Tampilkan postingan dengan label MONOLOG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MONOLOG. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Maret 2023

Monolog : MATA REMBULAN - Warto Ibrohim


 
DIATAS PANGGUNG TERLIHAT SEBUAH BALE YANG SUDAH TUA TERBUAT DARI BAMBU. DISAMPING KIRINYA ADA SEBUAH KURSI KAYU YANG TUA JUGA. DI BELAKANG KURSI ITU TERIHAT LUKISAN YANG TERTUTUP KAIN WARNA PUTIH.

MASUK SEORANG LELAKI DENGAN RAMBUT GONDRONG KELIHATAN TAK TERURUS. MEMAKAI BAJU KEMEJA KOTAK-KOTAK LENGAN PANJANG DAN TERLIHAT KEBESARAN. MEMAKAI CELANA JEANS DENGAN SEPATU KULIT HITAM.

LELAKI ITU MASUK DENGAN MEMBAWA TAS YANG DARI KEJAUHAN TERLIHAT RAMBUT KUASNYA SEMENTARA TANGAN YANG SATUNYA MEMBAWA SEBIDANG KANVAS SEGI EMPAT. LALU DIA DUDUK DIATAS BALE. SAMBIL MELETAKAN TAS DAN KANVAS YANG DI BAWANYA.

DENGAN WAJAH TERLIHAT LELAH.

LELAKI
Memang hidup adalah teka-teki yang belum terpecahkan bahkan sampai kapanpun tidak akan pernah ada yang mengetahuinya

(MENYALAKAN ROKOK)

dan sudah seharusnya seperti ini Tuhan memberi jalan hidup pada mahluknya

(DENGAN SESEKALI MENGHISAP ROKOK)

entah sudah berapa lama aku menjadi seorang pelukis, entah berapa banyak karyaku yang tertumpuk di dinding rumah ini dan tidak ada yang menawar bahkan melirikpun enggan.

(DIA MEREBAHKAN TUBUHNYA DIATAS BALE)

Apakah benar mitos tentang lukisan akan menjadi rebutan dengan harga yang cukup mahal ketika pelukisnya sudah meninggal? Jika itu benar apakah saya harus mati dahulu agar lukisanku laku dengan harga yang pantas menurutku.

(BERDIRI DAN PERGI KE BELAKANG KURSI MEMBUKA KAIN PUTUH YANG BERISI LUKISAN WANITA CANTIK BAHKAN SANGAT CANTIK NAMUN LUKISAN ITU TERLIHAT BELUM SELESAI KARENA KEDUA MATANYA BELUM ADA)

He he he…Itu semua hanya mitos tidak lebih dari itu, jadi untuk para pekerja seni alangkah lebih baiknya jangan percaya dengan hal yang seperti itu

(MENDIRIKAN LUKISAN DI DEPAN KURSI)

tidak ada ruginya kita terus berkarya, laku dan tidaknya itu adalah teka- teki yang belum terpecahkan.

(SAMBIL MEMBUKA CAT DAN ALAT LUKIS LAINNYA, BERMAKSUD MENYELESAIKANYA)

Benar, kau memang menawan, taukah engkau? Dua tahun terahir ini aku selalu bingung, gundah dan bagiku ini bukan masalah karena memang ini bukan masalah, hanya saja sebuah kaindahan yang tidak bisa saya tumpahkan, namun pada kesempatan ini saya akan tumpahkan keindahan itu dan kamu akan terlihat lebih nyata karena keindahan itu terletak pada kedua matamu, yang sekarang akan saya sempurnakan.

(DENGAN RAGU IA HENDAK MENYAPUKAN KUAS DI MATA LUKISAN ITU)

Benar saja, lagi-lagi ini terjadi kembali, matamu itu terlalu…. Indah..!! telalu sempurna!

(DIA BERDIRI)

Akankah aku membiarkanmu terlihat tanpa mata sepeti ini? itu tidak mungkin, karena aku ridu pada tatapanmu yang selalu menghantui hidupku.

(DIA MENINGALKAN LUKISAN MENUJU BALE DAN DUDUK TERUS MENYALAKAN ROKOK)

Terahir saya bertemu denganya ketika dia hendak pergi untuk melanjutkan sekolahnya di bali, kutatap matanya berbinar meneteskan air mata mungkin karena dia berat meninggalkanku saya tau itu, namun saya tetap tersenyum, matanya yang indah menjadi korban perasaan sehingga meneteskan air mata, tapi masih memencarkan keindahan yang tiada tara, sungguh anugrah yang sangat luar biasa.

(MENGHISAP ROKOK DAN BICARA DENGAN NADA PELAN)

Aku merindukan matanya yang cerah, bersih seperti menggambarkan hatinya, keperibadianya tapi apakah dia akan terus tanpa mata seperi itu (MENENGOK KE LUKISAN) saya harus menyelesaikanya.

(DIA BERDIRI MENGHAMPIRI LUKISAN ITU, SEBELUM MULAI DIA MEMBUANG ROKOKNYA DAN MENGINJAKNYA)

Memang sudah seharusnya kau mendapatkan hakmu, juga sudah kewajibanku tidak boleh menelantarkanmu seperti ini

(KALI INI DIA MANTAP INGIN MENYELESAIKAN KEWAJIBANYA NAMUN SEBELUM KUAS ITU MENEMPEL TANGANYA GEMATERAN DAN…)

Akh…matamu terlalu indah…!!! Tidakkah kau kasihan padaku yang selalu terbayang oleh matamu tapi kenapa saya tidak di ijinkakan untuk bisa melukiskanya.

(LALU DIA BERSANDAR LEMAS PADA KURSI TAK LAMA, DIA BERJALAN MENGHAMPIRI BALE DAN MENGAMBIL KANVAS YANG MASIH KOSONG DAN MENURUNKAN LUKISAN TANPA MATA DAN MENGGANTIKANYA, DIAPUN MULAI MELUKIS ENTAH APA YANG DI LUKISNYA, DENGAN SESEKALI MATANYA MELIRIK KEBAWAH TERTUJU PADA LUKISAN GADIS TANPA MATA ITU, SEAKAN DIA TIDAK RELA MENINGGALKANYA. LALU DIA BERKATA)

Kenapa kau memandangku seperti itu, Kenapa aku tak bisa lari darimu..? sungguh tanpa matapun kau begitu menarik perhatianku, tapi maaf untuk saat ini aku tidak bisa diganggu.

(LALU DIA MENGANGKAT KANVASNYA DAN DUDUK DI BALE BERMAKSUD MENGHINDAR DARI LUKISAN TANPA MATA ITU, DAN DIA MELANJUTKAN MELUKIS, NAMUN TETAP DIA TIDAK TENANG MASIH SAJA METANYA SESEKALI MELIRIK LUKISAN TANPA MATA ITU)

Baiklah..!! jika memang benar-benar kau menuntut hakmu, sayapun akan benar-benar menjalankan kewajibanku.

(LALU DIA TURUNKAN LUKISAN ITU DAN MENGGANTINYA DENGAN LUKISAN GADIS TANPA MATA)

Pfuuuh… akankah setiap hari kau menuntutku seperti ini?

(DIA BERBARING DI ATAS BALE DENGAN TATAPAN KOSONG TERTUJU KE ATAS, DENGAN NADA TANPA SEMANGAT)

Entah berapa lama lagi aku terjerat dalam penantian, bahkan untuk menghiburku kirim kabarpun engkau tidak, dan kau yang tanpa mata (MENENGOK KE LUKISAN) kenapa selalu menuntutku seperti ini, tanpa harus menuntutpun sudah kewajibanku untuk memberikan kesempurnaan padamu layaknya karya-karyaku yang lain.

(PERLAHAN DIA DUDUK)

Karena aku tidak mau tatapanmu yang indah akan cacat karena ulahku yang berdampak menghancurka semua keindahanmu, aku tidak mau itu, dan kaupun tidak menginginkan hal itu bukan? Kau harus bersabaaar..!! jika kau rindu pada matamu, sama..!! bahkan aku selalu terbayang oleh matamu tapi aku belum bisa menggambarkanya jadi sekali lagi saya minta kamu harus sabar.

(DIA BERDIRI DAN BERJALAN SANTAI LEBIH DEKAT KE PENONTON SAMBIL BERKATA)

Jangan kau paksa aku untuk merusak segalanya, dua tahun bukan waktu yang singkat jika digunakan hanya untuk menunggu seseorang yang kabarpun tidak pernah saya dengar, memang wajahnya selalu datang sedetikpun tidak pernah hilang dari hidupku tapi apakah dia selalu baik dan sehat seperti dia datang dalam bayangku.

Pernah sekali dia mengirim kabar ketika dia diterima di Universitas idamannya, kali pertama aku menerima surat darinya dan mungkin itu yang terakhir aku menerima kabar tentang dia, namun ada kata yang membuat saya selalu menunggunya, dia bilang dalam suratnya “aku ingin melihatmu bahagia, namun aku berharap kebahagiaan itu ada pada diriku”

Sungguh kata yang sangat bijak dan penuh dengan harapan juga sedikit egois. sampai sekarang kata-kata itu selalu terngiang dalam hidupku, sehingga aku tidak bisa lari dari penantianku, karena akupun sama menaruh harapan padanya.

(DIA MENENGOK KEBELAKANG MELIHAT LUKISAN ITU)

Dan lukisan itu mungkin bisa dikatakan sebagai buah dari kerinduanku padanya, mulanya saya tidak ada niat sama sekali untuk melukisnya karena fikirku dia sudah terlukis dalam hatiku, tapi aku takut kehilangan dia, aku takut dia tidak lagi datang dalam hari- hariku. Aku gelisah dan akhirnya kubikin lukisan itu sebagai alat untuk memanggil agar dia kembali dalam bayangku, alhasil dia tidak hanya datang dalam bayangku malahan dia menuntut dalam kehidupanku.

(DIA KEMBALI MENENGOK KE BELAKANG DIA TERDIAM SEJENAK DAN PERLAHAN MENDEKATI LUKISAN ITU, DIA BERDIRI TEPAT DI SAMPING LUKISAN TANPA MATA ITU, LALU DIA BERGUMAM)

Mata yang indah… ya… mata yang indah, saya harus membuat mata yang indah seperti dalam bayangku, itu harus..!

(SETELAH AGAK LAMA BERFIKIR DIA LANGSUNG MEMEGANG KUAS HENDAK MENYELESAIKANNYA, DIA BERGUMAM BERGUMAM SAMBIL BERFIKIR SEBELUM DIA MULAI MELUKIS)

Mata yang indah ya… kekuataan magis manusia terletak pada matanya, mata adalah jendela hati dia tidak pernah berbohong. saya harus menyelesaikanya hari ini juga karena saya ingin dia terlihat sempurna seperti nyatanya.

(LALU DIA ANGKAT KANVAS ITU KE POJOK SEBELAH KANAN BERMAKSUD MENCARI INSPIRASI, NAMUN TETAP SESAMPAINYA DI SANA DIA HANYA TERDIAM DENGAN TATAPAN YANG JAUH ENTAH KEMANA DENGAN SESEKALI DARI MULUTNYA TERLONTAR SEBUAH KATA)

Mata yang indah…! Saya harus menyelesaikanya hari ini juga, hari ini juga..

(SEAKAN TIDAK MENDAPAT APA-APA DARI POJOK SEBELAH KANAN DAN SEKARANG DIA PINDAH KE POJOK BELAKANG SEBELAH KIRI SAMBIL MEMBAWA KANVAS DAN DI SANA PUN DIA TERDIAM DENGAN TANGAN SEDIKIT GEMETAR DAN TANPA SEDIKIT KATAPUN YANG DI LONTARKANYA. SETELAH BERAPA, LAMA DIA BERJALAN MONDAR - MANDIR SAMBIL MENGAYUN - AYUNKAN KUAS YANG ADA PADA TANGANYA, MENUNJUKAN KEGELISAHAN DAN AMBISINYA UNTUK MENYELESAIKAN LUKISAN ITU PADA HARI INI JUGA. ENTAH BERAPA LAMA DIA MONDAR-MANDIR DAN AHIRNYA DIA DUDUK DI BALE DENGAN MATA MEMANDANG KE ATAS, TAK LAMA SEBUAH KATA TERLONTAR DARI MULUTNYA)

Rembulan yang indah…Ya rembulan..!!

(KINI DARI WAJAHNYA TERLIHAT SEDIKIT SENYUM, DAN DIA MENGAMBIL LUKISAN ITU, SAMBIL MEMBANDINGKAN LUKISAN DENGAN REMBULAN)

Benar-benar kesempurnaan tiada tara, ha ha ha…….!! akhirnya semua telah terjawab, terima kasih Tuhan…!! Engkau telah sedikit memberi jawaban pada teka teki hidup ini, terima kasih Tuhan…terima kasih, dan pada hari ini saya telah melahirkan sebuah karya yang paling berharga dalam hidupku, kini tuntutanmu sudah tak berlaku mulai hari ini, saya telah menyempurnakanmu seperti karya- karyaku yang lain bahkan lebih dari itu. Memang tidak ada keraguan sedikitpun, sungguh kesempurnaan yang utuh, biarlah kamu untuk selamanya seperti ini, tanpa mata dan jika saya atau siapa saja yang merindukan sorot matamu, saya akan melakukan hal yang sama seperti pada malam ini, saya akan keluar dari rumahku dan akan saya habiskan gelapnya malam hanya untuk mendapatkan sinar dari matamu. memang kau tidak selalu hadir dalam malam-malamku tapi saya akan selalu merindukan hari-hari dimana engkau menghiasi malam, dan saya akan selalu menunggu seperti dua tahun terakhir ini dalam penantian.

(LALU HANDPHONE BERDERING)

Halo..

Iya aku sendiri..

ada yang bia aku bantu?

ma’af ini siapa?

rumah sakit?

siapa yang sakit?

ibu saya, bapak saya, kakak saya atau mungkin saudara saya,

terus siapa yang sakit?

(LALU HP-NYA JATUH, DIA HANYA DIAM DENGAN PERASAAN TERPUKUL YANG MENDALAM DIA INGIN BERTERIAK TAPI TIDAK BISA.

KEMBALI KE BELAKANG MENGACAK-ACAK TASDAN MENCARI KERTAS. MENULIS SURAT)

ISI SURAT
Untukmu yang terindah

Aku berharap surat ini dapat engkau membacanya ketika engkau sudah dapat melihat kembali dengan matamu yang mungkin tak sesempurna dulu.

Dua tahun lamanya saya menunggu kerinduanmu yang tanpa berita, tidak kurang dari dua tahun keindahan cahayamu mengisi hidupku.

Memakan waktu dua tahun pula saya melukismu tanpa kehidupan, dan pada hari ini, detik ini saya menyelesaikan lukisanku dengan kehidupan yang tidak ada dalam diri manusia.

Seandainya Tuhan memberi tahuku tentang hari ini walaupun hanya sedikit, saya tidak akan menyelesaikan lukisan wajahmu sampai kapanpun itu, walaupun dia menuntut bahkan merengek sekalipun tidak akan pernah saya selesaikan, karena saya tidak mau kehilangan cahaya hidupmu.

Saya teringat kata-katamu “Aku ingin melihatmu behagia namun aku berharap kebahagiaan itu ada pada diriku”

Berbahagialah dengan matamu yang baru dan mataku itu, karena saya ingin melihatmu tesenyum, dan saya sudah cukup bahagia karena keindahanmu selalu ada dalam hidupku bahkan untuk selamanya.

Terimakasih

Aku kan selalu tersenyum

Jogjakarta 02 Nopember 2009

(LALU DIA MENGAMBIL PISAU YANG ADA DALAM TASNYA DAN TANPA BASA-SASI DI MENCONGKEL MATA SEBELAH KANANNYA DIA MERJINGIS KESAKITAN NAMUN TIDAK TERIAK DAN MEMASUKAN BOLA MATANYA DALAM KANTONG PLASTIK , KINI MATA SEBELAH KIRINYA DIA CONGKEL JUGA DIA MENGERANG LEBIH KESAKITAN SAMPAI-SAMPAI BOLA MATANYA TERJATUH DAN DIA MERABA-RABA LANTAI MENCARI MATANYA DAN DIMASUKAN JUGA DALAM KANTONG KERESEK,TERUS DIMASUKAN LAGI DALAM KOTAK.

LALU DIA PERGI MENINGGALKAN PANGGUNG SAMBIL MAMBAWA SURAT DAN KOTAK ITU DENGAN TERBATA-BATA.


SELESAI
Nopember 2009

Monolog - MALAM GELISAH - Ida Khoirotin


Pemain duduk di tengah penonton, dan mengajak dialog, salah satu penonton, sedang panggung lampu biru menyorot ranjang kosong, dengan di iringi lagu jazz yang melankolis

Pemain : 
pemain menatap tajam mata salah satu penonton, dengan ekspresi penuh harapan.Sungguh ! hari ini, aku melihat cakrawala di wajahmu. Terdiam. Bagaimana bisa, angin begitu saja berhembus, tanpa tanda tanya atas resahku ini. Tertunduk, lalu pelan-pelan kembali mengangkat kepala dan kembali menatap mata penonton itu dengan lebih tajam. Benarkah? Oghh...lalu berlari dengan menari-nari.

Black Out

Pemain berbaring di ranjang, cahaya kamar yang terang pelan pelan meredup, cahaya berganti bernuansa sesuai dengan hatinya yang resah teriring musik yang menggambarkan suasana batinnya.

Pemain : 
Resahku, andai saja engkau sudi bersandar pada rembulan yang manja. Terbangun, lalu mengambil sebuah cermin lalu merias wajahnya. Aku tahu! tersenyum Setiap malam kau mengendap-endap diantara detak jarum jam di dindingku. Lalu mencari tahu, sedang apa aku pada tiap malamku.? Diam-diam, kau berbaring di bawah jendela kamarku sambil menatap bulan pucat di atas sana. Tak ada yang buruk dalam kebisuan ini, seperti bagaimana heningnya malam-malam para mujahid di Palestina. Lalu bediri perlahan-lahan, lalu perlahan berjalan menghampiri sesosok imagi yang seolah-olah datang memanggil Maukah, engkau temani aku berdansa malam ini? Biar tak padam pengharapan akanmu. Berdansa...Tiba-tiba lonceng jam berbunyi, ia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang sambing menghela napas dalam-dalam, lantas kembali duduk sambil memeluk guling Baginya, aku adalah matahari esok. Yang akan dia pandangi penuh selaksa takjub! Dan mampu, memberikan kehangatan asmara saat ia terbangun dari mimpi indahnya malam ini! Hmm...

Black out.

Setting sebuah kamar mandi dengan lampu yang nyalanya berkedip-kedip, di dindingnya ada siluet perang dunia kedua.

Pemain : 
menghadap kesiluet. Gemuruh ini adalah kekalutan, sajak peristiwa yang teranasir pada tiap dinding sejarah! Bermuslihat dalam agitatif perasaan yang imajiner! Terjungkal di sudut ruang tak bermimpi! Angin ini, tetaplah angin yang sama. Yang lamat-lamat, mengguris tiap desiran hasratku! Berbalik menatap ke penonton, dengan pandangan rapuh, tersorot lampu merah 40%.Tiap-tiap kita punya janji yang kita ikrarkan sendiri. Pada tiap jengkal kaki melangkah bila sepatu rusak mengapa kita menyalahkan kaki, yang telah menghantarkan kita pada perjalanan berabad-abad lamanya? Kekasih, andai kau dengar seperti apa yang kudengar! Juga, bila engkau merasa seperti apa yang aku rasa! Maka, esok kejujuran tak boleh tertunda! Aku tak akan pernah sanggup bilai rangkaian mimpiku kau pecundangi. Sebagaimana, lelaki bodoh yang menunggu kedatangan ikhtibar kemerdekaan di saat jatuhnya Tsar di Soviet!

Black Out

Setting satu meja dan satu kursi, ia galau sambil menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok.


Pemain : 
Dia harus datang ! Tapi, bagaimana jika dia tidak datang? Atau dia datang, tapi dengan sesuatu yang tidak aku inginkan? Menyeruput kopi. Kau harus datang dengan agenda yang jelas! Karena, akupun begitu. Telah aku susun dengan sistematis agenda yang akan kita bicarakan esok, ketika berjumpa denganmu. Aku tak mau datang dengan tangan kosong, apalagi otak kosong! Dan juga, aku tak mau kembali dengan tangan hampa dan otak yang terjajah! Kembali menyeruput kopi, lalu berdiri dengan berat. Berjalan memutari meja dan kursi. Dia akan datang sebagai apa ? Aku tak mau, ia mementaskan peran yang tak aku inginkan. Ia boleh saja menjadi Srikandi, Sri Rama, atau bahkan bajingan Caligula! Yang penting jelas, tak boleh samar! Karena sebuah tokoh harus di hadirkan secara utuh, baik fisik maupun emosional! Jangan terlalu absurd, karena itu cenderung pengecut! Walau, Albert Camus memberontak dengan itu. Tetapi bagaimanapun, aku juga jengah jika engkau berlagak seperti Romeo. Aku ingin, engkau jujur dalam peranmu! Tak harus ideal, yang penting aku mampu memahami inginmu. Begitupun sebaliknya... lalu lamat-lamat terdengar alunan musik piano chopin. Jadilah sekedar kabayan atau Samijah! Karena itu lebih aku pahami sebagai kejujuran yang sederhana. Sebab, hubungan kita bukan hubungan antar kosmik! Yang membutuhkan otak Einstein, untuk memiliki rumusan jawabnnya. Walau aku tahu, kau tipikal seperti apa. Kau, sangat suka bermain pada wilayah itu. Kau sangat berliku! Kau tak suka kesederhanaan, karena kesederhanaan bagimu sangat nggak berkelas! Tetapi, sungguh aku lebih suka engkau bersikap wajar! Aku takut, engkau memaksakan tompeng keangkuhanmu di depanku. Kekasih...

Black Out

Ranjang, denting suara jam tertedengar. Ia membawa setangkai bunga plastik.


