Jumat, 10 Maret 2023

Monolog : LAGU PAK TUA - Adhy Pratama


 (dimulai dari instrument “lagu Pak Tua” dengan kunci dasar E”)

Setting :

Layar terbuka

Suasana agak temaram, kira-kira pukul 18.00. Seorang laki-laki, agak tua, sekitar 60 tahun, kerutan diwajah tampak tergurat, kulit sawo matang duduk disebuah kursi menghadap kedepan. Laki-laki tua duduk santai, kaki diselunjur kedepan, tangan kanan memegang sebotol vodka, tangan kiri mengayun-ayun. Kepala menyandar ke kursi, menghadap keatas, bertopi koboi. Disebelah kursi sekitar 1 meter ada sebuah meja persegi sedang dengan taplak yang kusam dengan sebuah lampu teplok dengan cahaya yang temaram. Selain lampu, ada sepiring nasi sudah basi, sepertinya sudah dua hari. Selain itu, sebuah buku tulis lusuh juga sebuah mini tape yang sudah usang.

Pak Tua (PT) :
Sudah 5 tahun (duduk dengan benar, seperti menghitung dengan jari tangan kiri, dengan wajah serius) iya (seperti terkejut) benar, sudah 5 tahun (kembali keposisi semula) apa yang telah kulakukan selama lima tahun ini? Kenapa tidak punya uang? (menegak minumannya, kemudian duduk benar menunduk)


PT : 
(mengangkat kepala) sahabat-sahabatku pasti sudah ada diseberang benua sekarang (tertawa) awalnya mereka kutipu dengan peta harta karun palsu (tertawa tambah terbahak-bahak) mereka kutipu! Hahaha, mereka tertipu! (tertawa dengan sesekali meneguk minumannya)

PT : 
Tapi kenapa Syarif si tukang ayam bercerita bahwa mereka benar-benar menemukan harta karun disana dan hidup kaya raya (berhenti tertawa dan kembali menunduk) Syarif pasti berbohong (berdiri) pasti ( mengacungkan jari telunjuk kedepan) pasti laki-laki dengan wangi usus unggas itu menipuku? Dia kira aku akan tertipu? (menggaruk kepala yang tidak gatal) tapi Syarif bukan penipu (ekspresi bingung) aku kenal dia sejak dia dan aku masih sama-sama bujangan, hingga dia sudah punya 6 cucu sedangkan aku masih bujangan hingga hari ini.

Pak Tua berjalan mondar-mandir sempoyongan, seperti berfikir keras, sambil sesekali menegak minumannya.

PT : 
Jangan-jangan peta sesuai imajinasiku saja tapi benar-benar nyata? Kudengar kapal besar Spanyol memang pernah karam disana (statis) kenapa aku tidak pergi duluan kesana (penuh sesal) kenapa aku tidak pergi kesana? (kembali duduk) tunggu (seperti teringat sesuatu) aku masih menyimpan draft peta itu dibukuku (bergegas menuju meja dan mengambil buku kembali ketempat duduk) hahaha (sambil membuka buku) kalau benar masih ada, tentu aku bisa menyusul dan ikut kaya(tertawa sambil membuka buku perlembar) benar

Cukup lama Pak Tua membolak-balik buku, mencari dengan teliti. Merasa pencahayaan kurang, dia menarik kursinya kedekat meja kemudian membesarkan nyala lampu teploknya.


PT : 
ini dia! (menunjuk halaman yang dicari) aku dapat draft petanya! Baik, sekarang waktunya bergegas dan berlayar! Berlayarlah-berlayarlah! Hahaha (berdiri dan bersiap hendak bergegas, tiba-tiba terdiam) tapi (jeda) pasti harta itu sudah habis, yah sudah disikat tanpa ampun oleh dua babi tua itu! Aku tidak akan kebagian. (menarik nafas panjang) aku tidak akan kebagian (kembali duduk) atau aku berimajinasi kembali dan membuat peta baru, kali ini lokasinya tidak usah jauh-jauh, dibelakang rumahku saja, hahaha aku pasti akan kaya, tunggu saja aku pasti akan kaya! (berdiri dan mencari pena)

PT : 
(mencari pena hingga kebawah meja, kemudian berhanti mencari) dimana penaku? Bagai mana aku bisa membuat peta kalau aku tidak ada pena? (bingung) tunggu, (balik kekursi, duduk sambil menegak minumannya) memangnya kapal Spanyol pernah karam dibelakang rumahku? (kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung) Lagi pula kapan syarif bertemu dengan mereka, Syarif pasti mengarang cerita. Tak ubahnya seperti seekor kancil tua yang mencoba menipu singa tua, hahaha, Syarif pasti bohong (seketika sedih) kenapa Syarif menipuku? Apa salahku padanya? Bukankah ketika dia menikah dulu, aku yang menjadi juru bicaranya waktu Bekulo karena dia anak yatim piatu dan tidak bersanak keluarga disini! (menahan amarah) bukankah aku yang mengenalkan dia dengan pacarnya yang kemudian jadi istrinya! (semakin marah, menggenggam tinju kedua tangannya) bukankah aku dengan motor bututku yang mengantarkannya hingga ke simpang Bukit dulu hanya dia ngapel calon istrinya! (semakin marah) kenapa dia menipuku? (dengan lantang)

Seperti kelelahan, kembali duduk dan istirahat


PT : 
Tapi? Siapa yang menyatakan bahwa dia menipuku? Bukankah dia sahabat karibku (menegak minumannya) lagi pula apa untungnya dia menipuku? Ah! Peduli setan, aku tidak perlu meminta maaf kepadanya, (berfikir) dia tidak tahu kalau aku tadi marah padanya,(terdiam sesaat) tapi bukankah aku tadi telah memfitnahnya! Fitnah lebih kejam dari membunuh! Membunuh lebih kejam dari memperkosa! (kembali berfikir, berdiri, seperti ketakutan) berarti aku lebih parah dari memperkosanya? Tidak-tidak! Aku lelaki normal! ( kembali duduk, diam)

Pak tua mengambil mini tape diatas meja dan memutarnya. Terdengar suara instrument lagu “Lotus Feet” dengan gitar akustik, pak tua mendengarkannya dengan seksama seakan ikut terhanyut dengan lagu itu. Sambil sesekali meneguk minumannya. Lagu seketika terhenti, Pak Tua terbangun.


PT : 
Berimajinasi! Kembali berimajinasi! Bukankah imajinasi lebih berharaga dai ilmu pasti! Pasti! (berturut-turut : berjalan mondar-mandir sempoyongan, hampir terjatuh didekat meja dan berpegangan pada meja, menegak minuman, berhenti, menghadap jauh kedepan, menatap kosong, terbelalak, duduk diatas meja) hebat! Hebat sekali! Benar-benar-benar! Aku harus berimajinasi dan bermimpi! Hidup ini diawali dengan mimpi dan diakhiri dengan mimpi, aku harus bermimpi, iya (semakin bersemangat) aku harus bermimpi! Coba kalau aku banyak habiskan waktu untuk bermimpi dari dulu, pasti saat ini aku sudah bisa menata kehidupanku, benar, menata menjadi lebih baik (turun dari atas meja, berjalan kesudut panggung kanan depan dan kembali duduk dengan tangan memluk kedua kaki didepan, memejamkan mata)

Cukup lama Pak Tua memejamkan mata, diiringi dengan chorus “lagu Pak Tua”. Tiba-tiba, suara gitar menjadi semakin keras dan terhenti ketika Pak Tua terbangun.


