriak marah begitu. Buat apa saya terus-terusan mengritik… Kadang saya merasa lelah juga kok jadi Tukang Kritik. Saya pingin berhenti mengritik. Tapi kalau berhenti mengritik, saya sendiri yang malah sakit. Baru semenit tidak mengritik, mulut saya langsung pegel-pegel. Sehari tidak mengritik, langsung bisulan pantat saya.

Yaah, barangkali memang beginilah resiko jadi orang yang sudah terlanjur dicap sebagai Tukang Kritik. Saya cuma dianggap kutu pengganggu. Tapi saya menerima dengan lapang dada semua perlakuan itu. Saya sabar, sabaarrr… saya sabar… (tapi kata ‘sabar’ itu diucapkan dengan intonasi mengeram tajam) Meski kalian terus menyepelekan orang macam aku[18]… Orang yang kalian cibir sebagai Tukang Kritik!! Kalian hendak mengapusku dari ingatan zaman. Kalian menatapku dengan mata penuh penghinaan…

Raden Mas Suhikayatno tersengal kelelahan, kepayahan di puncak kemarahannya. Kemudian ia berjalan ke meja lagi. Marah. Mengeram. Kalap mencari-cari sesuatu di tumpukan koran dan majalah yang langsung diacak-acaknya hingga berhamburan kemana-mana.

DENMAS:
Kalian memang mau melupakanku! Kalian mau melupakanku! Melupakanku!

Kemudian teriakan dan kemarahan itu perlahan melemah. Raden Mas Suhikayatno terisak, terhuyung-huyung menuju kursi goyangnya. Ia duduk di kursi goyang itu dengan tubuh gemetar. Meraih selimut dan segera menutupi tubuhnya yang gemetaran…

DENMAS:
(Terdengar seperti menghiba, seperti suara orang yang bersikeras mempertahankan harga dirinya)) Apa salah saya? Saya selalu tulus mengritik kalian… Tapi kenapa kalian memperlakukan saya begini?

Tak ada yang lebih menyakitkan, selain dilupakan…

(Mengagah-gagahkan diri, sikap seorang terhormat di hadapan kematian) Penjarakan saya! Ayo! Bunuh saya!…. Itu jauh lebih terhormat bagi Tukang Kritik macam saya…

(Lalu kembali gemetaran) Alangkah mengerikan dilupakan….

Kemudian Raden Mas Suhikayatno memegangi dadanya. Ia dihantam nyeri yang sangat. Kemudian berteriak serak dengan sisa-sia tenaganya. Teriakan itu terdengar tertahan di kerongkoannya,

DENMAS:
Bambaaaannggg…. Obat saya… Obat saya… Tolong… Air… Bam-banggg… Bammmmbaaannggg….

Suara Raden Mas Suhikayatno makin lama makin pelan, makin terdengar sebagai rerancauan. Cahaya di kursi goyang itu menggelap, ketika Raden Mas Suhikayatno sudah menutupi seluruh tubuhnya. Kursi itu hilang dalam gelap. Hanya terdengar suara Raden Mas Suhikayatno yang terus memanggili pembantunya: “Bambaaang…. Bambaaang…

Baaammmbaanngg…. dst…” [19]

Sementara itu, dari sebelah kiri kanan kursi, muncul sosok hologram yang sama persis dengan Raden Mas Suhikayatno. Tubuh dan wajahnya. Pakaiannya. Persis. Kedua sosok hologram itu memandang ke arah kursi goyang yang kini terlihat pucat di bawah cahaya yang menyorotnya, bergoyang-goyang, tertutup selimut – dimana seolah-olah ada Raden Mas Suhikayatno yang gemetaran di balik selimut itu. Untuk menegaskan itu, kursi goyang mestilah terus berayun-ayun pelan,[20] dan terus terdengar rintihan suara Raden Mas Suhikayatno yang sesekali meracau demam, sesekali memanggili pembantunya. Kedua hologram itu mulai bicara. Sebut saja mereka dengan nama Hologram 1 dan Hologram 2.[21]

HOLOGRAM 1:
Dia kelelahan…

HOLOGRAM 2:
Dia berusaha bertahan…

HOLOGRAM 1:
Nasibnya akan sama, seperti para Tukang Kritik lainnya… Pingsan di kursi kekuasaan!

HOLOGRAM 2:
Dia sedang menghimpun kekuatan…

Sementara suara erang Raden Mas Suhikayatno terkadang masih mengambang terdengar di sela percakapan dua hologram itu..

HOLOGRAM 1:
Dia sedang belajar menerima kekalahan…

HOLOGRAM 2 :
(Kepada hologram satunya) Kau sinis karena tak percaya takdir!

HOLOGRAM 1:
Aku tak menyerah pada takdir, karena tak ingin jadi kentir! Atau jadi kaum munafik sepertimu…

Sementara suara erang Raden Mas Suhikayatno terkadang masih mengambang terdengar di sela percakapan dua hologram itu..
HOLOGRAM 2:

Tapi aku tak menyerah… Seperti dia yang juga tak menyerah. Seperti semua Tukang Kritik yang hidup sepanjang sejarah…

HOLOGRAM 1:
Taik! Tukang kritik tak lebih cuma kaum munafik! Munafik! (menuding dan menghardir, terus-menerus) Munafik! Munafik….

Teriakan ‘munafik’ itu terus terdengar berulang-ulang, makin meninggi, dan dua sosok hologram itu lenyap. Sementara kursi goyang berayun cepat, gelisah. Raden Mas Suhikayatno yang disergap suara-suara itu kian meracau. Memanggil-manggil nama pembantunya. Suara Raden Mas Suhikayatno, makin lama makin meninggi : “Tidak… Tolong…. Bambang…. Bambang…..” [22]

Sampai kemudian ‘teriakan-teriakan itu’ menghilang. Tetapi kursi goyang itu terus bergoyang-goyang gelisah…

Muncul Bambang,[23] membawa sapu lidi, tergopoh-gopoh mendekati kursi goyang.

BAMBANG:
Iya, Tuan…. Ada apa, Tuan…. Maaf…… Ya, Tuan…

Bambang bingung dan gugup memandangi kursi goyang itu, melihat majikannya yang meracau memanggil-manggil namanya: “Bambang… Baammbbaaangg…” Sampai kemudian suara itu berhenti. Raden Mas Suhikayatno tertidur lelap. Diam. Tak ada suara…

BAMBANG:

(Sambil membetulkan selimut, seakan-akan menyelimuti majikannya agar lebih tenang tidurnya) Kasihan Tuan…

Terdengar suara, seakan ada benda jatuh atau sesuatu yang mengejutkan.

BAMBANG:
Sssssttttt… Tolong, jangan berisik. Biar Tuan bisa istirahat… Kasihan dia. Akhir-akhir ini kelihatan gelisah. Bingung. (Jeda) Yaa, sebenarnya dari dulu sih Tuan saya itu orangnya membingunkan. Saking membi-ngungkannya, sampai-sampai saya juga ikut bingung.

Tuan saya orangnya eksentrik. Kerjanya nyalahin orang. Ada ajah yang diomelin. Inilah, itulah. Saya dikatain ginilah, gitulah. Tiap hari kerjanya ngritiiiiikkkk melulu. Apa saja dikritiknya… Kalau Anda pakai kaos kuning, dan dia ngelihat, pasti langsung ngritik: “Ih kuning kayak tai…” Nanti kalau Anda ganti pakai kaos merah, tetep saja dikritik: “Ih, apa hebatnya kaos merah!”… (Begitu seterusnya). [24]

Bambang kemudian melihat majalah dan koran yang berhamburan berantakan, dan segera memberesi.

BAMBANG:
(Sambil memeberi koran majalah itu) Nanti kalau bangun, pasti ngomel-ngomel… (seolah menirukan majikannya) “Ngapain kamu berantakin! Dasar nggak becus jadi pembantu!” (pause) Saya memang nggak becus atuh jadi pembantu. Nama saya ajah Bambang. Mana teh ada pembantu namanya Bambang. Saya mah pantesdnya jadi presiden, uiy… Meski jerawatan gini!

Yang nyebelin, nanti kalau udah saya beresin, tetep ajah saya diomelin… (kembali menirukan majikannya) “Siapa yang suruh ngrapiin! Lihat, halamannya jadi sobek gini!” (pause) Begini salah, begitu salah. Begitulah Tuan saya. Di dunia ini nggak ada yang bener dimatanya.

Bambang mau menaruh koran dan majalah itu di satu tempat, tetapi mendadak terdengar suara Raden Mas Suhikayatno, setengah mengigau: “Jangan di situ…”

BAMBANG:
(Kaget mendengar suara itu) Gila kan…lagi tidur ajah masih tetep suka ngritik!

Lalu membawa kembali koran-koran itu dan menaruh di ajah meja, agak dilempar begitu saja. Dan Langsung terdengar suara Raden Mas Suhikayatno, meracau: “Yang bener… yang rapi…”

BAMBANG:
(Gemes, jengkel) Hhhhhmmm. Gemes aku! Sebel aku! Binguuuuuuuu-unngggg!!!

Kalian bisa bayangkan, bagaimana stressnya saya jadi pembantu Raden Mas Suhikayatno Purwokerto ini… Sejak kecil saya jadi pembantu di sini. Bapak saya juga jadi pembantu di sini. Kakek saya. Juga simbah buyut saya. Begitu juga simbahnya simbah, simbanhnya simbahnya simbah saya… semua jadi pembantu di sini. Turun temurun dikutuk jadi pembantu!

Tapi Simbah saya pernah bilang, “Jadi pembantu seperti ini bukan kutukan, Le.[25] Tapi keberuntungan. Kita ini orang-orang pilihan, Le. ”

Jadi, trah saya itu trah pembantu. Asli. Orisinil. Darah saya itu darah murni seorang pembantu. Kalau di dunia sihir, saya ini disebut penyihir murni. Bukan penyihir keturunan mugle, seperti Harry Potter.[26] Jadi darah pembantu yang mengalir di tubuh saya ini termasuk jenis darah yang ningrat. Jenis pembantu priyayi. Ini kasta tertinggi di tingkatan pembantu. Kalau kasta paling rendah ya kasta pembantu jenis TKI itu… Disiksaaaa melulu…

Kadang saya ini merasa nggak jauh beda kok sama para priyayi raja-raja itu. Paling beda dikit lah. Mereka turun-temurun jadi raja, saya turun-temurun jadi pembantu. Kalau raja-raja itu punya gelar, sebenernya saya juga berhak menandang gelar… Mereka bergelar Amangkurat I. Karena pembantu, saya cukup bergelar Amongtamu I. Nanti, keturunan saya akan bernama Amongtamu II…, Amongtamu III, dan seterusnya. Atau bisa juga menyebut diri mereka sebagai Hamengkukusan atau Hamengkudapan. Pokoknya yang berbau-bau dapur lah. Karena sebagai trah pembantu, kami memang mesti mawayu hayuning dapur.

Mengambil sapu lidi yang tadi dibawanya, kemudian mulai menyapu…

BAMBANG:
Tapi ya ada senengnya juga kok jadi pembantunya Raden Mas Suhikayatno ini…. Beliau itu orang hebat. Dia itu….

Mendadak terdengar suara Raden Mas Suhikayatno, mengigau, seperti memanggil: “Mmbaaaang…. Bambanggg….”

BAMBANG:
(Tergeragap) Ehh… iya, Tuan…. (kepada penonton) Tuh ‘kan, apa saya bilang. Beliau itu orang hebat. Seperti wali. Kalau digunjingin langsung kerasa…

Raden Mas Suhikayatno terus meracau, dan Bambang buru-buru mendekat ke kursi goyang itu.

BAMBANG:

Iya, Tuan…. Saya cuma ngobrol. Ada tamu… Tidak, tidak ngantar surat… Cuma nonton… Surat? Dari tadi kok nyari-nyari surat terus?! Maksud Tuan surat apa? Surat gadai? Surat tagihan? Surat tilang? … Nggak ada surat apa pun, Tuan… WR. Suratman juga nggak ada… (kemudian sadar kalau maji-kannya ternyata tertidur).

Terdengar bunyi dengkur…

BAMBANG:
(Bernada ngedumel) Wahhh, lama-lama Tuan ini mirip Gus Dur… diajak ngomong kok malah tidur.

Lalu dengan pelan, takut membangunkan, Bambang berjalan menjahui kursi goyang itu. Kembali bicara kepada penonton.

BAMBANG:
Tadi sampai mana?… (Mengingat-ingat) Eemm. Oh, ya… hebat…

Dia itu terkenal banget sebagai Tukang Kritik nomor wahid. Banyak versi cerita seputar sosoknya. Kisah kelahirannya saja ada lebih 1.501 versi. Ada yang mengisahkan ia lahir dari bonggol pisang. Ada yang bilang ia muncul begitu saja dari kabut waktu. Tapi ada juga bilang: dia itu anak hasil kawin silang manusia dan genderuwo.