Pemain : 
Alunan syair Thingking About You milik Norah Jones terdengar seperti suara hatinya yang sedang memikirkan seseorang.Hmm, kamu sekarang sedang apa? Apakah kau juga memikirkan aku, seperti aku yang tiada henti memikirkanmu?...(tanpa terasa air membulir dari matanya)Kekasih...! Adakah kesetiaanku ini terjawab dengan kehadiran seribu bunga cintamu? Kekasih, yang aku kagumi dengan selaksa takjub! Yang dengan tanganku ini, aku rela memikul semua beban hidupmu. Yang dengan nafasku ini aku rela berkorban apapun untukmu. Aku mencintaimu, lebih dari cinta itu sendiri! Aku rela, walau kau buat aku sebagai cinta yang kau definisikan. Asal, ada senyum dibibirmu untukku...! Bunga dalam genggamannya itu terjatuh. Mengapa aku sangat rapuh? Mengapa, aku tak sanggup menjadi Tjut Nyak Dien ? Yang begitu perkasa dalam memimpin revolusi rakyat Aceh! Mengapa aku tak setangguh bunda Theresa? Yang dengan cintanya, ia mampu mengulurkan kasih pada siapapun! Mengapa, tak juga aku mampu, menjadi prempuan hebat seperti Marsinah? Atau, ketangguhan pelacur-pelacur dalam naskah Pelacur dan Presiden! Atau apapun! Yang penting, aku harus tangguh! Apakah ini jiwa kebanyakan perempuan Indonesiaku? Yang lebih senang bermanja di atas ranjang, sambil menikmati segelas coklat hangat, serta ditemani boneka barbie sambil mendengar musik romantis yang picik? Duduk di lantai sambil bersandar di ranjang, lalu mengambil boneka dan di letakkan disampingnya. Mengapa kau meracuniku? Engkau, seperti nikotin dalam tiap asap rokok yang aku hisap! Engkau seperti alkohol dalam sebotol martel, dahsyat ! Apakah engkau juga teracuni dan mabuk seperti aku? Katakan itu, sms aku, kirim email aku, atau tulis di dinding facebookku! Atau apapun! Agar aku tahu bahwa kau mengalami rasa yang sama malam ini ! Hahahhahaha.....tiba-tiba ia tertawa sendiri.Aku pantas mendapat oscar atau minimal piala citra! Atau, artis terbaik dalam panggung teater. Aku nampak seperti Marilyn Monroe malam ini. seseksi Lady Gaga. Seanggun Kate Winslet dalam film Titanic. Bahkan, berkarakter seperti pemeran di sebuah sinetron yang episodenya tak pernah habis. Wakakakkakakak, Sirine Sungkan! Lalu memeragakan adegan dalam salah satu sinetron striping, kemudian tertawa sangat keras. Wakakakakakak! Kampungan! Bagaimana bisa, artis kayak gitu bisa laku keras di masyarakat? Dasar penontonnya pada udik dan ndeso! Mending, lihat film India! Lihat tuh aktingnya! Keren! Kita bisa menangis, tertawa, juga menari.. Atau, coba kita lihat drama-drama korea! Artis mereka sangat natural saat memerannkan tokoh. Tidak dibuat-buat dan over akting. Seharusnya, para pemilik PH kalau mencari artis itu seperti aku! Coba kurang apa aku? Cantik dan berkarakter, pokoknya kalau sama Julia Robert sih, 11-12, deh! Nggak jauh-jauh amat!

Black Out

Setting, TV menyala tanpa gambar satu kursi dan boneka yang tergantung


Pemain : 
ia menatap boneka yang menggantung di depannya. Tahukah kamu?dengan suara berat dan tergetar. Bagaimana para pemimpin otoriter itu tewas? Iya ! Itulah, yang pantas buat mereka! Yang tak mampu mengemban amanat penderitaan rakyatnya! Berdiri lalu mengambil sebilah pisau, ia tampak marah. Itu saja belum cukup! Harusnya kulitnya dikuliti. Tubuhnya di mutilasi, lalu kemaluannya dipotong-potong seperti sosis, yang di jual di depan sekolah! Terdiam, lalu menusukkan pisaunya ke badan boneka tersebut. Sakit bukan? Inilah penderitaan, sebuah penantian! Kau harus tahu, dan ikut merasakan! Inilah keadilan yang ideal, yang tidak ada kelas dalam sebuah hubungan! Tak ada borjuis atau proletar! Tidak ada penguasa atau jelatah! Tak ada kaya atau papa! Yang ada adalah kesetaraan ! Mau atau tidak, kau harus mengamini ini! Atau, kau mau aku bantai? Seperti Saddam Husein ! Hahhahaah! Iya, aku harus kejam! Karena kekejamanku, adalah kesadisan eksotis! Mendekatkan telinganya pada boneka itu. Apa? Kau punya ide yang lain? Hai! Kau jangan coba-coba memutarbalikkan ideologiku! Kau mulut subversif ! Setiap perkataanmu, membuat aku rapuh. Diam bangsat! Diaaaaaammmmmm! terhuyung ke lantai, menangis sambil merintih, tangannya mencoba meraih kembali boneka itu. Aduh , aku lapar !

black out

Setting, meja di atasnya sebuah vas bunga dan setangkai bunga plastik. Sedang ia berdiri di samping ranjang sambil memegang guling di tangan kirinya.

Pemain : 
Peluk aku, pada perjumpaan esok! Tak perlu engkau ungkapkan rasamu dengan kata-katamu! Aku takut, ia sekedar indah seperti bunga itu. Karena ia begitu mudah layu, dan karenanyalah aku takut. Aku tahu, walau ia telah layu, dia tetaplah bunga, dan hasrat takkan berubah nama. Walau, terhasrat itu pergi. Sebab ia masih hidup, walau sebatas kenangan akan senja! Berjalan lalu terduduk di ranjang. Harusnya, kau tahu ! Setiap perempuan mempunyai impian untuk hidup dengan siapa yang dipujanya. Begitu pun aku. Semenjak anak-anak. Aku selalu berharap. Kelak, datang seorang pemuda berambut panjang ke hadapanku, dengan menunggang harley davidson yang gagah. Lalu, ia mengulurkan tangannya kepadaku sambil berkata, ”Mari, ikut bersamaku! Melintasi jalan-jalan yang meliuk-liuk!” Lalu, aku memelukmu dari belakang. Dan kuhirup aroma tubuh, serta rambutmu yang tersapu angin. Oh,aroma yang sangat laki-laki! Ah,andai benar itu kamu ! tersipu lalu menutup wajahnya dengan guling.suara latar berteriak ” belum tidur, nak !!!” Belum, bu ! Sebentar bu, aku harus menyelesaikan latihan dialogku! Untuk pementasan drama besok, di sekolah !

black out


Duduk di kursi, asik menikmati makanan diatas meja.

Pemain : 
hmm...bersandar di kursi, kekenyangan. Aku teringat pertama kali kau ajak aku makan malam di sebuah restoran kecil di pinggir kota. Lamat-lamat suara berat loeis amstrong dalam lagu wonderful world. Di antara suara rintik hujan, dan suara jangkrik yang mengerik, kau tawarkan aku segelas wine, untuk melepas dingin yang pekat. Sungguh hangat, sehangat senyummu yang begitu laki-laki. Saat itu, di sela-sela menikmati hidangan, yang sesungguhnya sama sekali tidak aku sukai. Kau tak pernah tahu, bahwa aku tidak menyukai makanan laut, karena akan menyiksaku setelahnya. Kulitku jadi kemerah-merahan dan gatal-gatal karena alergi. Kau tatap mataku begitu tajam. Sungguh, aku binggung saat itu! Bukan karena tatapanmu yang mempesona itu. Tapi aku bingung, bagaimana caraku menutupi, ketika aku ingin menggaruk badanku yang kegatalan karena alergi seafood. Karena itu pula, kita hanya terdiam terpaku tanpa membuka perkataan sampai malam akan berujung... berdiri, sambil menabuhkan sendok di piring. Tiap ruang yang tertutup suatu saat akan retak ! Karena mengandung waktu yang terus mengembang. Kuarungi sepi malam ini, sambil meneriakan namamu, lelakiku. Jika kau dengar ini, hentikan langkahmu sejenak! Tak pernahkah sedikitpun engkau sadari, bahwa untuk menangkap bayangmu, jantungku seperti di tikam tombak ratusan peristiwa ? sendok terus di tabuhkan kepiring, dengan tempo yang tetap. Hingga tak terasa piring itu pecah, dan terdengar suara berteriak “Hai! Ada apa?” Kucing sedang kawin, bu !

black out

Berdiri diatas ranjang

Pemain : 
bergaya seperti penyair di atas panggung

di sini
kesedihan batinmu, kau coretkan
pada lembaran-lembaran kardus dan koran
yang kita kais sepanjang pagi dan petang

di sini
nyanyian rindumu. kau dendangkan
pada tumpukan cd dan kaset bajakan
yang kita rekam di tiap-tiap malam

kemarin
masih jelas kulihat jejak napasmu
yang menderu di tengkukku
liar, meliur menetes di cawan arakku

kau bercerita apa saja
dari ujung jari sampai batas pandang di selatan
menukik cumbu, cerobong mendengkur kencang
arak-arakan advetorial, seperti karnaval pasar malam

tentang kecemburuan
yang memabukkan
tentang cinta
yang memenjara

ini sinetron keluhku !
melodrama, dalam iringan lagu pop melayu
bergoyang tralala
tak terasa, sprei telah basah

berita di telivisiku
tentang bintang temaram
artis panas yang menyusutkan otakku
sejenak lupakan rindu atas ranjang bersprei kambuja

kembali
disini
coretan celotehmu, sajikan sajak tangis
yang tak pernah meliurkan kenakalan batinku

SHAKURU, CEPATLAH MENYAPAKU !
Aku tak mau beku dalam kegelisahan yang sunyi ini ....

Black out

Terdengar suara lonceng jam, menunjukkan pukul 01.00, suasana begitu hening, perlahan terdengar lantunan Norah jones dalam Nigthangel.


Pemain : 
Langit tak kunjung memerah... menatap langit yang masih gelap. Risauku, seperti mereka yang tahu bahwa esok akan di tembak mati. Risauku seperti Gie, yang menyadari, bahwa rezim orde baru lebih busuk dari rezim orde lama! Harusnya seimbang kerisauan ini dengan kerisauanmu! Cobalah kau rasakan getaran hatiku ini, telah melampaui berdebarnya hatiku, ketika melihat kawanku mati pada peristiwa semanggi! Juga mengalahkan gemuruhnya tank-tank amerika saat memborbadir gerilyawan Taliban! Menarik napas sangat dalam. Tiba-tiba ada teriakan, Gollllll!!!! Hai, siapa yang memasukkan? ”Messi !” jawaban mereka. Ya ampun! Si kutu loncat, memang benar-benar hebat, seperti dirimu yang menggiring perasaanku begitu dahsyat!!Tersenyum. Shakuru...! Cepat cetak golmu ke gawangkuuuuuu! gedubrak, terjatuh, meringis kesakitan. 

Black out.

Pemain mondar mandir, di iring suara gergaji dengan tempo satatis.

Pemain : 
Mengapa waktu bergerak begitu lambat? Berhenti di depan televisi yang menyala lalu duduk. Seolah bayangan lelaki itu datang, ia menyambut kedatangannya. Kekasih...! Kau pecahkan kesunyian malamku. Eksplorasi seolah sedang bercumbuh, hingga padak titik puncak, tiba-tiba bayangan itu musnah. Shakuru...! Shakuru...! Shakuru...! menangis, menjadi-jadi. 

Black out.

Ranjang, nuansa cahaya biru 70 % , merah 40%, kuning 30%


Pemain : 
Terlihat wajahnya yang sangat putus asa. Lamat-lamat Sailing milik Rod Steward terdengar.Kekasih...! Sandiawara apa yang aku mainkan ini? Lakon ini begitu berat. Sebuah proses yang telah menguras sebagian besar potensi energiku, namun seolah aku tak juga mendapatkannya. Aku lelah. Teramat lelah untuk bisa di katakan kuat. Ini, mengingatkan aku pada Rendra dan Ken saat memainkan lakon Kereta Kencana. Pengalaman spiritual yang mega dahsyat! Dan aku bukan aktor yang kuat untuk itu! Mengapa kau ajak aku terbang, saat sayapku merapuh? Kau terlalu hebat untuk membuatku tenang. Namun ... Shakuru, kau adalah energi Tuhan...! Pada tiap pembaiatan Santo, kau adalah air sucinya. Sedang aku, apa? Kau adalah alunan ayat yang dikumandangkan tiap-tiap imam besar. Sedang aku, apa? Shakuru...! Lepaskan aku dari malam ini, atau kau akan melihatku esok sebagai malam itu sendiri!

Black Out.

Kondisi panggung gelap, suara nada panggil handphone

dialog :

+ : hallo, malem...

- : malem, rum, lagi ngapain?

+ : Oh.. aku barusan tidur, trus denger hpku berbunyi, akhirnya aku bangun, ngapain telpon malem-malem

- : Nggak, pingin tahu kabr kamu aja, malam ini

+ : Aku baik-baik aja kok... eh iya gimana untuk besok

- : Besok... hmm

+ : Kenapa?

- : Nggak..

+ : Nggak kenapa?

- : Anu..anu

+ : Anu gimana?

- : Aku..anu..

+ : Iya...

- : ...........(diam, hening)

+ : Halo...halo...halo...halooooooooooooooooooo...

Duduk di kursi... menghadap penonton, tersenyum sendiri... akhirnya menangis, lalu panggung bernuansa merah, eksplorasi, menghancurkan seluruh propety di atas panggung, setelah hancur ia duduk di bawah meja, panggung terang

Pemain : 
Bagaimana bisa ? lampu perlahan redup, lamat-lamat lagu sailing terdengar. Panggung perlahan gelap, lalu terdengar suara tembakan.

Setting panggung di kembalikan keadaan semula, perempuan itu asik menikmati makannya.


Pemain : 
Bagaimana mungkin ?

Black Out


Monolog : LAGU PAK TUA - Adhy Pratama


 (dimulai dari instrument “lagu Pak Tua” dengan kunci dasar E”)

Setting :

Layar terbuka

Suasana agak temaram, kira-kira pukul 18.00. Seorang laki-laki, agak tua, sekitar 60 tahun, kerutan diwajah tampak tergurat, kulit sawo matang duduk disebuah kursi menghadap kedepan. Laki-laki tua duduk santai, kaki diselunjur kedepan, tangan kanan memegang sebotol vodka, tangan kiri mengayun-ayun. Kepala menyandar ke kursi, menghadap keatas, bertopi koboi. Disebelah kursi sekitar 1 meter ada sebuah meja persegi sedang dengan taplak yang kusam dengan sebuah lampu teplok dengan cahaya yang temaram. Selain lampu, ada sepiring nasi sudah basi, sepertinya sudah dua hari. Selain itu, sebuah buku tulis lusuh juga sebuah mini tape yang sudah usang.

Pak Tua (PT) :
Sudah 5 tahun (duduk dengan benar, seperti menghitung dengan jari tangan kiri, dengan wajah serius) iya (seperti terkejut) benar, sudah 5 tahun (kembali keposisi semula) apa yang telah kulakukan selama lima tahun ini? Kenapa tidak punya uang? (menegak minumannya, kemudian duduk benar menunduk)


PT : 
(mengangkat kepala) sahabat-sahabatku pasti sudah ada diseberang benua sekarang (tertawa) awalnya mereka kutipu dengan peta harta karun palsu (tertawa tambah terbahak-bahak) mereka kutipu! Hahaha, mereka tertipu! (tertawa dengan sesekali meneguk minumannya)

PT : 
Tapi kenapa Syarif si tukang ayam bercerita bahwa mereka benar-benar menemukan harta karun disana dan hidup kaya raya (berhenti tertawa dan kembali menunduk) Syarif pasti berbohong (berdiri) pasti ( mengacungkan jari telunjuk kedepan) pasti laki-laki dengan wangi usus unggas itu menipuku? Dia kira aku akan tertipu? (menggaruk kepala yang tidak gatal) tapi Syarif bukan penipu (ekspresi bingung) aku kenal dia sejak dia dan aku masih sama-sama bujangan, hingga dia sudah punya 6 cucu sedangkan aku masih bujangan hingga hari ini.

Pak Tua berjalan mondar-mandir sempoyongan, seperti berfikir keras, sambil sesekali menegak minumannya.

PT : 
Jangan-jangan peta sesuai imajinasiku saja tapi benar-benar nyata? Kudengar kapal besar Spanyol memang pernah karam disana (statis) kenapa aku tidak pergi duluan kesana (penuh sesal) kenapa aku tidak pergi kesana? (kembali duduk) tunggu (seperti teringat sesuatu) aku masih menyimpan draft peta itu dibukuku (bergegas menuju meja dan mengambil buku kembali ketempat duduk) hahaha (sambil membuka buku) kalau benar masih ada, tentu aku bisa menyusul dan ikut kaya(tertawa sambil membuka buku perlembar) benar

Cukup lama Pak Tua membolak-balik buku, mencari dengan teliti. Merasa pencahayaan kurang, dia menarik kursinya kedekat meja kemudian membesarkan nyala lampu teploknya.


PT : 
ini dia! (menunjuk halaman yang dicari) aku dapat draft petanya! Baik, sekarang waktunya bergegas dan berlayar! Berlayarlah-berlayarlah! Hahaha (berdiri dan bersiap hendak bergegas, tiba-tiba terdiam) tapi (jeda) pasti harta itu sudah habis, yah sudah disikat tanpa ampun oleh dua babi tua itu! Aku tidak akan kebagian. (menarik nafas panjang) aku tidak akan kebagian (kembali duduk) atau aku berimajinasi kembali dan membuat peta baru, kali ini lokasinya tidak usah jauh-jauh, dibelakang rumahku saja, hahaha aku pasti akan kaya, tunggu saja aku pasti akan kaya! (berdiri dan mencari pena)

PT : 
(mencari pena hingga kebawah meja, kemudian berhanti mencari) dimana penaku? Bagai mana aku bisa membuat peta kalau aku tidak ada pena? (bingung) tunggu, (balik kekursi, duduk sambil menegak minumannya) memangnya kapal Spanyol pernah karam dibelakang rumahku? (kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung) Lagi pula kapan syarif bertemu dengan mereka, Syarif pasti mengarang cerita. Tak ubahnya seperti seekor kancil tua yang mencoba menipu singa tua, hahaha, Syarif pasti bohong (seketika sedih) kenapa Syarif menipuku? Apa salahku padanya? Bukankah ketika dia menikah dulu, aku yang menjadi juru bicaranya waktu Bekulo karena dia anak yatim piatu dan tidak bersanak keluarga disini! (menahan amarah) bukankah aku yang mengenalkan dia dengan pacarnya yang kemudian jadi istrinya! (semakin marah, menggenggam tinju kedua tangannya) bukankah aku dengan motor bututku yang mengantarkannya hingga ke simpang Bukit dulu hanya dia ngapel calon istrinya! (semakin marah) kenapa dia menipuku? (dengan lantang)

Seperti kelelahan, kembali duduk dan istirahat


PT : 
Tapi? Siapa yang menyatakan bahwa dia menipuku? Bukankah dia sahabat karibku (menegak minumannya) lagi pula apa untungnya dia menipuku? Ah! Peduli setan, aku tidak perlu meminta maaf kepadanya, (berfikir) dia tidak tahu kalau aku tadi marah padanya,(terdiam sesaat) tapi bukankah aku tadi telah memfitnahnya! Fitnah lebih kejam dari membunuh! Membunuh lebih kejam dari memperkosa! (kembali berfikir, berdiri, seperti ketakutan) berarti aku lebih parah dari memperkosanya? Tidak-tidak! Aku lelaki normal! ( kembali duduk, diam)

Pak tua mengambil mini tape diatas meja dan memutarnya. Terdengar suara instrument lagu “Lotus Feet” dengan gitar akustik, pak tua mendengarkannya dengan seksama seakan ikut terhanyut dengan lagu itu. Sambil sesekali meneguk minumannya. Lagu seketika terhenti, Pak Tua terbangun.


PT : 
Berimajinasi! Kembali berimajinasi! Bukankah imajinasi lebih berharaga dai ilmu pasti! Pasti! (berturut-turut : berjalan mondar-mandir sempoyongan, hampir terjatuh didekat meja dan berpegangan pada meja, menegak minuman, berhenti, menghadap jauh kedepan, menatap kosong, terbelalak, duduk diatas meja) hebat! Hebat sekali! Benar-benar-benar! Aku harus berimajinasi dan bermimpi! Hidup ini diawali dengan mimpi dan diakhiri dengan mimpi, aku harus bermimpi, iya (semakin bersemangat) aku harus bermimpi! Coba kalau aku banyak habiskan waktu untuk bermimpi dari dulu, pasti saat ini aku sudah bisa menata kehidupanku, benar, menata menjadi lebih baik (turun dari atas meja, berjalan kesudut panggung kanan depan dan kembali duduk dengan tangan memluk kedua kaki didepan, memejamkan mata)

Cukup lama Pak Tua memejamkan mata, diiringi dengan chorus “lagu Pak Tua”. Tiba-tiba, suara gitar menjadi semakin keras dan terhenti ketika Pak Tua terbangun.