PT : 
Anjing! Kenapa aku tidak bisa bermimpi! Aku harus bisa bermimpi! Hanya hitam saja!(bingung, terdiam, memegangi perut) atau jangan-jangan lapar ini yang mengganggu konsentrasiku untuk bermimpi indah! Dasar bodoh kau perut tua!(memarahi perut sendiri) Otak yang berfikir, kau yang minta diisi! Dimana otakmu! Kenapa Tuhan tidak membuat kau punya otak sendiri, seperti semacam chip begitu! (capek, selunjurkan kaki, tangan menopang tubuh dibelakang, melihat atas)

PT : 
(masih melihat atas) coba kalau masa mudaku tidak kuhabiskan dengan membunuh, dan merampok! Tentu masa tuaku akan bahagia (jeda, menegak minumannya) sekarang! Jangankan wanita, kambing betina pun tak sudi kuperistri! (kembali duduk biasa dengan kaki masih diselunjurkan kedepan) aku tahu menyesal tidak berguna, seandainya mesin waktu difilm kartun itu benar-benar ada (berfikir, menegak minumannya) Film kartun! Yah film kartun! (berdiri) tapi, TV 14 inch tanpa warna itupun telah kujual 2 minggu yang lalu untuk beli nasi! Aku tidak bisa nonton film kartun sekarang! Gila! Untuk beli nasi pun aku harus menjual TV (kembali duduk dengan lesu)

PT : 
(seperti teringat sesuatu) Benar, nasi! Aku baru ingat bahwa aku lapar dan tidak bisa bermimpi tadi (berturut-turut : bangun, menuju meja, melihat nasi, mengambil nasi segenggam dan memakannya, muntah) Anjing tua! Nasi ini basi! Sudah berapa hari disini! Dasar gila! Kau mau membunuhku! (marah sambil menunjuk sepiring nasi, berhenti, kembali ke sudut panggung kanan depan, duduk dibawah) lalu bagaimana sekarang! (menunduk, menangis tersedu, kemudian tertawa, menghadap depan)

PT : 
(menghitung dengan jari, sambil sesekali meneguk minumannya) sambil menghitung aku masih ada kursi, meja, lampu, sebuah piring lengkap dengan nasinya yang sudah basi, buku, mini tape dan (terhenti, agak ragu) baju dibadanku. (melihat berkeliling dengan menyeringai, menegak minuman) yang mana? Yang mana akan kujual terlebih dahulu? (menunjuk seluruh benda yang berada dirumahnya, tunjuknya berhenti pada kursi) nah! Kamu duluan! Engkau harus berkorban demi aku! Haha! Lumayan, pasti kau laku sekitar 10 ribu rupiah! Hahaha(terhenti) tapi dimana aku akan duduk! Kenapa aku harus pusing, toh tadi aku duduk di sana(menunjuk sudut kanan panggung) dan disana(menunjuk meja). (berjalan menuju kursi dan menganggkatnya) tunggu! Sebelum kau kujual, izinkan aku mendudukimu dulu untuk terakhir kali (duduk dikursi) eh! Kau seperti keberatan! (melihat pada kursi) kau keberatan aku duduk diatasmu untuk terakhir kali hah (mendekatkan telinga kekursi, wajah fokus mendengarkan, terkejut) hah! Kau keberatan kujual? Jangan begitu (menegak minuman, namun sudah habis, melihat kebotol dengan seksama) kau juga mau mencari masalah denganku! Sama seperti kursi, kau pasti juga akan kujual! (kembali melirik kursi) jangan kau menatapku seperti itu, kau tega aku mati kelaparan! Yang lebih parah lagi, aku tidak bisa bermimpi untuk masa depanku! (mendekatkan telinga kekursi, mendengar)

Pak Tua tertunduk lesu, meletakkan botol kosong bekas minumannya ke atas meja dekat lampu kemudian berjalan dengan lesu kesudut kanan panggung, kemudian duduk.


PT : 
Kau benar kursi! Untuk apa aku memikir masa depan! Aku sudah tua, sudah renta! Bila Azis, si tukang kayu mati umur 59 dan Jidin si tukang bubur juga mati umur 63, kapan aku mati! Aku sudah 60 tahun sekarang! Kenapa aku tidak mati-mati juga! Jadi aku tidak pusing memikirkan perutku lagi! Maafkan aku kursi, kau benar. Aku sudah harusnya memikirkan akhirat, (terdiam, menghadap depan lesu dengan tatapan kosong) tapi! (tersadar) saat ini aku perlu makan! Mau tidak mau aku akan tetap menjualmu! (menghadap kekursi sebentar, kemudian menghadap kedepan) meskipun aku tidak berarti 3 atau 5 tahun kedepan! Tapi aku harus berarti hari ini! Izinkan aku makan agar dapat bermimpi dan bisa menghasilkan sesuatu hari ini! Aku mohon (berdiri, berjalan sempoyongan kearah kursi, menjatuhkan diri, bersimpuh pada kursi) aku mohon, izinkan aku menjualmu, izinkan aku, aku mohon! (tersentak, mendekatkan telinga ke kursi) terima kasih, kau benar-benar sahabatku, jaga dirimu baik-baik (berdiri, memegan kursi) sampaikan salamku pada tuan barumu nanti (mengangkat kursi, keluar dari panggung)


Selesai

Monolog : KISAH RUMAH ’45 - Yusuf Kurniawan


ADEGAN BISA DIMULAI DENGAN GERAKAN-GERAKAN TUBUH MATI TANPA RASA.
YA MUNGKIN TIDAK SELURUH TUBUH,HANYA BEBERAPA BAGIAN TUBUH SAJA.
DAN SAMBIL PEMAIN BERSIAP TAMPIL,ENTAH PEMAIN SEDANG MENGENAKAN KOSTUM APA.
ITU TERSERAH PADA SUTRADARA SAJA.
DAN KETIKA PEMAIN SUDAH SIAP,PENTAS SUDAH BISA DIMULAI,DENGAN PEMAIN GESTUR ATAU TIDAK. ITU JUGA TERSERAH PADA SUTRADARA.

saya sedang terburu-buru. Jadi mohon maaf apabila saya tidak terlihat rapih,seperti apa yang anda harapkan. Tetapi,saya tidak berani untuk pergi keluar.
Udaranya dingin,tapi kadang panas,awannya pun mendung,tapi kadang cerah,tanahnya pun gersang,tapi kadang tandus,manusianya galak-galak,tapi kadang baik.
Yasudahlah,mungkin nanti saja aku keluar dari sini,jika udara sudah pasti,tidak terkadang dingin,terkadang panas,dan jika awannya pun sudah pasti,mendung atau cerah,tanahnya juga,tidak tandus atau gersang,yang pasti saja,dan kalau manusianya sudah tertidur,karena manusia tidak bisa pasti,terkadang bisa galak,terkadang bisa pula baik.
Tetapi aku sudah bosan disini,hanya diam dan berharap semua terjadi.
Sudah lama aku saban hari seperti ini saja,bersiap-siap tetapi tidak berani untuk keluar.
Ya karena itu tadi,karena semua tidak ada yang pasti. Dan manusia itu tidak juga tertidur.
Hanya diam dan berharap semua terjadi,tetapi tidak pernah terjadi.
Sejak aku masih ditimang-timang oleh ibu,hingga kini aku sudah dewasa,tidak juga itu terjadi.
Atau mungkin,hingga nanti aku tua dan mati itu semua tidak akan kunjung terjadi.
Untung saja rumah ku ini dibangun dengan kuat,dengan tenaga yang penuh semangat.
Jadi aku cukup tenang apabila ada sesuatu datang tuk menyapa rumah ku.
Oh,iya. Menyapa disini maksutnya bukan bertamu atau bertemu kerabat,melainkan menyapa yang saya maksut adalah peristiwa yang menyeramkan.
Seperti contohnya badai,angin topan,atau bahkan banjir,ataupun yang lain.
Itu maksut ku dengan kata menyapa.

Waktu itu saya pernah mencoba untuk keluar dari sini. Tetapi saya sungguh ketakutan dan tidak percaya dengan apa yang saya rasakan ketika saya berada diluar sana.
Saya diabaiakn oleh manusia-manusia,seakan saya sedang tidak berada diluar. Lalu saya bertanya pada salah satu manusia diluar sana,saya bertanya “anda kenal siapa saya?” lalu saya sakit hati karena manusia itu menjawab “saya tidak kenal dengan anda!”. Tetapi saya tidak terlalu mendengarkan apa yang saya dengar itu,dan saya melanjutkan jalan menuju ke tujuan yang saya idamkan,tetapi baru beberapa langkah saya maju,ada satu manusia yang menghadang saya,lalu manusia itu bertanya “hei,apakah anda warga kampung sini?” ,saya menjawab “iya,saya warga kampung sini asli”. Manusia itu tidak percaya sepertinya,kalau saya adalah warga kampung asli,kemudian manusia itu bertanya,”dimana anda tinggal ?” saya menunjukan tempat tinggal saya pada manusia itu “itu,disana tempat tinggal saya,dirumah yang besar itu.” Setelah saya menunjukan rumah saya pada manusia itu,tapi kurang ajar,manusia itu justru tertawa.
Kemudian saya bertanya pada manusia itu “kenapa anda tertawa? Apa ada yang lucu dari kalimat ku tadi?”,dia menjawab “tidak,tidak ada yang lucu dari kalimat mu tadi. Hanya saja saya heran,mengapa rumah anda yang besar itu,hanya berisikan mikrofon? Dan kotor rumah anda itu. Agar tidak seperti dijelek-jelekan diluar.” Jika saya jujur,awalnya saya tidak mengerti apa yang dikatakan oleh manusia itu. Tetapi lambat laun waktu,saya mengerti juga,apa artinya yang dikatakan oleh manusia itu. Dia bukan menyindir saya,tetapi justru menasihati saya,agar mikrofon-mikrofon yang ada dirumah saya itu dibuang,dan munngkin digantikan oleh alat lainnya.