Bambang menenggok ke arah kursi goyang, agak ketakutan. Takut kedengeran…

BAMBANG:
Kalau dilihat dari tampangnnya, ada benernya juga sih cerita itu… Serba tanggung. Cakep enggak, buruk iya. Setengah manusia, setengah makhkuk sengsara… Beda jauh ‘kan sama saya? [27]

Bahkan ada yang percaya: dia sudah ada sejak permulaan dunia. (Bergaya menduga-duga) Jangan-jangan dia itu sesungguhnya pacar pertama Hawa, sebelum Hawa akhirnya menikah sama Adam…

Tiba-tiba gugup, dan langsung mendekat ke arah penonton…

BAMBANG:
Sebentar…. Saya harus klarifikasi sebentar soal Adam dan Hawa dulu. Biar tak terjadi salah interpretasi. Biar tidak diprotes. Dianggap melecehkan. Adam di sini bukan Adam manusia pertama yang jadi nabi itu lho, tapi Adam Malik… Sedangkan Hawa…. (bingung sendiri dan mikir mencari-cari) hmmm.., kalau Hawa apa ya? Oh ya, Hawa itu maksudnya Hamid Hawaludin…[28]

Sejak saya di sini, Beliau ya begitu-gitu terus. Nggak tua-tua. Seperti nggak bisa mati. Dulu Kakek saya pernah bilang, (Menirukan suara Kakeknya) “Tukang Kritik sejati seperti dia nggak bakalan mati! Dia itu legenda setiap zaman. Tahu tidak, di zaman Yunani… dia mengubah namanya jadi Socrates.”

Itu kata Kakek saya. Saya sih percaya-pecaya saja. Lagi pula, kalau dirunut secara etimologi, ada benernya juga kok: Socrates… ‘Sok-krates’… asal katanya ‘Sok’ dan ‘protes’. Sok-protes. Nah, Raden Mas Suhikayatno ini kan juga seneng protes. Jadi antara Socrates dan Suhikayatno, bisa jadi emang orang yang sama… Yah, minimal namanya sama-sama berawalan S.

Menurut sahibul hikayat, Raden Mas Suhikayatno ini memang dikenal memiliki banyak nama. Dia pernah dikenal sebagai Gallileo. Di Perancis dia dipanggil Voltaire. Tapi begitu di Jawa dipanggil Empu Gandring. Lalu jadi Gandhi waktu di India.

Kata Kakek saya, (kembali menirukan suara Kakeknya) “Mereka memang berbeda nama… Tapi lihat, apa yang mereka lakukan… Mereka semua sesungguhnya orang yang sama.” (Jeda. Ragu) Iya juga sih… Tapi gimana nalarnya ya: dari Gandring kok jadi Gandhi? Aneh kan kalau nanti di tulis: Gandhi bin Gandring…

Nama Raden Mas Suhikayatno ini juga meragukan kok. Ini nama beneran, atau nama jadi-jadian.

Anda kau tahu, yang namanya legenda, pasti banyak nggak masuk akalnya. Apalagi ini legenda menyangkut seorang tokoh. Tahu sendirilah, syndrome para tokoh: suka membesar-besarkan peran mereka dalam sejarah. Saya kira, majikan saya ini pun mengindap syndrom macam itu…

Bambang sejenak memandang ke arah kursi goyang, takut omongannya kedengaran Raden Mas Suhikayatno. Tapi langsung tenang ketika melihat tak ada reaksi dari arah kursi goyang.

BAMBANG:
Saya nggak menghinanya lho… Bagaimana pun saya hormat kok sama Beliau. Memang dia suka banget ngritik. Tapi pada dasarnya dia baik kok.

Kalau dirasa-rasa, terasa betul kok kebenaran dalam kritik-kritiknya. Kritikannya tulus. Jujur.

Soalnya orang yang suka mengritik itu kan banyak macamnya. Ada yang mengritik asal mengritik. Ada yang mengritik, supaya dianggap berani dan kritis. Ada yang selalu mengkritik, agar dapat perhatian. Ada yang terus-terusan mengkritik, karena sudah nggak sabar nunggu giliran duduk di kursi kekuasaan. Di luar pagar teriak-teriak, begitu udah di dalam malah tambah rusak.

Tuan saya ini nggak silau kedudukan. Dari dulu ya di situ terus duduknya. Nggak pindah-pindah. Ditawari jadi Presiden Indonesia yang pertama juga nggak mau…

Untung juga ya dia nggak jadi Presiden Indonesia. Bisa berabe kalau yang jadi presiden pertama dia. Kalau Sukarno sih memang pantes. (Mengeja dengan nada melodius) Su-kar-no. Terdengar enak ditelinga. (Meniru suara pembawa acara upacara) “Inilah presiden pertama kita: Sukarno…”. Gagah betul kan kedeengarannya… Lha kalau dia? (Kembali meniru suara pembawa acara upacara) “Ladies and gentlement, inilah presiden pertama Republik Indonesia: Su..ka..yat…yat…yat…yat.. no…no…” Diberi echo ajah tetep kagak enak. Su-ka-yat-no… Nama yang amat sangat tidak nasionalistis!

Lagi pula nama Kayat kan berbau kekiri-kirian. Ka-yat. Kedengaran seperti “rak-yat”. Jenis nama-nama yang bisa membawa nasib buruk buat para pemiliknya. Contohnya: Mu-nir…[29]

Terdengar suara erangan dari arah kursi goyang: “Bambaaangggg… Bambaanggg…. Jam berapa…”

Cepat-cepat Bambang pura-pura sibuk menyapu.

Terdengar suara Raden Mas suhikayatno bertanya: “Ini jam berapa…. Ini Tahun berapa…”

BAMBANG:
(Sambil terus pura-pura sibuk menyapu) Jam 4… Tahun 2011…

Raden Mas Suhikayatno terus mengigau memanggil nama “Bambang” sesekali-kali. Bambang tetap sibuk menyapu. Sampai kemudian suara igauan Raden Mas Suhikayatno berhenti…

BAMBANG:
(Melihat sebentar ke arah kursi goyang itu, lalu segera ke arah penonton) Ngegosip lagi aahhh…

Saya ingat. Empat tahun lalu. Tepatnya tahun 2008. Ya. Tahun 2008. Kira-kira 8 bulan sebelum penyenggaraan Pemilu. Raden Mas Suhikayatno diminta jadi pimpinan KPU. Tapi dia nggak mau. Takut terlibat karupsi berjamaah seperti KPU periode sebelumnya…

Saat Pemilihan Presiden tahun 2009, Beliau juga diminta jadi wakil SBY. Soalnya Jusuf Kala maju sendiri jadi Capres didukung Partai Golkar.

Waktu itu memang banyak pengamat yang bilang, kalau majikan saya dan SBY itu pasangan ideal. Lebih cocok, begitu. Ya, setidaknya dibanding wakil SBY sebelumnya, yang dianggap terlalu kreatif, dan terlalu banyak inisiatif. [30]

Saya sih nggak terlalu ngerti politik. Nggak tahulah, gimana kelanjutannya. Yang jelas, pada Pemilihan Presiden tahun 2009 itu pemenangnya adalah calon yang didukung Partai Panji Tengkorak. Yakni, Butet Kertaredjasa.[31] Inilah pertama kalinya, seorang seniman berhasil menjadi presiden di Indonesia…. Gimana seniman ngatur Negara ya? Ngurus hidupnya sendiri saja ruwet…

Tahu, apa program pertama Butet Kertaredjasa sebagai presiden? Mengganti nama-nama jalan. Nama jalan yang tadinya dipenuhi nama tentara, diganti dengan nama para seniman. Jalan Gatot Subroto diganti menjadi Jalan Sapardi Djoko Damono. Jalan S. Parman diganti Jalan S. Bagio. Pokoknnya semua jalan diberi nama seniman. Dari jalan tol, jalan tembus, sampai jalan buntu. Bahkan Jalan Taman Lawang[32] juga diganti menjadi Jalan Djaduk Ferianto. [33] Hanya satu nama jalan yang tidak di ganti. Yakni Jalan Gajah Mada. Karena Gajah Mada itu teman sepermainan majikan saya.

Sampai kemudian, terdengar suara Raden Mas Suhikayatno, meracau memanggil: “Bambangggg… Pukul berapa sekarang…..”

BAMBANG:
(Tergopoh mendekati kursi goyang) Iya Tuan…. Jam 8 malam… Mau air panas sekarang?

Suara Raden Mas Suhikayatno datar: “Capek… Ini tahun berapa?”

BAMBANG:
(Sudah duduk bersimpuh di dekat kursi goyang itu) Tahun 2011, Tuan… Saya pijit ya…

Suara Raden Mas Suhikayatno masih lelah datar: “Kamu yakin… Bukan tahun 3050?…”

BAMBANG:
(Sambil seakan-akan memijiti kaki Raden Mas Suhikayatno) Wah, kejauhan loncatnya, Tuan… Nggak ada itu di naskah…

Suara Raden Mas Suhikayatno masih lelah datar: “Saya yakin ini tahun 3050… Samar-samar saya melihat bayangan bertumpuk-tumpuk….”

BAMBANG:
(Sambil terus memijat, tapi juga melihat ke arah kejauhan) Ooo, itu Borobudur dibikin jadi tingkat lima, Tuan…

Suara Raden Mas Suhikayatno masih lelah datar: “Apa surat itu sudah datang?.. Siapkan pakaian saya…”

Bambang segera bergegas mengambi baju majikannya.

BAMBANG:
(Menyerahkan baju yang diambilnya ke arah kursi goyang itu) Yang ini kan… (Lalu membentangkannya di selimut) Saya pijit ya, Tuan.. (Ia kemudian kembali memijiti kaki Raden Mas Suhikayatno – terdengar desah nafasnya yang keenakan dipijit – terus ke atas, tiba tiba ia melonjak kaget, sementara tangannya terbenam masuk selimut seakan dicengkeram majikannya) Enak Tuan… Aduh, Maaf Tuan… Sumpah nggak sengaja mijit yang itu. Saya kira tangan Tuan… Tapi kok lembek…. Aduuhhh… Sakit, Tuan… Aduhhhh….

Tangan Bambang terpiting, ia kesakitan berdiri. Lalu pelan-pela ia mengubah diri menjadi Raden Mas Suhikayatno. Perubahan ini terjadi dengan perubahan situasi: dari Bambang yang dipuntir tanggannya, menjadi Raden Mas Suhikayatno yang memuntir tangan Bambang.

Kini Raden Mas Suhikayatno memakai selimut di pundak dan menutupi tubuhnya hingga seperti berjubahkan selimut itu, berdiri dari kursi goyang, memegangi tangan pembantunya….

DENMAS:
Kurang ajar! Bener-bener tidak punya tata karma. Barang keramat milik majikan kok dimain-mainin… Enak tau! Kamu mau apa kok grayang-grayang begitu…

PAUSE: berubah jadi Bambang (melepas selimut itu), bersembah ketakutan di depan kursi goyang itu….

BAMBANG:
Ampun, Tuan… Saya cuma mau ngetes… onderdil tuan masih tokcer tidak…

PAUSE: berubah jadi Raden Mas Suhikayatno (kembali memakai selimut), berdiri memandangi ke arah pembantunya yang bersimpuh dekat kakinya.

DENMAS:
Eee…menghina ndoromu ini ya?! Biar prostat sering kumat, tetap saja masih kuat… Dari Ken Dedes sampai Ken Norton, sudah membuktikan ‘keampuhan’ saya… (menggeliat, menguap) Tolong air putih… (seakan ke arah pembantunya yang beringsung pergi) Eh, sekalian tusuk gigi… (Jeda sejenak, terus mengeliat dan olahraga kecil melemaskan otot. Sampai kemudian seolah-olah menerima gelas, berkumur, menyembur-nyemberkan air kumur ke samping kursi, kemudian memakai tusuk gigi)

PAUSE: berubah jadi Bambang, bersembah ketakutan di depan kursi goyang itu….

BAMBANG:
Sekarang Tuan mau mandi dulu, apa langsung sarapan?…Sikat gigi? Sikat gigi sudah saya siapin. Odol masih ada… Kalau tusuk gigi sudah habis, yang Tuan pakai itu ajah bekas yang kemarin..

PAUSE: berubah cepat jadi Raden Mas Suhikayatno,

DENMAS:
(Membentak marah sambil sekan membuang tusuk gigi yang tadi dipakainya, dan bergerak mau memukul) Bajigur! (Seolah pembantunya lari ketakutan) Sial benar saya punya pembantu macam kamu. Awas kamu, ya! (Mengambil baju yang tadi dibawakan pembantunya dan mulai memakainya, sambil berteriak ke arah tadi pembantunya menghilang) Hai, sini!… Ngapain kamu malah naik genting begitu. Sudah, nggak usah alasan mau benerin atap. Ayo, turun! Disuruh turun kok malah mendelik. Kamu itu bener-benar keterlaluan kok. Ayo turun! Cepet turun! Bambang, kamu dibilangin kok ngeyel buanget sih! Sudah nggak becus, ngeyel lagi… Ayo toh turun, Mbang! Turun!

(Kepada penonton) Jangan salah faham ya… Saya ini nyuruh turun Bambang pembantu saya. Bukan Bambang yang lain…

(Kembali seakan ke arah pembantunya itu, mulai sabar)
Bambang… Ayo toh turun… Sekarang kamu lihat di kotak surat, ada surat buat saya tidak. Nggak ada? Coba kamu cari di bawah keset, mungkin nyelip di situ… Nggak ada juga? Ya sudah, sekarang kamu nunggu saja di halaman. Iya! Siapa tahu tukang pos itu lewat…

Raden Mas Suhikayatno berbicara di atas sembari juga meneliti tupukan koran dan majalah di atas meja, mencari-cari sesuatu. Memeriksa, membacanya…

DENMAS:
(Tampak kecewa, ketika tahu tidak menemukan surat yang diharapkannya) Pasti mereka lupa mengirimkannya! (Menimbang, menduga, mengira-kira) Lupa mengirimkan, apa tidak mau mengirim-kan? Mereka anggap saya ini siapa?