PT : 
Anjing! Kenapa aku tidak bisa bermimpi! Aku harus bisa bermimpi! Hanya hitam saja!(bingung, terdiam, memegangi perut) atau jangan-jangan lapar ini yang mengganggu konsentrasiku untuk bermimpi indah! Dasar bodoh kau perut tua!(memarahi perut sendiri) Otak yang berfikir, kau yang minta diisi! Dimana otakmu! Kenapa Tuhan tidak membuat kau punya otak sendiri, seperti semacam chip begitu! (capek, selunjurkan kaki, tangan menopang tubuh dibelakang, melihat atas)

PT : 
(masih melihat atas) coba kalau masa mudaku tidak kuhabiskan dengan membunuh, dan merampok! Tentu masa tuaku akan bahagia (jeda, menegak minumannya) sekarang! Jangankan wanita, kambing betina pun tak sudi kuperistri! (kembali duduk biasa dengan kaki masih diselunjurkan kedepan) aku tahu menyesal tidak berguna, seandainya mesin waktu difilm kartun itu benar-benar ada (berfikir, menegak minumannya) Film kartun! Yah film kartun! (berdiri) tapi, TV 14 inch tanpa warna itupun telah kujual 2 minggu yang lalu untuk beli nasi! Aku tidak bisa nonton film kartun sekarang! Gila! Untuk beli nasi pun aku harus menjual TV (kembali duduk dengan lesu)

PT : 
(seperti teringat sesuatu) Benar, nasi! Aku baru ingat bahwa aku lapar dan tidak bisa bermimpi tadi (berturut-turut : bangun, menuju meja, melihat nasi, mengambil nasi segenggam dan memakannya, muntah) Anjing tua! Nasi ini basi! Sudah berapa hari disini! Dasar gila! Kau mau membunuhku! (marah sambil menunjuk sepiring nasi, berhenti, kembali ke sudut panggung kanan depan, duduk dibawah) lalu bagaimana sekarang! (menunduk, menangis tersedu, kemudian tertawa, menghadap depan)

PT : 
(menghitung dengan jari, sambil sesekali meneguk minumannya) sambil menghitung aku masih ada kursi, meja, lampu, sebuah piring lengkap dengan nasinya yang sudah basi, buku, mini tape dan (terhenti, agak ragu) baju dibadanku. (melihat berkeliling dengan menyeringai, menegak minuman) yang mana? Yang mana akan kujual terlebih dahulu? (menunjuk seluruh benda yang berada dirumahnya, tunjuknya berhenti pada kursi) nah! Kamu duluan! Engkau harus berkorban demi aku! Haha! Lumayan, pasti kau laku sekitar 10 ribu rupiah! Hahaha(terhenti) tapi dimana aku akan duduk! Kenapa aku harus pusing, toh tadi aku duduk di sana(menunjuk sudut kanan panggung) dan disana(menunjuk meja). (berjalan menuju kursi dan menganggkatnya) tunggu! Sebelum kau kujual, izinkan aku mendudukimu dulu untuk terakhir kali (duduk dikursi) eh! Kau seperti keberatan! (melihat pada kursi) kau keberatan aku duduk diatasmu untuk terakhir kali hah (mendekatkan telinga kekursi, wajah fokus mendengarkan, terkejut) hah! Kau keberatan kujual? Jangan begitu (menegak minuman, namun sudah habis, melihat kebotol dengan seksama) kau juga mau mencari masalah denganku! Sama seperti kursi, kau pasti juga akan kujual! (kembali melirik kursi) jangan kau menatapku seperti itu, kau tega aku mati kelaparan! Yang lebih parah lagi, aku tidak bisa bermimpi untuk masa depanku! (mendekatkan telinga kekursi, mendengar)

Pak Tua tertunduk lesu, meletakkan botol kosong bekas minumannya ke atas meja dekat lampu kemudian berjalan dengan lesu kesudut kanan panggung, kemudian duduk.


PT : 
Kau benar kursi! Untuk apa aku memikir masa depan! Aku sudah tua, sudah renta! Bila Azis, si tukang kayu mati umur 59 dan Jidin si tukang bubur juga mati umur 63, kapan aku mati! Aku sudah 60 tahun sekarang! Kenapa aku tidak mati-mati juga! Jadi aku tidak pusing memikirkan perutku lagi! Maafkan aku kursi, kau benar. Aku sudah harusnya memikirkan akhirat, (terdiam, menghadap depan lesu dengan tatapan kosong) tapi! (tersadar) saat ini aku perlu makan! Mau tidak mau aku akan tetap menjualmu! (menghadap kekursi sebentar, kemudian menghadap kedepan) meskipun aku tidak berarti 3 atau 5 tahun kedepan! Tapi aku harus berarti hari ini! Izinkan aku makan agar dapat bermimpi dan bisa menghasilkan sesuatu hari ini! Aku mohon (berdiri, berjalan sempoyongan kearah kursi, menjatuhkan diri, bersimpuh pada kursi) aku mohon, izinkan aku menjualmu, izinkan aku, aku mohon! (tersentak, mendekatkan telinga ke kursi) terima kasih, kau benar-benar sahabatku, jaga dirimu baik-baik (berdiri, memegan kursi) sampaikan salamku pada tuan barumu nanti (mengangkat kursi, keluar dari panggung)


Selesai

Monolog : KISAH RUMAH ’45 - Yusuf Kurniawan


ADEGAN BISA DIMULAI DENGAN GERAKAN-GERAKAN TUBUH MATI TANPA RASA.
YA MUNGKIN TIDAK SELURUH TUBUH,HANYA BEBERAPA BAGIAN TUBUH SAJA.
DAN SAMBIL PEMAIN BERSIAP TAMPIL,ENTAH PEMAIN SEDANG MENGENAKAN KOSTUM APA.
ITU TERSERAH PADA SUTRADARA SAJA.
DAN KETIKA PEMAIN SUDAH SIAP,PENTAS SUDAH BISA DIMULAI,DENGAN PEMAIN GESTUR ATAU TIDAK. ITU JUGA TERSERAH PADA SUTRADARA.

saya sedang terburu-buru. Jadi mohon maaf apabila saya tidak terlihat rapih,seperti apa yang anda harapkan. Tetapi,saya tidak berani untuk pergi keluar.
Udaranya dingin,tapi kadang panas,awannya pun mendung,tapi kadang cerah,tanahnya pun gersang,tapi kadang tandus,manusianya galak-galak,tapi kadang baik.
Yasudahlah,mungkin nanti saja aku keluar dari sini,jika udara sudah pasti,tidak terkadang dingin,terkadang panas,dan jika awannya pun sudah pasti,mendung atau cerah,tanahnya juga,tidak tandus atau gersang,yang pasti saja,dan kalau manusianya sudah tertidur,karena manusia tidak bisa pasti,terkadang bisa galak,terkadang bisa pula baik.
Tetapi aku sudah bosan disini,hanya diam dan berharap semua terjadi.
Sudah lama aku saban hari seperti ini saja,bersiap-siap tetapi tidak berani untuk keluar.
Ya karena itu tadi,karena semua tidak ada yang pasti. Dan manusia itu tidak juga tertidur.
Hanya diam dan berharap semua terjadi,tetapi tidak pernah terjadi.
Sejak aku masih ditimang-timang oleh ibu,hingga kini aku sudah dewasa,tidak juga itu terjadi.
Atau mungkin,hingga nanti aku tua dan mati itu semua tidak akan kunjung terjadi.
Untung saja rumah ku ini dibangun dengan kuat,dengan tenaga yang penuh semangat.
Jadi aku cukup tenang apabila ada sesuatu datang tuk menyapa rumah ku.
Oh,iya. Menyapa disini maksutnya bukan bertamu atau bertemu kerabat,melainkan menyapa yang saya maksut adalah peristiwa yang menyeramkan.
Seperti contohnya badai,angin topan,atau bahkan banjir,ataupun yang lain.
Itu maksut ku dengan kata menyapa.

Waktu itu saya pernah mencoba untuk keluar dari sini. Tetapi saya sungguh ketakutan dan tidak percaya dengan apa yang saya rasakan ketika saya berada diluar sana.
Saya diabaiakn oleh manusia-manusia,seakan saya sedang tidak berada diluar. Lalu saya bertanya pada salah satu manusia diluar sana,saya bertanya “anda kenal siapa saya?” lalu saya sakit hati karena manusia itu menjawab “saya tidak kenal dengan anda!”. Tetapi saya tidak terlalu mendengarkan apa yang saya dengar itu,dan saya melanjutkan jalan menuju ke tujuan yang saya idamkan,tetapi baru beberapa langkah saya maju,ada satu manusia yang menghadang saya,lalu manusia itu bertanya “hei,apakah anda warga kampung sini?” ,saya menjawab “iya,saya warga kampung sini asli”. Manusia itu tidak percaya sepertinya,kalau saya adalah warga kampung asli,kemudian manusia itu bertanya,”dimana anda tinggal ?” saya menunjukan tempat tinggal saya pada manusia itu “itu,disana tempat tinggal saya,dirumah yang besar itu.” Setelah saya menunjukan rumah saya pada manusia itu,tapi kurang ajar,manusia itu justru tertawa.
Kemudian saya bertanya pada manusia itu “kenapa anda tertawa? Apa ada yang lucu dari kalimat ku tadi?”,dia menjawab “tidak,tidak ada yang lucu dari kalimat mu tadi. Hanya saja saya heran,mengapa rumah anda yang besar itu,hanya berisikan mikrofon? Dan kotor rumah anda itu. Agar tidak seperti dijelek-jelekan diluar.” Jika saya jujur,awalnya saya tidak mengerti apa yang dikatakan oleh manusia itu. Tetapi lambat laun waktu,saya mengerti juga,apa artinya yang dikatakan oleh manusia itu. Dia bukan menyindir saya,tetapi justru menasihati saya,agar mikrofon-mikrofon yang ada dirumah saya itu dibuang,dan munngkin digantikan oleh alat lainnya.

Bukan kah kini sudah jelas mengapa aku tidak mau lagi untuk keluar kesana. Ya karena itu tadi sebabnya. Aku sudah tidak lagi dikenal,sudah tidak lagi dihargai,bahkan dianggap tidak ada.
Padahal,dahulu kata orang tua saya,orang tua saya itu terkenal dikapung sini,karena ketampanan,kecantikan,kecerdasan,keunikan,dan semangat orang tua saya.
justru itu orang tua saya terkenal dikampung sini dahulu,dan juga orang tua saya memiliki rumah yang besar satu-satunya dikampung sini. Kemudian lambat laun secara disengaja atau tidak,orang tua saya membeli mikrofon-mikrofon itu,yang tidak dapat dikembalikan atau dijual pada orang lain. Lalu orang tua saya membuat saya dengan penuh hati-hati,karena saya akan jadi anak semata wayangnya yang diharapkan bisa merawat manusia-manusia yang ada dirumah ini. Tetapi saya mengaku,saya tidak bisa merawat mereka semua sendirian. Sekarang lihat saja,mereka lalu lalang disini mengabaikan saya yang sedang bercuap-cuap disini. Saya sudah muak ! mungkin manusia disini menganggap saya sudah mati,atau hanya sekedar mengabaikan saya saja. Tapi tetap saja saya muak ! biarkan saja manusia-manusia disini mengabaikan saya,saya jamin rumah ini akan roboh lalu hancur,jika mereka terus-menerus begitu ! karena saya adalah anak kandung dari orang tua saya,yang benar-benar dibuat dengan hati-hati ! sedangkan yang lain apa !? hanya adopsian belaka yang tidak tau diri,betapa dengan susah payahnya orang tua saya membuat saya pada waktu itu. Sebentar lagi badai akan datang seperti biasa,mencoba menghancurkan rumah ini. Dan seperti biasa juga,manusia-manusia disini hanya diam dan bergerak lalu lalang tidak jelas arah tujuan. Sedangkan saya ! repot kesana kemari,mondar mandir,karena pasti atap rumah ini ada yang bocor. Sial ! saya sendiri tidak akan mampu untuk menanggulangi bocornya rumah saya ini. Karena saya sedang mati suri .

Ya ! mohon maaf atas perkataan saya yang semakin tidak menentu itu,alangkah tidak sopannya saya bercuap-cuap seperti itu,sedangkan saya sendiri saja belum memperkenalkan siapa diri saya ini . hahahaha . oke,orangtua saya berkata,rumah ini dibangun pada tahun 1945,dan kata orangtua saya,nama saya pada akta kelahiran adalah pancasila. Salam kenal dari saya,dan semoga anda semua tidak melupakan saya,setelah perkenalan ini.


** pementasan pada naskah ini bisa berkembang pada setiap penggarapanya.
Yusuf Kurniawan
Hp : 085715052528
Email : capcusranger@yahoo.com


Monolog : KAPOK - Zohry Junedi


 

(masuk diiringi music mbah surip ; Bangun lagi tidur lagi)

(sarung berselempangan , masuk sambil ketawa malas tak tentu masa depan, lanjut tidur ditengah panggung)

(Mendadak bangun tidur, penuh dengan kerutan diwajah menggerutu…!!!)


Akkhhh, sial… sial kalian semua hampir sajah . . . akhh sayang sekali tinggal sedikit lagi, sial… kenapa kalian bangunkan saya, nyaris sajah setumpukan uang itu jadi milik saya, saya sudah terlalu sangadh sangadh sabar menunggunya, ditiap malam saya terus berdoa menunggu agar mimpi itu datang, dan baru sajah mimpi itu datang, tapi kalian tau baru saja mimpi itu terlewatkan, akhhhhhhh…..

(uring2an menyalahkan diri sendiri, atau mungkin tepatnya tidak tau siapa yang wajib disalahkan)

Akhhh… jangankan untuk menghitungnya, meraba lembaran demi lembaran uang itu saja belum sempat, akhhh…. Bodoh bodoh… kalau sudah begini harus bagaimana??? Akhh…. Klo begitu saya harus segera tidur kembali, Mungkin mimpinya belum terlalu jauh, dan jangan harap kalian dapat sepeserpun dariku, sial!!!

(…zZZZ!!!)

Huahahaaa,huahaa….…. Untung sajah mimpi itu masih menungguku, huaaaahaa…. Aku kayaaaa , aku telah jadi miliarder di Negara ini, kenapa?? kau jangan menatapku seperti itu sobat?? Ia nanti akan kubagi, tenang sajalah yang penting sekarang uangnya sudah kusimpan dalam rekeningku di BANK Century yang katanya sudah berganti nama BANK Mutiara, walau sekarang sedang bermasalah tapi sepertinya saya yakin aman sebab tidak akan ada yang tau aliran dana darimana saya dapatkan uang itu , terserah sekalipun DPR mau gunakan hak angket percuma, toh BPK sajah tidak mau transparansi, Mana bisa!!! huaaahaa….

Oh ia betapa tidak sopannya saya, saya lupa memperkenalkan diri saya maafkan saya bapak-bapak ibu-ibu penonton sekalian, nama saya KAPOK ANGGODO SH MH, huahaa…. Mungkin nama belakang saya ANGGODO sudah popular di telinga bapak-bapak ibu-ibu, bukan begitu? tapi nama depan saya KAPOK mungkin jarang didengar ditelinga penonton sekalian karena saya memang tidak akan pernah kapok-kapok, hehee…. Gelar hukum dan magister yang mentereng dibelakang nama saya itu, saya dapatkan di UNIVERSITAS Ternama, eittss kalian jangan su’uzon dulu donk, Bukan, bukan!!! Saya tidak beli gelar atau terlibat dalam jual beli gelar seperti sebagian pejabat pemerintah kita, terus terang saya kerja keras dapatkan itu semua di UNIYAL alias UNIVERSITAS KHAYAL, lulus dengan predikat Cumlaude, dengan tesis NILAI A berjudul ‘Rekaya Kriminalisasi KPK’ Tim Pembimbing oleh Buaya dan Markus serta Tim Penguji oleh Tim 8 dan Publik huahaaaa….

Mungkin bapak bapak ibu ibu heran kenapa seorang priyayi seperti saya kok kelihatan begitu lugu dan miskin sekali, dan anda benar sekali! Karena memang saya selalu diajarkan untuk low profile, lihat saja baju saya tidak bersafari seperti pejabat-pejabat umumnya saya lebih diajarkan untuk bertenggang rasa, jadi jangan heran kalau saya sering sekali berpakai pakaian lusuh bolong seperti ini, banyak kok artis2 yang telah meniru jejak saya, sebut saja Julia perez, dewi persik, sarah azhari, hehee… pun saya tidak pernah memakai terano atau fortuner pribadi kalau sedang berkunjung kesuatu tempat, saya lebih memilih untuk merakyat seperti by ‘ketting’ atau naik angkot B1 atau B2 huahaaa…. Tidak perlu dengan iring2an 10 hingga 20 mobil ditambah pake sirine lagi, wah…3x emang ga mikir apa hal itu justru berbahaya , gimana kalau ada teroris gampang sekali mereka BOM, dasar pejabat goblooOok!!!

Ehmmmm Sebentar ?? (merenung tapi tidak kosong,…)

(tiba2 mendadak muncul makanan-makanan enak, menyusul kemudian muncul brendy wisky mahal buatan eropa, tapi tunggu tidak lama muncul gadis cantikk dan seksi, bayangkan ia muncul berbusana hampir setengah telanjang, berparas layaknya paris hilton tapi kemudian . . . . . gadis itu tidak jadi muncul mungkin malu habis pembaca naskah ini ternyata lebih berbahaya renungannya dibanding penulis sendiri, huahaa….)

(tanpa pikir panjang si kapok langsung melahap makanan dan minuman yang entah darimana muncul)


Wuaaaa laparrr, ayo penonton jangan malu2 mari makan, mari silahkan naik, ayoo ayooo kesini…. Haduh Jangan diambil hati gitu donk saya kan Cuma basa basi saja, kalau mau makan beli sendiri donk!!!

(merenung kembali, tiba2 mendadak tertawa bahagia sendiri)

Xixxixixi, …. Bambangg ayo kesini nak, sudah jangan main terus ayo makan dulu…. Bambangg, kamu tidak dengar papa ya, bambaNgg…. bambanGg!!! Wuahhh dasar anak2 kalau lagi keasyikan main sampai lupa makan, penonton itu putra pertama saya namanya Bambang, sengaja saya beri nama bambang agar kelak dikemudian hari dia bisa jadi kokoh dan berkepribadian seperti bpk presiden kita Bambang Yudhoyono, hheee….

(tiba2 terdengar suara bayi nangis….)

Alaahhh bambangg….!!!!! jangan berisik, adikmu sedang tidur…. Sttttt, jangan keras2 penonton itu anak kedua kami masih mungil cantik, lucu sekaliii , mirip sekali dengan ibunya, cup cup cup… anak maniss jangan cengeng yah, ayo chayank mana ibumu…. Oh ia klo saya punya anak berarti saya harus punya seorang istri donk, klo tidak darimana kedua anak ini merojol . . . ???

Sebentar!!! (kembali merenung…)


(tiba2 terdengar suara indah dari belakang panggung)


‘Papa… Papa…. papa ga denger apa suara si puteri, pa jagain bentar donk, mama lagi masak nih…’

Ahaaa, nah itu suara isteri saya namanya Anna Althafunnisa… mungkin saya adalah lelaki yang paling bahagia didunia ini punya istri cantik lahir bathin seperti dia, ….

Ohhh ia iaa maaa!!! Mama lanjutin aja masaknya biar papa yang jaga siputri!!!!! cup cup cup chayankkkkkkk… cup jangan nangis ya sayang, anak pinter ntar klo udah gede mau jadi apah?? Kenapa sayang mau jadi artis?? Wuahaaa… lho kok pengen jadi artis sayang, kenapa?? Mau kayak bintang film Miyabi, wuaaaaaa….. aduh si cantik masih kecil suka becanda yah, xixiixxi…. Persis kayak papanya, suka becanda ga pernah serius, hehehe….

(Tiba-tiba panggung mendadak padam, sayup sayup terdengar suara Kapok, sepertinya sedang merayu isterinya dalam obrolan kasur….)


Mama , papa kangen nih sama mama?? Mama kangen ga sama papa?? Ma, mama masih ingat ga bulan madu kita waktu itu…. Ia lucu banget ya ma, mama kelihatan betul groginya sampai bibir papa digigit sama mama, …. Ma, papa pengen bwt anak lagi nih?? Mama mau ga?? Kenapa mama mau ikut KB, haduhhhh ga papa kok mama mau ikut KB, tapi ma, papa lagi pengen anu nih…. Ayo dunk ma, ahhh masa mama ga ngerti sih?? Anu itu lho?? Ayo dunk ma dah ga nahan nih…. Masa sih mama ga ngerti, papa kan jadi malu….??? Akhhh ma, geliiiiiii…. Mama nakal deh,

(tiba2 lampu nyala terang, tapi keadaan panggung berbeda, panggung kosong total tanpa property tampak Kapok setengah telanjang badan berlapis sarung, sedang berkecupan mesra dengan gulingnya)

Lho?? Eee… lho?? Eee…. Lho?? Anna….. anna istriku sayang kamu kemana?? Mau maen umpet-umpetan yah… (kemudian keliling panggung mencari istri khayalnya!!!) chayank aku tau kamu pasti disini…?? Lho?? Ohh ia kamu pasti disini?? Lho…?? Kamu mulai nakal yah, awas lho klo dapat tak gigit putingmu ampe lepas, hohohOo…. Sayang kamu dimana???

(dalam kelelahan kapok pun sadar, ternyata lagi-lagi dia hanya bermimpi)

Akhhhhhh…. Sial kali ini saya benar-benar sial, nyaris sajah…. Akhhh nyaris sajah saya hampir melakukannya…. saya tau ini pasti ulah kaliankan, ini pasti ulah kalian semua yang tidak senang melihatku dengan sejuta mimpi dan khayalku kan…. Tadi saya nyaris sajah kehilangan uang dalam mimpiku, sekarang kalian baru sajah mengganggu anak dan istriku…!!! Akhhh anak, bammbangggg… bambangggg…. Kenapa suaranya tidak kedengaran lagi…. Puteri?? Mana bayiku…. Puteriii..!!!!

Akhhh sialll, saya sekarang lapar!!!! saya benar2 lapar, saya tidak bisa lagi mengkhayal kalau begini, saya laparrrr . . . saya butuh makannn!!!! Tolonggg saya lapar, tolongg…. Saya butuh makan agar saya bisa bertemu anak dan isteri saya, tolongg berikan saya makan….

Jam berapa sekarang?? Kalau begitu Saya harus segera kekantor cari uang buat makan dan mengkhayal, oh ia bapak-bapak ibu-ibu boleh saja mampir kekantor saya, kantor saya tepat di simpang lima sebelum lampu merah… hehee….

(langsung mengambil tongkat dan mangkuk kecil, kemudian berjalan pura-pura buta…)


Oleh: Zohri Junedi

30 November 2009



‘…. Hanya saja hidup tak hanyut dengan mimpi dan khayalan, jua harus diiringi dengan doa dan kerja keras.…!!!!’