Bukan kah kini sudah jelas mengapa aku tidak mau lagi untuk keluar kesana. Ya karena itu tadi sebabnya. Aku sudah tidak lagi dikenal,sudah tidak lagi dihargai,bahkan dianggap tidak ada.
Padahal,dahulu kata orang tua saya,orang tua saya itu terkenal dikapung sini,karena ketampanan,kecantikan,kecerdasan,keunikan,dan semangat orang tua saya.
justru itu orang tua saya terkenal dikampung sini dahulu,dan juga orang tua saya memiliki rumah yang besar satu-satunya dikampung sini. Kemudian lambat laun secara disengaja atau tidak,orang tua saya membeli mikrofon-mikrofon itu,yang tidak dapat dikembalikan atau dijual pada orang lain. Lalu orang tua saya membuat saya dengan penuh hati-hati,karena saya akan jadi anak semata wayangnya yang diharapkan bisa merawat manusia-manusia yang ada dirumah ini. Tetapi saya mengaku,saya tidak bisa merawat mereka semua sendirian. Sekarang lihat saja,mereka lalu lalang disini mengabaikan saya yang sedang bercuap-cuap disini. Saya sudah muak ! mungkin manusia disini menganggap saya sudah mati,atau hanya sekedar mengabaikan saya saja. Tapi tetap saja saya muak ! biarkan saja manusia-manusia disini mengabaikan saya,saya jamin rumah ini akan roboh lalu hancur,jika mereka terus-menerus begitu ! karena saya adalah anak kandung dari orang tua saya,yang benar-benar dibuat dengan hati-hati ! sedangkan yang lain apa !? hanya adopsian belaka yang tidak tau diri,betapa dengan susah payahnya orang tua saya membuat saya pada waktu itu. Sebentar lagi badai akan datang seperti biasa,mencoba menghancurkan rumah ini. Dan seperti biasa juga,manusia-manusia disini hanya diam dan bergerak lalu lalang tidak jelas arah tujuan. Sedangkan saya ! repot kesana kemari,mondar mandir,karena pasti atap rumah ini ada yang bocor. Sial ! saya sendiri tidak akan mampu untuk menanggulangi bocornya rumah saya ini. Karena saya sedang mati suri .

Ya ! mohon maaf atas perkataan saya yang semakin tidak menentu itu,alangkah tidak sopannya saya bercuap-cuap seperti itu,sedangkan saya sendiri saja belum memperkenalkan siapa diri saya ini . hahahaha . oke,orangtua saya berkata,rumah ini dibangun pada tahun 1945,dan kata orangtua saya,nama saya pada akta kelahiran adalah pancasila. Salam kenal dari saya,dan semoga anda semua tidak melupakan saya,setelah perkenalan ini.


** pementasan pada naskah ini bisa berkembang pada setiap penggarapanya.
Yusuf Kurniawan
Hp : 085715052528
Email : capcusranger@yahoo.com


Monolog : KAPOK - Zohry Junedi


 

(masuk diiringi music mbah surip ; Bangun lagi tidur lagi)

(sarung berselempangan , masuk sambil ketawa malas tak tentu masa depan, lanjut tidur ditengah panggung)

(Mendadak bangun tidur, penuh dengan kerutan diwajah menggerutu…!!!)


Akkhhh, sial… sial kalian semua hampir sajah . . . akhh sayang sekali tinggal sedikit lagi, sial… kenapa kalian bangunkan saya, nyaris sajah setumpukan uang itu jadi milik saya, saya sudah terlalu sangadh sangadh sabar menunggunya, ditiap malam saya terus berdoa menunggu agar mimpi itu datang, dan baru sajah mimpi itu datang, tapi kalian tau baru saja mimpi itu terlewatkan, akhhhhhhh…..

(uring2an menyalahkan diri sendiri, atau mungkin tepatnya tidak tau siapa yang wajib disalahkan)

Akhhh… jangankan untuk menghitungnya, meraba lembaran demi lembaran uang itu saja belum sempat, akhhh…. Bodoh bodoh… kalau sudah begini harus bagaimana??? Akhh…. Klo begitu saya harus segera tidur kembali, Mungkin mimpinya belum terlalu jauh, dan jangan harap kalian dapat sepeserpun dariku, sial!!!

(…zZZZ!!!)

Huahahaaa,huahaa….…. Untung sajah mimpi itu masih menungguku, huaaaahaa…. Aku kayaaaa , aku telah jadi miliarder di Negara ini, kenapa?? kau jangan menatapku seperti itu sobat?? Ia nanti akan kubagi, tenang sajalah yang penting sekarang uangnya sudah kusimpan dalam rekeningku di BANK Century yang katanya sudah berganti nama BANK Mutiara, walau sekarang sedang bermasalah tapi sepertinya saya yakin aman sebab tidak akan ada yang tau aliran dana darimana saya dapatkan uang itu , terserah sekalipun DPR mau gunakan hak angket percuma, toh BPK sajah tidak mau transparansi, Mana bisa!!! huaaahaa….

Oh ia betapa tidak sopannya saya, saya lupa memperkenalkan diri saya maafkan saya bapak-bapak ibu-ibu penonton sekalian, nama saya KAPOK ANGGODO SH MH, huahaa…. Mungkin nama belakang saya ANGGODO sudah popular di telinga bapak-bapak ibu-ibu, bukan begitu? tapi nama depan saya KAPOK mungkin jarang didengar ditelinga penonton sekalian karena saya memang tidak akan pernah kapok-kapok, hehee…. Gelar hukum dan magister yang mentereng dibelakang nama saya itu, saya dapatkan di UNIVERSITAS Ternama, eittss kalian jangan su’uzon dulu donk, Bukan, bukan!!! Saya tidak beli gelar atau terlibat dalam jual beli gelar seperti sebagian pejabat pemerintah kita, terus terang saya kerja keras dapatkan itu semua di UNIYAL alias UNIVERSITAS KHAYAL, lulus dengan predikat Cumlaude, dengan tesis NILAI A berjudul ‘Rekaya Kriminalisasi KPK’ Tim Pembimbing oleh Buaya dan Markus serta Tim Penguji oleh Tim 8 dan Publik huahaaaa….

Mungkin bapak bapak ibu ibu heran kenapa seorang priyayi seperti saya kok kelihatan begitu lugu dan miskin sekali, dan anda benar sekali! Karena memang saya selalu diajarkan untuk low profile, lihat saja baju saya tidak bersafari seperti pejabat-pejabat umumnya saya lebih diajarkan untuk bertenggang rasa, jadi jangan heran kalau saya sering sekali berpakai pakaian lusuh bolong seperti ini, banyak kok artis2 yang telah meniru jejak saya, sebut saja Julia perez, dewi persik, sarah azhari, hehee… pun saya tidak pernah memakai terano atau fortuner pribadi kalau sedang berkunjung kesuatu tempat, saya lebih memilih untuk merakyat seperti by ‘ketting’ atau naik angkot B1 atau B2 huahaaa…. Tidak perlu dengan iring2an 10 hingga 20 mobil ditambah pake sirine lagi, wah…3x emang ga mikir apa hal itu justru berbahaya , gimana kalau ada teroris gampang sekali mereka BOM, dasar pejabat goblooOok!!!

Ehmmmm Sebentar ?? (merenung tapi tidak kosong,…)

(tiba2 mendadak muncul makanan-makanan enak, menyusul kemudian muncul brendy wisky mahal buatan eropa, tapi tunggu tidak lama muncul gadis cantikk dan seksi, bayangkan ia muncul berbusana hampir setengah telanjang, berparas layaknya paris hilton tapi kemudian . . . . . gadis itu tidak jadi muncul mungkin malu habis pembaca naskah ini ternyata lebih berbahaya renungannya dibanding penulis sendiri, huahaa….)