Maaf, saya bukannya mau mengungkit-ungkit. Tapi hargai dong sejarah saya. Apa dikira Tukang Kritik macam saya nggak menyumbangkan apa-apa? Bagaimana jadinya bangsa ini kalau nggak ada orang macam saya. Sayalah yang memulai sejarah. Orang macam sayalah yang menggerakkan sejarah. Orang-orang yang berani menyampaikan kritik.

Waktu negeri ini masih dijajah Kumpeni…, kalian pikir siapa yang berani sama Kumpeni? (bisa ke arah pemusik, yang merespon suasana, bisa ke arah penonton) Siapa coba yang berani melawan Kumpeni?!… (Dijawab sendiri) Si Pitung.

Kalian terlalu meremehkan peran saya. Apa kalian pikir saya tidak kenal Ki Hadjardewantara, Cokroaminoto, Agus Salim, Sjahrir dan Hatta? Saya sangat kenal mereka…, meski mereka tidak kenal saya. Mereka semua itu sahabat-sahabat saya. Saya selalu menemani mereka berdiskusi hingga dini hari. Ketika mereka diskusi.., saya menemani membikinkan kopi.

Ini sejarah, Bung! Kebenaran paling kecil pun harus ditulis. Saya tak ingin sejarah kita penuh kebohongan. Meski banyak yang bilang: sejarah sesungguhnya tidak lebih dari berbagai macam versi kebohongan!

(Mengambil albun foto di atas meja, dan seolah menunjukkan pada setiap oranag) Coba kalian lihat lagi foto-foto sejrah bangsa ini. Yang ini! Yang ini! Lihat foto pembacaan Proklamasi….

Di layar terlihat foto Pembacaan Proklamasi itu.[34]

DENMAS:
Perhatikan dengan cermat. Itu, di sebelah kanan… Kalian pasti tidak melihat saya. Hanya bidang kosong hitam. Disitulah mestinya saya berdiri. Tapi kalian telah menghitamkannya…

Selama ini saya diam. Kalian menulis para pendiri bangsa berjumlah 68. Saya rela nama saya tak disebutkan. Sebab, ditambah nama saya, berarti jadi 69. Angka 69 kan bisa sitarsirkan macam-macam…

Tapi kenapa kalian hanya menyebut para Bapak bangsa?! Dimana para ibu yang melahirkan mereka? Ibu-ibu Bangsa yang merawat dan membesarkan sejarah bangsa ini?

Sungguh…, saya tak menuntut apa-apa….

Tidakkah kalian ingat di tahun 1995, lebih limabelas tahun lampau, di zaman Soeharto… Ketika semua bungkam… Tukang Kritik seperti sayalah yang mempertaruhkan nyawa. Ketika koran dan majalah di breidel… Ketika kalian masih takut bicara demokrasi… Tidakkah kalian ingat saya…

Bagaimana mungkin, kini kalian perlahan-lahan mengapus saya dari ingatan…

(Meninggi) Sayalah yang selalu mengritik! Karena saya punya suara… Siapa yang bisa membunuh suara? Suara bisa kamu bungkam. Tapi tidak mungkin kamu bunuh. Kamu tak mungkin bisa membunuh saya…

Di puncak kemarahan, Raden Mas Suhikayatno terhuyung… Bersandar di kursi goyang, kelelahan. Dadanya sakit. Ia memanggil-manggil pembantunya….

DENMAS:
Bambaaang…. Toloooonggg…. obat saya…. (lalu meracau) Kalian tidak bisa membunuh saya… Saya suara zaman… Gema yang terus berpan-tulan…

Suara racauan Raden Mas Suhikayatno terus terdengar, makin pelan dan tenggelam, tak jelas. Pada Saat itulah, pelan-pelan muncul suara nyanyian. Seperti angin yang muncul dari pusaran waktu. Pada saat ini video menggambarkan waktu yang berdenyut, semesta yang mengembang dan mengerut. Gerigi mesin waktu yang bergemeretak bergerak. Gambar-gambar itu tumpah pecah ke seluruh panggung. Nyanyian itu, kau dengarkah nyanyian itu?

Yang berdiam di rahim waktu
Engkau siapakah itu?
Kami mendengar di desau hujan
Keluhmu pelan tertahan
Kami melihat ada yang berkelat
Engkaukah itu berbaring lelap
Di pusaran waktu
Di rahim waktu
Siapakah itu?

Bersamaan gema lagu yang meredup, muncul dua hologram itu lagi. Memandangi Raden Mas Suhikayatno yang mengerang gelisah dalam tidurnya.

HOLOGRAM 1:
Lihatlah dia yang selalu tertidur tapi setiap saat merasa terjaga… Ia menderita disiksa mimpi-mimpi yang ia kira kenyataan hidupnya

HOLOGRAM 2:
Bangun… Ini sudah tahun 2028.

HOLOGRAM 1:
Ia masih tersesat di abad silam…

Terdengar genta waktu menggema.

HOLOGRAM 2 :
Tahun 2045

Terdengar lagi genta waktu menggema

HOLOGAM 1:
Tahun 2066

HOLOGRAM 2:
Kau dengarkah yang berdenyut di jantungmu. Suara-suara yang menge-pungmu.

Sementara itu Raden Mas Suhikayatno terbangun, antara tidur dan jaga, memangdangi sekililing yang bagai tak dikenalinya

DENMAS:
Di mana saya…

HOLOGRAM 1:
Kamu ada di mana kamu merasa ada…

HOLOGRAM 2:
Kamu tak ada di mana-mana…

Raden Mas Suhikayatno kebingungan menatap sosok bayang-bayang itu…

DENMAS:
Siapa kamu!

HOLOGRAM 1:
Aku Tukang Kritik yang berjalan melintasi waktu… Akulah kamu yang selalu menyebunyikan wajahmu… Mereka yang membanggakan diri jadi Tukang Kritik, padahal bermuslihat pura-pura baik.

DENMAS:
Tidak….Tidak….

HOLOGRAM 2:
Kamu marah karena kamu dilupakan. Kamu selalu menunggu surat itu datang. Surat yang akan mencatat namamu di barisan para pahlawan…

DENMAS:
(Berteriak-teriak memanggil pembantunya) Bambanggg!!! Bambanggg!!!

HOLOGRAM 1:
Lihat sekelilingmu… Ini tahun 2070… Kamu terselip dipojokan sejarah. Tak ada lagi yang mengingatmu. Tak ada lagi yang membutuhkanmu.

DENMAS:
(Terus berteriak-teriak ) Bambanggg..!!! Bambanggg!!!….

Terdengar genta waktu menggema, berulangkali. Sementara Raden Mas Suhikayatno terus berteriak memanggil pembantunya. Memegangi kepalanya yang kesakitan. Gelombang waktu berpusaran dalam kepalanya.

Terdengar terompet pergantian tahun. Dua sosok hologram itu perlahan menghilang. Hanya tinggal terdengar suaranya di sela pekik keramaian dan sorak-sorai menyambut pergantian tahun… Cahaya kembang api meledak warna-warni!

TERDENGAR SUARA MEKANIS :
Tahun 3001.

TERDENGAR SUARA MEKANIS :
Tahun 3002.

Gerigi mesin waktu berderak-derak bersama lengking terompet pergantian tahun dan pijar kembang api warna-warni, berpijar di langit kota modern…

TERDENGAR SUARA MEKANIN :
Tahun 3003.

TERDENGAR SUARA MEKANIS :
Tahun 3004.

TERDENGAR SUARA MEKANIS :
Tahun 3005.

DENMAS :
(Menjerit keras melengking panjang) Baambbbaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa-aaaaaaannnnnnggggggggggggggg……..

Cahaya tiba-tiba benderang dan semua keriuhan dan suara seketika berhenti. Sepi. Panggung seperti ruang steril hampa udara. Pucat perak…

Raden Mas Suhikayatno tersandar di kursi goyang diterangi cahaya terang monokrom. Raden Mas Suhikayatno memandang bingung sekeliling…

Video-multimedia menghadirkan gambar-gambar gedung menjulang, siluet kota-kota ultra modern. Jalan-jalan layang metalik, mobil-mobil terbang. Kota futuristik. Raden Mas Suhikayatno jadi terlihat terpencil dan kecil dibawah semua bayang-bayang gedung-gedung menjulang itu. Ia hanya memandangi semua itu seperti orang bingung…

DENMAS:
Pernahkan kalian merasa begitu kesepian seperti yang kini saya rasakan?… Kesepian karena kehilangan peran… Mau apa saya… Semua sudah serba rapi. Tertib. Terkomputerisasi. Tak ada lagi yang bisa dikritik…

Raden Mas Suhikayatno menggerak-gerakkan kepalanya, memain-mainkan tangannya seperti kanak-kanak yang bermain menciptakan bayang-bayang. Tapi Ia kemudian segera bosan. Apa pun yang ia lakukan, ia segera merasa bosan.

DENMAS:
Makan sudah… Baca sudah… Tidur sudah… Masturbasi sudah… Apa lagi ya?

Muncul Robot pembantu rumah tangga.[35] Dibalut pakaian ketat perak. Mekanis. Robotik. Robot itu membawakan minuman dalam gelas bening….

ROBOT :
Good morning… Good morning…

Robot itu memberikan minuman kepada Raden Mas Suhikayatno, yang segera menimun isi gelas itu…

DENMAS:
(Setelah meminum) Bahkan minuman pun sudah pas betul… Saya tidak bisa mengritik kurang pahit atau kurang manis… Bahkan yang namanya bau, panas, dingin… semua sudah sesuai dengan keinginan setiap orang! Ternyata negeri adil makmur tentram karta raharja bukanlah utopia…

Raden Mas Suhikaatno lalu dengan males menyerahkan gelas itu lagi kepada robot itu…

ROBOT:
Thank you… thank you… Kamsiah…

Lalu Robot pergi…

DENMAS:
Itu tadi hasil cloning Bambang… pembantu saya yang sudah mati tahun 2022 lalu. Dia keturunannya yang ke 4. Bergelar Raden Mas Bambang Mangkukulkas XI. Dengan kode mesin: PRT 3005 GX …

Cahaya datar. Monokrom. Raden Mas Suhikayatno kembali merasa bingung. Kesepian. Ia tak tahu harus berbuat apa. Duduk tak betah. Berdiri tak betah. Berjalan tak betah. Ia tak tahu harus bagaimana.

Sampai para pemusik berkomentar: “Kenapa, Mas?… Kok bingung begitu?”

DENMAS:
Bingung mau ngritik apa… Punya pembantu saja robot. Nggak bisa disiksa pakai setrika… Zaman macam apa ini, kok semua serba tertib! Serba teratur.

Raden Mas Suhikayatno duduk bingung. Membuka-buka majalah. Koran. Tabloid sepintas lalu. Bosan…

DENMAS:
Semua berita baik… Nggak ada pembunuhan. Nggak ada gossip artis kawin cerai… Bosen!

Lalu kembali kepada para pemusik.

DENMAS:
Ayo dong kalian bikin keributan… Apa saja deh! Merkosa kambing juga boleh… Mau ya? Ya? Apa kalian seneng hidup tertib begini. Sekali-kali bikin masalah ‘kan ya nggak papa. Gini saja, kalian saya bayar… Kita demonstrasi ramai-ramai…

Para pemusik menanggapi. Tanpa ekspresi. Kompak. Menggeleng serempak. Mengang-guk serempak. Mekanik.

Karena tak memperoleh tanggapan sebagaimana yang diharapkan, Raden Mas Suhikayatno segera menuju ke kursi goyang. Duduk di sana. Kembali kesepian…

DENMAS:
(Memandang sekeliling) Inilah jaman di mana bahkan nabi pun sudah tidak lagi diperlukan…(Kembali memain-mainkan tangan,, seperti orang menghitung berulang-ulang) Makan sudah…tidur sudah… mandi sudah… makan sudah… tidur sudah… mandi sudah… makan sudah….. tidur sudah… mandi sudah… (gerakan tangan dan tubuhnya makin lama makin seperti orang yang menderita autis)

Suara Raden Mas Suhikayatno terdengar seperti bandul yang berayun-ayun monoton. Terdengar juga detak waktu yang menyertai nada suara Raden Mas Suhikayatno itu.

Mendadak seperti terdengar suara letusan yang mengagetkan. Raden Mas Suhikayatno meloncat kaget, gembira…

DENMAS:
(Begitu bahagia, mengepalkan tangan senang) Yes! Cihuuiiyyy! Akhirnya ada mahasiswa yang mati tertembak! … Alhamdulillah… Akhirnya ada yang bisa dikritik… (Bersemangat) Ayo, kita protes! Ayo… (Jeda) Apa? (mendadak loyo) Bukan mati tertembak? Cuma mati bahagia… Kok tidak heroik ya matinya…

Kembali duduk kecewa. Kembali ke kursi goyang…

DENMAS:
(Kembali memain-mankan tangan,, seperti orang mengitung berulang-ulang) Makan sudah…tidur sudah… mandi sudah… makan sudah… tidur sudah… mandi sudah… makan sudah….. tidur sudah… mandi sudah… (Gerakan tangan dan tubuhnya kembali makin lama makin seperti orang yang menderita autis)

Sampai kemudia suara Raden Mas Suhikayatno perlahan melemah, dan menghilang…

Kini yang terdengar hanya detak waktu yang monoton. Bersamaan itu cahaya yang monokrom dan datar itu perlahan menyurut. Kursi goyang itu terlihat tenang di bawah sorot cahaya yang kuat pucat. Waktu mendengung panjang. Menggelisahkan.