Monolog : IBU SEJATI - PutuWijaya


 
Sebagai ibu yang baik aku datang kekantor polisi, atas kemauan sendiri. Melaporkan putraku ujang yang telahk hilaf, sesat, bejat, buas.Ia telerlalu membantai satu keluarga ludas. Iamenguncimerekadalamkamarlalumembakar. Lima orang meninggal.Termasuk pacarUjang sendiri.Alasannya tak ada.Ujang bilang ia tak tahu. Aku tak sadar, ibu, katanya.

Aku berharap yang berwajib akan bijaksana, oleh laporanku yang terus terang mengakui kesalahanUjang. Dengan harapan supaya itu bisa meringankan hukumannya.Banyak yang bilang kalau berterus terang mengaku dosa hukumannya ringan.

Siapa lagi yang wajib melaporkan anak yang haus darah kalau bukan bunda kandungnya sendiri?Siapa lagi yang bertugas mendera putra yang gelap mata mencabik jiwa warga tak berdosa, termasuk pacar sendiri yang amat dia cintai, kalau bukan bunda kandungnya?

Aku yang telah memberi Ujang darah dan daging, tapi aku telah alpa tidak berhasil menjauhkan dia dari pergaulan sesat. Aku sungguh menyesal.Siapalagi yang harus menyeretnya sujud mengakui dosa minta ampunan atas kekhilafannya, agar ia jera, kalau bukan aku? Kalau bukan bunda kandung, siapa lagi yang akan bisa memaksa dia bertanggung jawab atas segala kejahatannya? Aku rela ia didera, asal sepantasnya, agar ia kapok lantas banting stir dari narkoba kejalan yang benar.

Semoga peradilan masih memberikan kesempatan generasi muda memperbaiki kesalahannya. Penjarakan meringkusnya nyahok bagaimana hidup berkeadaban. Dengan dijatuhi hukuman nanti semoga iblis yang menggerak di otaknya akan ngletak agar Ujang kembali kejalan yang benar! Ya Allah, tolonglah ibu yang malang ini menumpas setan yang menguasai jiwaUjang!

Tetapi malang, hakim putuskan lain. Ujang dianggap kejam,pembunuh berdarah dingin. Membakar satu keluarga tanpa alasan jelas lebih kejam dari binatang buas karenanya wajib musnah kata beliau lantang disambut pekik sorak histeris masyarakat.Paludi ketok.Putraku Ujang harus ditembak sampai mati!

Aku, sebagai ibu, semaput.Dikunyah sesal, dihantui dosa, aku mengutuk diriku.Coba, di mana ada ibu membunuh anak sendiri? Bukan Ujang putraku yang binatang buas, tapi aku sendirilah Iblis yang ganas.

Tak kuat mendengar umpat tetangga, tak mampu menerima tudingan biadab, dengan sesal berkepanjangan, aku ibu yang kejam berkunjung kepenjara.Akulah yang harus sujud minta ampun.Akulah yang harus dihukum atas kebodohanku sendiri.

Tapi begitu bertatapan kembali dengan Ujang aku langsung tumbang.Sementara putraku yang malang itu besarjiwanya. Ia sedih melihatku rebah. Lantas ia bersimpuh mengurut kakiku, membalurnyadenganminyakkayuputih. Ketikapelupukmatakuterbukalagi, ia sujud minta maaf atas segala dosannya, sambil berbisik lirih, aku pamit, ibu, akan pergi jauh dan tak kembali. Ia sama sekali tidak megutuk putusan peradilan. Sama sekali tidak menghujat ibu kandungnya kejam.Sama sekali tidak menggugat kebekuan hati presiden yang tidak memberikan grasi.Sama sekali tak menggugat kenapa nasibnya malang.

Ibu, tak usah menyesal, jangan merasa berdosa, katanya menghiburku.Perbuatan ibu adalah suri teladan yang Ujang akan selalu kenang dan banggakan.Sejarah akan mencatat dengan tinta emas keberanian ibu.

Walau putra kandungmu semata wayang, tapi karena ia seorang berdosa, kau antar sendiri agar dihajar. Itu sungguh mulia, ibu.Semoga semua ibu yang lain mengikuti jejakmu agar tak ada lagi kawula berani mengulangi perbuatanku. Semoga akan jadi sejarah baru di negeri yang sedang digalau narkoba ini. Semoga lebih banyak lagi negeri kita memiliki ibu sejati, seperti ibuku.

Duh Ujang, putraku semata wayang, aku ibu yang kejam, hancur jiwaku berkeping-keping rasa aku merayap pulang.Tak sanggup menatap kegagahan putraku.Tak sanggup mengecilkan rasa berdosaku.Apalagi permintaan terakhir begitu mengenaskan: Ibu aku tak minta apa-apa. Aku hanya ingin makan siang bersama ibu sebelum dieksekusi.

Hari itu, ketika hari menyengat ibu kota, para wartawan boleh menjepret makan bersama yang sedih itu. Dengan syarat tak ada wawancara.Aku sampai seratus kali mengunyah suapan pertama, tapi tetap tak mampu kutelan.Sementara putraku lahap mengenyam sayur lodeh terakhir buatan tangan ibunya.

Ketika pulang kerumah, aku tak mampu bertahan.Aku tumbang didepan pintu rumah.Tapi tak satu pun tetangga sudi menolong.Biarsaja perempuan gila itu mati, kata mereka.Binatang pun tak tega bunuh anak sendiri.Iblis itu layaknya dikirim ke neraka.Ia menebarkan virus biadab yang bertentangan dengan kemanusiaan!

Hampir subuh aku tersentak membuka mata.Ronda kampong mengetuk tiang listrik empat kali.Ya Allah aku terlambat!

Itulah saat putraku dipersilakan sholat terakhir untuk kemudian digiring kelapangan eksekusi.Ya Allah, ampun! Aku terpekik melihat jarum weker terlalu cepat.Tak ada waktu lagi untuk menyebrang ibu kota ketempat penembakan. Ujangggg!

Sambil membayangkan kain hitam ditutupkan kemata Ujang dan sepuluh senjata dikokang untuk tebar peluru belah kepalanya.Aku panik.Kalau putra tunggalku mati apa arti hidup ini. Otakku gelap memukul-mukul.

Lalu kuraih stagen dan menggantung diri di kamar mandi. Tak perlu taksi, tidak takut terlambat macet, aku dengan mudah melayangr ingan keangkasa.Jakarta kusebrangi sekejab mata.Di lapangan tembak kusaksikan senjata yang terhunus menunggu aba-aba untuk membantai.Tapi kenapa yang di tunggu tak kunjung terdengar? Jam sudah menghampiri pukul lima. Aku hampir tidur kembali.Tiba-tiba keluar perintah: Turun senjataaaaa, grak! Eksekusi dibatalkan.Regu tembak dikirim kembali ketangsi.Hukuman mati dibatalkan.Putra ibu ternyata tak bersalah.Semua itu fitnah.Biang kerok sejati pembunuhan sudah menyerah.

Matahari sekali lagi memanjat di TimurHari akan terang. Ujang putra ibu yang baik bersiul pulang ia beli sejadah baru di pinggir jalan.Oleh oleh buat mama sayang yang gagah berani menegakkan kebenaran.


Jakarta, Desmber. 2015

Monolog : HARA-KIRI (SEPPUKU) - Zohry Junedi


DITENGAH PANGGUNG DUDUK SESEORANG TUA, DIAM, PENUH PENYESALAN, DULUNYA IA PEJUANG BANGSA, TAPI SEKARANG IA HANYA SEORANG PENGKHINAT ATAS DIRI SENDIRI

Puisi kematian ini kupersembahkan untuk diriku
Aku yang mendambakan ajal
Aku yang menantikan saat jiwaku menghilang
Aku yang menantikan saat jiwaku menghilang dari dunia ini

Puisi kematian kupersembahkan ini untuk diriku
Aku yang telah memenggal kepalaku sendiri
Aku yang berkali-kali mengarahkan pedang ke leher ini
Aku yang telah banyak membunuh bangsaku sendiri untuk melampiaskan perasaanku

MENGAMBIL SECARIK KERTAS DAN PENA, BERDIRI DAN MULAI MENULIS

Puisi kematian ini kutulis untuk diriku
Aku yang adalah kumpulan berbagai sampah
Aku yang telah diberikan nyawa oleh orang lain
Aku yang sudah menghancurkan berbagai tubuh dan jiwa yang diberikan padaku

Puisi kematian ini kutulis untuk diriku sendiri
Aku yang berpura – pura membenci semua orang
Aku yang disayangi semua orang
Aku yang takut kehilangan kehangatan yang telah diberikan padaku

KEMBALI TERDUDUK SAMBIL MENAHAN BULIR-BULIR AIR MATA,

Puisi kematian ini kutulis untuk dia yang paling kusayangi
Dia yang akan datang ke sisiku saat aku kesepian
Dia yang akan bernyanyi untukku jika aku takut
Dia yang akan mengulurkan tangannya padaku bila kekuatan jahat menarikku

PANDANGAN TERTUJU PADA SEBUAH BONEKA MUNGIL,

Puisi kematian ini kuberikan untuk dia yang paling kusayangi
Agar puisi ini dapat menjadi pengingat diriku
Agar puisi ini bisa menjadi pelipur lara baginya
Agar puisi ini dilupakan olehnya bila telah ada orang lain di sisinya

Puisi ini kupersembahkan untuk dia yang paling kucintai
Dia yang paling mengerti diriku
Dia yang mencintaiku sepenuh hati
Dia yang akan melakukan apapun demi aku dan akan mendapat balasan yang sama

MEROBEK BONEKA MENJADI BAGIAN BAGIAN KECIL, YANG TAK MUNGKIN DISATUKAN KEMBALI

Puisi kematian ini . . . tidak ada
Karena aku telah menemukan tempatku berada yang seharusnya
Karena aku sedang menanggung beban yang sebanding dengan rasa bersalah dan kebencianku
Karena aku tak ingin kematian memisahkanku dari orang orang yang kusayangi

HENING

Hahahaaaa . . . .
Aku telah pantas menerima mati, tapi bukan dengan tangan kalian, bukan dengan tangan mereka, bukan dengan tangan tangan orang orang yang berpura – pura tak berdosa, tapi dengan tanganku sendiri, hahahaa . . . dengan tanganku sendiri, huahhahaa . . .

Aku Pendosa bangsa, maka sepantasnyalah aku menerima ini . . .
Aku tidak sedih menerima kematian ini, dan aku tidak berduka atas kematianku . . .
aku mati karena bangsaku telah mempercayai aku menjadi pemimpinnya, tapi maafkan aku tampuk pimpinan itu terlalu kejam buatku, aku tidak mampu menjalankan amanah Tuhan, maka biarkan aku mati dengan cara seperti ini untuk menebusnya . . .

maafkan aku

SANG TUA PERLAHAN MENGAMBIL SAMURAINYA, MENATAPNYA TAJAM, PENUH KEPILUAN, DAN AKHIRNYA MENGARAHKAN SAMURAINYA KE PERUT SEBELAH KIRI, DAN MENYERETNYA KE BAGIAN KANAN, HINGGA PERUT SANG TUA BUYAR


Bengkulu, 05 November 2010
Diangkat dari puisi Mineko Ohkami, Puisi Kematian


Monolog : GEDEBUG - Bina Margantara




DI PANGGUNG NAMPAK SEORANG YANG SEDANG DIPASUNG MENYERUPAI SALIB (SALIB TERSEBUT BERADA DI DALAM SEBUAH LINGKARAN) DENGAN HANYA KEPALA YANG DISOROTI LAMPU. TATAPAN TAJAM, MENGAMATI SEKELILING.

BACKROUND SEBUAH JAM DINDING BESAR MENUNJUKKAN JAM 12 TEPAT

TIBA-TIBA MENGERANG…

SAMBIL BERUSAHA MELEPASKAN PASUNGAN TERSEBUT, MAKA LEPASLAH IA.

KEMUDIAN MEREGANGKAN OTOT-OTOTNYA, DAN MENCARI-CARI SESUATU, TERNYATA YANG DICARI ADALAH AIR

Eeeuuk..eeuuk.. (DIA PUN BERSENDAWA)
Air yang sejuk bagi jiwa-jiwa yang bebas, hahaha..taiklah..apa dengan mengikatku bisa memasungkan pikiran juga hah? Bodoh!! Di sini tempat yang sungguh tidak terlalu asyik, asing, banyak orang-orang aneh, omongannya juga ngawur, ngelantur. Sudah berlumut juga dinding di sini oleh obrolan mereka.
Oh ya, di sini juga serba putih-putih. Baju putih, celana putih, dinding putih (SAMBIL MENUNJUK), sampai bapak kepala sini rambutnya juga sudah putih, seperti kucing yang sering ia bawa. Kadang aku pun bingung, mana yang kepala mana yang kucing. Hahahaha…
Baiklah, sekarang sudah jam 12 tepat. Waktunya istirahat alias jam makan kata orang kantoran. Setuju? Tapi istilah itu mencokol terus dalam benakku, waktu istirahat atau istirahat waktu? Waktu makan atawa makan waktu? Yang terakhir ini memang aneh, kalau makan waktu, terus menuangkan waktunya kapan? Ahh, sungguh edan!! Kantoran edan.
Aku sesungguhnya betah di sini, itu..itu..

(MENUNJUK KE MENAKIN YANG DIDANDAN, SAMBIL MEYAKINKAN PADA PENONTON)

Itulah alasan mengapa aku betah disini. Wanita-wanita cantik dengan kopiah putih. Alamak, sedap nian. Terus melirik dan main mata dengaku, walau dari jauh. Tapi, dia selalu kosong, mengiba-iba ingin dibebaskan. Dan juga sudah aku bilang, lebih baik seperti aku saja. Bebas, mau jingkrak-jingkarak, guling-guling, merangkak, telungkup, ngangkang,enakmu dewe! Tak ada yang larang, tapi dia tak mau. Ya sudahlah.
Jam 12, berarti..

(MELIHAT JAM LALU BERPIKIR)

Menemukan jawaban dari ribuan pertanyaan yang cuma kuambil satu saja, cukuplah. Pertanyaannya seperti ini? Bagaimana tiba-tiba, para ibu melahirkan bayi-bayi yang sudah gila? Dalam arti kata, bayi yang gila sejak lahir. Aku percaya sih, mereka akan membawa perubahan. Aku yakin. Atau…bayi-bayi normal, tapi yang melahirkan adalah para ibu gila, ataunya lagi, bayi normal, ibu-ibu normal, yang punya sperma orang-orang gila…hahahaha!
Pasti ini adalah temuan yang mutakhir, yang hanya aku saja yang punya ide.
Pertanyaan ini dulu muncul dari observasi tak tersengaja. Ceritanya seperti ini : entah kenapa pada suatu malam yang cerah, aku tak bisa tidur. Aku coba duduk, berbaring, dan melakukan itu berkali-kali. Tapi tetap saja segar, tak mau pejam barang sejenak. Lalu, kuputuskan saja untuk mencari angin di luar, walau ada pemberontak-pemberontak kecil dalam diriku untuk mencegah perjalanan malam. (SAMBIL LIHAT KIRI-KANAN) ini rahasia ya? Akan aku kasih tahu rahasia diriku, aku takut gelap (MENGATAKANNYA DENGAN BERBISIK) awas!!! Jangan kasih tahu teman-teman kamar sebelah. Malu aku kalau mereka sampai tahu. Jadi, malam itu aku berjalan-jalan sepanjang koridor, niatnya mau menemui si Mimin, seorang perempuan yang nyasar ke sini, karena stres, seketika bapaknya naik pamor dan terberita di mana-mana, di koran-koran bungkus teri, koran gorengan, Koran yang mau didaur ulang, pokoknya segala macam koran lah, di radio juga ada, sampai gossip pagi pun ada. Ya, maklumlah…koruptor kelas ikan padang, jadi makmum pada ritual korupsi jama’ah.
Kulihat jam dinding, ah, masih jam 12 tepat
Tapi tak seperti biasanya, kamar Mimin kok cahayanya remang-remang, biasanya terang. Lalu aku mengendap-ngendap, mengintip dari kaca jendela. Melihat pemandangan di dalam, dadaku sesak, mataku melotot. Ternyata ada 5 orang berbaju putih-putih tanpa celana, sedang..sedang..sedang, aaahh, maksudku sedang menindih dan main kuda-kudaan secara bergantian dengan si Mimin. Kulihat Mimin tak berdaya,ternyata salah satu dari mereka adalah bapak yang kepalanya putih mirip kucing seperti yang kuceritakan tadi.
Aku ketakutan dan lari ke kamar, kukunci pintu, takut kejadian tindih-menindih jatuh giliran padaku. Kejadian tadi tepat jam 12, aku paksakan untuk mengingat, agar tidak lupa bahwa kejadianya tepat jam 12.
Aku bingung, maka kutuliskan saja : si Mimin ditindih oleh 5 orang, salah satunya bapak berambut putih, baju mereka putih, tanpa celana putih, tepat jam 12 saat itu.
Paginya, aku berpikir keras, seperti apa rupa bayi si Mimin, apakah kepalanya berbulu kucing, atau dia juga lahir gila seperti Mimin, atau berbaju putih tanpa celana putih, atau semacam apa?
Hari-hari berikutnya aku hanya diam saja tentang kejadian itu.

(SAMBIL BERCERMIN)

Seperti yang terlihat, aku sebenarnya tidak gila. Aku bergelar sarjana dari insitut terkemuka di negeri ini. Aku masih muda, masih percaya Tuhan, dan dulunya aku mapan lho. Yah, ternyata gelar akademik juga tidak menjamin. Percayalah! Aku pun tahu ini rumah sakit jiwa. Hah, biarlah.
Aku cuma disangka gila oleh orang-orang di sini dan di luar sana juga. Tapi, apakah salah jika aku membebaskan jiwa yang terkekang oleh jasad. Aku seorang pembebas, telah kubebaskan juga otaknya yang kotor. Kadang lidah mereka terlalu panjang, sehingga untuk menjilat es krim dan lollipop saja susah. Aku disuruh gini, mesti gitu,…gini-gitu,gini-gitu,gini-gitu…gundul mbahmu. Memangnya aku ga punya setir apa? Bapakku memang gundul, maka kuletakkan saja pisau yang telah kuasah berkali hingga kilat di jantungnya, habis perkara.
Aku bukan pembunuh, akulah si pembebas itu sendiri. Telah kupersiapkan waktunya untuk mati, itu merupakan jasa terbesar yang kuperbuat Bapak! Untuk ibu juga, yang telah kau biarkan ia duduk di tepi pantai menatap matahari terbenam berharap bebas. Kebebasan itu sendiri, kosong melompong di dalam mata ibu, yang memantul ke langit, mengembara ke laut lepas. Padahal laut itu sungguh bukan laut sama sekali. Ia telah menjadi lukisan, semacam lukisan kabut dan cakrawala itu menjadi kabut yang jauh, yang kelabu, yang melenyapkan bayang-bayang…
Betapa indah kematian dengan persiapannya dan kegagahannya juga

(MENATAP KE JAM DINDING, BERPIKIR SEJENAK DAN MENGHELA NAFAS PANJANG)

Ah, masih jam 12 tepat, tak lewat sedetik pun
Kenapa aku mesti mikir, bukankah pikiran telah lama pamit dari kepalaku ini, pikiran yang memusingkan. Sering aku lelah dengan diriku sendiri. Baiknya aku gila beneran, dan setiap hari aku berdoa kepada Tuhan agar betul-betul gila.
Doaku : Tuhan, jadikanlah aku gila, agar bebas dari pikiran sehat yang menjerumuskan aku ke dalam kejahatan. Jadikanlah aku gila agar hidupku menjadi suci murni dan jauh dari kebusukan. Kabulkanlah permintaanku ya Tuhan, agar kiranya kau kuburkan aku dalam kegilaan abadi. Jadikanlah aku manusia gila segila-gilanya manusia yang pernah ada. Hancurkanlah penalaranku, kacaukanlah jiwaku, berkatilah aku dengan kegilaan yang membebaskan aku dari keserbawajaran dunia yang muak.
Benarkah aku membunuh bapakku? Kalau ditelisik dengan teliti, barangkali akan terbukti juga aku tidak pernah membunuh bapakku. Lebih tepat dikatakan, bapakku telah membuat aku membunuhnya. Bapakku sengaja membuat aku membunuhnya, supaya ia tidak susah bunuh diri. Berarti ia yang menuntun tanganku ini agar ia cepat sampai ke alam baka. Aku hanya memenuhi permintaanya.
Sebenarnya juga, aku masih sadar dan tahu betul kalau aku belum terlalu gila sebenarnya. Apa bedanya pura-pura gila dengan sebenar-benar gila? Atau yang gila dengan yang waras? Apakah perbedaan itu penting.
Penting bila dianggap penting, penting atas kepentingan siapa, seberapa penting bila penting, penting dipentingkan, perpentingan, dipentingi, penting tidak penting, penting harus penting, penting…tak penting…penting…tak penting…penting…tak penting! Pilih sendirilah.
Tidak begitu penting apakah ada itu ada atau tidak ada.
Ada
Ketiadaan
Menjadi…
Jam 12 tepat.
Aku masih ingat, ketika aku duduk-duduk di belakang kamar pengap ini, mengahadap ke laut. Dari jam 12 sampai jam 12. Entah siapa, ada dua orang duduk berduaan di bangku sebelah. Karena aku sendiri, maka kumencuri dengar percakapan mereka. Mungkin mereka adalah pasangan tua. Bukan, mereka bukan suami-istri tua, mereka adalah duda dan janda, duda kira-kira berumur 90, janda berumur 80 tahun. Aku juga menyangka mereka sama seperti aku, toh buktinya mereka ada di sini.
Pembicaraan mereka seperti ini

“Aku heran, kenapa kau belum mati juga” Tanya si duda

“Memangnya kenapa?” Balas si janda “Tapi sebentar lagi aku akan mati”

“Ah, mana bisa. Aku kan lebih tua dari kau!”

“Tidak, aku harusnya duluan. Lelaki bisa lebih bertahan daripada wanita”

“Teori macam apa itu, pokoknya aku duluan!”