(tanpa pikir panjang si kapok langsung melahap makanan dan minuman yang entah darimana muncul)


Wuaaaa laparrr, ayo penonton jangan malu2 mari makan, mari silahkan naik, ayoo ayooo kesini…. Haduh Jangan diambil hati gitu donk saya kan Cuma basa basi saja, kalau mau makan beli sendiri donk!!!

(merenung kembali, tiba2 mendadak tertawa bahagia sendiri)

Xixxixixi, …. Bambangg ayo kesini nak, sudah jangan main terus ayo makan dulu…. Bambangg, kamu tidak dengar papa ya, bambaNgg…. bambanGg!!! Wuahhh dasar anak2 kalau lagi keasyikan main sampai lupa makan, penonton itu putra pertama saya namanya Bambang, sengaja saya beri nama bambang agar kelak dikemudian hari dia bisa jadi kokoh dan berkepribadian seperti bpk presiden kita Bambang Yudhoyono, hheee….

(tiba2 terdengar suara bayi nangis….)

Alaahhh bambangg….!!!!! jangan berisik, adikmu sedang tidur…. Sttttt, jangan keras2 penonton itu anak kedua kami masih mungil cantik, lucu sekaliii , mirip sekali dengan ibunya, cup cup cup… anak maniss jangan cengeng yah, ayo chayank mana ibumu…. Oh ia klo saya punya anak berarti saya harus punya seorang istri donk, klo tidak darimana kedua anak ini merojol . . . ???

Sebentar!!! (kembali merenung…)


(tiba2 terdengar suara indah dari belakang panggung)


‘Papa… Papa…. papa ga denger apa suara si puteri, pa jagain bentar donk, mama lagi masak nih…’

Ahaaa, nah itu suara isteri saya namanya Anna Althafunnisa… mungkin saya adalah lelaki yang paling bahagia didunia ini punya istri cantik lahir bathin seperti dia, ….

Ohhh ia iaa maaa!!! Mama lanjutin aja masaknya biar papa yang jaga siputri!!!!! cup cup cup chayankkkkkkk… cup jangan nangis ya sayang, anak pinter ntar klo udah gede mau jadi apah?? Kenapa sayang mau jadi artis?? Wuahaaa… lho kok pengen jadi artis sayang, kenapa?? Mau kayak bintang film Miyabi, wuaaaaaa….. aduh si cantik masih kecil suka becanda yah, xixiixxi…. Persis kayak papanya, suka becanda ga pernah serius, hehehe….

(Tiba-tiba panggung mendadak padam, sayup sayup terdengar suara Kapok, sepertinya sedang merayu isterinya dalam obrolan kasur….)


Mama , papa kangen nih sama mama?? Mama kangen ga sama papa?? Ma, mama masih ingat ga bulan madu kita waktu itu…. Ia lucu banget ya ma, mama kelihatan betul groginya sampai bibir papa digigit sama mama, …. Ma, papa pengen bwt anak lagi nih?? Mama mau ga?? Kenapa mama mau ikut KB, haduhhhh ga papa kok mama mau ikut KB, tapi ma, papa lagi pengen anu nih…. Ayo dunk ma, ahhh masa mama ga ngerti sih?? Anu itu lho?? Ayo dunk ma dah ga nahan nih…. Masa sih mama ga ngerti, papa kan jadi malu….??? Akhhh ma, geliiiiiii…. Mama nakal deh,

(tiba2 lampu nyala terang, tapi keadaan panggung berbeda, panggung kosong total tanpa property tampak Kapok setengah telanjang badan berlapis sarung, sedang berkecupan mesra dengan gulingnya)

Lho?? Eee… lho?? Eee…. Lho?? Anna….. anna istriku sayang kamu kemana?? Mau maen umpet-umpetan yah… (kemudian keliling panggung mencari istri khayalnya!!!) chayank aku tau kamu pasti disini…?? Lho?? Ohh ia kamu pasti disini?? Lho…?? Kamu mulai nakal yah, awas lho klo dapat tak gigit putingmu ampe lepas, hohohOo…. Sayang kamu dimana???

(dalam kelelahan kapok pun sadar, ternyata lagi-lagi dia hanya bermimpi)

Akhhhhhh…. Sial kali ini saya benar-benar sial, nyaris sajah…. Akhhh nyaris sajah saya hampir melakukannya…. saya tau ini pasti ulah kaliankan, ini pasti ulah kalian semua yang tidak senang melihatku dengan sejuta mimpi dan khayalku kan…. Tadi saya nyaris sajah kehilangan uang dalam mimpiku, sekarang kalian baru sajah mengganggu anak dan istriku…!!! Akhhh anak, bammbangggg… bambangggg…. Kenapa suaranya tidak kedengaran lagi…. Puteri?? Mana bayiku…. Puteriii..!!!!

Akhhh sialll, saya sekarang lapar!!!! saya benar2 lapar, saya tidak bisa lagi mengkhayal kalau begini, saya laparrrr . . . saya butuh makannn!!!! Tolonggg saya lapar, tolongg…. Saya butuh makan agar saya bisa bertemu anak dan isteri saya, tolongg berikan saya makan….

Jam berapa sekarang?? Kalau begitu Saya harus segera kekantor cari uang buat makan dan mengkhayal, oh ia bapak-bapak ibu-ibu boleh saja mampir kekantor saya, kantor saya tepat di simpang lima sebelum lampu merah… hehee….

(langsung mengambil tongkat dan mangkuk kecil, kemudian berjalan pura-pura buta…)


Oleh: Zohri Junedi

30 November 2009



‘…. Hanya saja hidup tak hanyut dengan mimpi dan khayalan, jua harus diiringi dengan doa dan kerja keras.…!!!!’

Monolog : IBU SEJATI - PutuWijaya


 
Sebagai ibu yang baik aku datang kekantor polisi, atas kemauan sendiri. Melaporkan putraku ujang yang telahk hilaf, sesat, bejat, buas.Ia telerlalu membantai satu keluarga ludas. Iamenguncimerekadalamkamarlalumembakar. Lima orang meninggal.Termasuk pacarUjang sendiri.Alasannya tak ada.Ujang bilang ia tak tahu. Aku tak sadar, ibu, katanya.

Aku berharap yang berwajib akan bijaksana, oleh laporanku yang terus terang mengakui kesalahanUjang. Dengan harapan supaya itu bisa meringankan hukumannya.Banyak yang bilang kalau berterus terang mengaku dosa hukumannya ringan.

Siapa lagi yang wajib melaporkan anak yang haus darah kalau bukan bunda kandungnya sendiri?Siapa lagi yang bertugas mendera putra yang gelap mata mencabik jiwa warga tak berdosa, termasuk pacar sendiri yang amat dia cintai, kalau bukan bunda kandungnya?

Aku yang telah memberi Ujang darah dan daging, tapi aku telah alpa tidak berhasil menjauhkan dia dari pergaulan sesat. Aku sungguh menyesal.Siapalagi yang harus menyeretnya sujud mengakui dosa minta ampunan atas kekhilafannya, agar ia jera, kalau bukan aku? Kalau bukan bunda kandung, siapa lagi yang akan bisa memaksa dia bertanggung jawab atas segala kejahatannya? Aku rela ia didera, asal sepantasnya, agar ia kapok lantas banting stir dari narkoba kejalan yang benar.

Semoga peradilan masih memberikan kesempatan generasi muda memperbaiki kesalahannya. Penjarakan meringkusnya nyahok bagaimana hidup berkeadaban. Dengan dijatuhi hukuman nanti semoga iblis yang menggerak di otaknya akan ngletak agar Ujang kembali kejalan yang benar! Ya Allah, tolonglah ibu yang malang ini menumpas setan yang menguasai jiwaUjang!

Tetapi malang, hakim putuskan lain. Ujang dianggap kejam,pembunuh berdarah dingin. Membakar satu keluarga tanpa alasan jelas lebih kejam dari binatang buas karenanya wajib musnah kata beliau lantang disambut pekik sorak histeris masyarakat.Paludi ketok.Putraku Ujang harus ditembak sampai mati!

Aku, sebagai ibu, semaput.Dikunyah sesal, dihantui dosa, aku mengutuk diriku.Coba, di mana ada ibu membunuh anak sendiri? Bukan Ujang putraku yang binatang buas, tapi aku sendirilah Iblis yang ganas.

Tak kuat mendengar umpat tetangga, tak mampu menerima tudingan biadab, dengan sesal berkepanjangan, aku ibu yang kejam berkunjung kepenjara.Akulah yang harus sujud minta ampun.Akulah yang harus dihukum atas kebodohanku sendiri.

Tapi begitu bertatapan kembali dengan Ujang aku langsung tumbang.Sementara putraku yang malang itu besarjiwanya. Ia sedih melihatku rebah. Lantas ia bersimpuh mengurut kakiku, membalurnyadenganminyakkayuputih. Ketikapelupukmatakuterbukalagi, ia sujud minta maaf atas segala dosannya, sambil berbisik lirih, aku pamit, ibu, akan pergi jauh dan tak kembali. Ia sama sekali tidak megutuk putusan peradilan. Sama sekali tidak menghujat ibu kandungnya kejam.Sama sekali tidak menggugat kebekuan hati presiden yang tidak memberikan grasi.Sama sekali tak menggugat kenapa nasibnya malang.

Ibu, tak usah menyesal, jangan merasa berdosa, katanya menghiburku.Perbuatan ibu adalah suri teladan yang Ujang akan selalu kenang dan banggakan.Sejarah akan mencatat dengan tinta emas keberanian ibu.

Walau putra kandungmu semata wayang, tapi karena ia seorang berdosa, kau antar sendiri agar dihajar. Itu sungguh mulia, ibu.Semoga semua ibu yang lain mengikuti jejakmu agar tak ada lagi kawula berani mengulangi perbuatanku. Semoga akan jadi sejarah baru di negeri yang sedang digalau narkoba ini. Semoga lebih banyak lagi negeri kita memiliki ibu sejati, seperti ibuku.

Duh Ujang, putraku semata wayang, aku ibu yang kejam, hancur jiwaku berkeping-keping rasa aku merayap pulang.Tak sanggup menatap kegagahan putraku.Tak sanggup mengecilkan rasa berdosaku.Apalagi permintaan terakhir begitu mengenaskan: Ibu aku tak minta apa-apa. Aku hanya ingin makan siang bersama ibu sebelum dieksekusi.

Hari itu, ketika hari menyengat ibu kota, para wartawan boleh menjepret makan bersama yang sedih itu. Dengan syarat tak ada wawancara.Aku sampai seratus kali mengunyah suapan pertama, tapi tetap tak mampu kutelan.Sementara putraku lahap mengenyam sayur lodeh terakhir buatan tangan ibunya.

Ketika pulang kerumah, aku tak mampu bertahan.Aku tumbang didepan pintu rumah.Tapi tak satu pun tetangga sudi menolong.Biarsaja perempuan gila itu mati, kata mereka.Binatang pun tak tega bunuh anak sendiri.Iblis itu layaknya dikirim ke neraka.Ia menebarkan virus biadab yang bertentangan dengan kemanusiaan!

Hampir subuh aku tersentak membuka mata.Ronda kampong mengetuk tiang listrik empat kali.Ya Allah aku terlambat!

Itulah saat putraku dipersilakan sholat terakhir untuk kemudian digiring kelapangan eksekusi.Ya Allah, ampun! Aku terpekik melihat jarum weker terlalu cepat.Tak ada waktu lagi untuk menyebrang ibu kota ketempat penembakan. Ujangggg!

Sambil membayangkan kain hitam ditutupkan kemata Ujang dan sepuluh senjata dikokang untuk tebar peluru belah kepalanya.Aku panik.Kalau putra tunggalku mati apa arti hidup ini. Otakku gelap memukul-mukul.

Lalu kuraih stagen dan menggantung diri di kamar mandi. Tak perlu taksi, tidak takut terlambat macet, aku dengan mudah melayangr ingan keangkasa.Jakarta kusebrangi sekejab mata.Di lapangan tembak kusaksikan senjata yang terhunus menunggu aba-aba untuk membantai.Tapi kenapa yang di tunggu tak kunjung terdengar? Jam sudah menghampiri pukul lima. Aku hampir tidur kembali.Tiba-tiba keluar perintah: Turun senjataaaaa, grak! Eksekusi dibatalkan.Regu tembak dikirim kembali ketangsi.Hukuman mati dibatalkan.Putra ibu ternyata tak bersalah.Semua itu fitnah.Biang kerok sejati pembunuhan sudah menyerah.

Matahari sekali lagi memanjat di TimurHari akan terang. Ujang putra ibu yang baik bersiul pulang ia beli sejadah baru di pinggir jalan.Oleh oleh buat mama sayang yang gagah berani menegakkan kebenaran.


Jakarta, Desmber. 2015

Monolog : HARA-KIRI (SEPPUKU) - Zohry Junedi


DITENGAH PANGGUNG DUDUK SESEORANG TUA, DIAM, PENUH PENYESALAN, DULUNYA IA PEJUANG BANGSA, TAPI SEKARANG IA HANYA SEORANG PENGKHINAT ATAS DIRI SENDIRI

Puisi kematian ini kupersembahkan untuk diriku
Aku yang mendambakan ajal
Aku yang menantikan saat jiwaku menghilang
Aku yang menantikan saat jiwaku menghilang dari dunia ini

Puisi kematian kupersembahkan ini untuk diriku
Aku yang telah memenggal kepalaku sendiri
Aku yang berkali-kali mengarahkan pedang ke leher ini
Aku yang telah banyak membunuh bangsaku sendiri untuk melampiaskan perasaanku

MENGAMBIL SECARIK KERTAS DAN PENA, BERDIRI DAN MULAI MENULIS

Puisi kematian ini kutulis untuk diriku
Aku yang adalah kumpulan berbagai sampah
Aku yang telah diberikan nyawa oleh orang lain
Aku yang sudah menghancurkan berbagai tubuh dan jiwa yang diberikan padaku

Puisi kematian ini kutulis untuk diriku sendiri
Aku yang berpura – pura membenci semua orang
Aku yang disayangi semua orang
Aku yang takut kehilangan kehangatan yang telah diberikan padaku

KEMBALI TERDUDUK SAMBIL MENAHAN BULIR-BULIR AIR MATA,

Puisi kematian ini kutulis untuk dia yang paling kusayangi
Dia yang akan datang ke sisiku saat aku kesepian
Dia yang akan bernyanyi untukku jika aku takut
Dia yang akan mengulurkan tangannya padaku bila kekuatan jahat menarikku

PANDANGAN TERTUJU PADA SEBUAH BONEKA MUNGIL,

Puisi kematian ini kuberikan untuk dia yang paling kusayangi
Agar puisi ini dapat menjadi pengingat diriku
Agar puisi ini bisa menjadi pelipur lara baginya
Agar puisi ini dilupakan olehnya bila telah ada orang lain di sisinya

Puisi ini kupersembahkan untuk dia yang paling kucintai
Dia yang paling mengerti diriku
Dia yang mencintaiku sepenuh hati
Dia yang akan melakukan apapun demi aku dan akan mendapat balasan yang sama

MEROBEK BONEKA MENJADI BAGIAN BAGIAN KECIL, YANG TAK MUNGKIN DISATUKAN KEMBALI

Puisi kematian ini . . . tidak ada
Karena aku telah menemukan tempatku berada yang seharusnya
Karena aku sedang menanggung beban yang sebanding dengan rasa bersalah dan kebencianku
Karena aku tak ingin kematian memisahkanku dari orang orang yang kusayangi

HENING

Hahahaaaa . . . .
Aku telah pantas menerima mati, tapi bukan dengan tangan kalian, bukan dengan tangan mereka, bukan dengan tangan tangan orang orang yang berpura – pura tak berdosa, tapi dengan tanganku sendiri, hahahaa . . . dengan tanganku sendiri, huahhahaa . . .

Aku Pendosa bangsa, maka sepantasnyalah aku menerima ini . . .
Aku tidak sedih menerima kematian ini, dan aku tidak berduka atas kematianku . . .
aku mati karena bangsaku telah mempercayai aku menjadi pemimpinnya, tapi maafkan aku tampuk pimpinan itu terlalu kejam buatku, aku tidak mampu menjalankan amanah Tuhan, maka biarkan aku mati dengan cara seperti ini untuk menebusnya . . .

maafkan aku

SANG TUA PERLAHAN MENGAMBIL SAMURAINYA, MENATAPNYA TAJAM, PENUH KEPILUAN, DAN AKHIRNYA MENGARAHKAN SAMURAINYA KE PERUT SEBELAH KIRI, DAN MENYERETNYA KE BAGIAN KANAN, HINGGA PERUT SANG TUA BUYAR


Bengkulu, 05 November 2010
Diangkat dari puisi Mineko Ohkami, Puisi Kematian


Monolog : GEDEBUG - Bina Margantara




DI PANGGUNG NAMPAK SEORANG YANG SEDANG DIPASUNG MENYERUPAI SALIB (SALIB TERSEBUT BERADA DI DALAM SEBUAH LINGKARAN) DENGAN HANYA KEPALA YANG DISOROTI LAMPU. TATAPAN TAJAM, MENGAMATI SEKELILING.