Kemudian mucul Robot itu. Berjalan mekanik mendekati kursi goyang. Tangan Robot itu terulur kaku ke depan, membawa selembar surat…

ROBOT:
Good morning…. Good morning… Bangun, Tuan… Wake up… Wake up… Bangun, Tuan… Ada surat… Ada surat… Bangun, Tuan… Bangun, Tuan… Ada surat… Ada surat…

Tapi Raden Mas Suhikayatno tak bergerak. Kursi goyang itu tetap tenang. Robot itu terus memanggil-manggil mekanik. Sampai semua cahaya perlahan meredup. Tinggal menyorot ke arah kursi goyang yang tetap tenang itu. Suara robot itu terus-menerus terdengar berulang-ulang. Berulang-ulang…

Semua cahaya menggelap perlahan.

*****PERTUNJUKAN SELESAI*****

Yogyakarta, 2003-2005

[1] Secara tekhnis, suara detak-detik jam itu bisa muncul dari sound system yang ditata sedemikian rupa hingga suara itu seperti muncul dari mana-mana dan memenuhi gedung pertunjukan. Bisa juga secara manual dengan menempatkan banyak jam weker di berbagai titik di dalam gedung pertunjukan, di bawah kursi penonton, dsb. Dimana nanti, semua jam weker itu berdering, dengan menempatkan kru pertunjukan untuk mewujudkan tekhnis tersebut. Atau di dinding ruang penonton dipasangi banyak jam aneka rupa dengan penunjuk angka/jarum waktu yang berbeda-beda. Mungkin juga dengan tata artistik yang mempertegas suasana, dengan intensi lukisan semacam “waktu yang memelelah” karya Salvardore Dali. Sementara, bila memakai video/multimedia, bisa divisualisasikan denyut waktu itu secara visual, seperti ada jarum waktu raksasa yang memenuhi panggung, atau gerigi-gerigi mekanik waktu pada jam yang saling bergerak berderak. Pendeknya, secara artistik bisa dikembangkan menurut interpretasi masing-masing.

[2] Dentang lonceng ini juga bisa menjadi penanda pertunjukan. Dimulai dentang sekali. Dua kali. Lalu tiga kali, sebagai tanda pertunjukan di mulai. Atau puncaknya sampai berdentang 12 kali, baru mulai pertunjukan.

[3] Para aktor pendukung/para pemusik dan aktor yang akan memainkan monolog ini.

[4] Adegan ini berfungsi untuk memberi kesempatan aktor-pemeran duduk di kursi goyang itu. Pada bagian sebelumnya, di kursi itu hanya terlihat selimut yang merungkupi kursi goyang untuk mengesankan seakan-akan ada orang yang duduk dan tertidur di atas kursi goyang itu. Sejak adegan ini, di kursi goyang itu sudah meringkuk aktor-pemeran.

[5] Bila mereka para pemusik, mereka bergerak ke tempat yang sudah ditentukan menurut kebutuhan pertunjukan. Bila mereka para aktor pembantu, bisa langsung silam ke sisi-sisi panggung.

[6] Ini bila memakai multimedia, dalam hal ini gambar video. Gambar-gambar dari efek video inilah yang menyorot ke arah panggung. Gambar-gambar itu dibiarkan pecah, tak perlu disorotkan ke sebuah layar, tapi diproyeksikan ke arah di mana kursi goyang itu berada.

[7] Suara ini wajib ada. Suara-suara lain bebas dikembangkan sesuai kebutuhan dramatik suara.

[8] Suara ini juga mesti ada. Bisa dimunculkan juga pidato Soeharto ketika menyatakan diri mundur dari jabatan presiden. Juga suara khas Habibie. Suara Megawati. Gus Dur. Sesilo Bambang Yudhoyono. Suara-suara itu muncul berjauhan, tumpang tindih (tidak mesti runut-linear), seperti mencul dari gelombang radio yang serak dan rusak, di antara ilustrasi musik.

[9] Gambar-gambar masa silam ini bisa diambilkan dari potongan-potongan film yang menggambarkan masa silam. Misalkan film The Ten Comandement, yang menggambarkan adegan Nabi Musa, film King Arthur atau The Great Alexander, atau mungkin film Diponegoro, dokumentasi-dokumentasi video/film. Bisa juga ilustrasi gambar yang menceritakan perjalanan waktu – dari seri National Geografhic, misalnya. Atau membuat sendiri.

[10] Untuk efektifitas penulisan, selanjutnya akan disebut “Denmas”.

[11] Bambang adalah tokoh pembantu dalam monolog ini. Nama Bambang dipakai, karena ketika naskah ini ditulis, nama Presiden RI adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Kelak, bila presiden berganti dan naskah ini dipentaskan, maka nama Bambang harus diganti dengan nama presiden yang sedang menjabat. Pilihan nama seperti itu dimaksudkan sebagai cara untuk menunjukkan: bahwa jabatan presiden itu sesungguhnya “pembantu rakyat”. Yakni Pembatu yang “diperintah konstitusi” untuk bekerja mensejahterakan rakyat yang menggaji dan membayarnya melalui bermacam pajak.

[12] Gambar ini juga diupayakan ada, karena berkait adegan selanjutnya. Kecuali bila Ada interpretasi lain, dan ingin mengembangkan adegan sendiri. Bagaimana pun, sebagai teks pertunjukan, teks ini sangat terbuka untuk dikembangkan berkaitan dengan situasi, keadaan dan kesiapan pementasan.

[13] Suara ini bisa berasal dari pemusik, atau dari suara aktor pembantu atau kru pentunjukan lainnya. Suara ini bergaya seperti tengah memberikan pengumuman

[14] Uka-uka, pada saat naskah ini ditulis, sangat popular sebagai ikon hantu. Di lain waktu, bisa diganti ikon hantu yang lebih popular ketika naskah ini dipentaskan.

[15] Adegan wayang orang ini bisa diplesetkan (dideformasi) pada bagian yang memungkinkan. Pengulangan kata “maaf” di adegan ini sendiri terinspirasi dari tokoh Mpok Minah di serial Bajaj Bajuri yang selalu mengulang-ulang kata “maaf” seperti itu.

[16] “Gaul gitu loh” adalah ungkapan yang popular dan ngetrend dikalangan anak muda pada zaman monolog ini ditulis. Sebagai ungkapan popular dan ngetrend, itu pasti terkait dan terbatasi mode. Bila monolog ini dipentaskan pada situasi yang (sudah) berbeda, maka ungkapan ini pun mesti disesuaikan dengan uangkapan yang saat itu sedang ngetrend.

[17] Adegan berkisah ini sifatnya “main-main” dalam konteks permainan dramatik. Bisa dikembangkan sebagai upaya memperkaya “main-main” itu. Gaya aktor menceritakan itu cair, ditambah-tambahi, dan para pemusik bisa ikut berceloteh menanggapi, misalnya.

[18] Perhatikan perubahan kata ganti orang pertama, dari “saya” menjadi “aku”. Ketika Raden Mas Suhikayatno menyebut dirinya dengan “aku”, maka ego dia sudah mengempal. Ada dendam dan kegeraman di situ, yang menyulut kemarahannya. Dan itu muncul sebagai ekspresi terakhir untuk menunjukkan harga diri dan keberadaannya.

[19] Ketika cahaya di kursi goyang sudah gelap, maka aktor-pemeran Raden Mas Suhikayatno segera beringsut dari kursi itu, untuk berganti peran. Selimut dirungkupkan ke kursi goyang, hingga mengesankan masih ada Raden Mas Suhikayatno di kursi goyang itu. Sambil beringsut dan pergi itulah, aktor terus memanggil-manggil nama pembantunya itu. Atau untuk efek tertentu, suara itu bisa saja sudah direkam sebelumnya. Jadi selama aktor berganti kostum/berganti peran, suara memanggil-manggil terus terdengar. Atau, suara itu bisa digantikan oleh suara aktor pembantu/pemusik, yang diusahakan mirip dengan intonasi dan warna suara si aktor.

[20] Dengan teknik tertentu, di bagian kursi goyang itu bisa dipasangkan tali senar, dimana seorang kru bisa menarik dan mengulur senar itu agar kursi goyang terus terayun-ayun.

[21] Hologram adalah bentuk visual yang berupa efek pemadatan cahaya, sehingga bisa menghadirkan sosok atau benda dari proyeksi cahaya. Bila tekhnologi ini belum bisa diaplikasikan dalam pertunjukan ini, maka sosok hologram bisa berupa bayangan pada layar dari video/multimedia., berupa visual dari tokoh Raden Mas Suhikayatno, yang sudah dibuat sebelumnya. Tapi bila itu juga tidak mungkin, 2 sosok hologram itu bisa diperankan oleh aktor lain, yang secara casting mirip dengan aktor pemeran Raden Mas Suhikayatno. Tinggal mak up dan kostum disamapersiskan.

[22] Suara ini bisa digantikan oleh aktor pembantu, atau sudah direkam sebelumnya

[23] Dimainkan oleh aktor yang sama, yang memerankan Raden Mas Suhikayatno, setelah berganti kostum.

[24] Di bagian ini bisa dikembangkan dengan interaksi dengan penonton, dimana aktor bisa secara cair-keluar dari peran, memberi komentar tentang baju, cara duduk, atau apa pun dari seorang penonton. Fungsinya untuk menegaskan “kenyinyiran” Raden MAs Suhikayatno yang sedang diceritakan oleh tokoh Bambang itu. Tentu dengan mempertimbangan alur dramatik secara keseluruhan.

[25] Le, berasal dari Thole (bahasa Jawa), yang merupakan panggilan kepada anak laki-laki. Panggilan ini bisa diganti menurut kebutuhan tempat dan etnis lainnya, tergantung di etnis mana pentas ini berlangsung.

[26] Mugle adalah istilah para penyihir untuk menyebut “manusia”, dalam buku Harry Potter karya J.K. Rowling. Penyihir keturunan mugle artinya penyihir yang punya unsur darah manusia dalam trah keluarganya.

[27] Ini “joke alusif”, karena sesungguhnya dua orang itu sama, karena dimainkan oleh aktor yang sama.

[28] Ini adalah joke yang kontekstual, dimana pada saat monolog ini ditulis, nama Hamid Awaludin – yang disini kemudian diplesetkan menjadi Hamid Hawaludin – cukup popular di masyarakat. Bila jaman berganti, dan nama itu tidak cukup dikenal, mana harus ada penyesuaian atas joke ini.

[29] Bisa dikembangkan dengan berinteraksi dengan menyebut nama-nama tokoh yang hadir, yang kira-kira dianggap kritis pada saat ini. Pada saat ini, sebagai contoh nama Te-ten, Bas-ri…

[30] Teks pada bagian ini sangat kontekstuak, yang terkait dengan situasi dimana naskah ini ditulis pertama kali. Bila pada suatu saat, konstelasi politik berubah, dan mungkin sudah terjadi pergantian pemerintahan/presiden, maka nama dan konteknya mestilah disesuaikan. Misalkan naskah ini dipentaskan tahun 2015, maka “waktu kisah dan peristiwa dalam lakon ini” juga mesti disesuaikan – dimajukan kira-kira sepuluh tahun ke depan.

[31] Penyebutan Butet Kertaredjasa di sini, karena monolog ini pertama kali akan dimainkan oleh dia. Apabila naskah ini dipentaskan oleh aktor lain, maka nama aktor yang memainkan itulah yang disebut.

[32] Taman Lawang adalah wilayah yang berkonotatif “permesuman”. Tiap daerah punya lokasi seperti itu.

[33] Di sini penyebutan nama-nama itu juga situasional. Yang penting nama itu familiar dengan audiens. Dan bisa juga “menggarap” beberapa nama seniman yang kebetulan saat itu hadir menyaksikan pertunjukan. Jadi penyebutan nama-nama itu fleksibel, dan kira-kira tak menjadi preseden yang bisa merugikan pementasan itu sendiri.

[34] Dalam gagasan saya, bila pertunjukan ini menggunakan media video, maka slide foto bisa disertakan menyertai adegan ini. Dimana dilayar muncul berganti-ganti foto-foto dokumentasi sejarah, dari zaman pergerakan sampai mungkin foto Soeharto menyatakan pengunduran dirinya, Gus Dur yang didorong di atsas kursi roda, dst. Gambar slide itu seakan adalah gambar di albun yang diperlihatkan oleh Raden Mas Suhikayatno. Komentar-komentar Raden Mas Suhikayatno selanjutnya bisa dikembangkan berkaitan dengan foto-foto yang muncul pada layar. Bila secara tekhnis sulit, berarti tak ada slide foto-foto itu.

[35] Di sini akan disebut sebagai Robot. Peran robot dimainkan oleh aktor yang bertubuh kecil. Bisa laki. Bisa perempuan. Tapi kostum robot mesti tidak menyarankan identifikasi jender itu.