“Tapi aku suka kematian” Jawab si janda

“Aku juga”

Mereka diam sejenak

“Tapi aku tidak bisa hidup tanpamu” si janda memulai percakapan lagi

“Harus bisa.”

“Kenapa?”

“Harus ya harus”

“Pasti aku selalu merindukanmu!”

“Terserah”

“Kau kok gitu sih?”

“Kau jutek”

“Kau juga”

“Biru” kata si duda

“Biru” balas si janda

“Membayang, mengawasi”

“Siapa?” si janda merangkul lengan duda dengan sangat ketakutan

“Hahahahahah… Kau lucu!”

“Ya, kau kira kematian itu lucu, hah?”

“Mati dalam kegembiraan apa salahnya, yang penting aku mencintai kau hingga saat nanti”

“Ah, gombal. Biarlah, aku juga mencintai kau”

“Kau wanita tua”

“Kau lelaki lapuk”

“Kau keriput”

“Kau mengkerut”

Keduanya tertawa menikmati matahari jam 12 saat itu,
Semuanya membuatku bingung .

(SAMBIL GELENG KEPALA, LALU MOVING MENDEKATI MENAKIN SUSTER)

Pokoknya aku tak mau lagi dipasung, sinting! Kalau tidak, aku goda kau sampai kewarasanku mampir…
Oh… hampir lupa!
Mumpung sekarang jam 12, aku akan meninggalkan pesan buat teman-temanku : enak jadi orang gila apalagi dianggap gila, daripada waras tapi ketahuan gila.
Gedebag..gedebug..gedebag..gedebug!!!
Tralala..trilili..tralala..trilili..


(LAMPU PERLAHAN-LAHAN REDUP, DAN MATI)

PEMENTASAN USAI

Padang-M.Bungo, …Juni-Juli 2011

Monolog : DASEIN - Bina Margantara


 
LAMPU MERAH MENYOROTI PEMAIN YANG SEDANG DUDUK, DENGAN KAKI DI ATAS MEJA. DIA MENGENAKKAN TOPI , TATAPAN KOSONG KE DEPAN. SESEKALI MENGEPULKAN ASAP ROKOKNYA KE ATAS. SELALU BEGITU HINGGA BEBERAPA MENIT.
LAMPU MERAH MATI.
ADA LAMPU NEON TEPAT DI ATAS KEPALANYA, DAN AKTIVITASNYA SELALU BEGITU.
LAMPU KEMUDIAN MATI, TERDENGAR SUARA RIUH DI LUAR PANGGUNG


ADEGAN I


SUARA DI LUAR
Mengapa kau bertingkah seolah sedang berpikir Mukar?
Masih punya otak toh, masih percaya nurani?
(MEREKA PUN TERTAWA DENGAN NADA YANG SANGAT MENGGIDIK)


MUKAR
(SEOLAH MUKAR MENGACUHKAN SUARA TADI, DAN DIAM BARANG SEJENAK, KEMUDIAN AKHIRNYA ANGKAT BICARA)
Apa salah, hah?
Inilah cara saya menikam sepi-sepi, merasa merdeka dan tak pernah terkontaminasi oleh doktrin yang sangat menggrogoti akal sehat. Dan juga, cara saya melayani diri sendiri
(MUKAR PUN TERTAWA, SEAKAN TAK ADA BEBAN)
Kalian mesti mencari cara sendiri-sendiri (SAMBIL MENGEJEK)

SUARA DI LUAR
Cara kau bilang?
Dan cara yang kau sebutkan adalah cara yang begitu aneh, lebih tepatnya adalah cara orang-orang pesimis yang kalah bertarung dengan dunia luar. Kau mencoba untuk menghibur diri sendiri dengan kekalahan yang bertubi-tubi yang selalu kau alami.
Kau memandang dirimu lebih besar dari dunia dan orang-orang yang kau temui.

MUKAR
Tapi aku jauh melihat ke dalam dan sangat meresapinya. Dengan begitu, aku lebih tahu bagaimana diriku sebenarnya. Merasakan setiap hangat nafasku, ritme jantungku yang bermain dengan delapan nadanya. Aku begitu menikmati ke mana kehendak kaki melangkah, kalau saja aku bisa dalam satu waktu aku bisa melangkah ke seluruh penjuru mata angin, kenapa tidak?
Tapi aku tidak akan pernah terima, kalau caraku ini adalah cara para pecundang.

SUARA DI LUAR
Kau hanya berusaha untuk menghibur diri sendiri, itulah falsafah orang-orang kalah.
Kami juga beranggapan, jangan-jangan kau bersenggama dengan dirimu sendiri

MUKAR
Benar, ada saatnya kita memang harus bersenggama dengan diri sendiri. Benar yang selalu tak akan pernah salah kawan!
Dan aku selalu sadar dengan keberadaanku, di antara kamu, kita, kami, mereka, kalian dan dunia yang hampir letih ini, letih dengan pembicaraan yang tak begitu penting, wacana yang selalu berputar-putar, masalah-masalah yang tak terselesaikan.

SUARA DI LUAR
Waw… semangat anak muda yang terlalu kehilangan kendali.
Mengoceh sendiri seperti tahu sepenuhnya tentang semua hal, padahal hanya paham sebagian saja.

MUKAR
Hilang kendali?
Ini bukan masalah tentang apa yang selalu kita pikirkan kawan!
Tapi bagaimana cara kita berpikir.
Kuharap kalian mengerti.
Kalian hanya sesuara tanpa bentuk, yang hanya bermain di luar. Melihat dan hanya menilai dari jauh, seakan kalian hakim yang tak pernah salah, dan semaunya bertindak. Tindakan yang egois sekali, pecundang yang sebenar-benar pecundang.

SUARA DI LUAR
Itu kau
Itu kau
Itu kau

MUKAR
Tidak!

MUKAR DAN SUARA DI LUAR BERTENGKAR DENGAN “YA” ATAU “TIDAK”NYA...



ADEGAN II

Kita semua tahu, jalan hidup kita seperti apa. Lahir, nang ning nong kemudian mati. Tapi sangat sedikit sekali sebagian dari kita benar-benar sadar dengan kehadiran kita.
Kehadiran yang merasa benar-benar hidup. Meskipun aku sendiri bingung, kenapa aku harus terlahir sebagai Mukar, bukannya Peter atau Smith atau bahkan Moreles. Ataunya lagi terlahir sebagai Susi, Tini, atau Lestari dan Ratna. Yah, memang di luar kesadaran dan kendali
“sebenarnya hanya ada satu masalah kebijaksanaan (baca filsafat) yang benar-benar serius, yaitu bunuh diri. Menilai bahwa hidup ini layak atau tidak layak untuk dijalani: itulah menjawab pertanyaan kebijaksanaan.” (Albert Camus, The Myte of Sisyphus: 1955)

DIA MENGELUARKAN TALI DARI LACI MEJA, DAN MEMPERHATIKAN DENGAN SEKSAMA…
KEMUDIAN MENGELUARKAN PISAU

Jika kedua benda ini digunakan untuk bunuh diri, mana yang lebih cepat untuk membunuh?
Tali mungkin hanya untuk menghentikan nafas di leher, pisau mengucurkan darah dari nadi. Tapi jika digunakan alat ini secara bersamaan, tali untuk menggantung dan pisau untuk memutuskan nadi. Aaah, tatap tak bisa, mesti satu-satu kelihatannya.
Tapi…
Tunggu dulu, kenapa aku harus bunuh diri? Alasannya apa?
Apakah hanya dengan bunuh diri aku harus mati, atau aku hanya menelan mentah-mentah tentang menjawab pertanyaan kebijaksanaan tadi. Kebijaksanaan seperti apa? Atau mungkin bunuh diri yang dimaksud bukan secara fisik. Ya, bukan secara fisik!
Mungkin aku mesti mati berkali-kali untuk mendapatkan dan menemukan diriku yang baru, secara wujud mungkin tidak, tapi bisa saja secara emosional dan jiwa yang baru.

IA BERGERAK KE ARAH CERMIN, MEMPERHATIKAN DIRINYA SANGAT DETIL
Siapa kamu? Ya, aku bertanya kepadamu. Tidak ada seorang pun yang berada di sini kecuali aku dan kamu. Berarti kita. Kamu tahu unsur pembentuk kita?
Aku
Kamu
Mejadi KITA, apa yang kamu rasakan? Ayolah, berpikir untuk barang sejenak. Kita harus cepat. Ya, seperti itu lebih baik. Seperti apa? Semoga kita satu pemikiran.

DIA MENEGENDAP-ENDAP SEOLAH DAPAT MENDENGAR BISIKAN BAYANG-BAYANGNYA SENDIRI

Benar. Ada relasi di sana, antara aku dan kamu. Yang memang tak kelihatan, tapi akan sangat terasa sayang. Mau kau kuajak bermain-main? Tak usah kau pikirkan, maksudku kau tak perlu merisau keterperangkapanmu yang abadi di dalam sana. Kau bisa menguntitku dari belakang, samping kiri-kanan, tapi kau tak kubiarkan di depan. Karena aku selalu berposisi di depan. Ini tergantung pencahayaan yang tak menembus fisikku, maka di sana lah keberadaanmu.
Ah, tapi sudah kubilang tadi, kau dan aku adalah kebersamaan dan keserbawajaran. Kau ada karena keberadaanku, penjelasan selanjutnya kau juga tahu. Apa kau mulai bosan dengan kondisi ini?

DIA LALU MEMECAHKAN CERMIN TERSEBUT, DAN MERASA PUAS
(DIAM)
SERASA ADA PENYESALAN, AKHIRNYA MENANGIS
(DIAM)
DAN TERTAWA…

Sedang apa aku sekarang?
Di mana?
Dan aku tak akan pernah peduli lagi dengan kau, kalian, mereka semua. Aku tak tunduk pada benda-benda yang menghasilkan bayang-bayang. Yang ada hanya ada kita dan semua ide. Dunia dan kebermaknaan dari ini semua, semua adalah ilusi. Delusi untuk diriku sendiri. Aku ingin melampaui diriku sendiri, aku tak pernah mengenakkan tubuh ini atas nama yang lain, yang ada hanya aku.
Baiklah, aku Mukar. Diberi nama itu sejak lahir, nama begitu penting aku rasa. Sepenting ikan air tawar di sungai, sepenting ikan asin di laut. Bagaimana kalau kita melihat seorang pria di bawah pohon. Apakah kita menamakannya seorang pria di bawah pohon. Atau si pengembala dengan kerbaunya. Atau gadis kecil dengan senyum manisnya dengan geligi putih bagai biji timun. Atau ibu tua yang menggendong anaknya yang korengan, atau manusia dengan kebodohannya sampai ke tulang..atau..atau..atau,
Apakah A itu memang benar-benar A adanya? Bisa saja A melebur menjadi B. dan B tidak selalu B. Kenapa kita menamakan ini jam? (DIA MENUNJUK KE ARAH JAM DINDING), kenapa tidak kita namakan benda bundar dengan jarum-jarum yang selalu menghantui kita, mengintai seperti malaikat maut. Waktu, ya waktu!!!
Kalau saja waktu itu anak tetangga tak singgah depan halaman saat senja-senja basi, yang menumpahkan kopi temanku duduk. Tak akan jadi begini!
Dia harus bertanggung jawab, dia harus menarik kembali pertanyaan-pertanyaan sulit itu. Pertanyaan yang selalu menghantui.
Tapi itu bukan sebuah kebetulan, ini memang harus benar-benar terjadi. Sampai mampus aku jadinya. Persetan dengan ini semua!

DIA MENGERANG…
LALU DIA MENARI-NARI DI ATAS MEJA, BERHENTI SEJENAK UNTUK MENGHIDUPKAN ROKOKNYA

Itulah, aku mengerti sekarang.
Betul,sebuah pengakuan, ya, kita harus punya identitas.


ADEGAN III


SUARA DI LUAR
Sudahlah Mukar

MUKAR
Kalian lagi (DENGAN SENYUM TERSUNGGING)

SUARA DI LUAR
Apa yang kau temukan?

MUKAR
Tak ada urusan dengan kalian

SUARA DI LUAR
Benar, karena kau telah lari dari kenyataan. Kalau kita memang begini adanya

MUKAR
Pernyataan yang abstraktif.
Ayo, siapa yang lebih pecundang? Lebih jelas sekarang

SUARA DI LUAR
Kau terlalu letih, hiburlah diri dengan yang nyata. Bermain-main di pantai sepenyudahan siang, maka pikiranmu bakal jernih.

MUKAR
Biar kukasih tahu yah, hei begundal!
Kita mesti merasa dan benar-benar menikmati keterasingan, dicampakkan, kesendirian, diacuhkan, keletihan yang tak habis-habis, menderita paling menderita, tertawa sampai paling bahak sampai kau lupa sedang di mana; merah jambu, biru, hitam yang dominan, jingga pucat. Di sana kita mungkin akan mengalami keseriusan dan kebermaknaan. Begitulah caraku bercinta, bunuh diri dengan kesiapannya, mati di atas kebahagian, dan akan kembali benar-benar hidup dengan nafas yang berapi-api siap menjilat apapun di depanmu, kawan!

SUARA DI LUAR
Anak muda banyak bacot, anyir dan bau kencur!

MUKAR
Ini bukan masalah umur, biar kuberi pengertian. Ide kalian lemah!
Kalian tak sanggup berpikir, keberadaan kalian hampa.

SUARA DI LUAR
(TERTAWA YANG SANGAT MENAKUTKAN)

MUKAR
(MELIHAT JAM)
Benar, mungkin aku terlalu lelah akhir-akhir ini. (BERUCAP DENGAN LIRIH)


LAMPU PADAM
PEMENTASAN USAI

PADANG, NOVEMBER 2011

Minggu, 08 Agustus 2010

Monolog : S A R I M I N - Agus Noor



Sebuah Monolog
S A R I M I N
Karya Agus Noor


1.

Tampak panggung pertunjukan, mengingatkan pada pentas kampung…

Para pemusik muncul, nyante, seakan-akan mereka hendak melakukan persiapan. Ada yang mumcul masih membawa minuman. Ngobrol dengan sesama pemusik. Kemudian mengecek peralatan musik. Mencoba menabuhnya. Suasana seperti persiapan pentas. Tak terlihat batas awal pertunjukan.

Sesekali pemusik menyampaikan pengumunan soal-soal yang sepele: Memanggil penonton yang ditunggu saudaranya di luar gedung, karena anaknya mau melahirkan; menyuruh pemilik kendaraan untuk memindahkan parkir mobilnya, atau mengumumkan bahwa Presiden tidak bisa datang menyaksikan pertunjukan malam ini karena memang tidak diundang; pengumuman-pengumuman yang remeh-remeh dan bergaya jenaka… Atau menyapa penonton yang dikenalnya, bercanda, say hello, sembari sesekali menyetem peralatannya.

Kemudian mereka menyanyikan lagu tetabuhan, yang mengingatkan pada musik topeng monyet. Para pemusik bernyanyi dan berceloteh jenaka. Sementara ruang pertunjukan masih terang. Tertengar lagu tetabuhan yang riang…

Lalu muncullah aktor pemeran monolog ini atau Tukang Cerita. Terlihat jenaka menari-nari mengikuti irama. Hingga musik tetabuhan berhenti, dan Tukang Cerita mulai menyapa penonton dengan penuh semangat bak rocker,

TUKANG CERITA:
Selamat malam semuanya! Yeah!…

Wah, gayanya seperti rocker, tapi nafasnya megap-megap. Rocker tuek…

Senang sekali saya bisa ketemu Saudara semua. Ini kesempatan langka, bertemu dalam peristiwa budaya. Anda mau datang nonton pertunjukan ini saja sudah berarti menghargai peristiwa budaya, ya kan?! Hanya orang-orang yang berbudaya yang mau nonton peristiwa budaya. Jadi, bersyukurlah, kalau malam ini Anda merasa ge-er sebagai orang yang berbudaya. Soalnya, di negeri ini, manusia yang masuk dalam kategori manusia berbudaya itu lumayan tidak banyak. Jadi manusia berbudaya itu agak sama dengan badak bercula. Sama-sama langka.

Nah, salah satu ciri penonton berbudaya itu kalau nonton pertunjukan, selalu mematikan handphone. Ayo sekarang, silakan men-non atifkan-kan HP Anda, sambil berimajinasi seakan-akan Anda itu Presiden yang sedang men-non aktif-kan menteri Anda. Atau kalau selama ini Saudara punya bakat dan naluri membunuh, silakan diekspresikan bakat membunuh Saudara dengan cara membunuh handphone masing-masing.

Nanti, selama pertunjukan, juga dilarang memotret pakai lampu kilat. Nanti ndak jantung saya kaget. Di dalam gedung ini juga dilarang makan, minum atau merokok…. kecuali pemainnya.

Malam ini, saya akan bercerita tentang Sarimin. Perlu Anda ketahui, nama Sarimin ini bukanlah nama asli. Tapi nama paraban. Nama panggilan. Nama aslinya sendiri sebenarnya cukup keren: Butet Kartaredjasa..1 Mungkin nama ini kurang membawa berkah. Meski pun ada juga lho orang yang memakai nama Butet Kartaredjasa, lah kok nasibnya malah mujur: tersesat jadi Raja Monolog. Atau istilah yang lebih populisnya: pengecer jasa cangkem.

Nah, dia dipanggil Sarimin, karena berprofesi sebagai tukang topeng monyet keliling. Agak aneh juga sebenarnya, kenapa nama Sarimin itu identik dengan topeng menyet. Begitu mendengar nama Sarimin, langsung ingatan kita… tuinggg… melayang ke topeng monyet.

Memang sih ada nama-nama yang identik dengan sesuatu. Yah, misalnya sepertu nama Pleki. Begitu mendengar nama Pleki, kita pasti langsung teringat pada… (sambil menunjuk ke arah pemusik).. anjing kampung. Atau nama Munir, misalnya. Nama munir selalu mengingatkan kita pada aktivis hak asasi yang mendapat berkah diracuni arsenik. Memang kebangeten kok yang ngracun itu, kok ya ndak merasa bersalah… Kita juga kenal Baharudin Lopa, yang identik dengan sosok yang jujur dalam hukum. Nama Gesang… identik dengan Bengawan Solo. Suharto… yang identik selalu mendadak sakit kalau dipanggil pengadilan. Atau Sumanto… Begitu mendengar nama Sumanto, kita langsung teringat…

Celetukan pemusik: “Kanibalisme…”

TUKANG CERITA:
Itu terlalu keren… Bukan kanibalisme, tapi ciak kempol! Atau yang sekarang lagi popular: Bondan Winarno… Begitu mendengar nama Bondan Winarno, langung ingat wisata kuliner… mak yuss…

Musik memberi tekanan dan membangun suasana…

TUKANG CERITA:
Sebagai tukang topeng monyet keliling, Sarimin lumanyan konsisten menekuni kariernya. Lebih kurang 47 tahun dia jadi tukang topeng monyet. Sekarang dia sudah berumur 54 tahun. Jadi kalau dihitung-hitung, dia sudah menjadi tukang topeng monyet sejak umur 7 tahun. Ini profesi yang diwarisi Sarimin dari Bapaknya yang sudah almarhum.

Mungkin Saudara pernah bertemu Sarimin. Atau pernah melihat Sarimin melintas di jalanan yang macet. Kemacetan yang sepertinya sengaja diselenggarakan oleh Gubernurnya.

Atau mungkin suatu hari Anda pernah secara sengaja berpapasan dengan Sarimin. Mungkin malah Anda sempat ngobrol sebentar berbasa-basi denganya… Tapi Anda tak lagi mengingatnya. Tampang dan nasib Sarimin memang membuat orang malas mengingatnya. Saking leceknya. Bajunya…

Tukang Cerita itu mengambil baju dari kotak pikulan topeng monyet yang ada di dekatnya. tukang-cer-jadi-sarimin.jpgDan mulai di sini, pelan-pelan, Tukang Cerita itu mengubah dirinya menjadi tokoh Sarimin. Sambil terus bicara ia mengganti baju Tukang Cerita dengan pakaian Sarimin…

TUKANG CERITA:
Lihat saja bajunya… Setahun sekali kena sabun saja sudah lumayan… (Kepada para pemusik) Coba cium…, baunya… hmmm, mak brengg… Belum lagi celananya…Coba lihat… (sambil memakai celana itu). Selalu cingkrang…. Tapi ini cingkrang yang tidak menakutkan lho ya… Karena meski celananya cingkrang, tidak jenggotan.. Tidak suka merusak kafe-kafe atau tempat hiburan malam…

Sembari terus berubah menjadi Sarimin, menempelkan bermacam “asesoris” penyakit kulit di tubuhnya…

TUKANG CERITA:
Tubuh Sarimin juga full asesoris… Penuh tato emping, alias panu. Dia juga punya bisul yang nggak sembuh-sembuh. Ada kutil di lehernya… Kurap ada. Kadas, kudis, jerawat, koreng, kutu air…. Pokoknya segala macam jenis penyakit kulit tersedia lengkap di badannya.

Dengan segala macam anugerah penyakit yang dimilikinya itu, sudah barang tentu Sarimin bukanlah sosok yang menarik untuk Anda ingat. Sarimin bukanlah orang yang cocok untuk dijadikan monument ingatan. Makanya, saya pun akan maklum, apabila setelah menyaksikan pertunjukan ini Anda pun tetap tak akan mengingat Sarimin… Sekarang ini, yang paling sulit memang mengingat. Karena kita sudah terlalu l ama dididik keadaan untuk gampang lupa!

Musik menghentak, memberi tekanan perubahan suasana dan karakter. Kini aktor itu sudah sepenuhnya berperan menjadi Sarimin. Sementara musik tetabuhan topeng monyet berbunyi,sarimin-jalan2.jpg Sarimin mulai mengambil peralatan topeng monyetnya, kemudian mulai berjalan memikul peralatan topeng monyetnya, seolah mulai berjalan keliling menyusuri jalanan… Suasana makin meriah dengan teriakan suitan para pemusik yang mencelotehi tingkah Sarimin…
Sampai kemudin Sarimin mendadak berhenti, memandang ke bawah, ke dekat kakinya. Seperti ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Segera Sarimin memungut sesuatu yang tergeletak di pinggir jalan itu. Sebuah KTP. Sarimin dengan ragu-ragu memungut KTP itu. Memeganginya, memandanginya…

Pada saat inilah, lampu di bagian penonton meredup dan menggelap. Dan cahaya di panggung mulai mengarah pada Sarimin yang memegangi dan mengamati KTP yang ditemukannya itu: bergaya membaca nama di KTP itu, padahal ia tak bisa membaca… Baru kemudian ia menunjukkan KTP yang ditemukannya itu kepada para pemusik…

SARIMIN:
Ini KTP siapa, ya? Ada yang merasa kehilangan KTP tidak? Coba cek dulu mungkin dompet sampeyan jatuh.. Atau kecopetan… Gimana, ada yang merasa kehilangan KTP?

Para pemusik berceloteh menangapi, merasa tak kehilangan dompet atau KTP. Lalu Sarimin mencoba bertanya kepada para penonton…

SARIMIN:
Maaf, Bu… Pak… Ada yang merasa kehilangan KTP ndak ya? Ini tadi saya nemu…. Nanti kalau sampeyan ndak ada KTP kena razia Operasi Justisia lho… Bisa-bisa dianggap penduduk gelap… Ini KTP sampeyan bukan?

Celoteh Pemusik: “Mas, tanyanya yang sopan… yang halus…”

Lalu Sarimin pun bersikap sopan yang dilebih-lebihkan, bertanya pada para penonton sekali lagi,

SARIMIN:
Maaf, Bapak-bapak… Ibu-ibu… Apakah dari pada Bapak Ibu ada yang merasa kehilangan dari pada KTP? Tidak? Bener, dari pada Bapak Ibu ndak ada yang merasa kehilangan KTP?

Seorang Pemusik menyuruh Sarimin untuk membacakan nama di KTP itu, “Kamu kan bisa baca, di situ ada namanya…, nanti kan tahu itu KTP siapa?!”

Sarimin bergaya membaca tulisan di KTP itu, tetapi hanya bibirnya yang komat-kamit…

SARIMIN:
Eee, anu, mata saya ini rada aneh kok… Kalau buat mbaca langsung mendadak rabun… Lha ini, tulisannya mendadak ndak jelas… Gini ajah, gimana kalau sampeyan yang bacain…

Para Pemusik meledek Sarimin: “Allahh.., bilang saja nggak bisa baca. Nggak bisa baca ajah kok nggaya!”

SARIMIN:
Lho, siapa yang nggaya? Siapa yang ndak bisa baca? Mbok jangan menghina begitu. Sukanya kok ya menyepelekan. Jangan meledek orang yang ndak bisa baca… Banyak juga kok orang yang tidak bisa baca tapi ya sukses… Malah ada orang ndak bisa baca tapi jadi pemimpin…

Celoteh Pemusik: “Lho emangnya ada pemimpin yang nggak bisa baca?”

SARIMIN:
Ya ada… Gini saja kok ya ndak tahu…

Celoteh Pemusik: “Coba sebutkan, siapa?”

SARIMIN:
Pokoknya ada… Ndak usah saya sebutkan…

Celoteh Pemusik: “Bilang saja takut…. Hayo, coba sebutkan, siapa?”

Sarimin tampak bingung, terpojok karena terus didesak, mencoba menutupi ketakutannya. Celoteh Pemusik, terus mendesak: “Ayo, coba sebutkan kalau berani…”

SARIMIN:
(Melihat-lihat ke arah penonton, masih ketakutan dan hati-hati) Ada Pasukan Berani Mati yang nonton ndak ya… (Sarimin tampak nggak berani menyebut)… Ya, pokoknya ada!

Celoteh Pemusik, terus mendesak: “Iya, siapa? Sebutkan!”

SARIMIN:
(Berpikir sejenak, lalu menjawab) Prabu Destarata… Itu, pemimpin Hastina! Dia kan tidak bisa baca… Kalian mau memancing saya kan, biar saya menjawab Gus Dur… Ya ndak mungkinlah saya berani menyebut Gus Dur… Boleh kan pemain teater juga takut. Nanti kalau ada apa-apa ya kalian paling cuman bisa nyukurin… Bikin slametan begitu saya dipenjara…

Sarimin kembali menimang-nimang dan memandangi KTP itu.

SARIMIN:
Bener, ini bukan KTP sampeyan?… (Bingung menimbang-nimbang KTP itu) Ya, sudah, nanti sekalian saya pulang, saya tak mapir ke Kantor Pulisi… Dari pada repot, kan mendingan KTP ini dititipkan ke Pak Pulisi… Ya ndak? Nanti biar Pak Pulisi yang nganter ke pemiliknya…

Dan Sarimin pun kembali memikul kotak topeng monyetnya. Musik tetabuhan mengiringi perjalanan sarimin. “Sarimin pergi ke Kantor Pulisi…” teriak para pemusik riang bagai pertunjukan topeng monyet.

Tampak Sarimin berjalan menuju kantor pulisi.

Musik terus mengiringi perjalannan Sarimin. Pada saat inilah, aktor juga mulai menata setting untuk perpindahan adegan. Menggeser beberapa dekorasi hingga terjadi pergantian ruang…


2.

Ahhirnya, Sarimin pun sampai di Kantor Pulisi. Ia tampak kelelahan dan capai setelah berjalan jauh. Sarimin memperhatikan Kantor Pulisi itu, tanpak sepi. Tak ada Petugas Jaga. Ia sejenak clingukan, agak ragu memasuki halaman Kantor Pulisi itu. Ia berjalan pelan dan sopan mendekat…

SARIMIN :
Permisi, Pak Pulisi….Asalamualaikum, Pak Pulisi…

Mendadak nongol sosok Pulisi, yang langsung sibuk mengetik begitu mengetahui kedatangan Sarimin. Maka Pulisi itu pun tampak terus sibuk mengetik…

SARIMIN:
Wah…, Pak Pulisinya ternyata lagi sibuk… Sibuk kok ya mendadak ya…

Pulisi itu terus mengetik, mengabaikan Sarimin.

SARIMIN:
Ya sudah…, biar saya tunggu saja…(Lalu menjauhi Pulisi itu, sementara suara mesin ketik terus terdengar, membangun suasana) Yah, lumayan…, sambil nunggu bisa numpang istirahat… (Sembari memijit-mijit kakinya yang terasa pegal-pegal atau sesekali meregangkan badan atau mengeluk pinggangnya) Lagi pula saya juga lagi males keliling… Udah dari pagi keluar masuk kampung, tapi nggak ada yang nanggap. Capek juga kan seharian keliling tapi ndak dapet duit…

Sarimin mengeluarkan sebiji pisang dan mengupasnya. Kemudian terdengar suara monyet, yang nangkring di kotak topeng monyet itu. Monyet itu merajuk minta pisang yang dimakan Sarimin itu…

SARIMIN:
(Bicara pada monyet itu) Apa? Pingin?… Iya, iya…, nanti saya bagi…

Sarimin mengambil monyetnya dengan penuh perhatian, memangku monyet itu…

SARIMIN:
(Sambil mengelus-elus monyetnya, bicara kepada penonton) Oh ya, kalian belum kenal toh sama monyet saya ini… Lah ya ini yang namanya Sarimin… Kalau saya dipanggil Sarimin ya cuman karna kena efeknya saja… Itu disebut The Sarimin Effect…

Monyet saya ini bukan monyet sembarangan lho… Kalau ditelusuri garis keturunannya, dia itu keturunan monyetnya Si Badra Mandrawata…

Para pemusik heran: “Siapa itu?”

SARIMIN:
Si Buta dari Gua Hantu…

Suara monyet itu terdengar senang, seperti meloncat-loncat. Sarimin mulai menyuapi monyet itu dengan pisangnya.

SARIMIN:
Nih, kamu separo…

Tampak pisang yang dibaginya itu lebih kecil. Monyetnya tampak senang. Tetapi, begitu mau menyuapkan pisang itu ke monyetnya, pisang itu malah dimakan Sarimin sendiri. Hingga monyet itu berterak-teriak. Tapi Sarimin terus mengunyah pisang itu buat dirinya sendiri…

Melihat itu, Para Pemusik pun berkomentar: “Was, Mase ini, sama monyetnya sendiri kok pelit! Medit!”… “Sudah persis kayak monyet lho Mase ini kalau makan pisang gitu!”…”Ngirit, ya Mas?”

SARIMIN:
Kalian itu jangan salah faham. Ini bukan ngirit! Saya makan pisang begini ini karna saya lagi nglakoni ngelmu munyuk!

Tahu ngelmu munyuk, ndak? Ngelmu munyuk itu ya ilmu kebajikan yang bersumber dari munyuk. Ada kitabnya! Namanya Kitab Bantur Jambul Tangkur Munyuk.

Sarimin segera mengambil sebuah buku tua dari kotak topeng monyetnya…

SARIMIN:
Nah ini kitabnya… Ilmu soal permonyetan ada di sini semua. Kenapa manusia disebut keturunan monyet, ada penjelasannya di sini. Juga soal Jaman Monyet… Nih… (membaca halman kitab itu) hamenangi jaman monyet. Sing ora dadi monyet ora keduman. Sak begja-begjane wong sing dadi monyet, isih luwih begja wong sing koyo monyet nanging kuoso…

Seorang Pemusik memotong: “Lho, kok mendadak situ bisa baca? Tadi katanya nggak bisa baca. Nggak konsisten!”

SARIMIN:
Ini aksara Jawa. Honocoroko. Kalau huruf Jawa saya bisa baca…

Gimana, mau tahu soal ngelmu munyuk, ndak?… Lihat nih, halaman 79… (membaca) Living English Structure… Lho, kok malah bahasa Inggris. Maaf, maklum saya belinya di loakan. Ini buku bajakan, jadi halamannya kecampur-campur. Nah, ini… halaman 67… Di sini dijelaskan, kenapa monyet suka pisang… Ini ada filosofinya. Ada maknanya.

Pisang itu buah yang murah. Artinya kita harus pemurah. Mau berbagi. Maksudnya, hidup kita itu seyogyanya ya seperti pohon pisang. Anda tahu kan pohon pisang? Setiap bagian dari pohon pisang itu semuanya berguna. Tangkai daunnya bisa ditekuk-tekut, dibuat mainan kuda-kudaan. Batang pohonnyanya buat nancepin wayang. Antok-nya, jantungnya, bisa dibikin sayur yang enak.

Celoteh Pemusik: “Kalau pelepahnya, Mas?”

SARIMIN:
Pelepahnya? Ya bisa buat mainan plesetan…. Daunnya bisa dipakai buat mbungkus… Atau bisa juga di pakai buat payungan kalau hujan. Bisa buat berteduh….

Berdasarkan ngelmu munyuk ini, pohon pisang sebenarnya mengajarkan kita agar tidak egois. Karena pohon pisang memang bukan pohon yang mementingkan dirinya sendiri. Pohon pisang itu beda dengan… pohon beringin, misalnya. Ini misalnya lho ya… Kalau Pohon beringin itu kan cuman mementingkan dirinya sendiri.

Kalian lihat sendiri kan, pohon beringin itu tumbuh besar, tinggi menjulang, rimbun, tetapi ia menyedot kesuburan pohon-pohon di sekelilingnya…

Celoteh Pemusik: “Ya, tapi kan Pohon Beringin bisa buat berteduh. Kan bayak itu kere-kere yang suka berteduh di bawah Pohon Beringin…”

SARIMIN:
Kalau yang suka berteduh sih bukan cuman kere… Tapi juga keple… lonte…

Makanya, kalau orang yang pinter, pasti ndak mau lagi berteduh di bawah Pohon Beringin. Seperti para Jenderal itu… Kan sekarang banyak Jenderal yang memilih membikin dan membesarkan pohon sendiri… Lebih senang membesarkan Pohon Gelombang Cinta… Seolah-olah mereka merasa masih dicintai rakyat.

Nah, kalau sampai ada Jenderal yang terus ngotot ikut berteduh di bawah Pohon Beringin, pasti agak diragukan kredibilitasnya: ini Jenderal apa lonte…

Membuka-buka halaman kitab itu dengan serius…

SARIMIN:
Makanya kalian mesti belajar ngelmu pisang. Pohon pisang itu selalu membiarkan anak-anaknya tumbuh besar. Sampeyan tahu, pohon pisang itu juga baru mati kalau sudah berbuah. Artinya, hidup kita itu berbuah. Mesti membuahkan kebaikan. Jangan sampai kita mati tapi belum sempat berbuat baik.

Celoteh Pemusik, agak meledek: “Kata siapa…”

SARIMIN:
Lah ya menurut Kitab Bantur Jambul Tangkur Munyuk ini… Kalau kalian baca kitab ini, pasti kalian ngerti ilmu sejati. Ini ilmu tidak main-main. Ilmu filsafat tingkat tinggi. Tidak sembarang orang bisa mempelajari. Otak anak-anak Jurusan Filsafat saja mungkin ndak nyampe kalau mempelajari ini. Frans Magnis Suseno, Mudji Sutrisno, Pak Damardjati Supajar juga ndak level ama ilmu ini. Makanya mesti hati-hati. Karna bisa-bisa nanti kebablasen: begitu mempelajari ilmu sejati ini, langsung ngaku-ngaku jadi Nabi…

Ngelmu munyuk itu ilmu ketauladanan. Mangsud-nya, banyak ketauladanan yang bisa kita pelajari dari monyet. Karena kalau monyet suka pisang, sesungguhnya monyet itu sedang memberi kita tauladan hidup. Makanya, kalau sekarang ini ndak ada tokoh atau pemimpin bangsa yang bisa kita tauladani, kenapa kita ndak meneladani monyet saja? Ya, ndak?

Sementara itu terdengar suara ngorok…

SARIMIN:
Sudah ah, nanti saja lagi saya kasih tahu soal ngelmu munyuk-nya… (Seperti tersadar kalau sudah lama menunggu)… Dari tadi kok ya belum dipanggil-panggil ya….

Suara ngorok itu makin keras terdengar, ternyata datang dari Kantor Pulisi. Tampak ruangan kantor itu sepi, hanya terdengar suara orang tertidur ngorok…

SARIMIN:
Welah, Pulisinya malah ngorok…

Lalu Sarimin menuju meja jaga pulisi itu. Tak tampak pulisi. Hanya terdengar suaranya yang mendengkur keras…

SARIMIN:
Maaf, Pak Pulisi… Saya cuman mau nyerahkan KTP ini kok, Pak… Soalnya saya mesti pulang… Sudah sore….

Mendadak Pulisi itu bangkit, dan langsung sibuk mengetik. Terdengar suara mesik ketik yang langsung sibuk…

(SUARA) POLISI:
(Membentak, sambil terus mengetik) Tunggu saja dulu! Apa tidak liat saya lagi sibuk!

SARIMIN:
I..ya, Pak… Iya… Sibuk kok mendadak…

Pulisi terus terus mengetik, terus sibuk. Sementara Sarimin hanya bisa memandangi dengan tatapan tak berdaya. Merasa marah disepelekan, tetapi tak bisa apa-apa, hanya ngedumel…

SARIMIN:
Ama orang kecil kok ya selalu menyepelekan… Coba kalau ndak pakai seragam, sudah saya plinteng matane…

Sarimin hanya bisa menunggu. Tapi kemudian ia seperti sudah tak bisa menahan untuk kencing…

SARIMIN:
(Kepada penonton) Ee, tolong, nanti kalau Pak Pulisinya nyari, bilang saya kencing dulu ya… Ke toilet bentar.

Sarimin kemudian bergegas hendak ke toilet, tetapi mendadak terdengar bentakan:

(SUARA) POLISI:
Hai! Mau mana?!

SARIMIN:
Mau ke belakang, Pak…

(SUARA) POLISI:
Tunggu saja di situ!… Nanti saya panggil!

Dengan terbungkuk-bungkuk sopan Sarimin akhirnya kembali duduk, tetapi tampak jengkel juga…

SARIMIN:
Gimana sih! Dari tadi cuman nyuruh tungga-tunggu… Mau kencing bentar ajah ndak boleh… Sok kuasa! Sok merasa dibutuhkan! Seneng kalau melihat orang menderita. Begitu kok ngakunya sahabat rakyat…

Sarimin tampak gelisah menahan keinginannya untuk kencing. Pada saat itu terdengar suara monyet yang menjerit-jerit, membuat sarimin gugup dan panik.

SARIMIN:
(Menenangkan monyetnya yang mulai rewel) Sstt! Jangan ribut, toh… Pak Pulisinya kayak buto galak. Nanti kamu dimarahin!

Monyet itu malah bertambah rewel, terus memekik-mekik.

SARIMIN:
(Terus berusaha menenangkan monyetnya) Apa? Haus? Pingin mimi, ya?

Mengambil botol air mineral dari kotak pikulannya, tetapi botol itu ternyata sudah kosong…

SARIMIN:
Wah, habis… Sabar, ya… Ntar minum di rumah saja ya… Cup cup cup… Bentar lagi kita pulang kok…

Tapi monyet itu makin rewel dan ribut…

SARIMIN:
Jadi monyet itu mbok yang sabar… Lama-lama kamu itu ketularan manusia lho! Ndak bisa nahan sabar! Dasar monyet asu!

Monyet itu terus memekik-mekik minta minum. Sarimin bingung. Ia melihat kepada Pulisi yang tampak sudah kembali tertidur bersandar di depan mesin tiknya. Melihat Pulisi yang lelap itu, maka Sarimin pun hati-hati menegendap-endap menuju toilet di bagian belakang…

Tampak silhuet Sarimin yang kencing, dan menadahi air kencingnya dengan botol.

Sarimin kembali muncul dan segera ia mendatangi monyetnya yang masih rewel. Dengan tenang Sarimin meminumkan isi botol itu ke monyetnya…

SARIMIN:
Nih minum… Enak, kan? Dijamin fresh from the batangan. Lagi ndak? Manis, kan? Lah wong saya kecing manis kok… Kalau gini ada untungnya juga lho kena diabet…

Sarimin terus meminumkan isi botol itu pada monyetnya, sampai kemudian monyet itu tampak tenang dan senang…

SARIMIN:
Monyet saya memang rada manja. Kalau sudah kepingin ndak mau ditunda. Paling repot ya kalu pas dia lagi birahi pingin kawin…

Seorang Pemusik nyeletuk bertanya: “Memangnya itu monyet jantan apa betina?”

SARIMIN:
Monyet jantang dong…

Pemusik: “Memangnya gimana sih caranya membedakan monyet jantan dan monyet betina?”

SARIMIN:
(Tampak sebel dengan pertanyaan itu) Ya gampang… Tinggal kamu kawinin. Kalau hamil, berarti monyet itu betina. Gitu saja kok repot! Mas, mbok kalau nanya itu yang cerdas, biar ndak bikin tambah jengkel… Maaf lho ya kalau saya jadi ketus… Kamu kan lihat sendiri, dari tadi saya sebel nunggu, lah kok malah ditanyain yang ndak mutu gitu! Sebel! Sebel! Sebelll!!! Makanya kalian jangan nambahin sebel saya…

Melihat Sarimin marah begitu, para pemusik langsung diam. Suasana jadi tidak enak. Sarimin hanya diam, gelisah, bingung nggak tahu mesti berbuat apa. Sampai kemudian Sarimin mengeluarkan beberapa alat atrasksi topeng monyetnya. Memain-mainkan payung kecil, gerobak kecil, dan lainnya. Mencoba membunuh kegelisahannya. Mencoba menyibukkan diri. Tetapi ia tetap merasa gelisah karena terus menunggu. Lalu ia melihat papan catur di atas kotak peralatannya. Ia mengambil papan catur itu, lalu mengajak para pemusik itu untuk menemaninya main catur…

SARIMIN:
Main catur yuk… Dari pada cuman bengong…

Tapi Para Pemusik tak menanggapi ajakan itu: “Ndak”… “ Mase nesuan, sih!”

Kemudian Sarimin membawa papan catur itu, mencoba mengajak para penonton untuk main catur dengannya,

SARIMIN:
Ayo, main catur yok… Masa segini banyak ndak ada yang pinter main catur? Ada yang jadi penyair, ndak? Biasanya kalau penyair itu pinter main catur… Soalnya job-nya dikit… Jadi banyak waktu luang buat main catur. Ayo, main catur…. Nemenin saya… Mungkin ibu-ibu atau mba-mba… Ayo, Mba…Main catur bareng saya…, dijamin tidak terjadi kehamilan…

Bener nih ndak ada yang mau main catur? Ya sudah kalau ndak mau… Biar saya main sama monyet saya saja…

Lalu Sarimin menata bidak catur itu, berhadap-hadapan dengan monyetnya…

SARIMIN:
Monyet saya ini lumayan cerdas juga kok kalau main catur…. Saya sudah melatihnya main catur sejak dia masih kenyung, masik kecil, masih balibul…

Seorang Pemusik bertanya: “Apa itu balibul?”

SARIMIN:
Bawah lima bulan… Kalau saja saya punya duit, pasti sudah saya sekolahkan di sekolah catur… Biar jadi Grand Master… Ayo, Min, sini, Min…

Kemudian Sarimin pun bermain catur dengan monyetnya. Suara monyet yang riang membuat Sarimin sedikit terhibur. Ia tampak senang bisa bermain catur dengan monyetnya…

SARIMIN:
Ayo cepet jalan…. Kamu duluan… Eh, eh… bentar… kamu putih apa hitam? Ya dah, kamu putih ya… Tapi aku jalan duluan lho ya…

Lalu Sarimin dan monyetnya segera main. Sarimin yang menjalankan bidak catur. Kemudian tampak bidak yang bergerak sendiri, seakan-akan tengah dimainkan oleh monyet itu. Keduanya tampak asyik dan serius.

SARIMIN:
Eeh, lho, kok mentrinya kok kamu makan… Ndak boleh… Monyet dilarang makan mentri… Yang boleh ciak menteri itu cuman mandatarisnya rakyat! Jangan sembrono lho kamu… Ayo ulang… Eh, tapi jangan ngeper gitu dong! Kamu ini kok sukanya ngawur gitu sih!

Sarimin kelihatan jengkel…

SARIMIN:
Curang! Curang kamu! Bubar! Bubar!…

Suara monyet menjerit-jerit sementara Sarimin dengan jengkel menutup papan catur itu dan menaruhnya kembali ke kotak pikulannya. Monyet itu menjerit-jerit marah…

SARIMIN:
Sudah, diam toh! Kok malah kamu yang marah. Mestinya saya jengkel. Sudah malem begini ndak dipanggil-panggil. Ngapain ajah sih tuh Pulisi! (Menengok ke arah Pulisi, yang tampak lelap tertidur) Allaahh, kok ya malah micek!

Sarimin mencoba mendekati Pulisi itu. Begitu sarimin sudah dekat dan hendak menyodorkan KTP, mendadak Pulisi itu bangun dan langsung sibuk mengetik. Suara mesin ketik yang sibuk membuat Sarimin hanya bisa neraik nafas jengkel.

Lalu Sarimin menjahui Pulisi itu. Dan begitu Sarimin sudah jauh, perlahan-lahan Pulisi itu pun kembali tidur, menyandarkan kepelanya ke meja mesin ketik.

Sarimin menengok ke belakang, melihat Pulisi yang kembali tidur. Maka Sarimin pun berbalik kembali mendekati Pulisi itu. Baru saja Sarimin mau mendekat, Pulisi itu langsung jenggirat bangun dan menyibukkan diri dengan mesin ketiknya. Melihat Pulisi itu kembali sibuk mengetik, maka Sarimin kembali merasa jengkel, tak berdaya, dan mencoba kembali menunggu. Dan begitu Sarimin menjauh, tampak Pulisi itu dengan penuh kemenangan tidur kembali…

Begitu seterusnya, setiap kali Sarimin mendekat, langsung saja Pulisi itu langsung bangun sibuk mengetik…

Sampai kemudian Sarimin tampak pasrah menunggu. Ia kini terlihat mengantuk. Menguap. Meregangkan badannya yang pegel karena lama duduk… Sarimin bangkit, hendak mendekati kembali Pulisi itu, tetapi Puisi itu langsung bangun dan membentak:

(SUARA) POLISI:
Tunggu saja di situ!! Nanti saya panggil!!!

Sarimin, yang lelah dan tak tahu mesti berbuat apa, segera kembali duduk menunggu. Ia merebahkan tubuhnya di kursi tunggu itu. Mencoba tidur. Saat itulah sebentang kain perlahan turun, seperti langit malam yang menebarkan kegelapan. Terlihat silhuet Sarimin yang tertidur. Tampak cahaya bulan, malam dengan segala kesedihannya.

Nampak Sarimin yang bangkit, dan dengan setengah mengantuk mendekati Pulisi jaga itu. Tapi kembali Pulisi itu langsung membentak:

(SUARA) POLISI:
Tunggu saja di situ!!

Dengan lunglai Sarimin kembali masuk ke balik tirai, kembali merebahkan tubuhnya. Tampak bayangan Sarimin yang tertidur di bawah redup rembulan.

Kemudian pagi datang, terdengar kokok ayam. Matahari yang cerah bangkit. Sarimin terbangun dari tidurnya, kaget…

SARIMIN:
` Astaga, sudah hari ke 192… Belum dipanggil juga….

Lalu malam kembali datang. Rembulan mengapung kesepian. Sarimin kembali tidur… Musik kesunyian seperti menghantar perubahan hari.

Dan ketika ayam kembali berkokok, matahari muncul, Sarimin pun langsung tergeragap bangun, dan mendapati dirinya masih menunggu…

SARIMIN:
Hari ke 347….

Karena tak juga dipanggil, sarimin pun kembali tidur. Musik yang galau bagai menggambarkan perasaan Sarimin yang gelisah. Cahaya menggelap. 2 Lalu Waktu bagai terus berputar. Di bagian layar belakang, muncul gambaran waktu berabd-abad…

Sementara waktu berubah, Sarimin terus menunggu, memandangi KTP yang entah milik siapa itu…


3.

Mendadak Tukang Cerita muncul dari sisi lain panggung. Pada saat yang bersamaan, silhuet Sarimin pada tirai itu lenyap.3

TUKANG CERITA:
Begitulah, Sarimin dibiarkan menunggu bertahun-tahun…

Sebagai Tukang Cerita saya perlu sedikit mengingatkan, agar Anda jangan terlalu menyalahkan para petugas itu. Jangan sampai Anda punya anggapan: seakan-akan para polisi itu menyepelekan Sarimin.

Sebagai warga negara yang baik dan yang percaya pada integritas dan profesionalitas polisi, kita harus maklum akan banyaknya urusan yang harus diselesaikan para polisi itu. Cobalah sesekali Anda datang ke kantor Polisi. Pasti Anda akan melihat betapa setiap hari polisi-polisi itu selalu tampak sibuk. Sibuk SMS-an… Sibuk ngobrol… Sibuk iseng ngisi TTS… Sibuk menginterogasi penjahat…. Sibuk menangkap bandar narkoba, sekaligus sibuk membagi-bagi barang buktinya…

Apalagi belakangan ini kesibukan Polisi itu makin bertambah… Karena para Polisi itu lumayan repot menahan para koruptor. Asal Anda tahu saja, menangkap koruptor itu pekerjakaan yang paling merepotkan. Karna begitu ada koruptor tertangkap, maka para polisi itu jadi punya kesibukan tambahan: sibuk menyiapkan karpet merah untuk menyambut koruptor itu… Sibuk menyiapkan sel tahanan dengan fasilitas VVIP… Dan yang terpenting: sibuk menegosiasikan pasal-pasal tuntutan yang saling menguntungkan.

Dengan segala macam kesibukan yang bertumpuk-tumpuk seperti itulah, menjadi wajar kalau Sarimin agak sedikit diabaikan.

Tapi untunglah… Untunglah, nasib baik agak sedikit berfihak pada Sarimin. Suatu pagi, ada petugas yang sedang bersih-bersih kantor polisi itu, dan secara tak sengaja melihat Saridin!

Musik tetabuhan transisi mengiringi perubahan Tukang Cerita itu menjadi Polisi. Aktor itu mulai mengenakan kostum untuk peran Polisi.

Dengan iringan musik, Polisi itu menata setting, untuk pergantian adegan. Menata meja kursi, seakan tengah berberes-beres. Musik mengiringi terus mengiringi adegan pergantian ini. Sampai kemudian Polisi itu menarik tirai yang menutupi kursi di mana Sarimin menunggu, seakan-akan ia tengah menarik tirai jendela. Saat tirai itu terangkat, Polisi itu kaget melihat Sarimin di kursi tunggu itu…

POLISI
Astaga! Ini kok ada kere di sini!!

muncul-polisi-dan-boneka-sarimin.jpg

Di kursi itu kini tampak boneka Sarimin, boneka yang secara visual mengingatkan pada sosok Sarimin…

POLISI:
Hai, ngapain kamu di sini?!

SUARA SARIMIN: 4
(Sambil menyodorkan amplop) Aa…nu, Pak.. Mau ngasih ini, Pak Pulisi…

Polisi itu memandang heran pada amplop di tangan Sarimin.

POLISI:
Apa itu? Ooo, kamu mau nyuap saya? Iya?! Oooo, hapa kamu pikir semua Polisi bisa disuap, begitu? (Penuh gaya) Huah ha haha… Maaf ya, Polisi seperti saya pantang menerima suap…. Tidak mungkin. Tidak mungkin… Polisi tidak mungkin mau menerima suap…

Mendadak dengan clingukan Polisi itu tengok kanan kiri melihat-lihat keadaan…

POLISI:
Tapi ya kalau nggak ada yang liat sih ya nggak papa… Berapa tuh isinya?

SUARA SARIMIN:
Ini bukan uang kok , Pak Pulisi… Isinya cuman KTP… Saya mau titip…

POLISI:
(Jengkel) Cuman KTP kok ya dikasihkan saya! Apa kamu nggak ngeliat saya banyak kerjaan… Kok malah ngrepotin mau titip KTP segala!

Dengan ngedumel jengkel Polisi itu akhirnya menerima amplop yang disodorkan Sarimin. Dengan tak terlalu suka Polisi itu memeriksa isi amplop itu. Benar. Isinya KTP. Mula-mula Polisi itu tak terlalu serius membaca KTP itu. Tetapi kemudian tampak tiba-tiba ekspresi Polisi itu langsung kaget. Ia membaca nama di KTP itu dengan teliti.

POLISI:
Astaga! Ini kan KTP Bapak Hakim Agung! Harataya…. Mbelgedes! Kok bisa KTP Bapak Hakim Agung sama kamu? Pasti kamu curi, ya?!

SUARA SARIMIN:
Ti…tidak, Pak Pulisi! Saya nemu di jalan…

POLISI:
Nemu di jalan mana?

SUARA SARIMIN:
Di jalan Taman Lawang, Pak Pulisi…

POLISI:
Edan! Oooo… Ini keterlaluan! Masa KTP Hakim Agung bisa jatuh di Taman Lawang… Tidak mungkin, tidak mungkin! Emangnya Hakim Agung suka keluyuran ke sana! Oooo, apa kamu kira Hakim Agung itu jenis mahasiswa yang nggak bisa bayar…, lalu ninggal KTP! Ooo jelas kamu mau mencemarkan nama baik Hakim Agung!

Ooo ini bener-bener keterlaluan. Tidak bisa dibiarkan! Ayo ikut saya ke kantor!

Musik menghentak, black out. Tembang kecemasan terdengar. Kemudian ketika lampu menerangi panggung, tampak Polisi yang sudah berdiri di dekat meja interogasi, memandang Sarimin yang duduk di kursi, hingga Polisi dan Sarimin berhadap-hadapan.

POLISI:
Nggak usah gemeter begitu! Jawab yang jujur! Nggak usah berbelit-belit! Ngerti?!

Polisi itu (seakan-akan) memasang berkas kertas ke mesin tik di atas meja…

POLISI:
Nama?

SUARA SARIMIN:
Ee… saya biasa dipanggil Sarimin, Pak Pulisi…

POLISI:
(Sambil mengetik) Sa-ri-min… (Lalu kembali menatap tajam Sarimin) Umur?!

SUARA SARIMIN:
Lima puluh empat, Pak Pulisi…

POLISI:
(Sambil mengetik) Li-ma-pu-luh-em-pat… Hmmm… Pekerjaan?!

SUARA SARIMIN:
Tukang topeng monyet keliling, Pak Pulisi…

POLISI:
(Sambil mengetik) Tu-ka-ng… to-pe-ng… mo-nyet… ke-li-li-ng… Sekarang coba kamu jelaskan, bagaimana kamu mencuri KTP ini…

SUARA SARIMIN:
Saya tidak mencuri, Pak Pulisi… Saya nemu KTP itu di jalan…

POLISI:
Saya tanya bagaimana kamu mencuri KTP ini, bukan bagimana kamu nemu KTP ini!

SUARA SARIMIN:
Lho tapi saya memang nemu KTP itu kok… Sumpah! Saya tidak mencuri!

POLISI:
Tidak usah pakai sumpah-sumpahan segala! Saya tahu kok modus operandi orang macam kamu! Pura-pura nemu KTP. Padahal dompetnya kamu copet! Iya tidak?! Pura-pura berbaik hati hendak mengembalikan KTP, padahal minta uang. Mau memeras! Kamu bisa kena pasal…. Sebentar… (mengambil buku KUHP dari sakunya) Hmmm… halaman berapa, ya… Oh ini… Kamu bisa kena pasal 362 dan 368! Pencurian dan pemerasan! Itu berate kamu bisa kena sepuluh tahun! Ngerti!

Sarimin tampak mengangguk-angguk…

POLISI:
Ngerti tidak! Jangan cuman manggut-manggut begitu! Nah, sekali lagi saya tanya baik-baik: kamu nyuri KTP ini kan?

SUARA SARIMIN:
Sumpah, Pak Pulisi… saya nemu di jalan…

Polisi itu mengambil pentungan, memain-mainkannya, memprovosasi Sarimin, sambil terus mencecar,

POLISI:
Nyuri apa nemu?

SUARA SARIMIN:
(Melihat itu Sarimin agak jiper juga) Ne..nemu, Pak Pulisi…

Polisi makin mencecar Sarimin…

POLISI:
Nemu apa nyuri?

SUARA SARIMIN:
Ne…ne..mu…

POLISI:
(Membentak keras, sambil seakan mau menggebug Sarimin) Nemu apa nyuri?!

SUARA SARIMIN:
I..iya.. Pak, Polisi.. Mungkin ada orang lain yang nyuri… Tapi saya cuman nemu kok, Pak Pulisi…

POLISI:
Oooo begitu ya…. Jadi ternyata kamu tidak sendirian. Orang lain yang nyuri. Dan kamu yang pura-pura nemu. Hoo ho hooo…, lumayan cerdik juga kamu, ya! Ho ho ho…kamu ketahuan, nyolong KTP!

Berarti kamu sudah merencanakan semua ini dengan komplotanmu, kan?! Ini kejahatan berkelompok dan terencana. Kamu dan komplotanmu hendak memeras Bapak Hakim Agung, begitu kan? Ooo… Ini namanya kejahatan berkelompok dan terencana!

SUARA SARIMIN:
Sumpah, Pak Pulisi… Saya tidak tahu kalau itu KTP Bapak Hakim Agung…

POLISI:
Mau mungkir, ya! Kamu kan bisa membaca nama di KTP ini…

SUARA SARIMIN:
Sa..ya ti..tidak bisa membaca, Pak Pulisi…

POLISI:
Astaga! OO ho hoho… Kamu bener-bener keterlaluan. Itu namanya menghina pemerintah! Kamu menghina pemerintah! Kamu mau menjelek-jelekkan pemerintah!

Sudah sejak tahun 74 pemerintah memberantas buta huruf! Sudah jelas-jelas pemerintah mengatakan kalau sekarang ini sudah bebas buta huruf! Lho kok kamu berani-beraninya ngaku buta huruf?! Apa kamu mau membuat malu pemerintah?! Mau mengatakan kalau pemerintah bohong, karena masih ada orang yang buta huruf macam kamu! Ooo… kamu bisa kena pasal… (memebuka-buka lagi buku KUHP-nya) Pasal berapa, ya… Kamu maunya kena pasal berapa?! Ooo… ini.., pasal137… Penghinaan pada pemerintah!

SUARA SARIMIN:
Lho, tapi saya memang ndak bisa baca kok, Pak Pulisi…

POLISI:
Sudah, nggak usah berbohong! Saya sudah terlalu sering ngadepin bandit kecil tapi licik macam kamu! Pura-pura kelihatan lugu. Pura-pura bodoh. Pura-pura tidak bisa membaca. Tampangnya sengaja disedih-sedihkan, biar saya kasihan. Biar saya iba, lalu saya bebaskan… (Kepada para pemusik, yang seakan-akan kini adalah juga polisi) Ooo dia kira Polisi macam kita bisa dikibulin… Tukang kibul kok mau dikibulin!

Orang lugu macam kami inilah penjahat yang berbahaya! Karena selalu memakai keluguan sebagai kedok kejahatan…

Kejahatan tetap saja kejahatan. Tidak perduli kamu bisa baca atau tidak.

Polisi itu memperhatikan KTP itu pada Sarimin…

POLISI:
Lihat KTP ini sampai lecek begini, pasti sudah kamu simpan lama ya! Kamu pasti sengaja tidak cepat-cepat mengembalikan! Pasti KTP ini kamu pamerin ke temen-temen copetmu kamu! Pasti statusmu jadi naik di kalangan pencopet karena berhasil mencopet KTP Hakim Agung! Setidaknya kamu ingin dianggap hebat karenasarimin-diinterogasi2.jpg punya KTP Hakim Agung! Biar kamu disangka saudaranya Hakim Agung… Iya, kan?!
SUARA SARIMIN:
Tidak, Pak Pulisi… Sumpah… Wong begitu saya nemu KTP itu, saya langsung lapor ke sini kok… Tapi saya malah disuruh nunggu terus…

Mendengar jawaban itu Polisi langsung marah, dan mau memukul…

POLISI:
Kurang ajar! Apa kamu pingin saya gebugin kayak praja IPDN!…

Para Pemusik mencoba menengangan: “Sabar….sabar….”

POLISI:
Hati-hati kalau bicara! Kamu bisa kena pasal penghinaan pada aparat! Menuduh Polisi tidak cepat tanggap!

Kalau kamu memang bener-bener datang melaporkan soal KTP ini, pasti petugas jaga akan langsung menanggapi. Ooo ho ho… tidak mungkin, tidak mungkin polisi menyepelakan rakyat… Karna Polisi itu sahabat masyarakat!

Polisi itu di mana-mana selalu melindungi rakyat! Yah paling-paling ya ada polisi yang kesasar salah nembak rakyat… Tapi itu kan ya hanya insiden… Insiden yang kadang direncanakan….

Polisi kemudian mengambil berkas kertas di meja mesin tik, sambil menatap tajam pada Sarimin yang terdiam…

POLISI:
Sebagai Polisi, sudah barang tentu, saya pun harus melindungi kamu… Ngerti tidak? Makanya, kamu juga mesti pengertian… Ini, lihat (menyodorkan berkas kerast itu ke hadapan wajah Sarimin)…

Kesalahanmu sudah bertumpuk-tumpuk… Kalau berkas ini saya bawa ke pengadilan, kamu bisa dihukum lebih dari 20 tahun penjara… Bahkan mungkin lebih. Karna kamu mesti berhadapan dengan jaksa dan hakim, yang pasti tidak ssuka dengan kamu!

Asal kamu tahu saja, ya! Jaksa-jaksa itu selalu minta bayaran lebih banyak. Juga hakim-hakim. Sulit sekarang menemukan hakim yang baik. Kalau kamu nggak ada duit, pasti dengan enteng hakim itu kan menjebloskanmu ke penjara!

Kamu nggak ingin masuk penjara, kan? Makanya, kamu nurut sama saya saja. Nanti laporannya saya bikin yang baik-baik. Faham maksud saya?!

Tapi ya kamu tahu sendiri, itu perlu biaya. Ooo ho ho ho…. ini bukannya saya mau minta duit lho ya… Tidak! Saya tidak minta! Saya cuman menyarankan….

Para pemusik ikutan membujuk: “Iya, Min… Sudahlah, Min… Selesaikan saja secata adat ketimuran, Min…”

POLISI:
Tapi ya terserah kamu. Sebagai Polisi yang mengerti perasaat rakyat, ya saya hanya bisa membantu semampu saya. Saya ngerti, kamu tidak terlalu punya duit. Makanya cukup 5 juta saja.. Kalau kamu setuju, bekas ini langsung saya kip, dan kamu boleh pulang…

SUARA SARIMIN:
(Terpana tak percaya) Lima juta?… Saya ya tidak punya uang segitu, Pak Pulisi…

Tampak Polisi itu mencoba sabar dan pengertian,

POLISI:
Ya sudah… Karena kamu punya itikad baik, ya bisa dikurangilah. Tiga juta, gimana?

SUARA SARIMIN:
Maaf, Pak Pulisi… Segitu saya juga ndak punya…

POLISI:
Ooo ho ho ho… Ya, ya sudah…, jangan sedih begitu. Saya kan hanya menawarkan. Kalau kamu masih keberatan ya bisa disesuaikan semampu kamulah… Ngerti kamu?

SUARA SARIMIN:
I..i..iya, Pak Pulisi…

POLISI:
Nah, gimana kalau dua juta!

SUARA SARIMIN:
Maaf, Pak Pulisi… Saya ndak punya…

POLISI:
Kalau satu juta ..

SUARA SARIMIN:
Maaf, Pak Pulisi… Saya ndak punya…

POLISI:
Saya diskon lagi, deh Mumpung masih suasana Lebaran, jadi bisa diobral… Gimana kalau lima ratus ribu…

SUARA SARIMIN:
Maaf, Pak Pulisi… Saya bener-bener ndak punya…

POLISI:
Seratus ribu deh…Ya, ya, seratus ribu! Hitung-hitung buat uang rokok. Oke?

SUARA SARIMIN:
Maaf, Pak Pulisi… Segitu juga saya ndak punya…

Kesabaran Polisi itu rupanya sudah sampai pada batasnya, dan ia langsung meledak marah,

POLISI:
Brengsek! Kamu bener-bener melecehkan saya! Dimana saya taruh harga diri saya alau segitu saja masih kamu tolak!

Memang susah kalau urusan sama orang miskin! Cuman dapat kesel Kalau kamu lebih suka ke pengadilan, silakan! Kamu bisa membusuk di penjara 50 tahun!

SUARA SARIMIN:
(Takjub dan heran tetapi juga tak berdaya) Cuman karna nemu KTP saya dihukum 50 tahun?

Polisi itu berdiri, dingin, tegas dan formal:

POLISI:
Hukum tetap hukum, Saudara Sarimin! Atas nama hukum dan undang-undang, Saudara Sarimin ditahan!

Musik menghentak. Dan lampu langsung menggelap seketika…


4.


Mengalun tembang sedih yang menyayat hati…

Lalu di layar bagian belakang perlahan muncul bayangan jeruji sel penjara. Lalu tampak bayangan Sarimin di balik jeruji sel penjara itu. Sarimin tampak termenung, tak berdaya. Tembang kesedihan terus menyayat kesunyian…

SUARA SARIMIN:
Apa salah saya, Gusti?… Apa salah saya…

Lalu mendadak muncul bayangan monyet Sarimin. Seperti muncul dari dalam mimpi Sarimin, seakan-akan itu ada dalam pikiran Sarimin. Terdengar suara monyet yang memekik-mekik…

SARIMIN:
Min? Sarimin… Itu kamu ya, Min? Lapar, Min?… Prihatin dulu, ya, Min…Banyak berdoa ya, Min… Biar saya cepet bebas. Doa monyet miskin dan teraniaya macam kamu kan biasanya didengar Tuhan, Min…

Bayangan monyet itu terus menjerit-jerit. Dalam bayangan itu pula, sesekali Sarimin mencoba mengusap dan menyentuh monyetnya…

Lagu kesedihan, yang juga terkesan agung menggaung, menjadi latar belakang adegan itu…5

Pak Hakim dan Pak Jaksa

Kapan saya akan di sidang

Sudah tiga bulan lamanya

Belum juga ada panggilan

Saya ingin cepat pulang…


5.


Lalu di penghujung lagu itu, musik berubah menghentak, bergaya hip-hop. Pada saat musik hip hop ini berlangsung, setting pun perlahan-lahan berubah. Bayangan Sarimin di balik jeruji penjara lenyap. Sementara di bagian lain panggung, segera tampak ruang tempat Pengacara.

Muncul Pengacara, tampak riang, dengan gaya genit cosmopolitan yang penuh gaya. Pengacara itu langsung menyuruh musik berhenti:

PENGACARA:
Hai, stop! Stop! Bah, kalian ini bener-benar tidak punya rasa keadilan! Ada orang dihukum malah hip-hop hip-hopan begitu! Cem mana pula kalian ini! Tunjukanlah simpati dikit!

Sembari bicara, pengacara itu merapikan diri, mengatur penampilannya. Memakai kalung emas dengan bandul initial namanya yang besar. Merapikan pakaiannya, merapikan gaya rambutnya, menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya… Sehingga tampak kalau ia lebih sibuk dengan dirinya ketimbang dengan apa yang dikatakannya…

PENGACARA:
Kalian itu mestinya prihatin, kenapa di negara hukum begini kok ada orang diperlakuan tidak adil! Ah, emang benar-benar sewenang-wenang Pak Polisi itu. Sebagai pengacara yang punya hati nurani, sudah tentulah aku tak bisa berdiam diri!

Pengacara terus sibuk merapikan diri, sampai kemudian ia seperti tersadar, dan segera bicara kepada penonton:

PENGACARA:
Sebentar…Kalian pasti merasa heran, kenapa pengacara kondang…, pengacara infotaimen macam aku ini, tiba-tiba nongol di lakon beginian.

Seharusnya tadi, Si Tukang Cerita itu, yang memperkenalkan aku lebih dulu. Menjelaskan, apa peran aku dalam lakon ini. Begitulah semestinya…

Tapi kupikir-pikir, kalau si Tukang Cerita itu yang memperkenalkan, nanti diledek-ledeknya pulalah aku ini. Mangkanya, kupikir-pikir lebih baik aku muncul saja langsung. Biar aku sendiri yang memperkenalkan diri.

Dengan penuh gaya menyemprotkan parfum ke lehernya…

PENGACARA:
Nama saya Bensar… Aku yakin kalian sudah tahu, dari mana aku ini. Tapi tak usahlah aku kasih tahu marga aku… Nanti aku kena somasi…

Aku di sini terpanggil karena ingin membela Sarimin. Kasihan kali orang itu. Kemarin aku sudah ketemu dia. Aku langsung jatuh iba. Tergerak hati nuraniku untuk membelanya habis-habisan.

Begitu Abang Bensar datang, Sarimin langsung tenang. Aku sudah jelaskan duduk perkaranya, dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa menyelamatkannya.

Aku bilang pada Sarimin, ”Sarimin, seharusnya kau ini malah merasa beruntung bisa masuk penjara. Susah lho ini masuk penjara… Coba itu kau lihat, banyak kali koruptor yang bermimpi bisa masuk penjara, tapi tak bisa-bisa masuk… makanya kubilang, kau ini benar-benar beruntung. Tidak berbuat salah, tapi masuk penjara. Itu prestasi luar biasa… Makanya Sarimin, tak usahlah kau takut! Ketaktan itu cumian soal pikiran. Kalau pikiranmu takut, maka takutlah kau. Makanya jangan kau berpikir hukum itu menakutkan. Hukum itu menyenangkan. Happy!

Kemudian Pengacara Bensar langsung merapikan bawaannya: tas golf beserta isinya. Ia Tampak riang bernyanyi-nyanyi gaya hip hop:

Happy happy

Hukum itu happy

Hukum itu menyenangkan

Hukum menguntungkan

Karna dengan hukum

Semua kesalahan

Bisa dinegosiasikan…

Hapy happy…

Hukum itu happy…

Sambil terus bernyanyi pengacara itu bergerak sambil mengubah setting panggung. Tampak kemudian sel penjara, di mana seakan-akan Pengacara itu berjalan dari rumah menuju ke sel penjara, tempat Sarimin di tahan. Dan Pengacara itu pun sampai di dekat sel Sarimin…

PENGACARA:
(Masih terus menyanyi) Happy happy…. Semua bisa Happy…

Sampai kemudian nyanyian berhenti. Dengan gayanya yang khas, Pengacara Bensar kembali menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya…

PENGACARA:
Bagimana Sarimin, apakah kamu merasa happy hari ini? Tenanglah, ini Abang Bensar sudah datang. Abang akan negosiasikan semua perkara kau.

Mengerti kau negosiasi?! Ah, sudahlah, tak usah kau berpikir yang berat-berat. Biar aku yang pikir saja gimana baiknya. Percayalah sama Abang…

Apa sih perkara yang tidak bisa abang selesaikan? Artis yang mau cerai…, begitu Abang tangani, dijamin langsung cerai. Terdakwa ilegal logging…, begitu Abang tangani, dijamin bisa langsung bebas kabur ke luar negeri…

Makanya, kau tenang saja di situ… Biar aku urus sebentar sama Pak Polisi. Biar lancar semuanya…

Lalu Pengacara berjalan ke arah belakang, seakan mendekati Polisi yang ada di pengacara-dan-wayang-polisi2.jpgbelakang. Dan Pengacara bensar pun berbicara dengan Polisi, yang tampak bayangannya, berupa wayang…

PENGACARA:
Ah, Apa kabar, Pak… Wah, tambah ganteng saja nih… Mungkin Bapak bisa tolong belikan makan atau minum buat klien saya… Nanti kembaliannya buat Bapak….

(SUARA ) WAYANG POLISI:
Maaf, dilarang membawa makanan dalam penjara!

PENGACARA:
Ah, aneh kali ini Pak Polisi… Kenapa makanan dak boleh masuk penjara? Narkoba saja bisa dibawa masuk ke penjara. Kimbek kali! Ingatlah Pak Polisi…, klien aku itu masih berstatus tersangka. Masih tahanan sementara. Jadi mesti kau hargai hak-hak pidananya.

(SUARA ) WAYANG POLISI:
Semua ada tata tertibnya. Ada peraturannya. Ada etikanya! Sebagai Pengacara, Saudara mestinya tahu itu!

PENGACARA:
Betul-betul aneh ini Polisi! Baru kali ini ada polisi mengajak bertengkar pengacara. Biasanya polisi macam kalian itu kan bertengkarnya sama tentara…

Tampak Pengacara Bensar kesal, dan segera meninggalkan Polisi itu. Ia segera kembali ke dekat sel penjara Sarimin.

PENGACARA:
(Kepada Sarimin) Biarlan nanti aku atur sama komandannya. Polisi emang suka berlagak begitu. Suka akting. Lagaknya kayak Politron… Polisi Sinetron…

Sekarang kau dengar… Biar semua gampang dan cepet beres, aku sarankan agar kau akui saja semuanya. Ini akan jadi kredit point yang bagus, karna kamu akomodatif. Artinya kamu dianggap bersikap baik Kalau kau bersikap baik, pasti nanti hakim akan member kau keringanan hukuman. Jadi, yang penting sekarang ini kau harus mengaku salah…

SUARA SARIMIN:
Mengaku salah bagaimana? Memangnya saya salah apa?

PENGACARA:
Aduuh! Kan tadi aku sudah bilang, tak perlulah kau membantah. Apa kau pikir kalau kau melawan kau akan menang. Jangankan orang kecil macam kau, majalah Time yang besar saja bisa divonis kalah kok! Makanya aku bilang, peluang terbaikmu adalah mengaku salah!

SUARA SARIMIN:
Iya… tapi salah saya apa?

PENGACARA:
Salah kau ya karna kau tidak mengerti kau berbuat salah! Bodoh betul kau ini ya… Kau pikir kau berbuat benar. Padahal kau berbuat salah. Kebenaran itu kadang menyesatkan, Sarimin. Kau bukannya benar, tetapi hanya merasa benar. Orang yang merasa benar itu belum tentu benar. Makanya ketika kau merasa benar, kau justru bisa bersalah. Karna benar, maka kamu salah!

Kau harus fahami betul itu. Makanya aku membantu kau, agar kau tidak tersesat di jalan yang kamu anggap benar itu! Kau mestinya beruntung aku mau jadi pembela kau.

Mendadak terdengar suara bunyi handphone, dengan nada dering yang norak… Pengecara Bensar dengan penuh gaya langsung mengambil handphone dari sakunya,

PENGACARA:
(Bicara di handphone-nya) Hallo sayang…Abang lagi sibuk nih. Lagi ketemu klien.. Sudahlah, kamu chek in dulu lah. Nanti Abang susul, ya…

Lalu mematikan handphone-nya, dan masih dengan penuh gaya bicara kembali pada Sarimin di balik selnya…

PENGACARA:
Maaf, bukannya gaya… Tapi ada klien lain yang mesti aku urus. Yah, maklumlah pengacara laris. Sudah pastilah orang miskin macam kau tak mampu membayar aku. Makanya kau mesti bersyukur, aku mau membela kau!

Aku tahu, banyak suara-suara miring di luar sana. Menganggap akupengacara mata duitan. Malah oleh kolega-koleganya saya sering distilahkan dengan pengacara begundal. Taik kucinglah semua! Pukima!

Sekarang aku mau buktikan, kalau aku juga punya perasaan keadilan. Aku juga mau membela orang lemah macam kau, Sarimin! Aku akan berjuang habis-habisan buat kau! Kalau perlu, nanti akan aku bentuk TPS… Tim Pembela Sarimin!

Memperlihatkan koran pada Sarimin…

PENGACARA:
Kau lihat ini… Kamu jadi berita di koran-koran., karna kau dianggap korban ketidakadilan..

Terlihat koran dengan berita Sarimin yang jadi headline itu kepada para pemusik. Pada saat bersamaan para pemusik segera bernyanyi, menghentak, dengan gaya hip hop yang rampak:

Sarimin jadi berita

Di koran-koran mendadak ia

Jadi ternama

Simbol korban ketidakadilan

Seolah-olah hukum adalah

Alat menindas orang yang lemah…

Seolah-olah tak ada lagi

keadilan di negri ini

Brengsek! Brengsek!

Hukum kita brengsek

Brengsek! Brengsek!

Semua orang bilang

Hukum kita brengsek!

Nyanyian berhenti. Pengacara itu kaget.

PENGACARA:
Apa kau bilang? Hukum kita kita brengsek?? Tidak betul itu! Hukum di negeri ini tidak brengsek… tapi luar biasa brengsek!

Kembali mendekati dan bicara pada Sarimin…

PENGACARA:
Tapi kita tak bolehlah putus asa… Aku yakin aku masih bisa membantumu, Sarimin. Aku jamin, kamu akan mendapat bagian keadilan. Memang kau tak akan menang. Tapi kau akan bangga, karena namamu akan dikenang. Kau akan jadi simbol dari perjuangan menegakkan keadilan. Ini peluang bagus buat kamu, Min… Artinya kalau kau nanti mati, kau tidak akan mati sia-sia!

SUARA SARIMIN:
Saya sudah tua… mati juga tidak apa-apa…

PENGACARA:
Eee, janganlah kau mati begitu saja. Nanti sia-sia aku membela kau!

Dengar ya, Min… Syarat untuk jadi simbol perjuangan, kau harus mati secara dramatis. Pejuang terkadang dikenang bukan karna apa yang telah dilakukannya, tetapi pada bagaimana cara matinya. Semangkin dramatis kematiannya, semangkin hebatlah dia…

Nah, makanya, nati biar aku aturlah sama Polisi itu, bagaimana baiknya cara kau mati. Aku sih kau mati dengan cara yang heroik. Mungkin diracun arsenik. Tapi aku kira itu bukan cara mati yang kreatif. Mesti lebih dramtis dikitlah. Mungkin kau disiksa lebih dulu. Di cabut sati persatu jari kau, lalu dicongkel mata kau… wah, itu kematian yang dramatis, Min! Gimana? Kamu mau kan?

Kalau kau mati dengan cara seperti itu, maka kematian kau itu akan dikenang sebagai korban kekejaman hukum. Namamu akan dijadikan monumen abadi… Itu berarti kau untung, dan aku pun untung. Itu primsip keadilan dalam hukum, Min! Kau untung jadi simbol ketidakadilan, aku pun untung karena jadi pembela korban ketidakadilan…

Pengacara itu nampak begitiu bahagia, memeluk tas golf-nya, mengambil kaca rias dan mengamati wajahnya, merapikan sisiran rambutnya, bahkan ia memupur pipinya dan mengoleskan lips gloss pada bibirnya, sambil terus berbicara…

PENGACARA:
Bayangkan, Min… Aku akan bisa mensejajarkan namaku di barisan para pejuang hukum. Pejuang keadilan! Ini peluang baik buat karier kepengacaraanku. Siapa tahu nanti aku bisa dapat Yap Tiap Him Award…

Makanya, Min, kau harus mengaku salah! Itu namanya kamu dapat karunia kesalahan! Kamu telah dipilih oleh Tuhan untuk menjadi orang yang salah…

SUARA SARIMIN:
(Begitu memelas) Saya ndak ngerti… Omongan sampeyan malah bikin saya bingung…

PENGACARA:
Jangankan kamu, saya sendiri kadang bingung dengan omongan saya kok… Maklumlah, Min, omongan pengacara…

SUARA SARIMIN:
Saya berbuat baik, kok malah disuruh ngaku salah… Menurut Kitab Bantur Jambul Tangkur Munyuk, berbuat baik itu ndak salah kok…

PENGACARA:
Eee, jangan ngacau kau. Bertahun-tahun aku belajar hukum, tidak ada itu…apa kau bilang tadi? Apa? Kitab Bantur Jambul Tangkur Munyuk… Ahh, tidak ada itu kitab hukum macam itu! Ngaco kali kau!

Sudahlah! Kau ngaku salah apa susahnya sih! Bagaimana mungkin aku bisa membela kau kalau kau tidak bersalah.

Lagi pula Pak Polisi itu sudah bilang kau bersalah. Bagaimana mungkin kau masih saja merasa tidak bersalah, kalau Polisi sudang bilang kau bersalah.

SUARA SARIMIN:
Jadi saya harus ngaku salah?

Mendadak terdengar suara bentakan Polisi, bersama menculnya bayangan wayang Polisi…

SUARA POLISI:
Sudah ngaku saja salah. Sudah dibela masih saja ngeyel tak bersalah! PENGACARA:

Tuh, dengar apa kata Pak Polisi… Aku mau membela kau kalau kau mau ngaku bersalah, Min! Pengacara macam aku ini sudah terbiasa membela orang yang salah, nanti aku malah bingung kalau membela orang tidak bersalah. Makanya, kamu mengaku salah saja ya, Min…

Terdengar suara wayang Polisi, membentak Sarimin,

SUARA POLISI:
Kalau kamu ngaku salah, nanti saya atur sama Mas Pengacara…

PENGACARA:
Orang salah ngaku salah itu sudah biasa. orang yang bener tapi mau ngaku salah, itu baru mulia! Makanya kalau kau ngaku salah, kau akan jadi orang mulia!

Kembali suara wayang Polisi, membentak Sarimin,

SUARA POLISI:
Kamu tak punya pilihan, Sarimin! Kamu tidak bisa melawan hukum! Hukum telah menganggapmu bersalah!.. Bersalah!… Bersalah! Bersalah!…

Suara Polisi yang meninggi itu kemudian menjadi gema: “Bersalah! Bersalah! Bersalah!” Makin lama gema suara itu makin membahana, seperti mengepung dan mengurung Sarimin…

Bersamaan dengan itu, lampu perlahan-lahan meredup, menggelap. Hingga yang terdengar hanya gema suara Polisi dan Pengacara yang saling bersahut-sahutan, berulang-ulang, saling tumpuk, dan terus mengepung menggema:

GEMA SUARA PENGACARA:
Kau mesti beruntung karena menjadi orang yang terhukum, Sarimin!

GEMA SUARA POLISI:
Kamu telah menghina Bapak Hakim Agung!

GEMA SUARA PENGACARA:
Kamu telah dipilih Tuhan untuk menjadi orang yang bersalah!

GEMA SUARA POLISI:
Kamu berbahaya karena bersikeras merasa benar!

Bersamaan dengan gema suara-suara itu, di bagian belakang layar muncul bayangan-bayangan yang berlesetan. Bayang-bayang wayang Polisi dan Pengacara, bayang-bayang yang bertumpuk-tumpuk, berkelebatan, kadang bayang-bayang itu membesar dan seakan siap menerkam, bersamaan dengan gema suara yang tumpang tindih dan berulang-ulang:

GEMA SUARA PENGACARA:
Kau harus merasa beruntung karena kau menjadi orang yang terhukum!

GEMA SUARA POLISI:
Kamu telah menghina Bapak Hakim Agung!

GEMA SUARA PENGACARA:
Kamu telah dipilih Tuhan untuk menjadi orang yang bersalah!

GEMA SUARA POLISI:
Kamu berbahaya karena bersikeras merasa benar!

Di antara gema suara yang terus bersahut-sahutan itu terdengar rintihan Sarimin…

SARIMIN:
Ampun… Ampun…

Lalu suara-suara yang bergema itu perlahan menghilang. Ada kesunyian yang membentang. Lalu cahaya yang pucat dan layu bagai membelah kepedihan. Cahya itu menyorot ke Sarimin, yang tampak tak berdaya di balik jeruji sel penjara. Kesunyian yang menekan tampak bagai jaring yang meringkus Sarimin.

Pada layar di bagian belakang, muncul bayangan yang samar, simbolis, semacam Dewi Keadilan, sosok yang menggambarkan kehadiran Hakim Agung…

SARIMIN:
Maafkan saya, Bapak Hakim Agung…

Terdengar sosok Hakim Agung di bayangan layar itu berbicara pada Sarimin. Suara dingin dan datar:

SUARA HAKIM AGUNG:
Kalau saja saya bisa memaafkanmu, Sarimin…

SARIMIN:
Maafkan saya…

SUARA HAKIM AGUNG:
Tapi hukum tidak bisa ditegakkan dengan maaf, Sarimin..

SARIMIN:
(Menghiba) Maafkan saya…

SUARA HAKIM AGUNG:
Kamu jangan salah faham, Sarimin… Bukan saya yang menghukum kamu. Hukumlah yang menghukummu…

SARIMIN:
(Makin menghiba) Ampuni saya…

SUARA HAKIM AGUNG:
Hukum punya jalan keadilan sendiri, Sarimin.

Makin lama Sarimin makin menghiba dan mulai merangkak-rangkak, bersujud di bawak sel penjara…

SARIMIN:
(Makin menghiba tak berdaya) Ampuni saya…

SUARA HAKIM AGUNG:
Tak ada gunanya kamu merasa benar kalau hukum mengganggpmu tidak benar…

SARIMIN:
Maafkan saya… Maafkan saya… Maafkan saya…

SUARA HAKIM AGUNG:
Biarlah hukum yang menentukan, Min… Bukan saya…

Di bagian layar itu pula, muncul bayangan monyet, yang menjerit-jerit, muncul di sela-sela gema suara Hakim Agung

SUARA HAKIM AGUNG:
Bukan kamu… Hanya hukum yang benar…

Kembali terdengar suara monyet memekik-mekik…

SUARA HAKIM AGUNG:
Bukan saya… Bukan kamu…

Sementara Sarimin terus menghiba memohon ampunan…

SARIMIN:
Maafkan saya… Maafkan saya… Maafkan saya… Maafkan saya…

SUARA HAKIM AGUNG:
Ini Negara hukum…. (Terdengar suara monyet)… Ini Negara hukum…. (Terdengar suara monyet)… Ini Negara hukum… (Terdengar suara monyet)…

Suara Hakim Agung terus terdengar bertumpang tindih dengan suara pekikan monyet, sementara Sarimin terus merangkak-angkak, bersujud…

Sampai kemudian Sariin merasa aneh dengan gema suara Hakim Agung dan suara monyet yang bagai mengepung menerornya itu. Sarimin jadi termangu, memandang bingung ke luar penjara saat gema semua suara itu melenyap. Segalanya bagai di ruang hampa…

SARIMIN:
Aneh… Tadi itu suara Hakim Agung atau suara monyet ya?!

Gelap menyergap seketika. Black out!!

*****SELESAI*****

Yogyakarta, 2007


Catatan-catatan tekhnis:

1 Nama ini boleh diganti, dengan nama penonton yang hadir. Penonton yang dikenal sebagai public figure, yang familiar dengan audience.

2 Di sinilah, secara tekhnis, aktor pembantu mulai menempatkan diri di balik tirai. Sementara aktor utama, pelakon monolog ini, bisa mempersiapkan diri mengganti kostum untuk adegan berikutnya.

3 Ini menjadi semacam trick pemanggungan: hingga muncul kejutan, seperti sulap, seakan aktor itu bisa berubah dalam sekejap. Padahal, yang di balik layar tadi adalah pemeran pengganti (yang secara postur dan bentuk tubuh, sama dengan aktor pemeran monolog ini)

4 Pada saat dan selama dialog Sarimin, boneka itu ‘bergerak’ mengikuti dialog. Secara tehknis yang menggerakkan boneka itu bisa crew artistik atau yang membantu. Tapi akan lebih bagus bila yang menggerakkan boneka itu justru aktor pemeran monolog ini sendiri. Di sini, secara tekhnis suara Sarimin juga bisa disuarakan oleh aktor monolog ini secara langsung dengan intoneasi dan karakter suara yang berbeda.

5 Di sini dipilih lagu dangdut “Tembok Derita”. Lagu ini dibawakan dengan gaya agung, bergaya Gregorian, hingga muncul semacam parody dari lagu dangdut itu, sekaligus menjadi gambaran suasana yang anomaly.