Minggu, 08 Agustus 2010

KORUPTOR BUDIMAN


Naskah Monolog
KORUPTOR BUDIMAN

SEORANG koruptor kakap mendadak muncul di kantor peradilan. Ia menyerahkan diri minta ditangkap. Beberapa petugas jaga – yang sebagian lagi ngobrol sambil nonton telenovela di televisi, dan sebagian lagi asyik main domino – langsung tergeragap kaget.
‘’Tolong tangkap saya,’’ koruptor ternama itu kembali bicara sambil mengulurkan kedua tangannya seolah-olah minta diborgol. Para petugas jadi langsung gemeteran. Apa tidak salah? ‘’Saya ingin jadi koruptor yang baik dan benar,’’ kata koruptor itu, sambil memandangi para petugas yang terheran-heran - juga agak ketakutan.
Tentu saja peristiwa itu langsung jadi berita besar. Puluhan wartawan segera mengerubungi sang koruptor. Dan koruptor itu pun langsung memberikan pernyataan-pernyataannya.
‘’Saya ingin memberi contoh kepada rekan-rekan koruptor lain, tak baik melarikan diri. Lebih baik duduk tenang di pengadilan. Kalau pingin sembunyi, bukankah persembunyian paling aman bagi koruptor justru ada di pengadilan. Kita nggak bakalan diperlakukan macam maling ayam. Paling ditanyai sedikit-sedikit basa-basi minta bagian hasil korupsi. Tak ada ruginya kalau kita berbagai rezeki sama hakim jaksa polisi. Anggap saja zakat buat mereka. Toh itu juga bukan uang kita.’’
Sejenak ia tersenyum, ketika kamera meng-close up wajahnya.
‘’Makanya saya di sini, minta diadili. Saya tak hendak membantah. Itu urusan para pengacara saya, karena untuk itulah mereka dibayar: membuat saya kelihatan tak bersalah.’’
‘’Jadi bapak tidak akan membantah kalau Bapak koruptor kakap?’’ cecar wartawan.
“Saya hanya ingin meluruskan anggapan keliru, yang menyatakan koruptor macam saya tak lebih benalu bangsa tak berguna. Koruptor macam saya jelas aset bangsa. Kamilah yang menggerakkan roda perekonomian. Dengan korupsi uang jadi terdistribusi. Terjadi pemerataan. Seperti pembangunan, korupsi juga terjadi di segala bidang. Kami tak pernah menikmati buat sendiri. Kami ikut nyumbang pembangunan rumah ibadah, menyantuni anak yatim, membantu korban bencana, menyokong olahraga, iuran tujuhbelasan. Banyak. Karena sebagai koruptor yang baik, kami tahu cara mengelabui. Dengan berbuat baik, kami menjadi dihormati. Duduk di depan bila ada hajatan, dan diminta bicara di pengajian.’’
‘’Bagaimana dengan para mahasiswa yang terus berdemonstrasi menuntut semua koruptor dipenjarakan, Pak?’’
‘’Naif, bila para mahasiswa terus menuntut koruptor di penjara. Nanti malah repot mesti bikin buuanyak penjara. Karena 70% warga republik ini pasti akan masuk penjara. Tidaklah itu hanya akan menghabiskan Anggaran Belanja Negara? Percayalah, biaya memenjarakan koruptor jauh lebih tinggi ketimbang dana subsidi BBM yang dialokasikan buat mengatasi kemiskinan. Jadi, memenjarakan koruptor itu justru kontraproduktif bagi keuangan negara. Daripada uang dihambur-hamburkan membangun penjara, lebih baik uang itu kami korupsi lalu kami bagi-bagikan secara adil dan merata.”
Ia tersenyum, begitu yakin.
‘’Itu namanya korupsi yang adil dan beradab, sesuai Pancasila. Atau biar terdengar lebih trendy: itulah prinsip demokrasi dalam korupsi. Sesuai trias politica, dalam demokrasi mesti ada distribusi kekuasaan yang sama antara eksekutif-legislatif-judikatif. Korupsi yang demokratis pun begitu: eksekutif-legislatif-judikatif dapat kesempatan dan keuntungan yang sama. Korupsi ibarat lokomotif demokrasi yang membawa gerbong-gerbong keuntungan dan semua orang berebut ingin naik menikmati.