Monolog : KORUPTOR BUDIMAN




Naskah Monolog
KORUPTOR BUDIMAN


SEORANG koruptor kakap mendadak muncul di kantor peradilan. Ia menyerahkan diri minta ditangkap. Beberapa petugas jaga – yang sebagian lagi ngobrol sambil nonton telenovela di televisi, dan sebagian lagi asyik main domino – langsung tergeragap kaget.
‘’Tolong tangkap saya,’’ koruptor ternama itu kembali bicara sambil mengulurkan kedua tangannya seolah-olah minta diborgol. Para petugas jadi langsung gemeteran. Apa tidak salah? ‘’Saya ingin jadi koruptor yang baik dan benar,’’ kata koruptor itu, sambil memandangi para petugas yang terheran-heran - juga agak ketakutan.
Tentu saja peristiwa itu langsung jadi berita besar. Puluhan wartawan segera mengerubungi sang koruptor. Dan koruptor itu pun langsung memberikan pernyataan-pernyataannya.
‘’Saya ingin memberi contoh kepada rekan-rekan koruptor lain, tak baik melarikan diri. Lebih baik duduk tenang di pengadilan. Kalau pingin sembunyi, bukankah persembunyian paling aman bagi koruptor justru ada di pengadilan. Kita nggak bakalan diperlakukan macam maling ayam. Paling ditanyai sedikit-sedikit basa-basi minta bagian hasil korupsi. Tak ada ruginya kalau kita berbagai rezeki sama hakim jaksa polisi. Anggap saja zakat buat mereka. Toh itu juga bukan uang kita.’’

Sejenak ia tersenyum, ketika kamera meng-close up wajahnya.
‘’Makanya saya di sini, minta diadili. Saya tak hendak membantah. Itu urusan para pengacara saya, karena untuk itulah mereka dibayar: membuat saya kelihatan tak bersalah.’’
‘’Jadi bapak tidak akan membantah kalau Bapak koruptor kakap?’’ cecar wartawan.
“Saya hanya ingin meluruskan anggapan keliru, yang menyatakan koruptor macam saya tak lebih benalu bangsa tak berguna. Koruptor macam saya jelas aset bangsa. Kamilah yang menggerakkan roda perekonomian. Dengan korupsi uang jadi terdistribusi. Terjadi pemerataan. Seperti pembangunan, korupsi juga terjadi di segala bidang. Kami tak pernah menikmati buat sendiri. Kami ikut nyumbang pembangunan rumah ibadah, menyantuni anak yatim, membantu korban bencana, menyokong olahraga, iuran tujuhbelasan. Banyak. Karena sebagai koruptor yang baik, kami tahu cara mengelabui. Dengan berbuat baik, kami menjadi dihormati. Duduk di depan bila ada hajatan, dan diminta bicara di pengajian.’’
‘’Bagaimana dengan para mahasiswa yang terus berdemonstrasi menuntut semua koruptor dipenjarakan, Pak?’’

‘’Naif, bila para mahasiswa terus menuntut koruptor di penjara. Nanti malah repot mesti bikin buuanyak penjara. Karena 70% warga republik ini pasti akan masuk penjara. Tidaklah itu hanya akan menghabiskan Anggaran Belanja Negara? Percayalah, biaya memenjarakan koruptor jauh lebih tinggi ketimbang dana subsidi BBM yang dialokasikan buat mengatasi kemiskinan. Jadi, memenjarakan koruptor itu justru kontraproduktif bagi keuangan negara. Daripada uang dihambur-hamburkan membangun penjara, lebih baik uang itu kami korupsi lalu kami bagi-bagikan secara adil dan merata.”

Ia tersenyum, begitu yakin.
‘’Itu namanya korupsi yang adil dan beradab, sesuai Pancasila. Atau biar terdengar lebih trendy: itulah prinsip demokrasi dalam korupsi. Sesuai trias politica, dalam demokrasi mesti ada distribusi kekuasaan yang sama antara eksekutif-legislatif-judikatif. Korupsi yang demokratis pun begitu: eksekutif-legislatif-judikatif dapat kesempatan dan keuntungan yang sama. Korupsi ibarat lokomotif demokrasi yang membawa gerbong-gerbong keuntungan dan semua orang berebut ingin naik menikmati.
Karna itulah, memberantas korupsi sama saja menggulingkan gerbong-gerbong demokrasi. Itu berbahaya. Bisa menimbulkan keonaran para demonstran bayaran. Sebagai koruptor yang baik, tentu saja saya tak ingin itu terjadi. Saya koruptor cinta damai.’’

Para wartawan jadi ramai. Terus mendesak dan berebut ingin maju. Beberapa aparat segera tanggap, dan memberi ruang agar koruptor itu tidak terlalu terdesak. Tapi para wartawan terus saling dorong. Suasana kian ramai ketika serombongan demonstran muncul dan mulai berteriak-teriak menghujat. Tapi Koruptor yang kini dikawal beberapa aparat itu tetap tenang, tersenyum ke arah para demonstran.

“Tolong…, jangan terlalu pojokkan kami. Kalau soal unjuk kekuatan, kami juga bisa menggalang aksi besar-besaran. Pikirkan, bila seluruh koruptor di negeri ini menggelar aksi mogok — 1 hari saja! Dari kantor kelurahan sampai Istana Negara, pasti mendadak sepi. Pelayanan publik terhenti. Birokrasi macet. Pabrik-pabrik tak berproduksi. Semua departemen kosong. Jangankan ngurus surat atau bikin KTP, WC Umum saja mungkin nggak ada yang ngurusi. Karena semua koruptor mogok, seperti Lakon Lysistrata ketika seluruh perempuan memboikot laki-laki. Kalian akan pusing sendiri. Kalian akan melihat betapa berkuasanya kami. Kami ada di tiap sendi negeri ini. Bagaimana cara kalian membasmi? Kalian seperti mengamputasi tubuh sendiri.’’

Kata-kata itu bagai sihir yang mampu merenung semua yang hadir hingga terdiam.
‘’Karena itu, marilah kita hidup rukun berdampingan dengan damai. Yang koruptor dan nggak koruptor, apa sih bedanya? Emha Ainun Nadjib bilang, kesalahan hanyalah kebenaran yang tertunda. Maka yang nggak korupsi pun hanya soal kesempatan yang tertunda. Koruptor atau bukan, menyitir si jalang Chairil Anwar, semua akan dapat tempat, semua akan dapat giliran.
Karena dari pada itu, marilah kita mulai belajar menerima kenyataan, betapa korupsi memang sudah menjadi suatu yang menyenangkan di republik ini. Anggap saja koruptor itu sebagai bagian dari perekonomian kita: sudah numpuk utangnya, eh banyak pula koruptornya. Atau ini ibarat kita masuk lokalisasi. Sudah bayar, terkena rajasinga pula!’’

Terlihat koruptor itu berdiri gagah, terlihat yakin dan mantap.
‘’Saya tidak malu mengakui kalau diri saya memang koruptor. Saya malah bangga bisa mengaku begitu. Seperti terlepas beban saya. Sekarang saya jadi bisa lebih rileks. Saya siap dihukum dengan cara sebenar-benarnya…’’

Seluruh negeri geger. Sebagian besar orang mencacimaki koruptor itu. Demonstrasi menentangnya digelar. Tapi banyak juga yang memuja pikiran dan kejujurannya. Walhasil, nama koruptor itu pun makin melambung, makin popular. Para pakar memandang sinis, karena koruptor itu dianggap cari sensasi murahan.

‘’Saya tak cari sensasi dengan semua ini,’’ katanya saat jadi narasumber talk show di stasiun televisi. ‘“Saya justru ingin memberikan tauladan, bahwa koruptor pun bisa menjadi seorang yang budiman. Kalau pun maling, dia maling yang budiman. Seperti Robin Hood. Atau jadi Zoro, kalau sebagai koruptor kita kian peduli pada wong cilik. Karena siapa lagi yang akan memperhatikan wong cilik? Sebab partai-partai politik tak pernah mikirin nasib wong cilik yang terus-menerus terpuruk dalam kemiskinan. Karena itulah, wahai para koruptor yang beriman, marilah kita tingkatkan amal dan taqwa kita dengan membantu negeri ini, supaya makin terbenam dalam keterpurukan dan kemiskinan lahir batin. Negeri ini tak bisa diselamatkan, kecuali dengan mempercepat proses pembusukan. Koruptor macam kita mesti mendukung proses itu. Bila tidak, negeri ini akan terus nggak jelas seperti ini. Ini negeri seolah-olah, seperti dikatakan Parakitri T Simbolon. Semuanya jadi serba seolah-olah dan seakan-akan. Seolah-olah demokratis. Seolah-olah negeri hukum. Seolah-olah agamawan. Seolah-olah intelektual. Seakan-akan menteri, padahal pengusaha. Seakan-akan penyair, padahal setengah pengangguran. Tak heran, seorang yang sudah resmi menyandang predikat koruptor pun, masih bisa berpenampilan tenang penuh senyum mirip rohaniawan seperti saya.’’

‘’Anda terlalu melebih-lebihkan,’’ potong moderator acara talk show itu dengan nada marah. ‘’Anda juga seolah-olah menempatkan koruptor sebagai sesuatu yang penting!’’.

Dengan kalem koruptor itu menjawab. ‘’Marilah, mulai saat ini kita lebih menghargai koruptor sebagai pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa tapi banyak harta yang berjasa mempercepat proses pembusukan seluruh sampah negeri ini. Anggap saja ini proses evolusi untuk menghasilkan pembuahan: munculnya tunas-tunas koruptor yang lebih bertanggungjawab terhadap nasib bangsanya.’’

‘’Jadi dengan menyerahkan diri, Anda merasa sudah bertanggungjawab, begitu?’’

‘’Terus terang, sebenarnya saya capek jadi buronan. Itu merendahkan martabat saya. Seolah-olah saya ini penjahat sekelas Patroli atau Buser. Makanya, lebih baik saya istirahat nyaman di penjara, ketemu koruptor kolega-kolega saya lainnya. Kan lebih enak begitu. Rukun, saling berbagai pengalaman. Kumpul bareng. Korupsi tidak korupsi asal kumpul. Kalau semua rukun kan enak. Lihat, saya masih tetap sehat, cuma kelihatan tambah kurang waras. Hanya saja, kadang saya tetap heran dengan para aparat kita. Kenapa masih sungkan-sungkan menangkap koruptor kakap macam saya? Ketika saya datang, mereka malah sembunyi. Barangkali para aparat hukum itu memang benar-benar percaya, bahwa koruptor seperti saya ini memang asset bangsa yang mesti dilindungi. Hingga, meskipun koruptor seperti saya sudah berada di dalam penjara, masih saja terus diberi keleluasaan untuk secara sistemik melakukan korupsi dengan baik dan benar, serta secara murni dan konsekuen…”


*****SELESAI*****

Catatan: 
Tulisan ini pernah muncul di Kompas, 27 Januari 2006. Sebuah teks awal, yang seyogyanya akan saya kembangkan menjadi monolog, tetapi lumayan terbengkalai. Rasanya, saya akan menjadikannya sebagai “proyek kreatif” saya di tahun depan (2009). Akan menyenangkan bila saya mendapat masukan-masukan – mungkin data, mungkin contoh kasus dan pola korupsi, mungkin pertukaran pikiran atau apa saja – yang bisa memperkaya ide dan waswasan saya untuk menulis monolog bertema korupsi itu. Mungkin ada lembaga atau institusi anti korupsi yang ingin menaja saya untuk mewujudkan monolog ini? Mungkin itu bisa menjadi bagian dari gerakan kita memerangi korupsi. Ini ajakan, sekaligus pengakuan: betapa seorang penulis selalu membutuhkan aspirasi dari lingkungannya.

Monolog : KASIR KITA - Arifin C Noer




Monolog
KASIR KITA
Karya : Arifin C Noer


Ruang tengah dari sebuah ruang yang cukup menyenangkan, buat suatu keluarga yang tidak begitu rakus. Lumayan keadaannya, sebab lumayan pula penghasilan si pemiliknya. Sebagai seorang kasir di sebuah kantor dagang yang lumayan pula besarnya. Kasir kita itu bernama Misbach Jazuli
Sandiwara ini ditulis khusus untuk latihan bermain. Sebab itu sangat sederhana sekali. Dan sangat kecil sekali. Dan sandiwara ini kita mulai pada suatu pagi. Mestinya pada suatu pagi itu ia sudah duduk dekat kasregisternya di kantornya, tapi pagi itu ia masih berada di ruang tengahnya, kelihatan lesu seperti wajahnya.
Tas sudah dijinjingnya dan ia sudah melangkah hendak pergi. Tapi urung lagi untuk yang kesekian kalinya. Dia bersiul sumbang untuk mengatasi kegelisahannya. Tapi tak berhasil.
Saudara-saudara yang terhormat. Sungguh sayang sekali, sandiwara yang saya mainkan ini sangat lemah sekali. Pengarangnya menerangkan bahwa kelemahannya, maksud saya kelemahan cerita ini disebabkan ia sendiri belum pernah mengalaminya; ini. Ya, betapa tidak saudara? Sangat susah.

Diletakkannya tasnya

Saya sangat susah sekali sebab istri saya sangat cantik sekali. Kecantikannya itulah yang menyebabkan saya jadi susah dan hampir gila. Sungguh mati, saudara. Dia sangat cantik sekali. Sangat jarang Tuhan menciptakan perempuan cantik. Disengaja. Sebab perempuan-perempuan jenis itu hanya menyusahkan dunia. Luar biasa, saudara. Bukan main cantiknya istri saya itu. Hampir-hampir saya sendiri tidak percaya bahwa dia itu istri saya.

Saya berani sumpah! Dulu sebelum dia menjadi istri saya tatkala saya bertemu pandang pertama kalinya disuatu pesta berkata saya dalam hati : maulah saya meyobek telinga kiri saya dan saya berikan padanya sebagai mas kawin kalau suatu saat nanti ia mau menjadi istri saya. Tuhan Maha Pemurah. Kemauan Tuhan selamanya sulit diterka. Sedikit banyak rupanya suka akan surpraise.