BACKROUND SEBUAH JAM DINDING BESAR MENUNJUKKAN JAM 12 TEPAT

TIBA-TIBA MENGERANG…

SAMBIL BERUSAHA MELEPASKAN PASUNGAN TERSEBUT, MAKA LEPASLAH IA.

KEMUDIAN MEREGANGKAN OTOT-OTOTNYA, DAN MENCARI-CARI SESUATU, TERNYATA YANG DICARI ADALAH AIR

Eeeuuk..eeuuk.. (DIA PUN BERSENDAWA)
Air yang sejuk bagi jiwa-jiwa yang bebas, hahaha..taiklah..apa dengan mengikatku bisa memasungkan pikiran juga hah? Bodoh!! Di sini tempat yang sungguh tidak terlalu asyik, asing, banyak orang-orang aneh, omongannya juga ngawur, ngelantur. Sudah berlumut juga dinding di sini oleh obrolan mereka.
Oh ya, di sini juga serba putih-putih. Baju putih, celana putih, dinding putih (SAMBIL MENUNJUK), sampai bapak kepala sini rambutnya juga sudah putih, seperti kucing yang sering ia bawa. Kadang aku pun bingung, mana yang kepala mana yang kucing. Hahahaha…
Baiklah, sekarang sudah jam 12 tepat. Waktunya istirahat alias jam makan kata orang kantoran. Setuju? Tapi istilah itu mencokol terus dalam benakku, waktu istirahat atau istirahat waktu? Waktu makan atawa makan waktu? Yang terakhir ini memang aneh, kalau makan waktu, terus menuangkan waktunya kapan? Ahh, sungguh edan!! Kantoran edan.
Aku sesungguhnya betah di sini, itu..itu..

(MENUNJUK KE MENAKIN YANG DIDANDAN, SAMBIL MEYAKINKAN PADA PENONTON)

Itulah alasan mengapa aku betah disini. Wanita-wanita cantik dengan kopiah putih. Alamak, sedap nian. Terus melirik dan main mata dengaku, walau dari jauh. Tapi, dia selalu kosong, mengiba-iba ingin dibebaskan. Dan juga sudah aku bilang, lebih baik seperti aku saja. Bebas, mau jingkrak-jingkarak, guling-guling, merangkak, telungkup, ngangkang,enakmu dewe! Tak ada yang larang, tapi dia tak mau. Ya sudahlah.
Jam 12, berarti..

(MELIHAT JAM LALU BERPIKIR)

Menemukan jawaban dari ribuan pertanyaan yang cuma kuambil satu saja, cukuplah. Pertanyaannya seperti ini? Bagaimana tiba-tiba, para ibu melahirkan bayi-bayi yang sudah gila? Dalam arti kata, bayi yang gila sejak lahir. Aku percaya sih, mereka akan membawa perubahan. Aku yakin. Atau…bayi-bayi normal, tapi yang melahirkan adalah para ibu gila, ataunya lagi, bayi normal, ibu-ibu normal, yang punya sperma orang-orang gila…hahahaha!
Pasti ini adalah temuan yang mutakhir, yang hanya aku saja yang punya ide.
Pertanyaan ini dulu muncul dari observasi tak tersengaja. Ceritanya seperti ini : entah kenapa pada suatu malam yang cerah, aku tak bisa tidur. Aku coba duduk, berbaring, dan melakukan itu berkali-kali. Tapi tetap saja segar, tak mau pejam barang sejenak. Lalu, kuputuskan saja untuk mencari angin di luar, walau ada pemberontak-pemberontak kecil dalam diriku untuk mencegah perjalanan malam. (SAMBIL LIHAT KIRI-KANAN) ini rahasia ya? Akan aku kasih tahu rahasia diriku, aku takut gelap (MENGATAKANNYA DENGAN BERBISIK) awas!!! Jangan kasih tahu teman-teman kamar sebelah. Malu aku kalau mereka sampai tahu. Jadi, malam itu aku berjalan-jalan sepanjang koridor, niatnya mau menemui si Mimin, seorang perempuan yang nyasar ke sini, karena stres, seketika bapaknya naik pamor dan terberita di mana-mana, di koran-koran bungkus teri, koran gorengan, Koran yang mau didaur ulang, pokoknya segala macam koran lah, di radio juga ada, sampai gossip pagi pun ada. Ya, maklumlah…koruptor kelas ikan padang, jadi makmum pada ritual korupsi jama’ah.
Kulihat jam dinding, ah, masih jam 12 tepat
Tapi tak seperti biasanya, kamar Mimin kok cahayanya remang-remang, biasanya terang. Lalu aku mengendap-ngendap, mengintip dari kaca jendela. Melihat pemandangan di dalam, dadaku sesak, mataku melotot. Ternyata ada 5 orang berbaju putih-putih tanpa celana, sedang..sedang..sedang, aaahh, maksudku sedang menindih dan main kuda-kudaan secara bergantian dengan si Mimin. Kulihat Mimin tak berdaya,ternyata salah satu dari mereka adalah bapak yang kepalanya putih mirip kucing seperti yang kuceritakan tadi.
Aku ketakutan dan lari ke kamar, kukunci pintu, takut kejadian tindih-menindih jatuh giliran padaku. Kejadian tadi tepat jam 12, aku paksakan untuk mengingat, agar tidak lupa bahwa kejadianya tepat jam 12.
Aku bingung, maka kutuliskan saja : si Mimin ditindih oleh 5 orang, salah satunya bapak berambut putih, baju mereka putih, tanpa celana putih, tepat jam 12 saat itu.
Paginya, aku berpikir keras, seperti apa rupa bayi si Mimin, apakah kepalanya berbulu kucing, atau dia juga lahir gila seperti Mimin, atau berbaju putih tanpa celana putih, atau semacam apa?
Hari-hari berikutnya aku hanya diam saja tentang kejadian itu.

(SAMBIL BERCERMIN)

Seperti yang terlihat, aku sebenarnya tidak gila. Aku bergelar sarjana dari insitut terkemuka di negeri ini. Aku masih muda, masih percaya Tuhan, dan dulunya aku mapan lho. Yah, ternyata gelar akademik juga tidak menjamin. Percayalah! Aku pun tahu ini rumah sakit jiwa. Hah, biarlah.
Aku cuma disangka gila oleh orang-orang di sini dan di luar sana juga. Tapi, apakah salah jika aku membebaskan jiwa yang terkekang oleh jasad. Aku seorang pembebas, telah kubebaskan juga otaknya yang kotor. Kadang lidah mereka terlalu panjang, sehingga untuk menjilat es krim dan lollipop saja susah. Aku disuruh gini, mesti gitu,…gini-gitu,gini-gitu,gini-gitu…gundul mbahmu. Memangnya aku ga punya setir apa? Bapakku memang gundul, maka kuletakkan saja pisau yang telah kuasah berkali hingga kilat di jantungnya, habis perkara.
Aku bukan pembunuh, akulah si pembebas itu sendiri. Telah kupersiapkan waktunya untuk mati, itu merupakan jasa terbesar yang kuperbuat Bapak! Untuk ibu juga, yang telah kau biarkan ia duduk di tepi pantai menatap matahari terbenam berharap bebas. Kebebasan itu sendiri, kosong melompong di dalam mata ibu, yang memantul ke langit, mengembara ke laut lepas. Padahal laut itu sungguh bukan laut sama sekali. Ia telah menjadi lukisan, semacam lukisan kabut dan cakrawala itu menjadi kabut yang jauh, yang kelabu, yang melenyapkan bayang-bayang…
Betapa indah kematian dengan persiapannya dan kegagahannya juga

(MENATAP KE JAM DINDING, BERPIKIR SEJENAK DAN MENGHELA NAFAS PANJANG)

Ah, masih jam 12 tepat, tak lewat sedetik pun
Kenapa aku mesti mikir, bukankah pikiran telah lama pamit dari kepalaku ini, pikiran yang memusingkan. Sering aku lelah dengan diriku sendiri. Baiknya aku gila beneran, dan setiap hari aku berdoa kepada Tuhan agar betul-betul gila.
Doaku : Tuhan, jadikanlah aku gila, agar bebas dari pikiran sehat yang menjerumuskan aku ke dalam kejahatan. Jadikanlah aku gila agar hidupku menjadi suci murni dan jauh dari kebusukan. Kabulkanlah permintaanku ya Tuhan, agar kiranya kau kuburkan aku dalam kegilaan abadi. Jadikanlah aku manusia gila segila-gilanya manusia yang pernah ada. Hancurkanlah penalaranku, kacaukanlah jiwaku, berkatilah aku dengan kegilaan yang membebaskan aku dari keserbawajaran dunia yang muak.
Benarkah aku membunuh bapakku? Kalau ditelisik dengan teliti, barangkali akan terbukti juga aku tidak pernah membunuh bapakku. Lebih tepat dikatakan, bapakku telah membuat aku membunuhnya. Bapakku sengaja membuat aku membunuhnya, supaya ia tidak susah bunuh diri. Berarti ia yang menuntun tanganku ini agar ia cepat sampai ke alam baka. Aku hanya memenuhi permintaanya.
Sebenarnya juga, aku masih sadar dan tahu betul kalau aku belum terlalu gila sebenarnya. Apa bedanya pura-pura gila dengan sebenar-benar gila? Atau yang gila dengan yang waras? Apakah perbedaan itu penting.
Penting bila dianggap penting, penting atas kepentingan siapa, seberapa penting bila penting, penting dipentingkan, perpentingan, dipentingi, penting tidak penting, penting harus penting, penting…tak penting…penting…tak penting…penting…tak penting! Pilih sendirilah.
Tidak begitu penting apakah ada itu ada atau tidak ada.
Ada
Ketiadaan
Menjadi…
Jam 12 tepat.
Aku masih ingat, ketika aku duduk-duduk di belakang kamar pengap ini, mengahadap ke laut. Dari jam 12 sampai jam 12. Entah siapa, ada dua orang duduk berduaan di bangku sebelah. Karena aku sendiri, maka kumencuri dengar percakapan mereka. Mungkin mereka adalah pasangan tua. Bukan, mereka bukan suami-istri tua, mereka adalah duda dan janda, duda kira-kira berumur 90, janda berumur 80 tahun. Aku juga menyangka mereka sama seperti aku, toh buktinya mereka ada di sini.
Pembicaraan mereka seperti ini

“Aku heran, kenapa kau belum mati juga” Tanya si duda

“Memangnya kenapa?” Balas si janda “Tapi sebentar lagi aku akan mati”

“Ah, mana bisa. Aku kan lebih tua dari kau!”

“Tidak, aku harusnya duluan. Lelaki bisa lebih bertahan daripada wanita”

“Teori macam apa itu, pokoknya aku duluan!”

“Tapi aku suka kematian” Jawab si janda

“Aku juga”

Mereka diam sejenak

“Tapi aku tidak bisa hidup tanpamu” si janda memulai percakapan lagi

“Harus bisa.”

“Kenapa?”

“Harus ya harus”

“Pasti aku selalu merindukanmu!”

“Terserah”

“Kau kok gitu sih?”

“Kau jutek”

“Kau juga”

“Biru” kata si duda

“Biru” balas si janda

“Membayang, mengawasi”

“Siapa?” si janda merangkul lengan duda dengan sangat ketakutan

“Hahahahahah… Kau lucu!”

“Ya, kau kira kematian itu lucu, hah?”

“Mati dalam kegembiraan apa salahnya, yang penting aku mencintai kau hingga saat nanti”

“Ah, gombal. Biarlah, aku juga mencintai kau”

“Kau wanita tua”

“Kau lelaki lapuk”

“Kau keriput”

“Kau mengkerut”

Keduanya tertawa menikmati matahari jam 12 saat itu,
Semuanya membuatku bingung .

(SAMBIL GELENG KEPALA, LALU MOVING MENDEKATI MENAKIN SUSTER)

Pokoknya aku tak mau lagi dipasung, sinting! Kalau tidak, aku goda kau sampai kewarasanku mampir…
Oh… hampir lupa!
Mumpung sekarang jam 12, aku akan meninggalkan pesan buat teman-temanku : enak jadi orang gila apalagi dianggap gila, daripada waras tapi ketahuan gila.
Gedebag..gedebug..gedebag..gedebug!!!
Tralala..trilili..tralala..trilili..


(LAMPU PERLAHAN-LAHAN REDUP, DAN MATI)

PEMENTASAN USAI

Padang-M.Bungo, …Juni-Juli 2011

Monolog : DASEIN - Bina Margantara


 
LAMPU MERAH MENYOROTI PEMAIN YANG SEDANG DUDUK, DENGAN KAKI DI ATAS MEJA. DIA MENGENAKKAN TOPI , TATAPAN KOSONG KE DEPAN. SESEKALI MENGEPULKAN ASAP ROKOKNYA KE ATAS. SELALU BEGITU HINGGA BEBERAPA MENIT.
LAMPU MERAH MATI.
ADA LAMPU NEON TEPAT DI ATAS KEPALANYA, DAN AKTIVITASNYA SELALU BEGITU.
LAMPU KEMUDIAN MATI, TERDENGAR SUARA RIUH DI LUAR PANGGUNG


ADEGAN I


SUARA DI LUAR
Mengapa kau bertingkah seolah sedang berpikir Mukar?
Masih punya otak toh, masih percaya nurani?
(MEREKA PUN TERTAWA DENGAN NADA YANG SANGAT MENGGIDIK)


MUKAR
(SEOLAH MUKAR MENGACUHKAN SUARA TADI, DAN DIAM BARANG SEJENAK, KEMUDIAN AKHIRNYA ANGKAT BICARA)
Apa salah, hah?
Inilah cara saya menikam sepi-sepi, merasa merdeka dan tak pernah terkontaminasi oleh doktrin yang sangat menggrogoti akal sehat. Dan juga, cara saya melayani diri sendiri
(MUKAR PUN TERTAWA, SEAKAN TAK ADA BEBAN)
Kalian mesti mencari cara sendiri-sendiri (SAMBIL MENGEJEK)

SUARA DI LUAR
Cara kau bilang?
Dan cara yang kau sebutkan adalah cara yang begitu aneh, lebih tepatnya adalah cara orang-orang pesimis yang kalah bertarung dengan dunia luar. Kau mencoba untuk menghibur diri sendiri dengan kekalahan yang bertubi-tubi yang selalu kau alami.
Kau memandang dirimu lebih besar dari dunia dan orang-orang yang kau temui.

MUKAR
Tapi aku jauh melihat ke dalam dan sangat meresapinya. Dengan begitu, aku lebih tahu bagaimana diriku sebenarnya. Merasakan setiap hangat nafasku, ritme jantungku yang bermain dengan delapan nadanya. Aku begitu menikmati ke mana kehendak kaki melangkah, kalau saja aku bisa dalam satu waktu aku bisa melangkah ke seluruh penjuru mata angin, kenapa tidak?
Tapi aku tidak akan pernah terima, kalau caraku ini adalah cara para pecundang.

SUARA DI LUAR
Kau hanya berusaha untuk menghibur diri sendiri, itulah falsafah orang-orang kalah.
Kami juga beranggapan, jangan-jangan kau bersenggama dengan dirimu sendiri

MUKAR
Benar, ada saatnya kita memang harus bersenggama dengan diri sendiri. Benar yang selalu tak akan pernah salah kawan!
Dan aku selalu sadar dengan keberadaanku, di antara kamu, kita, kami, mereka, kalian dan dunia yang hampir letih ini, letih dengan pembicaraan yang tak begitu penting, wacana yang selalu berputar-putar, masalah-masalah yang tak terselesaikan.

SUARA DI LUAR
Waw… semangat anak muda yang terlalu kehilangan kendali.
Mengoceh sendiri seperti tahu sepenuhnya tentang semua hal, padahal hanya paham sebagian saja.

MUKAR
Hilang kendali?
Ini bukan masalah tentang apa yang selalu kita pikirkan kawan!
Tapi bagaimana cara kita berpikir.
Kuharap kalian mengerti.
Kalian hanya sesuara tanpa bentuk, yang hanya bermain di luar. Melihat dan hanya menilai dari jauh, seakan kalian hakim yang tak pernah salah, dan semaunya bertindak. Tindakan yang egois sekali, pecundang yang sebenar-benar pecundang.

SUARA DI LUAR
Itu kau
Itu kau
Itu kau

MUKAR
Tidak!

MUKAR DAN SUARA DI LUAR BERTENGKAR DENGAN “YA” ATAU “TIDAK”NYA...



ADEGAN II

Kita semua tahu, jalan hidup kita seperti apa. Lahir, nang ning nong kemudian mati. Tapi sangat sedikit sekali sebagian dari kita benar-benar sadar dengan kehadiran kita.
Kehadiran yang merasa benar-benar hidup. Meskipun aku sendiri bingung, kenapa aku harus terlahir sebagai Mukar, bukannya Peter atau Smith atau bahkan Moreles. Ataunya lagi terlahir sebagai Susi, Tini, atau Lestari dan Ratna. Yah, memang di luar kesadaran dan kendali
“sebenarnya hanya ada satu masalah kebijaksanaan (baca filsafat) yang benar-benar serius, yaitu bunuh diri. Menilai bahwa hidup ini layak atau tidak layak untuk dijalani: itulah menjawab pertanyaan kebijaksanaan.” (Albert Camus, The Myte of Sisyphus: 1955)

DIA MENGELUARKAN TALI DARI LACI MEJA, DAN MEMPERHATIKAN DENGAN SEKSAMA…
KEMUDIAN MENGELUARKAN PISAU

Jika kedua benda ini digunakan untuk bunuh diri, mana yang lebih cepat untuk membunuh?
Tali mungkin hanya untuk menghentikan nafas di leher, pisau mengucurkan darah dari nadi. Tapi jika digunakan alat ini secara bersamaan, tali untuk menggantung dan pisau untuk memutuskan nadi. Aaah, tatap tak bisa, mesti satu-satu kelihatannya.
Tapi…
Tunggu dulu, kenapa aku harus bunuh diri? Alasannya apa?
Apakah hanya dengan bunuh diri aku harus mati, atau aku hanya menelan mentah-mentah tentang menjawab pertanyaan kebijaksanaan tadi. Kebijaksanaan seperti apa? Atau mungkin bunuh diri yang dimaksud bukan secara fisik. Ya, bukan secara fisik!
Mungkin aku mesti mati berkali-kali untuk mendapatkan dan menemukan diriku yang baru, secara wujud mungkin tidak, tapi bisa saja secara emosional dan jiwa yang baru.

IA BERGERAK KE ARAH CERMIN, MEMPERHATIKAN DIRINYA SANGAT DETIL
Siapa kamu? Ya, aku bertanya kepadamu. Tidak ada seorang pun yang berada di sini kecuali aku dan kamu. Berarti kita. Kamu tahu unsur pembentuk kita?
Aku
Kamu
Mejadi KITA, apa yang kamu rasakan? Ayolah, berpikir untuk barang sejenak. Kita harus cepat. Ya, seperti itu lebih baik. Seperti apa? Semoga kita satu pemikiran.

DIA MENEGENDAP-ENDAP SEOLAH DAPAT MENDENGAR BISIKAN BAYANG-BAYANGNYA SENDIRI

Benar. Ada relasi di sana, antara aku dan kamu. Yang memang tak kelihatan, tapi akan sangat terasa sayang. Mau kau kuajak bermain-main? Tak usah kau pikirkan, maksudku kau tak perlu merisau keterperangkapanmu yang abadi di dalam sana. Kau bisa menguntitku dari belakang, samping kiri-kanan, tapi kau tak kubiarkan di depan. Karena aku selalu berposisi di depan. Ini tergantung pencahayaan yang tak menembus fisikku, maka di sana lah keberadaanmu.
Ah, tapi sudah kubilang tadi, kau dan aku adalah kebersamaan dan keserbawajaran. Kau ada karena keberadaanku, penjelasan selanjutnya kau juga tahu. Apa kau mulai bosan dengan kondisi ini?

DIA LALU MEMECAHKAN CERMIN TERSEBUT, DAN MERASA PUAS
(DIAM)
SERASA ADA PENYESALAN, AKHIRNYA MENANGIS
(DIAM)
DAN TERTAWA…

Sedang apa aku sekarang?
Di mana?
Dan aku tak akan pernah peduli lagi dengan kau, kalian, mereka semua. Aku tak tunduk pada benda-benda yang menghasilkan bayang-bayang. Yang ada hanya ada kita dan semua ide. Dunia dan kebermaknaan dari ini semua, semua adalah ilusi. Delusi untuk diriku sendiri. Aku ingin melampaui diriku sendiri, aku tak pernah mengenakkan tubuh ini atas nama yang lain, yang ada hanya aku.
Baiklah, aku Mukar. Diberi nama itu sejak lahir, nama begitu penting aku rasa. Sepenting ikan air tawar di sungai, sepenting ikan asin di laut. Bagaimana kalau kita melihat seorang pria di bawah pohon. Apakah kita menamakannya seorang pria di bawah pohon. Atau si pengembala dengan kerbaunya. Atau gadis kecil dengan senyum manisnya dengan geligi putih bagai biji timun. Atau ibu tua yang menggendong anaknya yang korengan, atau manusia dengan kebodohannya sampai ke tulang..atau..atau..atau,
Apakah A itu memang benar-benar A adanya? Bisa saja A melebur menjadi B. dan B tidak selalu B. Kenapa kita menamakan ini jam? (DIA MENUNJUK KE ARAH JAM DINDING), kenapa tidak kita namakan benda bundar dengan jarum-jarum yang selalu menghantui kita, mengintai seperti malaikat maut. Waktu, ya waktu!!!
Kalau saja waktu itu anak tetangga tak singgah depan halaman saat senja-senja basi, yang menumpahkan kopi temanku duduk. Tak akan jadi begini!
Dia harus bertanggung jawab, dia harus menarik kembali pertanyaan-pertanyaan sulit itu. Pertanyaan yang selalu menghantui.
Tapi itu bukan sebuah kebetulan, ini memang harus benar-benar terjadi. Sampai mampus aku jadinya. Persetan dengan ini semua!

DIA MENGERANG…
LALU DIA MENARI-NARI DI ATAS MEJA, BERHENTI SEJENAK UNTUK MENGHIDUPKAN ROKOKNYA

Itulah, aku mengerti sekarang.
Betul,sebuah pengakuan, ya, kita harus punya identitas.


ADEGAN III


SUARA DI LUAR
Sudahlah Mukar

MUKAR
Kalian lagi (DENGAN SENYUM TERSUNGGING)

SUARA DI LUAR
Apa yang kau temukan?

MUKAR
Tak ada urusan dengan kalian

SUARA DI LUAR
Benar, karena kau telah lari dari kenyataan. Kalau kita memang begini adanya

MUKAR
Pernyataan yang abstraktif.
Ayo, siapa yang lebih pecundang? Lebih jelas sekarang

SUARA DI LUAR
Kau terlalu letih, hiburlah diri dengan yang nyata. Bermain-main di pantai sepenyudahan siang, maka pikiranmu bakal jernih.

MUKAR
Biar kukasih tahu yah, hei begundal!
Kita mesti merasa dan benar-benar menikmati keterasingan, dicampakkan, kesendirian, diacuhkan, keletihan yang tak habis-habis, menderita paling menderita, tertawa sampai paling bahak sampai kau lupa sedang di mana; merah jambu, biru, hitam yang dominan, jingga pucat. Di sana kita mungkin akan mengalami keseriusan dan kebermaknaan. Begitulah caraku bercinta, bunuh diri dengan kesiapannya, mati di atas kebahagian, dan akan kembali benar-benar hidup dengan nafas yang berapi-api siap menjilat apapun di depanmu, kawan!

SUARA DI LUAR
Anak muda banyak bacot, anyir dan bau kencur!

MUKAR
Ini bukan masalah umur, biar kuberi pengertian. Ide kalian lemah!
Kalian tak sanggup berpikir, keberadaan kalian hampa.

SUARA DI LUAR
(TERTAWA YANG SANGAT MENAKUTKAN)

MUKAR
(MELIHAT JAM)
Benar, mungkin aku terlalu lelah akhir-akhir ini. (BERUCAP DENGAN LIRIH)


LAMPU PADAM
PEMENTASAN USAI

PADANG, NOVEMBER 2011