Karna itulah, memberantas korupsi sama saja menggulingkan gerbong-gerbong demokrasi. Itu berbahaya. Bisa menimbulkan keonaran para demonstran bayaran. Sebagai koruptor yang baik, tentu saja saya tak ingin itu terjadi. Saya koruptor cinta damai.’’
Para wartawan jadi ramai. Terus mendesak dan berebut ingin maju. Beberapa aparat segera tanggap, dan memberi ruang agar koruptor itu tidak terlalu terdesak. Tapi para wartawan terus saling dorong. Suasana kian ramai ketika serombongan demonstran muncul dan mulai berteriak-teriak menghujat. Tapi Koruptor yang kini dikawal beberapa aparat itu tetap tenang, tersenyum ke arah para demonstran.
“Tolong…, jangan terlalu pojokkan kami. Kalau soal unjuk kekuatan, kami juga bisa menggalang aksi besar-besaran. Pikirkan, bila seluruh koruptor di negeri ini menggelar aksi mogok — 1 hari saja! Dari kantor kelurahan sampai Istana Negara, pasti mendadak sepi. Pelayanan publik terhenti. Birokrasi macet. Pabrik-pabrik tak berproduksi. Semua departemen kosong. Jangankan ngurus surat atau bikin KTP, WC Umum saja mungkin nggak ada yang ngurusi. Karena semua koruptor mogok, seperti Lakon Lysistrata ketika seluruh perempuan memboikot laki-laki. Kalian akan pusing sendiri. Kalian akan melihat betapa berkuasanya kami. Kami ada di tiap sendi negeri ini. Bagaimana cara kalian membasmi? Kalian seperti mengamputasi tubuh sendiri.’’
Kata-kata itu bagai sihir yang mampu merenung semua yang hadir hingga terdiam.
‘’Karena itu, marilah kita hidup rukun berdampingan dengan damai. Yang koruptor dan nggak koruptor, apa sih bedanya? Emha Ainun Nadjib bilang, kesalahan hanyalah kebenaran yang tertunda. Maka yang nggak korupsi pun hanya soal kesempatan yang tertunda. Koruptor atau bukan, menyitir si jalang Chairil Anwar, semua akan dapat tempat, semua akan dapat giliran.
Karena dari pada itu, marilah kita mulai belajar menerima kenyataan, betapa korupsi memang sudah menjadi suatu yang menyenangkan di republik ini. Anggap saja koruptor itu sebagai bagian dari perekonomian kita: sudah numpuk utangnya, eh banyak pula koruptornya. Atau ini ibarat kita masuk lokalisasi. Sudah bayar, terkena rajasinga pula!’’
Terlihat koruptor itu berdiri gagah, terlihat yakin dan mantap.
‘’Saya tidak malu mengakui kalau diri saya memang koruptor. Saya malah bangga bisa mengaku begitu. Seperti terlepas beban saya. Sekarang saya jadi bisa lebih rileks. Saya siap dihukum dengan cara sebenar-benarnya…’’
Seluruh negeri geger. Sebagian besar orang mencacimaki koruptor itu. Demonstrasi menentangnya digelar. Tapi banyak juga yang memuja pikiran dan kejujurannya. Walhasil, nama koruptor itu pun makin melambung, makin popular. Para pakar memandang sinis, karena koruptor itu dianggap cari sensasi murahan.