Buktinya? Meskipun telinga saya masih utuh, toh saya telah berumah tangga dengan Supraba selama lima tahun lebih.

Aduh cantiknya.
Saya berani mempertaruhkan kepala saya bahwa bidadari itu akan tetap bidadari walaupun ia telah melahirkan anak saya yang nomer dua, saya hampir tidak percaya pada apa yang saya lihat. Tubuh yang terbaring itu masih sedemikian utuhnya. Caaaaannnnttiiik.

Ah kata cantikpun tak dapat pula untuk menyebutkan keajaibannya. Cobalah. Seandainya suatu ketika gadis-gadis sekolah berkumpul dan istri saya berada diantara mereka, saya yakin, saudara-saudara pasti memilih istri saya, biarpun saudara tahu bahwa dia seorang janda.
Lesu.

Ya, saudara. Kami telah bercerai dua bulan lalu. Inilah kebodohan sejati dari seorang lelaki. Kalau saja amarah itu tak datang dalam kepala, tak mungkin saya akan sebodoh itu menceraikan perempuan ajaib itu.

Semua orang yang waras akan menyesali perbuatan saya, kecuali para koruptor, sebab mereka tak mampu lagi menyaksikan harmoni dalam hidup ini. Padahal harmoni adalah keindahan itu sendiri. Dan istri saya, harmonis dalam segala hal. Sempurna.

Menarik napas.

Bau parfumnya! Baunya! Seribu bunga sedap malam di kala malam, seribu melati di suatu pagi. Segar, segar!
Telepon berdering.

Itu dia! Sebentar (ragu-ragu) Selama seminggu ini setiap pagi ia selalu menelpon. Selalu ditanyakannya :”Sarapan apa kau, mas” Kemarin saya menjawab :”Nasi putih dengan goreng otak sapi”
Pagi ini saya akan menjawab .....

Mengangkat gagang telepon

Misbach Jazuli disini. Hallo? Hallo! Halloooo!

Meletakkan pesawat telepon

Salah sambung. Gilaa! Saya marah sekali. Penelpon itu tak tahu perasaan sama sekali.

Tiba-tiba
Oh ya! Jam berapa sekarang?

Gugup melihat arloji

Tepat! Delapan seperempat. Saya telah terlambat tiga perempat jam. Maaf saya harus ke kantor. Lain kali kita sambung cerita ini atau datanglah ke kantor saya, PT Dwi Warna di jalan Merdeka. Tanyakan saja disana nama saya, kasir Jazuli. Maaf. Sampai ketemu.
Melangkah cepat. Sampai di pintu sebentar ia ragu. Tapi kemudian ia terus juga.
Agak lama, kasir kita masuk lagi dengan lesu.

Mudah mudahan perdagangan internasional dan perdagangan nasional tidak terganggu meskipun hari ini saya telah memutuskan tidak masuk kantor.

Tidak, saudara! Saudara tidak bisa seenaknya mencap saya punya bakat pemalas. Saudara bisa bertanya kepada pak Sukandar kepala saya, tentang diri Misbah Jazuli.

Tentu pak Sukandar segera mencari kata-kata yang terbaik untuk menghormati kerajinan dan kecermatan saya. Kalau saudara mau percaya, hari inilah hari pertama saya membolos sejak enam tahun lebih saya bekerja di PT Dwi Warna.
Seperti saudara saksikan sendiri badan saya sedemikian lesunya, bukan? Tuhanku! Ya, hanya Tuhanlah yang tahu apa yang terjadi dalam diri saya. Saya rindu pada istri saya dan sedang ditimpa rasa penyesalan dan saya takut masuk kantor berhubung pertanggung jawaban keuangan....

Telepon berdering.

Sekarang pasti dia!
Menuju pesawat telepon

Saya sendiri tidak tahu kenapa selama seminggu ini ia selalu menelpon saya.
Apa mungkin ia mengajak rukun dan rujuk kembali...tak tahulah saya. Saya sendiri pun terus mengharap ia kembali dan, tapi tidak! Saya tak boleh menghina diri sendiri begitu bodoh! Bukan saya yang salah. Dia yang salah. Yang menyebabkan peristiwa perceraian ini bukan saya tapi dia. Dia yang salah. Sebab itu dia yang selayaknya minta maaf pada saya. Ya, dia harus minta maaf.

Toch saya laki-laki berharga : saya punya penghasilan yang cukup.
Laki-laki gampang saja menarik perempuan sekalipun sudah sepuluh kali beristri. Pandang perempuan dengan pasti, air muka disegarkan dengan sedikit senyum, dan suatu saat berpura-pura berpikir menimbang kecantikannya dan kemudian pandang lagi, dan pandang lagi, dan jangan sekali kali kasar, wajah lembut seperti waktu kita berdoa dan kalau perempuan itu menundukkan kepalanya berarti laso kita telah menjerat lehernya. Beres!

Nah, saya cukup punya martabat, bukan? Dan lagi dia yang salah! Ingat, dia yang salah. Nah, saudara tentu sudah tahu tentang sifat saya. Saya sombong seperti umumnya laki-laki dan kesombongan saya mungkin juga karena sedikit rasa rendah diri, tidak! Bukankah saya punya tampang tidak begitu jelek?

Telepon berdering lagi.

Pasti isteri saya
Menarik napas panjang

Saya telah mencium bau bedaknya. Demikian wanginya sehingga saya yakin kulitnya yang menyebabkan bedak itu wangi. Oh, apa yang sebaiknya saya katakan?

Tidak! Saya harus tahu harga diri. Kalau dia ku maafkan niscaya akan semakin kurang ajar. Saudara tahu? Mengapa semua ini bisa terjadi? Oh, kecantikan itu! Ah! Bangsat! Selama ini saya diusiknya dengan perasaan-perasaan yang gila. Bangsat!

Saudara tahu? Dia telah berhubungan lagi dengan pacarnya ketika di SMA! Ya, memang saya tidak tahu benar, betul tidaknya prasangka itu. Tapi cobalah bayangkan betapa besar perasaan saya. Suatu hari secara kebetulan saya pulang dari kantor lebih cepat dari biasanya dan apa yang saya dapati? Laki-laki itu ada di sini dan sedang tertawa-tawa. Dengar! Tertawa-tawa. Ya, Tuhan. Cemburuku mulai menyerang lagi. Perasaan cemburu yang luar biasa.

Telepon berdering lagi.

Pasti dia.
Mengangkat gagang telepon.

Misbach Jazuli di sini, hallo?

Segera menjauhkan pesawat telepon dari telinganya.

Inilah ular yang menggoda Adam dahulu. Perempuan itu menelepon dalam keadaan aku begini. Jahanam! (kasar) Ya, saya Jazuli, ada apa? Nanti dulu. Jangan dulu kau memakai kata-kata cinta yang membuat kaki gemetar itu! Dengar dulu! Apa perempuan biadap! Kau telah menghancurkan kejujuranku! Dengarkan! Kau telah menghancurkan kejujuranku! Dengarkan! Kau telah menyebabkan semuanya semakin berantakan dan membuat aku gelisah dan takut seperti buronan!

Meletakkan pesawat dengan marah.

Betapa saya marah. Sesudah beberapa puluh juta uang kantor saya pakai berpoya-poya, apakah ia mengharap saya mengangkat lemari besi itu ke rumahnya. Gila!
Ya, saudara. Saya telah berhubungan dengan seorang perempuan, beberapa hari setelah saya bertengkar di pengadilan agama itu. Saya tertipu. Uang saya ludes, uang kantor ludes. Tapi saya masih bisa bersyukur sebab lumpur itu baru mengenai betis saya. Setengah bulan yang lalu saya terjaga dari mimpi edan itu. Betapa saya terkejut, waktu menghitung beberapa juta uang kantor katut. Dan sejak itulah saya ingat isteri saya. Dan saya mendengar tangis anak-anak saya. Tambahan lagi isteri saya selalu menelepon sejak seminggu belakangan ini.
Tuhanku! Bulan ini bulan Desember, beberapa hari lagi kantor saya mengadakan stock opname. Inilah penderitaan itu.

Memandang potret di atas rak buku.

Sejak seminggu yang lalu saya pegang lagi potret itu. Tuhan, apakah saya mesti menjadi penyair untuk mengutarakan sengsara badan dan sengsara jiwa ini?

Apabila anak-anak telah tidur semua, dia duduk di sini di samping saya. Dia membuka-buka majalah dan saya membaca surat kabar. Pabila suatu saat mata kami bertemu maka kami pun sama-sama tersenyum. Lalu saya berkata lembut : “Manis, kau belum mengantuk?” Wajahnya yang mentakjubkan itu menggeleng-geleng indah dan manis sekali. Dia berkata, juga dengan lembut : “Aku hanya menunggu kau, mas” Saya tersenyum dan saya berkata lagi : “Aku hanya membaca koran, manis” Dan lalu ia berkata : “ Aku akan menunggui kau membaca koran, mas” Kemudian kami pun sama-sama tersenyum bagai merpati jantan dan betina.

Kubelai rambutnya yang halus mulus itu. Duuh wanginya. Nyamannya. Lautan minyak wangi yang memingsankan dan membius sukma. Apabila dia berkata seraya menengadah “Mas”. Maka segera kupadamkan lampu di sini dan lewat jendela kaca kami menyaksikan pekarangan dengan bunga-bunga yang kabur, dan langit biru bening dimana purnama yang kuning telor ayam itu merangkak-rangkak dari ranting keranting.

Tiba-tiba ganti nada.

Hah, saya baru saja telah menjadi penyair cengeng untuk mengenang semua itu. Tidak-tidak! Laki-laku itu ............, sebentar. Saya belum menelepon ke kantor bukan ? Sebentar.

Diangkatnya pesawat telepon itu ! memutar nomornya.

Hallo, minta 1237 utara. Hallo ! ....... Saudara Anief ... ? Kebetulan .... Ya, ya, mungkin pula influenza. (batuk-batuk-dan menyedot hidungnya) Yang pasti batuk dan pilek. Saudara....ya?....Ya, ya saudara Anief, saya akan merasa senang sekali kalau saudara sudi memintakan pamit saya kepada pak Sukandar....Terima kasih...Ya? Apa? Saudara bertemu dengan isteri saya disebuah restoran?
Nada suaranya naik.

Apa? Dengan laki-laki? (menahan amarahnya) Tentu saja saya tidak boleh marah, saudara. Dia bukan istri saya. Ya, ya...Hallo! Ya, jangan lupa pesan saya pada pak Sukandar.
batuk dan menyedot hidungnya lagi

Saya sakit. Ya, pilek. Terima kasih.

Meletakan pesawat telepon.

Seharusnya saya tak boleh marah. Bukankah dia bukan isteri saya lagi? Ah, persetan : pokoknya saya marah! Persetan : cemburuan kumat lagi? Ah, persetan! Saudara bisa mengira apa yang terdapat dalam hati saya. Saudara tahu apa yang ingin saya katakan pada saudara? Saya hanya butuh satu barang, saudara. Ya, benar-benar saya butuh pistol, saudara. Pistol. Saya akan bunuh mereka sekaligus. Kepala mereka cukup besar untuk menjaga agar peluru saya tidak meleset dari pelipisnya.

Nafasnya sudah kacau.

Kalau mayat-mayat itu sudah tergeletak di lantai, apakah saudara pikir saya akan membidikkan pistol itu ke kening saya? Oh, tidak! Dunia dan hidup tidak selebar daun kelor, saudara! Sebagai orang yang jujur dan jangan lupa saya adalah seorang ksatria dan sportif, maka tentu saja secara jantan saya akan menghadap dan menyerahkan diri pada pos polisi yang terdekat dan berkata dengan bangga dan herooik : “Pak saya telah menembak Pronocitra dan Roro Mendut.”

Tentu polisi itu akan tersenyum. Dan kagum campur haru. Dan bukan tidak mungkin ia akan memberi saya segelas teh. Dan baru setelah itu membawa saya ke dalam sebuah sel yang pengap.

Hari selanjutnya saya akan diperiksa. Ya, diperiksa. Lalu diadili. Ya, diadili. Saudara tahu apa yang hendak saya katakan pada hakim? Kepada hakim, kepada jaksa, kepada panitera dan kepada seluruh hadirin akan saya katakan bahwa mereka pengganggu masyarakat maka sudah sepatutnya dikirim ke neraka jahanam. Bukankah bumi ini bumi Indonesia yang ketentramannya harus dijaga oleh setiap warganya?

Saudara pasti tahu seperti saya pun tahu hakim yang botak itu akan berkata seraya menjatuhkan palunya : “Seumur hidup di Nusa Kambangan!”
Pikir saudara saya akan pingsan mendengar vonis semacam itu? Ooo, tidak saudara. Saya akan tetap percaya pada Tuhan. Tuhan lebih tahu daripada Hakim yang botak dan berkaca mata itu.

Lagi pula saya sudah siap untuk dibawa ke Nusa Kambangan. Di pulau itu saya hanya akan membutuhkan beberapa rim kertas dan pulpen. Ya, saudara. Saya akan menjadi pengarang. Saya akan menulis riwayat hidup saya dan proses pembunuhan itu yang sebenarnya, sehingga dunia akan sama membacanya. Saya yakin dunia akan mengerti letak soal yang sejati. Dunia akan menangis. Perempuan-perempuan akan meratap.

Dan seluruh warga bumi ini akan berkabung sebab telah berbuat salah menghukum seseorang yang tak bersalah. Juga saya yakin hakim itu akan mengelus-elus botaknya dan akan mengucurkan air matanya sebab menyesal dan niscaya dia akan membuang palunya ke luar. Itulah rancangan saya.

Saya sudah berketetapan hati. Saya sudah siap betul-betul sekarang. Siap dan nekad. Ooo, nanti dulu. Saya ingat sekarang. Saya belum punya pistol. Dimana saya bisa mendapatkannya? Inilah perasaan seorang pembunuh. Dendam dendam yang cukup padat seperti padatnya kertas petasan. Dahsyat letusannya. Saya ingat Sherlocks Holmes sekarang. Agatha Christi, Edgar Allan Poe. Sekarang saya insaf. Siapapun tidak boleh mencibirkan segenap pembunuh. Sebab saya kini percaya ada berbagai pembunuh di atas dunia ini. Dan yang ada di hadapan saudara, ini bukan pembunuh sembarang pembunuh. Jenis pembunuh ini adalah jenis pembunuh asmara.

Nah, saya telah mendapatkan judul karangan itu.
“Pembunuh Asmara” Lihatlah dunia telah berubah hanya dalam tempo beberapa anggukan kepala. Persetan! Dimana pistol itu dapat saya beli? Apakah saya harus terbang dulu ke Amerika, ke Dallas? Tentu saja tidak mungkin. Sebab itu berarti memberikan mereka waktu untuk melarikan diri sebelum kubekuk lehernya.

Oh, betapa marah saya. Darah seperti akan meledakan kepala saya. Betapa! Sampai-sampai saya ingin menyobek dada ini. Oh,...saya sekarang merasa bersahabat dengan Othello. Saudara tentu kenal dia, bukan? Dia adalah tokoh pencemburu dalam sebuah drama Shakespeare yang terkenal.
Othello. Dia bangsa Moor sedang saya bangsa Indonesia, namun sengsara dan senasib akibat kejahilan cantiknya anak cucu Hawa.
Telepon berdering! Seperti seekor harimau ia!
Itu dia.
Mengangkat pesawat telepon dengan kasar.

Hallo!!! Ya, disini Jazuli !! Kasir !! Ada apa?
Tiba-tiba berubah.
Oh,...maaf pak. Pak Sukandar, kepala saya. Maaf, pak. Saya kira isteri saya. Saya baru saja marah-marah...Ya, ya memang saya...Ya, ya.

Tertawa.

Ya, pak...
Batuk-batuk. Menyedot hidungnya.
Influenza... Ya, mudah-mudahan..Ya, pak....Ya.
Saudara, dengarlah. Dia mengharap saya besok masuk kantor untuk pemberesan keuangan....Ya?..Insya Allah, pak..Ada pegawai baru?..Siapa, pak? Istri saya, pak?

Tertawa.
Ya, pak...

Batuk-batuk dan menyedot hidungnya.

Ya, pak. Terima kasih. Terima kasih, pak. Besok.
Meletakan pesawat telepon.

Persetan! Saya yakin istri saya pasti kehabisan uang sekarang. Apakah saya mesti mengasihani dia? Tidak! Saya mesti membunuhnya.
Seakan menusukkan pisau.
Singa betina! Ya, sebaiknya dengan pisau saja, pisau.

Telepon berdering.

Persetan! Sekarang pasti dia.

Mengangkat telepon.

Kasir disini! Kasir PT Dwi Warna! Apa lagi! Jahanam! Ular betina yang telah menjadikan aku koruptor itu! Jangan bicara apa-apa! Tutup mulutmu! Mulutmu bau busuk! Aku bisa mati mendengar kata-katamu lewat telepon! Cari saja laki-laki lain yang hidungnya besar. Penggoda bah! Cari yang lain! Toch kau seorang petualang!

Meletakan pesawat telepon.

Jahanam! Apakah saya mesti membunuh tiga orang sekaligus dalam seketika? O, ya. Tadi saya sudah memikirkan pisau. Ya, pisaupun cukup untuk menghentikan jantung mereka berdenyut. (geram). Sayang sekali. Pengarang sandiwara ini bukan seorang pembunuh sehingga hambarlah cerita ini.

Tapi tak apa. Toch saya sudah cukup marah untuk membunuh mereka. Namun sebaiknya saya maki-maki dulu alisnya yang nista itu. Saya harus meneleponnya!

Mengangkat telepon.

Kemana saya harus menelepon? Tidak! (meletakan telepon)
Lebih baik saya rancangkan dulu secara masak-masak semuanya sekarang. Demi Allah, saudara mesti mengerti perasaan saya. Bilanglah pada isteri saudara-saudara : “Manis, jagalah perasaan suamimu, supaya jangan bernasib seperti Jazuli.”
Ya, memang saya adalah laki-laki yang malang. Tapi semuanya sudah terlanjur. Sayapun telah siap. Dengan menyesal sekali saya akan menjadi seorang pembunuh dalam sandiwara ini.

Seperti mendengar telepon berdering.

Hallo? Jazuli disini. Jazuli (sadar)
Saya kira berdering telepon tadi. Nah, saudara bisa melihat keadaan saya sekarang. Mata saya betul-betul gelap. Telinga saya betul-betul pekak. Saya tidak bisa lagi membedakan telepon itu berdering atau tidak. Artinya sudah cukup masak mental saya sebagai seorang pembunuh.

Tapi seorang pembunuh yang baik senantiasa merancangkan pekerjaan dengan baik pula seperti halnya seorang kasir yang baik. Mula-mula, nanti malam tentu, saya masuki halaman rumahnya. Saya berani mempertaruhkan separuh nyawa saya, pasti laki-laki itu ada disana. Dalam cahaya bulan yang diterangi kabut : ..Saya bayangkan begitulah suasananya.

Bulan berkabut, udara beku oleh dendam, sementara belati telah siap tersembunyi di pinggang dalam kemeja, saya ketok pintu serambinya.
Mereka pasti terkejut. Lebih-lebih mereka terkejut melihat pandangan mata saya yang dingin, pandangan mata seorang pembunuh.

Untuk beberapa saat akan saya pandangi saja mereka sehingga badan mereka bergetaran dan seketika menjadi tua karena ketakutan. Dan sebelum laki-laki itu sempat mengucapkan kalimatnya yang pertama, pisau telah tertancap di usarnya. Dan pasti isteri saya menjerit, tapi sebelum jerit itu cukup dapat memanggil tetangga-tetangga maka belati ini telah bersarang dalam perutnya. Tentu. Saya akan menarik nafas lega. Kalau mayat-mayat itu telah kaku terkapar di lantai, saya akan berkata : “Terpaksa. Jangan salahkan saya. Keadilan menuntut balas.”
Tiba-tiba pening di kepala.
Tapi kalau sekonyong-konyong muncul kedua anak saya? Ita dan Imam? Kalau mereka bertanya : “Pak, ibu kenapa pak? Pak, ibu pak?
Memukul-mukul kepalanya.
Tuhanku!

Duduk.

Dia melamun sekarang. Dua orang anaknya, Ita dan Imam, 5 dan 4 tahun menari-nari disekelilingnya. Di ruang tengah itu dengan sebuah nyanyian kanak-kanak : Bungaku.
Saudara-saudara bisa merasakan hal ini? Mereka sangat manisnya. Lihatlah. Saya tidak bisa lagi marah. Saya pun tak bisa lagi peduli pada apa saja selain kepada anak-anak yang manis itu. Saya tidak tahu lagi apakah isteri saya cantik apakah tidak. Saya tidak tahu lagi apakah laki-laki itu jahanam apakah tidak.

Saya hanya tahu anak-anak itu sangat manisnya. Betapa saya ingin melihat lagi bagaimana mereka tertawa. Tak ada yang lain mutlak harus dipertahankan kecuali anak-anak itu. Saudara-saudara mengerti maksud saya? Apakah hanya karena cemburu saya mesti merusak kembang-kembang yang telah bermekaran itu?

Balerina-balerina kecil itu menari bagai malaikat-malaikat kecil.
Semangat hidup yang sejati dan keberanian yang sejati timbul dalam diri begitu saya ingat Ita dan Imam anak-anak saya. Seakan mereka berkata : “Pak susulah ibu, pak. Pak, ke kantorlah, pak.”
Ya, Ita. Ya, Imam.
Malaikat-malaikat kecil itu gaib menjelma udara.

Saya harus pergi ke kantor. Akan saya katakan semuanya pada pak Sukandar. Saya akan mengganti uang itu setelah besok saya jual beberapa barang dalam rumah ini. Setelah semua beres saya akan mulai lagi hidup dengan tenang dan tawakal kepada Tuhan. Hari ini hari Jumat, di masjid setelah sembahyang saya akan minta ampun kepada Allah.
Saya tak mau tahu lagi apakah laki-laki Rahwana atau bukan. Saya tak mau tahu lagi apakah Sinta itu serong atau tidak. Saya tidak peduli. Tuhan ada dan laki-laki yang macam itu dan perempuan itu ada dalam hidup saya. Semuanya harus saya hadapi dengan arif, sebab kalau tidak Indonesia akan hancur berhubung saya menelantarkan anak-anak saya, Ita dan Imam.

Telepon berdering.

Jahanam! Kalau saudara mau percaya, inilah sundal itu. Setiap kali saya tengah berpikir begini, jahanam itu menelpon saya.
Telepon berdering lagi.
Jahanam! Inilah sundal itu sesudah uang kantor ludes, apakah ia mengharap rumah ini dijual.

Mengangkat pesawat telepon.

Ya, Misbach Jazuli

Tersirap darahnya.

Saudara, jantung saya berdebar seperti kala duduk di kursi pengantin. Demi Tuhan, tak salah ini adalah suara istri saya. Oh saya telah mencium bau bedaknya. Hutan mawar dan hutan anggrek. Ya, manis. Saya sendiri. Saya yakin dia pun sepikiran dengan saya. Saya akan mencoba menyingkap kenangan lama.
Hallo?..Tentu...Tentu. kenapa kau tidak menelepon tadi? Ya...ke kantor, bukan? Memang saya agak flu dan batuk-batuk.
(akan batuk tapi urung) ...Ya, manis. Kau ingat laut, pantai, pasir, tikar, kulit-kulit kacang..ah, indah sekali bukan?...Tentu...Tentu...He...?...Bagaimana?....Kawin? Kau?...Segera?

Lihatlah, niat baik selamanya tidak mudah segera terwujud. Apa?...Apa? Ha??? Saudara, gila perempuan itu. Apakah ini bukan suatu penghinaan? Dia mengharap agar nanti sore saya datang ke rumahnya untuk melihat apakah laki-laki calon suaminya itu cocok atau tidak baginya. Gila. Hmm, rupanya laki-laki yang dulu itu cuma iseng saja. Ya, tentu..bisa!

Meletakan pesawat dengan kasar.

Jahanam. Saudara tentu mampu merasakan apa yang saya rasakan. Beginilah, kalau pengarang sandiwara ini belum pernah mengalami peristiwa ini. Beginilah jadinya. Saya sendiri pun jadi bingung untuk mengakhiri cerita ini.
(tiba-tiba) Persetan pengarang itu! Jam berapa sekarang? Persetan semuanya! Yang penting saya akan ke kantor meski sudah siang. Dari kantor saya akan langsung ke masjid. Dari masjid langsung ke rumah mertua saya. Langsung saya boyong semuanya.
Anak-anak itu menanti saya. Persetan! Sampai ketemu. Selamat siang.
Melangkah seraya menyambar tasnya. Tiba-tiba berhenti. Setelah mengeluarkan sapu tangan, batuk-batuk dan menyedot hidungnya.
Saya influenza, bukan ?

*****SELESAI*****

Monolog : HATI YANG MERACAU - Edgar Allan Poe



Monolog
HATI YANG MERACAU
Karya: Edgar Allan Poe


Memang benar! Aku gelisah, sangat-sangat gelisah pada waktu itu, dan sekarang pun masih; namum mengapa kalian menyebutku gila? Rasa sakit menajamkan inderaku, bukan melemahkannya, apalagi membuatnya tumpul. Dan dibanding yang lainnya, indera pendengarankulah yang paling tajam. Aku mendengar semua hal di langit dan di bumi. Aku mendengar suara di neraka. Bagaimana bisa aku disebut gila? Dengarlah! Kalian akan tahu betapa warasnya, betapa tenangnya, aku menceritakan kepadamu seluruh kejadiannya.
Sulit menceritakan bagaimana mula-mula gagasan itu menyusup di benakku, tapi begitu masuk, ia memburuku siang malam. Tak ada niat dan dendamku. Aku mencintai orang tua itu. Ia tak pernah berbuat salah kepadaku. Juga tak pernah melukai hatiku. Emasnya pun tak kuinginkan. Kupikir yang menjadi persoalan adalah matanya. Ya, matanya! Salah satu bola matanya menyerupai mata burung pemangsa – mata yang biru dan berselaput. Setiap kali ia menatapku, darahku terasa beku. Dan sedikit demi sedikit – secara berangsur-angsur – aku membulatkan hatiku untuk membunuhnya sehingga terbebas selamanya dari sergapan mata burung pemangsa itu.

Di sinilah pangkal soalnya. Kau menganggapku gila. Semua orang gila pasti tidak tahu apa-apa. Namun kau akan melihat bagaimana aku akan melakukannya. Kau akan melihat betapa cerdiknya aku menyelesaikan pekerjaanku; begitu rapi, terencana, dan kemudian berpura-pura tidak tahu apa-apa. Aku menjadi lebih manis kepada oang tua itu pada seminggu terakhir sebelum aku membunuhnya. Setiap malam, menjelang tengah malam, aku memutar gagang pintu kamarnya dan membukanya – ehm, begitu hati-hati. Dan kemudian ketika pintu kamar itu terkuak dan cukup bagiku untuk memasukkan kepala, kumasukkan lentera berkatup yang kurapatkan semua lempengan katupnya sehingga tidak ada sinar yang menerobos keluar dair lenera tersebut, lalu kusorongkan kepalaku ke dalam. Oh, kau pasti terejut meliha betapa cerdiknya aku menyusupkan kepala. Semua kulakukan dengan pelan, sangat-sangat pelan, sehingga tidak mengganggu tidur rang tua itu. Kuperlukan satu jam untuk menempata posisi kepala sebaik-baiknya di celah pintu sehingga aku bisa leluasa melihat orang tua itu berbaring di ranjangnya. Nah, bisakah orang gila melakukan pekerjaan secerdik ini? Dan ketika kpalaku seudah leluasa, aku membuka katup penutup lentera dengan hati-hati – begitu hati-hati – jangan sampai engsel katupnya berderit. Aku membuka seperlunya saja, cukup agar seberkas tipis cahaya bisa menerangi mata burung pemangsa itu. Dan pekerjaan seperti ini kulakukan selama tujuh mala berturut-turut, tiap datang tengah malam, namun selalu kujumpai mata itu tertutup. Dalam keadaa seperti itu tentu mustahil melanjutkan rencanaku sebab bukan orang tua itu yang membangkitkan marahku, tetapi mata seta itu! Pagi harinya, di saat fajar, sengaja kudatangi amarnya, ku ajak ia bercakap-cakap kusapa namanya dengan penuh semangat, dan kutanyakan apakah tidurnya enak semalam. Dengan demikian, kau tahu, diperlukan kecerdasa tertentu pada si tua itu untuk menduga bahwa setiap malam, tepat pukul dua belas, aku selalu mengamatinya ketika ia tidur.

Pada malam ke delapan aku membuka pintu lebih hati-hati ketimbang malam-malam sebelumnya. Jarum menit jam dinding bahkan lebih epat ketimbang gerakan tanganku. Baru pada malam itu aku merasakan begitu besarnya kekuatanku – begitu cerdiknya akalku. Hmpir tidak bisa aku menahan luapan perasaan menangku. Membayangkan diriku sendiri sedang menguakkan pintu, sedikit demi sedikit, dan orang tua itu bahkan tidak pernah berkhayal tentang apa yang kulakukan dan apa yang kupikirkan. Aku tergeletak dengan lintasan pikiran ini, dan mungkin ia mendengar suaraku; sebab tiba-iba ia menggerakkan tubuhnya seperti orang terkejut. Sekarang kau pasti berpikir bahwa aku akan mundur. Tidak! Kamarnya gelap pekat, jendelanya gertutup rapat dan karena itu aku tahu bahwa ia tidak melihat pintu kamarnya terkuak, dan aku terus saja mendorong daun pintu itu sedikt demi sedikit.
Aku menyusupkan kepalaku ke celah pintu dan sedang membuka katup lentera ketika jemplku tiba-tiba selip dan mengetuk lempengan penutup, dan si tua itu bangkit dari ranjangnya.

“Siapa itu?” teriaknya.

Aku mematung di tempatku dan tak mengeluarkan sepatah pun kata. Dalam satu jam aku sama sekali tak bergerak, dan selama itu pula aku tidak mendengar ia merebahkan tubuhnya lagi. Ia tetap duduk di ranjangnya dan mendengarkan – seperti aku, malam demi malam, mendengar detak jam kematian di dinding.

Tiba-tiba kudengar erangan kecil, dan aku tahu itulah erangan yang muncul karena teror kematian. Bukan erangan karena sakit atau dukacita – sama sekali bukan – itu suara lemah orang tercekik, suara yang muncul dari dasar jiwa yang diteror kengerian. Aku kenal sekali dengan suara itu. Beberapa malam, tepat tengah malam, di saat dunia terlelap, suara itu bangkit dari dadaku, menusuk-nusuk, dengan gaungnya yang mengerikan – sebuah teror yang menggelisahkan. Kubilang aku kenal betul suara itu. Aku tahu apa yang dirasakan orang tua itu, dan turut berduka atas kemalangannya, meskipun dalam hati aku ketawa. Aku tahu bahwa matanya tak pernah lagi terpejam sejak ia dikejutkan oleh suara yang membangunkannya. Rasa takutnya tumbuh semakin besar. Ia coba menenangkan diri, tapi tidak bisa. Ia yakinkan dirinya sendiri, “Tidak ada apapun, hanya angi di cerobong asap – hanya tkus yang merayap,” atau “hanya jengkerik yang mengerik.” Ya, ia mencoba menenangkan diri dengan dugaan-dugaan seperti itu, tapi sia-sia. Sia-sia; sebab Maut yang menguntitnya diam-diam kini telah mengepung korbannya denga bayang-bayang hitam. Dan efek muram bayang-bayang yang tak tampak itulah yang menyebabkan ia merasakan – bukan mendengar atau melihat, namun merasakan – kehadiran kepalaku di kamarnya.
Setelah cukup lama menunggu, dengan sangat sabar, tanpa mendengar ia membaringkan kembali tubuhnya, maka kubuka sedikit – sedikit sekali – katup lentera untuk membuka celah kecil. Kau takkan bisa membayangkan betapa hati-hatinya aku membuka katup itu sehingga akhirnya sutas cahaya, setipis sulur benang laba-laba, memancar dari celah lentera dan jatuh tepat di mata burung pemangsa itu.

Mata itu terbuka – begitu lebar – dan amarahku bangkit melihat mata itu terbuka. Jelas sekali kulihat – mata biru berkabut, dengan selaput yang mengerikan, yang menusukkan hawa dingin di sumsum tulangku; namun sama sekali tak kulihat wajah orang tua itu: sebab seolah dibimbing oleh naluriku, cahaya lentera kuarahkan tepat pada bulatan mata keparat itu.
Jadi bukanlah yang kau sebut gila itu sesungguhnya adalah inderaku yang begitu tajam? Sekarang aku mendengar suara lemah, samar-samar, berdetak dalam tempo cepat seperti detak jam yang terungkus kain. Aku kenal betul suara itu. Ialah bunyi detak jantung orang tua itu. Kemarahanku memuncak, sebagaimana keberanian seorang serdadu naik karena pukulan genderang.

Kendati demikian aku masih menahan diri. Kutahan nafasku. Kujaga lentera di tanganku. Kujaga agar sinarnya tetap jatuh ke matanya. Sementara detak jantung terkutuk itu temponya semakin meningkat. Makin lama makin cepat, dan makin keras. Ketakutan si tua tu pastilah luar biasa! Suara itu makin keras, kubilang, bertambah keras setiap saat. Kau catatkah omonganku baik-baik? Telah kukatakan kepadamu bahwa aku gelisah: begitulah yang kurasakan. Dan sekarang pada jam kematian malam itu, di tengah kebisuan yang mencekam di rumah tua itu, dentam aneh itu menyiksaku layaknya sebuah teror yang tak tertanggungkan. Aku masih menahan diri beberapa menit dan tetap tak beraksi. Namun dentam itu makin memekakkan. Kupikir jantungnya pasti segera meledak. Dan sekarang aku merasakan kecemasan baru – para tetangga pasti akan mendengar bunyi itu! Tiba sudah waktu bagi si tua! Dengan teriakan keras, aku membuka semua katup lentera dan melompat kedalam kamar. Sekali ia memekik, hanya sekali. Dalam sekejap aku menyeretnya ke lantai dan membekapnya dengan kasur tebalnya. Setelah itu senyumku mengembang, semua pekerjaan beres. Bermenit-menit jantung itu masih berdetak samar-samar. Namun tak lagi membuatku jengkel; ia tak akan mampu menembus dinding. Akhirnya bunyi itu berhenti. Si tua sudah mati. Aku mengangkat kasur dan memeriksa mayatnya. Ya, ia sudah mati. Matanya tidak akan menyusahkan aku lagi.

Kalau masih kau anggap gila aku, anggapan itu tak akan berlaku lagi bila kulukiskan apa yang kulakukan untuk menyembunyikan mayatnya. Malam melarut, dan pekerjaanku kukebut, namun tanpa suara. Pertama-tama kupotong-potong mayat itu. Kupenggal kepalanya, kedua lengannya, dan kedua kakinya.

Kemudian kubongkar tiga bilah papan lantai kamar itu dan kumasukkan potongan-potongan tubuhnya ke dalam rongga di bawah lantai kamar. Setelah itu kukembalikan lagi papan lantai seperti semula, begitu sepele, begitu rapi, sehingga tak satupun mata – termasuk mata si tua itu – yang menemukan adanya kejanggalan. Tidak ada yang perlu di cuci – tak ada ceceran noda apa pun – tidak ada bercak darah sekecil apa pun. Aku sangat waspada terhadap semua itu. Bak mandi sudah menampung semuanya. Ha! Ha!

Jam empat pagi semua pekerjaanku selesai. Hari masih gelap seperti tengah malam. Bersamaan dengan dentang lonceng jam, terdengar ketukan di pintu depan. Aku turun dengan perasaan ringan, - apalagi yang perlu ditakutkan? Kubuka pintu, tiga orang lelaki masuk, mereka memperkenalkan diri, dengan sangat sopan sebagai petugas-petugas kepolisian. Seorang tetangga mendengar pekik semalam. Menduga ada tindak kejahatan, ia kemudian melapor ke kantor polisi, dan mereka (para polisi itu) ditugasi untuk melakukan penyidikan atas kecurigaan si tetangga.

Aku tersenyum – apa lagi yang perlu ditakutkan? Denga ramah kupersilahkan mereka masuk. Pekik itu, kataku, keluar dari mulutku di saat mimpi. Kujelaskan kepada mereka bahwa si orang tua sedang tidak di rumah. Lalu kubawa mereka melihat-lihat seisi rumah. Kupersialhkan mereka memeriksa – memeriksa dengan teliti. Akhirnya kubawa ketiga orang itu ke kamar si tua. Kuperlihatkan kepada mereka barang-barang berharga miliknya. Semua aman, tidak tercolek. Dengan kepercayaan diri yang melambung, aku ngusung kursi-kursi ke dalam kamar dan meminta mereka untuk melepas lelah di tempat itu, sementara aku sendiri, dalam gelegak keberanian karena kemenangan yang sempurna, meletakkan kursiku tepa di atas tempat aku menyimpan mayat korban.

Para petugas merasa puas. Perlakuanku meyakinkan mereka. Aku sendiri merasa tenang. Mereka duduk, dan sementara aku menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan keseharian yang remeh. Tapi sebentar kemudian aku merasa parasku memucat dan berharap agar mereka segera pergi. Kepalaku pening, dan aku merasakan dering di telingaku, namun mereka tetap duduk dan bercakap-cakap. Dring itu menjai lebih jelas: terus-menerus dan makin jelas. Aku bicara lebih keras untuk mengusir perasaan itu; namun dering itu terus saja dan makin pasti – sampai akhirnya aku sadar bahwa dering itu bukan di dalam telingaku.
Parasku aku yakin, makin memucat; namun bicaraku lebih fasih dan lebih lantang. Tapi suara itu bangkit – apa yang bisa kulakukan? Kudengar suara lemah, samar-samar, yang berdetak dalam tempo cepat, seperti detak jam yang terbungkus kain. Nafasku tersengal – namun para petugas itu tidak mendengarnya. Bicaraku lebih cepat – lebih meyakinkan; namun bunyi keparat itu makin kuat. Aku bangkit dan mendebat segala topik pembicaraan yang sepele, dalam nada tinggi dan gerak tubuh yang kasar, tapi bunyi itu terus menguat. Mengapa merea tidak mau pergi? Aku mondar-mandir dengan langkah panjang dan menghentak, seolah-olah merasa terganggu oleh pemeriksaan yang mereka lakukan – tapi bunyi keparat itu terus menguat. Ya, Tuhan! Apa yang bisa kulakukan? Aku meradang – aku meracau – aku mengutuk! Kuangkat kursi yang kududuki dan kuhempaskan benda itu ke lantai papan, namun kegaduhan yang ditimbulkanya tertelan oleh bunyi keparat yang terus menguat itu. Suara itu makin kencang, makin kencang, makin kencang! Para petugas, tetap melanjutkan percakapan seperti tak terjadi apa-apa, dan tersenyum. Bagaimana mungkin mereka tidak mndengar? Demi Tuhan! – Tidak!- Tidak! Mereka juga mendengar – mereka curiga – mereka tahu! Mereka pasti sedang menemoohkan ketakutanku – kupikir begitu. Cara lain kurasa jauh lebih baik dari siksaan seperti ini! Cara lain apa pun lebih bisa ditanggungkan daripada pelecehan ini! Aku tidak kuat lagi melihat senyum pura-pura mereka. Aku merasa bahwa aku haru berteriak atau mampus! – dan sekarang – bunyi itu lagi – dengar! Makin kencang – makin kencang – makin kencang!

“Jahanam!” aku memekik, “tak usah berpura-pura lagi! Aku yang melakukan semuanya! Bongkar saja papan ini – di sini, di sini! Di sinilah dentam jantung keparat itu!”

*****SELESAI*****