‘’Saya tak cari sensasi dengan semua ini,’’ katanya saat jadi narasumber talk show di stasiun televisi. ‘“Saya justru ingin memberikan tauladan, bahwa koruptor pun bisa menjadi seorang yang budiman. Kalau pun maling, dia maling yang budiman. Seperti Robin Hood. Atau jadi Zoro, kalau sebagai koruptor kita kian peduli pada wong cilik. Karena siapa lagi yang akan memperhatikan wong cilik? Sebab partai-partai politik tak pernah mikirin nasib wong cilik yang terus-menerus terpuruk dalam kemiskinan. Karena itulah, wahai para koruptor yang beriman, marilah kita tingkatkan amal dan taqwa kita dengan membantu negeri ini, supaya makin terbenam dalam keterpurukan dan kemiskinan lahir batin. Negeri ini tak bisa diselamatkan, kecuali dengan mempercepat proses pembusukan. Koruptor macam kita mesti mendukung proses itu. Bila tidak, negeri ini akan terus nggak jelas seperti ini. Ini negeri seolah-olah, seperti dikatakan Parakitri T Simbolon. Semuanya jadi serba seolah-olah dan seakan-akan. Seolah-olah demokratis. Seolah-olah negeri hukum. Seolah-olah agamawan. Seolah-olah intelektual. Seakan-akan menteri, padahal pengusaha. Seakan-akan penyair, padahal setengah pengangguran. Tak heran, seorang yang sudah resmi menyandang predikat koruptor pun, masih bisa berpenampilan tenang penuh senyum mirip rohaniawan seperti saya.’’
‘’Anda terlalu melebih-lebihkan,’’ potong moderator acara talk show itu dengan nada marah. ‘’Anda juga seolah-olah menempatkan koruptor sebagai sesuatu yang penting!’’.
Dengan kalem koruptor itu menjawab. ‘’Marilah, mulai saat ini kita lebih menghargai koruptor sebagai pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa tapi banyak harta yang berjasa mempercepat proses pembusukan seluruh sampah negeri ini. Anggap saja ini proses evolusi untuk menghasilkan pembuahan: munculnya tunas-tunas koruptor yang lebih bertanggungjawab terhadap nasib bangsanya.’’
‘’Jadi dengan menyerahkan diri, Anda merasa sudah bertanggungjawab, begitu?’’
‘’Terus terang, sebenarnya saya capek jadi buronan. Itu merendahkan martabat saya. Seolah-olah saya ini penjahat sekelas Patroli atau Buser. Makanya, lebih baik saya istirahat nyaman di penjara, ketemu koruptor kolega-kolega saya lainnya. Kan lebih enak begitu. Rukun, saling berbagai pengalaman. Kumpul bareng. Korupsi tidak korupsi asal kumpul. Kalau semua rukun kan enak. Lihat, saya masih tetap sehat, cuma kelihatan tambah kurang waras. Hanya saja, kadang saya tetap heran dengan para aparat kita. Kenapa masih sungkan-sungkan menangkap koruptor kakap macam saya? Ketika saya datang, mereka malah sembunyi. Barangkali para aparat hukum itu memang benar-benar percaya, bahwa koruptor seperti saya ini memang asset bangsa yang mesti dilindungi. Hingga, meskipun koruptor seperti saya sudah berada di dalam penjara, masih saja terus diberi keleluasaan untuk secara sistemik melakukan korupsi dengan baik dan benar, serta secara murni dan konsekuen…”


SELESAI

Catatan: tulisan ini pernah muncul di Kompas, 27 Januari 2006. Sebuah teks awal, yang seyogyanya akan saya kembangkan menjadi monolog, tetapi lumayan terbengkalai. Rasanya, saya akan menjadikannya sebagai “proyek kreatif” saya di tahun depan (2009). Akan menyenangkan bila saya mendapat masukan-masukan – mungkin data, mungkin contoh kasus dan pola korupsi, mungkin pertukaran pikiran atau apa saja – yang bisa memperkaya ide dan waswasan saya untuk menulis monolog bertema korupsi itu. Mungkin ada lembaga atau institusi anti korupsi yang ingin menaja saya untuk mewujudkan monolog ini? Mungkin itu bisa menjadi bagian dari gerakan kita memerangi korupsi. Ini ajakan, sekaligus pengakuan: betapa seorang penulis selalu membutuhkan aspirasi dari lingkungannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar