Minggu, 08 Agustus 2010

S A R I M I N - Karya Agus Noor


Sebuah Monolog

S A R I M I N

Karya Agus Noor

1.

Tampak panggung pertunjukan, mengingatkan pada pentas kampung…

Para pemusik muncul, nyante, seakan-akan mereka hendak melakukan persiapan. Ada yang mumcul masih membawa minuman. Ngobrol dengan sesama pemusik. Kemudian mengecek peralatan musik. Mencoba menabuhnya. Suasana seperti persiapan pentas. Tak terlihat batas awal pertunjukan.

pemusik-opening.jpg

Sesekali pemusik menyampaikan pengumunan soal-soal yang sepele: Memanggil penonton yang ditunggu saudaranya di luar gedung, karena anaknya mau melahirkan; menyuruh pemilik kendaraan untuk memindahkan parkir mobilnya, atau mengumumkan bahwa Presiden tidak bisa datang menyaksikan pertunjukan malam ini karena memang tidak diundang; pengumuman-pengumuman yang remeh-remeh dan bergaya jenaka… Atau menyapa penonton yang dikenalnya, bercanda, say hello, sembari sesekali menyetem peralatannya.

Kemudian mereka menyanyikan lagu tetabuhan, yang mengingatkan pada musik topeng monyet. Para pemusik bernyanyi dan berceloteh jenaka. Sementara ruang pertunjukan masih terang. Tertengar lagu tetabuhan yang riang…

Lalu muncullah aktor pemeran monolog ini atau Tukang Cerita. Terlihat jenaka menari-nari mengikuti irama. Hingga musik tetabuhan berhenti, dan Tukang Cerita mulai menyapa penonton dengan penuh semangat bak rocker,

TUKANG CERITA:
Selamat malam semuanya! Yeah!…

Wah, gayanya seperti rocker, tapi nafasnya megap-megap. Rocker tuek…

Senang sekali saya bisa ketemu Saudara semua. Ini kesempatan langka, bertemu dalam peristiwa budaya. Anda mau datang nonton pertunjukan ini saja sudah berarti menghargai peristiwa budaya, ya kan?! Hanya orang-orang yang berbudaya yang mau nonton peristiwa budaya. Jadi, bersyukurlah, kalau malam ini Anda merasa ge-er sebagai orang yang berbudaya. Soalnya, di negeri ini, manusia yang masuk dalam kategori manusia berbudaya itu lumayan tidak banyak. Jadi manusia berbudaya itu agak sama dengan badak bercula. Sama-sama langka.

tukang-cerita-bag-awal.jpg

Nah, salah satu ciri penonton berbudaya itu kalau nonton pertunjukan, selalu mematikan handphone. Ayo sekarang, silakan men-non atifkan-kan HP Anda, sambil berimajinasi seakan-akan Anda itu Presiden yang sedang men-non aktif-kan menteri Anda. Atau kalau selama ini Saudara punya bakat dan naluri membunuh, silakan diekspresikan bakat membunuh Saudara dengan cara membunuh handphone masing-masing.

Nanti, selama pertunjukan, juga dilarang memotret pakai lampu kilat. Nanti ndak jantung saya kaget. Di dalam gedung ini juga dilarang makan, minum atau merokok…. kecuali pemainnya.

Malam ini, saya akan bercerita tentang Sarimin. Perlu Anda ketahui, nama Sarimin ini bukanlah nama asli. Tapi nama paraban. Nama panggilan. Nama aslinya sendiri sebenarnya cukup keren: Butet Kartaredjasa..1 Mungkin nama ini kurang membawa berkah. Meski pun ada juga lho orang yang memakai nama Butet Kartaredjasa, lah kok nasibnya malah mujur: tersesat jadi Raja Monolog. Atau istilah yang lebih populisnya: pengecer jasa cangkem.

Nah, dia dipanggil Sarimin, karena berprofesi sebagai tukang topeng monyet keliling. Agak aneh juga sebenarnya, kenapa nama Sarimin itu identik dengan topeng menyet. Begitu mendengar nama Sarimin, langsung ingatan kita… tuinggg… melayang ke topeng monyet.

Memang sih ada nama-nama yang identik dengan sesuatu. Yah, misalnya sepertu nama Pleki. Begitu mendengar nama Pleki, kita pasti langsung teringat pada… (sambil menunjuk ke arah pemusik).. anjing kampung. Atau nama Munir, misalnya. Nama munir selalu mengingatkan kita pada aktivis hak asasi yang mendapat berkah diracuni arsenik. Memang kebangeten kok yang ngracun itu, kok ya ndak merasa bersalah… Kita juga kenal Baharudin Lopa, yang identik dengan sosok yang jujur dalam hukum. Nama Gesang… identik dengan Bengawan Solo. Suharto… yang identik selalu mendadak sakit kalau dipanggil pengadilan. Atau Sumanto… Begitu mendengar nama Sumanto, kita langsung teringat…

Celetukan pemusik: “Kanibalisme…”

TUKANG CERITA:
Itu terlalu keren… Bukan kanibalisme, tapi ciak kempol! Atau yang sekarang lagi popular: Bondan Winarno… Begitu mendengar nama Bondan Winarno, langung ingat wisata kuliner… mak yuss…

Musik memberi tekanan dan membangun suasana…

TUKANG CERITA:
Sebagai tukang topeng monyet keliling, Sarimin lumanyan konsisten menekuni kariernya. Lebih kurang 47 tahun dia jadi tukang topeng monyet. Sekarang dia sudah berumur 54 tahun. Jadi kalau dihitung-hitung, dia sudah menjadi tukang topeng monyet sejak umur 7 tahun. Ini profesi yang diwarisi Sarimin dari Bapaknya yang sudah almarhum.

Mungkin Saudara pernah bertemu Sarimin. Atau pernah melihat Sarimin melintas di jalanan yang macet. Kemacetan yang sepertinya sengaja diselenggarakan oleh Gubernurnya.

Atau mungkin suatu hari Anda pernah secara sengaja berpapasan dengan Sarimin. Mungkin malah Anda sempat ngobrol sebentar berbasa-basi denganya… Tapi Anda tak lagi mengingatnya. Tampang dan nasib Sarimin memang membuat orang malas mengingatnya. Saking leceknya. Bajunya…

Tukang Cerita itu mengambil baju dari kotak pikulan topeng monyet yang ada di dekatnya. tukang-cer-jadi-sarimin.jpgDan mulai di sini, pelan-pelan, Tukang Cerita itu mengubah dirinya menjadi tokoh Sarimin. Sambil terus bicara ia mengganti baju Tukang Cerita dengan pakaian Sarimin…

TUKANG CERITA:
Lihat saja bajunya… Setahun sekali kena sabun saja sudah lumayan… (Kepada para pemusik) Coba cium…, baunya… hmmm, mak brengg… Belum lagi celananya…Coba lihat… (sambil memakai celana itu). Selalu cingkrang…. Tapi ini cingkrang yang tidak menakutkan lho ya… Karena meski celananya cingkrang, tidak jenggotan.. Tidak suka merusak kafe-kafe atau tempat hiburan malam…

Sembari terus berubah menjadi Sarimin, menempelkan bermacam “asesoris” penyakit kulit di tubuhnya…

TUKANG CERITA:
Tubuh Sarimin juga full asesoris… Penuh tato emping, alias panu. Dia juga punya bisul yang nggak sembuh-sembuh. Ada kutil di lehernya… Kurap ada. Kadas, kudis, jerawat, koreng, kutu air…. Pokoknya segala macam jenis penyakit kulit tersedia lengkap di badannya.

Dengan segala macam anugerah penyakit yang dimilikinya itu, sudah barang tentu Sarimin bukanlah sosok yang menarik untuk Anda ingat. Sarimin bukanlah orang yang cocok untuk dijadikan monument ingatan. Makanya, saya pun akan maklum, apabila setelah menyaksikan pertunjukan ini Anda pun tetap tak akan mengingat Sarimin… Sekarang ini, yang paling sulit memang mengingat. Karena kita sudah terlalu l ama dididik keadaan untuk gampang lupa!

Musik menghentak, memberi tekanan perubahan suasana dan karakter. Kini aktor itu sudah sepenuhnya berperan menjadi Sarimin. Sementara musik tetabuhan topeng monyet berbunyi,sarimin-jalan2.jpg Sarimin mulai mengambil peralatan topeng monyetnya, kemudian mulai berjalan memikul peralatan topeng monyetnya, seolah mulai berjalan keliling menyusuri jalanan… Suasana makin meriah dengan teriakan suitan para pemusik yang mencelotehi tingkah Sarimin…
Sampai kemudin Sarimin mendadak berhenti, memandang ke bawah, ke dekat kakinya. Seperti ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Segera Sarimin memungut sesuatu yang tergeletak di pinggir jalan itu. Sebuah KTP. Sarimin dengan ragu-ragu memungut KTP itu. Memeganginya, memandanginya…

Pada saat inilah, lampu di bagian penonton meredup dan menggelap. Dan cahaya di panggung mulai mengarah pada Sarimin yang memegangi dan mengamati KTP yang ditemukannya itu: bergaya membaca nama di KTP itu, padahal ia tak bisa membaca… Baru kemudian ia menunjukkan KTP yang ditemukannya itu kepada para pemusik…

SARIMIN:
Ini KTP siapa, ya? Ada yang merasa kehilangan KTP tidak? Coba cek dulu mungkin dompet sampeyan jatuh.. Atau kecopetan… Gimana, ada yang merasa kehilangan KTP?

Para pemusik berceloteh menangapi, merasa tak kehilangan dompet atau KTP. Lalu Sarimin mencoba bertanya kepada para penonton…

SARIMIN:
Maaf, Bu… Pak… Ada yang merasa kehilangan KTP ndak ya? Ini tadi saya nemu…. Nanti kalau sampeyan ndak ada KTP kena razia Operasi Justisia lho… Bisa-bisa dianggap penduduk gelap… Ini KTP sampeyan bukan?

Celoteh Pemusik: “Mas, tanyanya yang sopan… yang halus…”

Lalu Sarimin pun bersikap sopan yang dilebih-lebihkan, bertanya pada para penonton sekali lagi,

SARIMIN:
Maaf, Bapak-bapak… Ibu-ibu… Apakah dari pada Bapak Ibu ada yang merasa kehilangan dari pada KTP? Tidak? Bener, dari pada Bapak Ibu ndak ada yang merasa kehilangan KTP?

Seorang Pemusik menyuruh Sarimin untuk membacakan nama di KTP itu, “Kamu kan bisa baca, di situ ada namanya…, nanti kan tahu itu KTP siapa?!”

Sarimin bergaya membaca tulisan di KTP itu, tetapi hanya bibirnya yang komat-kamit…

SARIMIN:
Eee, anu, mata saya ini rada aneh kok… Kalau buat mbaca langsung mendadak rabun… Lha ini, tulisannya mendadak ndak jelas… Gini ajah, gimana kalau sampeyan yang bacain…

Para Pemusik meledek Sarimin: “Allahh.., bilang saja nggak bisa baca. Nggak bisa baca ajah kok nggaya!”

SARIMIN:
Lho, siapa yang nggaya? Siapa yang ndak bisa baca? Mbok jangan menghina begitu. Sukanya kok ya menyepelekan. Jangan meledek orang yang ndak bisa baca… Banyak juga kok orang yang tidak bisa baca tapi ya sukses… Malah ada orang ndak bisa baca tapi jadi pemimpin…

Celoteh Pemusik: “Lho emangnya ada pemimpin yang nggak bisa baca?”

SARIMIN:
Ya ada… Gini saja kok ya ndak tahu…

Celoteh Pemusik: “Coba sebutkan, siapa?”

SARIMIN:
Pokoknya ada… Ndak usah saya sebutkan…

Celoteh Pemusik: “Bilang saja takut…. Hayo, coba sebutkan, siapa?”

Sarimin tampak bingung, terpojok karena terus didesak, mencoba menutupi ketakutannya. Celoteh Pemusik, terus mendesak: “Ayo, coba sebutkan kalau berani…”

SARIMIN:
(Melihat-lihat ke arah penonton, masih ketakutan dan hati-hati) Ada Pasukan Berani Mati yang nonton ndak ya… (Sarimin tampak nggak berani menyebut)… Ya, pokoknya ada!

Celoteh Pemusik, terus mendesak: “Iya, siapa? Sebutkan!”

SARIMIN:
(Berpikir sejenak, lalu menjawab) Prabu Destarata… Itu, pemimpin Hastina! Dia kan tidak bisa baca… Kalian mau memancing saya kan, biar saya menjawab Gus Dur… Ya ndak mungkinlah saya berani menyebut Gus Dur… Boleh kan pemain teater juga takut. Nanti kalau ada apa-apa ya kalian paling cuman bisa nyukurin… Bikin slametan begitu saya dipenjara…

Sarimin kembali menimang-nimang dan memandangi KTP itu.

sarimin-nemu-ktp2.jpg

SARIMIN:
Bener, ini bukan KTP sampeyan?… (Bingung menimbang-nimbang KTP itu) Ya, sudah, nanti sekalian saya pulang, saya tak mapir ke Kantor Pulisi… Dari pada repot, kan mendingan KTP ini dititipkan ke Pak Pulisi… Ya ndak? Nanti biar Pak Pulisi yang nganter ke pemiliknya…

Dan Sarimin pun kembali memikul kotak topeng monyetnya. Musik tetabuhan mengiringi perjalanan sarimin. “Sarimin pergi ke Kantor Pulisi…” teriak para pemusik riang bagai pertunjukan topeng monyet.

Tampak Sarimin berjalan menuju kantor pulisi.

Musik terus mengiringi perjalannan Sarimin. Pada saat inilah, aktor juga mulai menata setting untuk perpindahan adegan. Menggeser beberapa dekorasi hingga terjadi pergantian ruang…

2.

Ahhirnya, Sarimin pun sampai di Kantor Pulisi. Ia tampak kelelahan dan capai setelah berjalan jauh. Sarimin memperhatikan Kantor Pulisi itu, tanpak sepi. Tak ada Petugas Jaga. Ia sejenak clingukan, agak ragu memasuki halaman Kantor Pulisi itu. Ia berjalan pelan dan sopan mendekat…

SARIMIN :
Permisi, Pak Pulisi….Asalamualaikum, Pak Pulisi…

Mendadak nongol sosok Pulisi, yang langsung sibuk mengetik begitu mengetahui kedatangan Sarimin. Maka Pulisi itu pun tampak terus sibuk mengetik…

sarimin-ketemu-polisi.jpg

SARIMIN:
Wah…, Pak Pulisinya ternyata lagi sibuk… Sibuk kok ya mendadak ya…

Pulisi itu terus mengetik, mengabaikan Sarimin.

SARIMIN:
Ya sudah…, biar saya tunggu saja…(Lalu menjauhi Pulisi itu, sementara suara mesin ketik terus terdengar, membangun suasana) Yah, lumayan…, sambil nunggu bisa numpang istirahat… (Sembari memijit-mijit kakinya yang terasa pegal-pegal atau sesekali meregangkan badan atau mengeluk pinggangnya) Lagi pula saya juga lagi males keliling… Udah dari pagi keluar masuk kampung, tapi nggak ada yang nanggap. Capek juga kan seharian keliling tapi ndak dapet duit…

Sarimin mengeluarkan sebiji pisang dan mengupasnya. Kemudian terdengar suara monyet, yang nangkring di kotak topeng monyet itu. Monyet itu merajuk minta pisang yang dimakan Sarimin itu…

SARIMIN:
(Bicara pada monyet itu) Apa? Pingin?… Iya, iya…, nanti saya bagi…

Sarimin mengambil monyetnya dengan penuh perhatian, memangku monyet itu…

SARIMIN:
(Sambil mengelus-elus monyetnya, bicara kepada penonton) Oh ya, kalian belum kenal toh sama monyet saya ini… Lah ya ini yang namanya Sarimin… Kalau saya dipanggil Sarimin ya cuman karna kena efeknya saja… Itu disebut The Sarimin Effect…

Monyet saya ini bukan monyet sembarangan lho… Kalau ditelusuri garis keturunannya, dia itu keturunan monyetnya Si Badra Mandrawata…

Para pemusik heran: “Siapa itu?”

SARIMIN:
Si Buta dari Gua Hantu…

Suara monyet itu terdengar senang, seperti meloncat-loncat. Sarimin mulai menyuapi monyet itu dengan pisangnya.
sarimin-nyante-di-kanpol.jpg
SARIMIN:
Nih, kamu separo…

Tampak pisang yang dibaginya itu lebih kecil. Monyetnya tampak senang. Tetapi, begitu mau menyuapkan pisang itu ke monyetnya, pisang itu malah dimakan Sarimin sendiri. Hingga monyet itu berterak-teriak. Tapi Sarimin terus mengunyah pisang itu buat dirinya sendiri…

Melihat itu, Para Pemusik pun berkomentar: “Was, Mase ini, sama monyetnya sendiri kok pelit! Medit!”… “Sudah persis kayak monyet lho Mase ini kalau makan pisang gitu!”…”Ngirit, ya Mas?”

SARIMIN:
Kalian itu jangan salah faham. Ini bukan ngirit! Saya makan pisang begini ini karna saya lagi nglakoni ngelmu munyuk!

Tahu ngelmu munyuk, ndak? Ngelmu munyuk itu ya ilmu kebajikan yang bersumber dari munyuk. Ada kitabnya! Namanya Kitab Bantur Jambul Tangkur Munyuk.

Sarimin segera mengambil sebuah buku tua dari kotak topeng monyetnya…

SARIMIN:
Nah ini kitabnya… Ilmu soal permonyetan ada di sini semua. Kenapa manusia disebut keturunan monyet, ada penjelasannya di sini. Juga soal Jaman Monyet… Nih… (membaca halman kitab itu) hamenangi jaman monyet. Sing ora dadi monyet ora keduman. Sak begja-begjane wong sing dadi monyet, isih luwih begja wong sing koyo monyet nanging kuoso…

Seorang Pemusik memotong: “Lho, kok mendadak situ bisa baca? Tadi katanya nggak bisa baca. Nggak konsisten!”

SARIMIN:
Ini aksara Jawa. Honocoroko. Kalau huruf Jawa saya bisa baca…

Gimana, mau tahu soal ngelmu munyuk, ndak?… Lihat nih, halaman 79… (membaca) Living English Structure… Lho, kok malah bahasa Inggris. Maaf, maklum saya belinya di loakan. Ini buku bajakan, jadi halamannya kecampur-campur. Nah, ini… halaman 67… Di sini dijelaskan, kenapa monyet suka pisang… Ini ada filosofinya. Ada maknanya.

Pisang itu buah yang murah. Artinya kita harus pemurah. Mau berbagi. Maksudnya, hidup kita itu seyogyanya ya seperti pohon pisang. Anda tahu kan pohon pisang? Setiap bagian dari pohon pisang itu semuanya berguna. Tangkai daunnya bisa ditekuk-tekut, dibuat mainan kuda-kudaan. Batang pohonnyanya buat nancepin wayang. Antok-nya, jantungnya, bisa dibikin sayur yang enak.

Celoteh Pemusik: “Kalau pelepahnya, Mas?”

SARIMIN:
Pelepahnya? Ya bisa buat mainan plesetan…. Daunnya bisa dipakai buat mbungkus… Atau bisa juga di pakai buat payungan kalau hujan. Bisa buat berteduh….

Berdasarkan ngelmu munyuk ini, pohon pisang sebenarnya mengajarkan kita agar tidak egois. Karena pohon pisang memang bukan pohon yang mementingkan dirinya sendiri. Pohon pisang itu beda dengan… pohon beringin, misalnya. Ini misalnya lho ya… Kalau Pohon beringin itu kan cuman mementingkan dirinya sendiri.

Kalian lihat sendiri kan, pohon beringin itu tumbuh besar, tinggi menjulang, rimbun, tetapi ia menyedot kesuburan pohon-pohon di sekelilingnya…

Celoteh Pemusik: “Ya, tapi kan Pohon Beringin bisa buat berteduh. Kan bayak itu kere-kere yang suka berteduh di bawah Pohon Beringin…”

SARIMIN:
Kalau yang suka berteduh sih bukan cuman kere… Tapi juga keple… lonte…

Makanya, kalau orang yang pinter, pasti ndak mau lagi berteduh di bawah Pohon Beringin. Seperti para Jenderal itu… Kan sekarang banyak Jenderal yang memilih membikin dan membesarkan pohon sendiri… Lebih senang membesarkan Pohon Gelombang Cinta… Seolah-olah mereka merasa masih dicintai rakyat.

Nah, kalau sampai ada Jenderal yang terus ngotot ikut berteduh di bawah Pohon Beringin, pasti agak diragukan kredibilitasnya: ini Jenderal apa lonte…

Membuka-buka halaman kitab itu dengan serius…

SARIMIN:
Makanya kalian mesti belajar ngelmu pisang. Pohon pisang itu selalu membiarkan anak-anaknya tumbuh besar. Sampeyan tahu, pohon pisang itu juga baru mati kalau sudah berbuah. Artinya, hidup kita itu berbuah. Mesti membuahkan kebaikan. Jangan sampai kita mati tapi belum sempat berbuat baik.

Celoteh Pemusik, agak meledek: “Kata siapa…”

SARIMIN:
Lah ya menurut Kitab Bantur Jambul Tangkur Munyuk ini… Kalau kalian baca kitab ini, pasti kalian ngerti ilmu sejati. Ini ilmu tidak main-main. Ilmu filsafat tingkat tinggi. Tidak sembarang orang bisa mempelajari. Otak anak-anak Jurusan Filsafat saja mungkin ndak nyampe kalau mempelajari ini. Frans Magnis Suseno, Mudji Sutrisno, Pak Damardjati Supajar juga ndak level ama ilmu ini. Makanya mesti hati-hati. Karna bisa-bisa nanti kebablasen: begitu mempelajari ilmu sejati ini, langsung ngaku-ngaku jadi Nabi…

Ngelmu munyuk itu ilmu ketauladanan. Mangsud-nya, banyak ketauladanan yang bisa kita pelajari dari monyet. Karena kalau monyet suka pisang, sesungguhnya monyet itu sedang memberi kita tauladan hidup. Makanya, kalau sekarang ini ndak ada tokoh atau pemimpin bangsa yang bisa kita tauladani, kenapa kita ndak meneladani monyet saja? Ya, ndak?

Sementara itu terdengar suara ngorok…

SARIMIN:
Sudah ah, nanti saja lagi saya kasih tahu soal ngelmu munyuk-nya… (Seperti tersadar kalau sudah lama menunggu)… Dari tadi kok ya belum dipanggil-panggil ya….

Suara ngorok itu makin keras terdengar, ternyata datang dari Kantor Pulisi. Tampak ruangan kantor itu sepi, hanya terdengar suara orang tertidur ngorok…

SARIMIN:
Welah, Pulisinya malah ngorok…

Lalu Sarimin menuju meja jaga pulisi itu. Tak tampak pulisi. Hanya terdengar suaranya yang mendengkur keras…

SARIMIN:
Maaf, Pak Pulisi… Saya cuman mau nyerahkan KTP ini kok, Pak… Soalnya saya mesti pulang… Sudah sore….

Mendadak Pulisi itu bangkit, dan langsung sibuk mengetik. Terdengar suara mesik ketik yang langsung sibuk…

(SUARA) POLISI:
(Membentak, sambil terus mengetik) Tunggu saja dulu! Apa tidak liat saya lagi sibuk!

SARIMIN:
I..ya, Pak… Iya… Sibuk kok mendadak…

Pulisi terus terus mengetik, terus sibuk. Sementara Sarimin hanya bisa memandangi dengan tatapan tak berdaya. Merasa marah disepelekan, tetapi tak bisa apa-apa, hanya ngedumel…

SARIMIN:
Ama orang kecil kok ya selalu menyepelekan… Coba kalau ndak pakai seragam, sudah saya plinteng matane…

Sarimin hanya bisa menunggu. Tapi kemudian ia seperti sudah tak bisa menahan untuk kencing…

SARIMIN:
(Kepada penonton) Ee, tolong, nanti kalau Pak Pulisinya nyari, bilang saya kencing dulu ya… Ke toilet bentar.

Sarimin kemudian bergegas hendak ke toilet, tetapi mendadak terdengar bentakan:

(SUARA) POLISI:
Hai! Mau mana?!

SARIMIN:
Mau ke belakang, Pak…

(SUARA) POLISI:
Tunggu saja di situ!… Nanti saya panggil!

Dengan terbungkuk-bungkuk sopan Sarimin akhirnya kembali duduk, tetapi tampak jengkel juga…

SARIMIN:
Gimana sih! Dari tadi cuman nyuruh tungga-tunggu… Mau kencing bentar ajah ndak boleh… Sok kuasa! Sok merasa dibutuhkan! Seneng kalau melihat orang menderita. Begitu kok ngakunya sahabat rakyat…

Sarimin tampak gelisah menahan keinginannya untuk kencing. Pada saat itu terdengar suara monyet yang menjerit-jerit, membuat sarimin gugup dan panik.

SARIMIN:
(Menenangkan monyetnya yang mulai rewel) Sstt! Jangan ribut, toh… Pak Pulisinya kayak buto galak. Nanti kamu dimarahin!

Monyet itu malah bertambah rewel, terus memekik-mekik.

SARIMIN:
(Terus berusaha menenangkan monyetnya) Apa? Haus? Pingin mimi, ya?

Mengambil botol air mineral dari kotak pikulannya, tetapi botol itu ternyata sudah kosong…

SARIMIN:
Wah, habis… Sabar, ya… Ntar minum di rumah saja ya… Cup cup cup… Bentar lagi kita pulang kok…

Tapi monyet itu makin rewel dan ribut…

SARIMIN:
Jadi monyet itu mbok yang sabar… Lama-lama kamu itu ketularan manusia lho! Ndak bisa nahan sabar! Dasar monyet asu!

Monyet itu terus memekik-mekik minta minum. Sarimin bingung. Ia melihat kepada Pulisi yang tampak sudah kembali tertidur bersandar di depan mesin tiknya. Melihat Pulisi yang lelap itu, maka Sarimin pun hati-hati menegendap-endap menuju toilet di bagian belakang…

Tampak silhuet Sarimin yang kencing, dan menadahi air kencingnya dengan botol.

Sarimin kembali muncul dan segera ia mendatangi monyetnya yang masih rewel. Dengan tenang Sarimin meminumkan isi botol itu ke monyetnya…

SARIMIN:
Nih minum… Enak, kan? Dijamin fresh from the batangan. Lagi ndak? Manis, kan? Lah wong saya kecing manis kok… Kalau gini ada untungnya juga lho kena diabet…

Sarimin terus meminumkan isi botol itu pada monyetnya, sampai kemudian monyet itu tampak tenang dan senang…

SARIMIN:
Monyet saya memang rada manja. Kalau sudah kepingin ndak mau ditunda. Paling repot ya kalu pas dia lagi birahi pingin kawin…

Seorang Pemusik nyeletuk bertanya: “Memangnya itu monyet jantan apa betina?”

SARIMIN:
Monyet jantang dong…

Pemusik: “Memangnya gimana sih caranya membedakan monyet jantan dan monyet betina?”

SARIMIN:
(Tampak sebel dengan pertanyaan itu) Ya gampang… Tinggal kamu kawinin. Kalau hamil, berarti monyet itu betina. Gitu saja kok repot! Mas, mbok kalau nanya itu yang cerdas, biar ndak bikin tambah jengkel… Maaf lho ya kalau saya jadi ketus… Kamu kan lihat sendiri, dari tadi saya sebel nunggu, lah kok malah ditanyain yang ndak mutu gitu! Sebel! Sebel! Sebelll!!! Makanya kalian jangan nambahin sebel saya…

Melihat Sarimin marah begitu, para pemusik langsung diam. Suasana jadi tidak enak. Sarimin hanya diam, gelisah, bingung nggak tahu mesti berbuat apa. Sampai kemudian Sarimin mengeluarkan beberapa alat atrasksi topeng monyetnya. Memain-mainkan payung kecil, gerobak kecil, dan lainnya. Mencoba membunuh kegelisahannya. Mencoba menyibukkan diri. Tetapi ia tetap merasa gelisah karena terus menunggu. Lalu ia melihat papan catur di atas kotak peralatannya. Ia mengambil papan catur itu, lalu mengajak para pemusik itu untuk menemaninya main catur…

SARIMIN:
Main catur yuk… Dari pada cuman bengong…

Tapi Para Pemusik tak menanggapi ajakan itu: “Ndak”… “ Mase nesuan, sih!”

Kemudian Sarimin membawa papan catur itu, mencoba mengajak para penonton untuk main catur dengannya,

SARIMIN:
Ayo, main catur yok… Masa segini banyak ndak ada yang pinter main catur? Ada yang jadi penyair, ndak? Biasanya kalau penyair itu pinter main catur… Soalnya job-nya dikit… Jadi banyak waktu luang buat main catur. Ayo, main catur…. Nemenin saya… Mungkin ibu-ibu atau mba-mba… Ayo, Mba…Main catur bareng saya…, dijamin tidak terjadi kehamilan…

Bener nih ndak ada yang mau main catur? Ya sudah kalau ndak mau… Biar saya main sama monyet saya saja…

Lalu Sarimin menata bidak catur itu, berhadap-hadapan dengan monyetnya…

SARIMIN:
Monyet saya ini lumayan cerdas juga kok kalau main catur…. Saya sudah melatihnya main catur sejak dia masih kenyung, masik kecil, masih balibul…

Seorang Pemusik bertanya: “Apa itu balibul?”

SARIMIN:
Bawah lima bulan… Kalau saja saya punya duit, pasti sudah saya sekolahkan di sekolah catur… Biar jadi Grand Master… Ayo, Min, sini, Min…

Kemudian Sarimin pun bermain catur dengan monyetnya. Suara monyet yang riang membuat Sarimin sedikit terhibur. Ia tampak senang bisa bermain catur dengan monyetnya…

SARIMIN:
Ayo cepet jalan…. Kamu duluan… Eh, eh… bentar… kamu putih apa hitam? Ya dah, kamu putih ya… Tapi aku jalan duluan lho ya…

Lalu Sarimin dan monyetnya segera main. Sarimin yang menjalankan bidak catur. Kemudian tampak bidak yang bergerak sendiri, seakan-akan tengah dimainkan oleh monyet itu. Keduanya tampak asyik dan serius.

SARIMIN:
Eeh, lho, kok mentrinya kok kamu makan… Ndak boleh… Monyet dilarang makan mentri… Yang boleh ciak menteri itu cuman mandatarisnya rakyat! Jangan sembrono lho kamu… Ayo ulang… Eh, tapi jangan ngeper gitu dong! Kamu ini kok sukanya ngawur gitu sih!

Sarimin kelihatan jengkel…

SARIMIN:
Curang! Curang kamu! Bubar! Bubar!…

Suara monyet menjerit-jerit sementara Sarimin dengan jengkel menutup papan catur itu dan menaruhnya kembali ke kotak pikulannya. Monyet itu menjerit-jerit marah…

SARIMIN:
Sudah, diam toh! Kok malah kamu yang marah. Mestinya saya jengkel. Sudah malem begini ndak dipanggil-panggil. Ngapain ajah sih tuh Pulisi! (Menengok ke arah Pulisi, yang tampak lelap tertidur) Allaahh, kok ya malah micek!

Sarimin mencoba mendekati Pulisi itu. Begitu sarimin sudah dekat dan hendak menyodorkan KTP, mendadak Pulisi itu bangun dan langsung sibuk mengetik. Suara mesin ketik yang sibuk membuat Sarimin hanya bisa neraik nafas jengkel.

Lalu Sarimin menjahui Pulisi itu. Dan begitu Sarimin sudah jauh, perlahan-lahan Pulisi itu pun kembali tidur, menyandarkan kepelanya ke meja mesin ketik.

Sarimin menengok ke belakang, melihat Pulisi yang kembali tidur. Maka Sarimin pun berbalik kembali mendekati Pulisi itu. Baru saja Sarimin mau mendekat, Pulisi itu langsung jenggirat bangun dan menyibukkan diri dengan mesin ketiknya. Melihat Pulisi itu kembali sibuk mengetik, maka Sarimin kembali merasa jengkel, tak berdaya, dan mencoba kembali menunggu. Dan begitu Sarimin menjauh, tampak Pulisi itu dengan penuh kemenangan tidur kembali…

Begitu seterusnya, setiap kali Sarimin mendekat, langsung saja Pulisi itu langsung bangun sibuk mengetik…

Sampai kemudian Sarimin tampak pasrah menunggu. Ia kini terlihat mengantuk. Menguap. Meregangkan badannya yang pegel karena lama duduk… Sarimin bangkit, hendak mendekati kembali Pulisi itu, tetapi Puisi itu langsung bangun dan membentak:

(SUARA) POLISI:
Tunggu saja di situ!! Nanti saya panggil!!!

Sarimin, yang lelah dan tak tahu mesti berbuat apa, segera kembali duduk menunggu. Ia merebahkan tubuhnya di kursi tunggu itu. Mencoba tidur. Saat itulah sebentang kain perlahan turun, seperti langit malam yang menebarkan kegelapan. Terlihat silhuet Sarimin yang tertidur. Tampak cahaya bulan, malam dengan segala kesedihannya.

Nampak Sarimin yang bangkit, dan dengan setengah mengantuk mendekati Pulisi jaga itu. Tapi kembali Pulisi itu langsung membentak:

(SUARA) POLISI:
Tunggu saja di situ!!

Dengan lunglai Sarimin kembali masuk ke balik tirai, kembali merebahkan tubuhnya. Tampak bayangan Sarimin yang tertidur di bawah redup rembulan.

Kemudian pagi datang, terdengar kokok ayam. Matahari yang cerah bangkit. Sarimin terbangun dari tidurnya, kaget…

SARIMIN:
` Astaga, sudah hari ke 192… Belum dipanggil juga….

Lalu malam kembali datang. Rembulan mengapung kesepian. Sarimin kembali tidur… Musik kesunyian seperti menghantar perubahan hari.

Dan ketika ayam kembali berkokok, matahari muncul, Sarimin pun langsung tergeragap bangun, dan mendapati dirinya masih menunggu…

SARIMIN:
Hari ke 347….

Karena tak juga dipanggil, sarimin pun kembali tidur. Musik yang galau bagai menggambarkan perasaan Sarimin yang gelisah. Cahaya menggelap. 2 Lalu Waktu bagai terus berputar. Di bagian layar belakang, muncul gambaran waktu berabd-abad…

Sementara waktu berubah, Sarimin terus menunggu, memandangi KTP yang entah milik siapa itu…

3.

Mendadak Tukang Cerita muncul dari sisi lain panggung. Pada saat yang bersamaan, silhuet Sarimin pada tirai itu lenyap.3

TUKANG CERITA:
Begitulah, Sarimin dibiarkan menunggu bertahun-tahun…

kembali-jd-tuk-cer.jpg

Sebagai Tukang Cerita saya perlu sedikit mengingatkan, agar Anda jangan terlalu menyalahkan para petugas itu. Jangan sampai Anda punya anggapan: seakan-akan para polisi itu menyepelekan Sarimin.

Sebagai warga negara yang baik dan yang percaya pada integritas dan profesionalitas polisi, kita harus maklum akan banyaknya urusan yang harus diselesaikan para polisi itu. Cobalah sesekali Anda datang ke kantor Polisi. Pasti Anda akan melihat betapa setiap hari polisi-polisi itu selalu tampak sibuk. Sibuk SMS-an… Sibuk ngobrol… Sibuk iseng ngisi TTS… Sibuk menginterogasi penjahat…. Sibuk menangkap bandar narkoba, sekaligus sibuk membagi-bagi barang buktinya…

Apalagi belakangan ini kesibukan Polisi itu makin bertambah… Karena para Polisi itu lumayan repot menahan para koruptor. Asal Anda tahu saja, menangkap koruptor itu pekerjakaan yang paling merepotkan. Karna begitu ada koruptor tertangkap, maka para polisi itu jadi punya kesibukan tambahan: sibuk menyiapkan karpet merah untuk menyambut koruptor itu… Sibuk menyiapkan sel tahanan dengan fasilitas VVIP… Dan yang terpenting: sibuk menegosiasikan pasal-pasal tuntutan yang saling menguntungkan.

Dengan segala macam kesibukan yang bertumpuk-tumpuk seperti itulah, menjadi wajar kalau Sarimin agak sedikit diabaikan.

Tapi untunglah… Untunglah, nasib baik agak sedikit berfihak pada Sarimin. Suatu pagi, ada petugas yang sedang bersih-bersih kantor polisi itu, dan secara tak sengaja melihat Saridin!

Musik tetabuhan transisi mengiringi perubahan Tukang Cerita itu menjadi Polisi. Aktor itu mulai mengenakan kostum untuk peran Polisi.

Dengan iringan musik, Polisi itu menata setting, untuk pergantian adegan. Menata meja kursi, seakan tengah berberes-beres. Musik mengiringi terus mengiringi adegan pergantian ini. Sampai kemudian Polisi itu menarik tirai yang menutupi kursi di mana Sarimin menunggu, seakan-akan ia tengah menarik tirai jendela. Saat tirai itu terangkat, Polisi itu kaget melihat Sarimin di kursi tunggu itu…

POLISI
Astaga! Ini kok ada kere di sini!!

muncul-polisi-dan-boneka-sarimin.jpg

Di kursi itu kini tampak boneka Sarimin, boneka yang secara visual mengingatkan pada sosok Sarimin…

POLISI:
Hai, ngapain kamu di sini?!

SUARA SARIMIN: 4
(Sambil menyodorkan amplop) Aa…nu, Pak.. Mau ngasih ini, Pak Pulisi…

Polisi itu memandang heran pada amplop di tangan Sarimin.

POLISI:
Apa itu? Ooo, kamu mau nyuap saya? Iya?! Oooo, hapa kamu pikir semua Polisi bisa disuap, begitu? (Penuh gaya) Huah ha haha… Maaf ya, Polisi seperti saya pantang menerima suap…. Tidak mungkin. Tidak mungkin… Polisi tidak mungkin mau menerima suap…

Mendadak dengan clingukan Polisi itu tengok kanan kiri melihat-lihat keadaan…

POLISI:
Tapi ya kalau nggak ada yang liat sih ya nggak papa… Berapa tuh isinya?

SUARA SARIMIN:
Ini bukan uang kok , Pak Pulisi… Isinya cuman KTP… Saya mau titip…

POLISI:
(Jengkel) Cuman KTP kok ya dikasihkan saya! Apa kamu nggak ngeliat saya banyak kerjaan… Kok malah ngrepotin mau titip KTP segala!

Dengan ngedumel jengkel Polisi itu akhirnya menerima amplop yang disodorkan Sarimin. Dengan tak terlalu suka Polisi itu memeriksa isi amplop itu. Benar. Isinya KTP. Mula-mula Polisi itu tak terlalu serius membaca KTP itu. Tetapi kemudian tampak tiba-tiba ekspresi Polisi itu langsung kaget. Ia membaca nama di KTP itu dengan teliti.

POLISI:
Astaga! Ini kan KTP Bapak Hakim Agung! Harataya…. Mbelgedes! Kok bisa KTP Bapak Hakim Agung sama kamu? Pasti kamu curi, ya?!

SUARA SARIMIN:
Ti…tidak, Pak Pulisi! Saya nemu di jalan…

POLISI:
Nemu di jalan mana?

SUARA SARIMIN:
Di jalan Taman Lawang, Pak Pulisi…

POLISI:
Edan! Oooo… Ini keterlaluan! Masa KTP Hakim Agung bisa jatuh di Taman Lawang… Tidak mungkin, tidak mungkin! Emangnya Hakim Agung suka keluyuran ke sana! Oooo, apa kamu kira Hakim Agung itu jenis mahasiswa yang nggak bisa bayar…, lalu ninggal KTP! Ooo jelas kamu mau mencemarkan nama baik Hakim Agung!

Ooo ini bener-bener keterlaluan. Tidak bisa dibiarkan! Ayo ikut saya ke kantor!

Musik menghentak, black out. Tembang kecemasan terdengar. Kemudian ketika lampu menerangi panggung, tampak Polisi yang sudah berdiri di dekat meja interogasi, memandang Sarimin yang duduk di kursi, hingga Polisi dan Sarimin berhadap-hadapan.

POLISI:
Nggak usah gemeter begitu! Jawab yang jujur! Nggak usah berbelit-belit! Ngerti?!

Polisi itu (seakan-akan) memasang berkas kertas ke mesin tik di atas meja…

POLISI:
Nama?

SUARA SARIMIN:
Ee… saya biasa dipanggil Sarimin, Pak Pulisi…

POLISI:
(Sambil mengetik) Sa-ri-min… (Lalu kembali menatap tajam Sarimin) Umur?!

SUARA SARIMIN:
Lima puluh empat, Pak Pulisi…

POLISI:
(Sambil mengetik) Li-ma-pu-luh-em-pat… Hmmm… Pekerjaan?!

SUARA SARIMIN:
Tukang topeng monyet keliling, Pak Pulisi…

POLISI:
(Sambil mengetik) Tu-ka-ng… to-pe-ng… mo-nyet… ke-li-li-ng… Sekarang coba kamu jelaskan, bagaimana kamu mencuri KTP ini…

SUARA SARIMIN:
Saya tidak mencuri, Pak Pulisi… Saya nemu KTP itu di jalan…

POLISI:
Saya tanya bagaimana kamu mencuri KTP ini, bukan bagimana kamu nemu KTP ini!

SUARA SARIMIN:
Lho tapi saya memang nemu KTP itu kok… Sumpah! Saya tidak mencuri!

POLISI:
Tidak usah pakai sumpah-sumpahan segala! Saya tahu kok modus operandi orang macam kamu! Pura-pura nemu KTP. Padahal dompetnya kamu copet! Iya tidak?! Pura-pura berbaik hati hendak mengembalikan KTP, padahal minta uang. Mau memeras! Kamu bisa kena pasal…. Sebentar… (mengambil buku KUHP dari sakunya) Hmmm… halaman berapa, ya… Oh ini… Kamu bisa kena pasal 362 dan 368! Pencurian dan pemerasan! Itu berate kamu bisa kena sepuluh tahun! Ngerti!

Sarimin tampak mengangguk-angguk…

POLISI:
Ngerti tidak! Jangan cuman manggut-manggut begitu! Nah, sekali lagi saya tanya baik-baik: kamu nyuri KTP ini kan?

SUARA SARIMIN:
Sumpah, Pak Pulisi… saya nemu di jalan…

Polisi itu mengambil pentungan, memain-mainkannya, memprovosasi Sarimin, sambil terus mencecar,

POLISI:
Nyuri apa nemu?

SUARA SARIMIN:
(Melihat itu Sarimin agak jiper juga) Ne..nemu, Pak Pulisi…

Polisi makin mencecar Sarimin…

POLISI:
Nemu apa nyuri?

SUARA SARIMIN:
Ne…ne..mu…

POLISI:
(Membentak keras, sambil seakan mau menggebug Sarimin) Nemu apa nyuri?!

SUARA SARIMIN:
I..iya.. Pak, Polisi.. Mungkin ada orang lain yang nyuri… Tapi saya cuman nemu kok, Pak Pulisi…

POLISI:
Oooo begitu ya…. Jadi ternyata kamu tidak sendirian. Orang lain yang nyuri. Dan kamu yang pura-pura nemu. Hoo ho hooo…, lumayan cerdik juga kamu, ya! Ho ho ho…kamu ketahuan, nyolong KTP!

Berarti kamu sudah merencanakan semua ini dengan komplotanmu, kan?! Ini kejahatan berkelompok dan terencana. Kamu dan komplotanmu hendak memeras Bapak Hakim Agung, begitu kan? Ooo… Ini namanya kejahatan berkelompok dan terencana!

SUARA SARIMIN:
Sumpah, Pak Pulisi… Saya tidak tahu kalau itu KTP Bapak Hakim Agung…

POLISI:
Mau mungkir, ya! Kamu kan bisa membaca nama di KTP ini…

SUARA SARIMIN:
Sa..ya ti..tidak bisa membaca, Pak Pulisi…

POLISI:
Astaga! OO ho hoho… Kamu bener-bener keterlaluan. Itu namanya menghina pemerintah! Kamu menghina pemerintah! Kamu mau menjelek-jelekkan pemerintah!

Sudah sejak tahun 74 pemerintah memberantas buta huruf! Sudah jelas-jelas pemerintah mengatakan kalau sekarang ini sudah bebas buta huruf! Lho kok kamu berani-beraninya ngaku buta huruf?! Apa kamu mau membuat malu pemerintah?! Mau mengatakan kalau pemerintah bohong, karena masih ada orang yang buta huruf macam kamu! Ooo… kamu bisa kena pasal… (memebuka-buka lagi buku KUHP-nya) Pasal berapa, ya… Kamu maunya kena pasal berapa?! Ooo… ini.., pasal137… Penghinaan pada pemerintah!

SUARA SARIMIN:
Lho, tapi saya memang ndak bisa baca kok, Pak Pulisi…

POLISI:
Sudah, nggak usah berbohong! Saya sudah terlalu sering ngadepin bandit kecil tapi licik macam kamu! Pura-pura kelihatan lugu. Pura-pura bodoh. Pura-pura tidak bisa membaca. Tampangnya sengaja disedih-sedihkan, biar saya kasihan. Biar saya iba, lalu saya bebaskan… (Kepada para pemusik, yang seakan-akan kini adalah juga polisi) Ooo dia kira Polisi macam kita bisa dikibulin… Tukang kibul kok mau dikibulin!

Orang lugu macam kami inilah penjahat yang berbahaya! Karena selalu memakai keluguan sebagai kedok kejahatan…

Kejahatan tetap saja kejahatan. Tidak perduli kamu bisa baca atau tidak.

Polisi itu memperhatikan KTP itu pada Sarimin…

POLISI:
Lihat KTP ini sampai lecek begini, pasti sudah kamu simpan lama ya! Kamu pasti sengaja tidak cepat-cepat mengembalikan! Pasti KTP ini kamu pamerin ke temen-temen copetmu kamu! Pasti statusmu jadi naik di kalangan pencopet karena berhasil mencopet KTP Hakim Agung! Setidaknya kamu ingin dianggap hebat karenasarimin-diinterogasi2.jpg punya KTP Hakim Agung! Biar kamu disangka saudaranya Hakim Agung… Iya, kan?!
SUARA SARIMIN:
Tidak, Pak Pulisi… Sumpah… Wong begitu saya nemu KTP itu, saya langsung lapor ke sini kok… Tapi saya malah disuruh nunggu terus…

Mendengar jawaban itu Polisi langsung marah, dan mau memukul…

POLISI:
Kurang ajar! Apa kamu pingin saya gebugin kayak praja IPDN!…

Para Pemusik mencoba menengangan: “Sabar….sabar….”

POLISI:
Hati-hati kalau bicara! Kamu bisa kena pasal penghinaan pada aparat! Menuduh Polisi tidak cepat tanggap!

Kalau kamu memang bener-bener datang melaporkan soal KTP ini, pasti petugas jaga akan langsung menanggapi. Ooo ho ho… tidak mungkin, tidak mungkin polisi menyepelakan rakyat… Karna Polisi itu sahabat masyarakat!

Polisi itu di mana-mana selalu melindungi rakyat! Yah paling-paling ya ada polisi yang kesasar salah nembak rakyat… Tapi itu kan ya hanya insiden… Insiden yang kadang direncanakan….

Polisi kemudian mengambil berkas kertas di meja mesin tik, sambil menatap tajam pada Sarimin yang terdiam…

POLISI:
Sebagai Polisi, sudah barang tentu, saya pun harus melindungi kamu… Ngerti tidak? Makanya, kamu juga mesti pengertian… Ini, lihat (menyodorkan berkas kerast itu ke hadapan wajah Sarimin)…

Kesalahanmu sudah bertumpuk-tumpuk… Kalau berkas ini saya bawa ke pengadilan, kamu bisa dihukum lebih dari 20 tahun penjara… Bahkan mungkin lebih. Karna kamu mesti berhadapan dengan jaksa dan hakim, yang pasti tidak ssuka dengan kamu!

Asal kamu tahu saja, ya! Jaksa-jaksa itu selalu minta bayaran lebih banyak. Juga hakim-hakim. Sulit sekarang menemukan hakim yang baik. Kalau kamu nggak ada duit, pasti dengan enteng hakim itu kan menjebloskanmu ke penjara!

Kamu nggak ingin masuk penjara, kan? Makanya, kamu nurut sama saya saja. Nanti laporannya saya bikin yang baik-baik. Faham maksud saya?!

Tapi ya kamu tahu sendiri, itu perlu biaya. Ooo ho ho ho…. ini bukannya saya mau minta duit lho ya… Tidak! Saya tidak minta! Saya cuman menyarankan….

Para pemusik ikutan membujuk: “Iya, Min… Sudahlah, Min… Selesaikan saja secata adat ketimuran, Min…”

POLISI:
Tapi ya terserah kamu. Sebagai Polisi yang mengerti perasaat rakyat, ya saya hanya bisa membantu semampu saya. Saya ngerti, kamu tidak terlalu punya duit. Makanya cukup 5 juta saja.. Kalau kamu setuju, bekas ini langsung saya kip, dan kamu boleh pulang…

SUARA SARIMIN:
(Terpana tak percaya) Lima juta?… Saya ya tidak punya uang segitu, Pak Pulisi…

Tampak Polisi itu mencoba sabar dan pengertian,

POLISI:
Ya sudah… Karena kamu punya itikad baik, ya bisa dikurangilah. Tiga juta, gimana?

SUARA SARIMIN:
Maaf, Pak Pulisi… Segitu saya juga ndak punya…

POLISI:
Ooo ho ho ho… Ya, ya sudah…, jangan sedih begitu. Saya kan hanya menawarkan. Kalau kamu masih keberatan ya bisa disesuaikan semampu kamulah… Ngerti kamu?

SUARA SARIMIN:
I..i..iya, Pak Pulisi…

POLISI:
Nah, gimana kalau dua juta!

SUARA SARIMIN:
Maaf, Pak Pulisi… Saya ndak punya…

POLISI:
Kalau satu juta ..

SUARA SARIMIN:
Maaf, Pak Pulisi… Saya ndak punya…

POLISI:
Saya diskon lagi, deh Mumpung masih suasana Lebaran, jadi bisa diobral… Gimana kalau lima ratus ribu…

SUARA SARIMIN:
Maaf, Pak Pulisi… Saya bener-bener ndak punya…

POLISI:
Seratus ribu deh…Ya, ya, seratus ribu! Hitung-hitung buat uang rokok. Oke?

SUARA SARIMIN:
Maaf, Pak Pulisi… Segitu juga saya ndak punya…

Kesabaran Polisi itu rupanya sudah sampai pada batasnya, dan ia langsung meledak marah,

POLISI:
Brengsek! Kamu bener-bener melecehkan saya! Dimana saya taruh harga diri saya alau segitu saja masih kamu tolak!

Memang susah kalau urusan sama orang miskin! Cuman dapat kesel Kalau kamu lebih suka ke pengadilan, silakan! Kamu bisa membusuk di penjara 50 tahun!

SUARA SARIMIN:
(Takjub dan heran tetapi juga tak berdaya) Cuman karna nemu KTP saya dihukum 50 tahun?

Polisi itu berdiri, dingin, tegas dan formal:

POLISI:
Hukum tetap hukum, Saudara Sarimin! Atas nama hukum dan undang-undang, Saudara Sarimin ditahan!

Musik menghentak. Dan lampu langsung menggelap seketika…

4.

Mengalun tembang sedih yang menyayat hati…

Lalu di layar bagian belakang perlahan muncul bayangan jeruji sel penjara. Lalu tampak bayangan Sarimin di balik jeruji sel penjara itu. Sarimin tampak termenung, tak berdaya. Tembang kesedihan terus menyayat kesunyian…

SUARA SARIMIN:
Apa salah saya, Gusti?… Apa salah saya…

Lalu mendadak muncul bayangan monyet Sarimin. Seperti muncul dari dalam mimpi Sarimin, seakan-akan itu ada dalam pikiran Sarimin. Terdengar suara monyet yang memekik-mekik…

SARIMIN:
Min? Sarimin… Itu kamu ya, Min? Lapar, Min?… Prihatin dulu, ya, Min…Banyak berdoa ya, Min… Biar saya cepet bebas. Doa monyet miskin dan teraniaya macam kamu kan biasanya didengar Tuhan, Min…

Bayangan monyet itu terus menjerit-jerit. Dalam bayangan itu pula, sesekali Sarimin mencoba mengusap dan menyentuh monyetnya…

Lagu kesedihan, yang juga terkesan agung menggaung, menjadi latar belakang adegan itu…5

Pak Hakim dan Pak Jaksa

Kapan saya akan di sidang

Sudah tiga bulan lamanya

Belum juga ada panggilan

Saya ingin cepat pulang…

5.

Lalu di penghujung lagu itu, musik berubah menghentak, bergaya hip-hop. Pada saat musik hip hop ini berlangsung, setting pun perlahan-lahan berubah. Bayangan Sarimin di balik jeruji penjara lenyap. Sementara di bagian lain panggung, segera tampak ruang tempat Pengacara.

Muncul Pengacara, tampak riang, dengan gaya genit cosmopolitan yang penuh gaya. Pengacara itu langsung menyuruh musik berhenti:

jadi-bensar-1.jpg

PENGACARA:
Hai, stop! Stop! Bah, kalian ini bener-benar tidak punya rasa keadilan! Ada orang dihukum malah hip-hop hip-hopan begitu! Cem mana pula kalian ini! Tunjukanlah simpati dikit!

Sembari bicara, pengacara itu merapikan diri, mengatur penampilannya. Memakai kalung emas dengan bandul initial namanya yang besar. Merapikan pakaiannya, merapikan gaya rambutnya, menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya… Sehingga tampak kalau ia lebih sibuk dengan dirinya ketimbang dengan apa yang dikatakannya…

PENGACARA:
Kalian itu mestinya prihatin, kenapa di negara hukum begini kok ada orang diperlakuan tidak adil! Ah, emang benar-benar sewenang-wenang Pak Polisi itu. Sebagai pengacara yang punya hati nurani, sudah tentulah aku tak bisa berdiam diri!

Pengacara terus sibuk merapikan diri, sampai kemudian ia seperti tersadar, dan segera bicara kepada penonton:

PENGACARA:
Sebentar…Kalian pasti merasa heran, kenapa pengacara kondang…, pengacara infotaimen macam aku ini, tiba-tiba nongol di lakon beginian.

Seharusnya tadi, Si Tukang Cerita itu, yang memperkenalkan aku lebih dulu. Menjelaskan, apa peran aku dalam lakon ini. Begitulah semestinya…

Tapi kupikir-pikir, kalau si Tukang Cerita itu yang memperkenalkan, nanti diledek-ledeknya pulalah aku ini. Mangkanya, kupikir-pikir lebih baik aku muncul saja langsung. Biar aku sendiri yang memperkenalkan diri.

Dengan penuh gaya menyemprotkan parfum ke lehernya…

PENGACARA:
Nama saya Bensar… Aku yakin kalian sudah tahu, dari mana aku ini. Tapi tak usahlah aku kasih tahu marga aku… Nanti aku kena somasi…

Aku di sini terpanggil karena ingin membela Sarimin. Kasihan kali orang itu. Kemarin aku sudah ketemu dia. Aku langsung jatuh iba. Tergerak hati nuraniku untuk membelanya habis-habisan.

Begitu Abang Bensar datang, Sarimin langsung tenang. Aku sudah jelaskan duduk perkaranya, dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa menyelamatkannya.

Aku bilang pada Sarimin, ”Sarimin, seharusnya kau ini malah merasa beruntung bisa masuk penjara. Susah lho ini masuk penjara… Coba itu kau lihat, banyak kali koruptor yang bermimpi bisa masuk penjara, tapi tak bisa-bisa masuk… makanya kubilang, kau ini benar-benar beruntung. Tidak berbuat salah, tapi masuk penjara. Itu prestasi luar biasa… Makanya Sarimin, tak usahlah kau takut! Ketaktan itu cumian soal pikiran. Kalau pikiranmu takut, maka takutlah kau. Makanya jangan kau berpikir hukum itu menakutkan. Hukum itu menyenangkan. Happy!

Kemudian Pengacara Bensar langsung merapikan bawaannya: tas golf beserta isinya. Ia Tampak riang bernyanyi-nyanyi gaya hip hop:

Happy happy

Hukum itu happy

Hukum itu menyenangkan

Hukum menguntungkan

Karna dengan hukum

Semua kesalahan

Bisa dinegosiasikan…

Hapy happy…

Hukum itu happy…

Sambil terus bernyanyi pengacara itu bergerak sambil mengubah setting panggung. Tampak kemudian sel penjara, di mana seakan-akan Pengacara itu berjalan dari rumah menuju ke sel penjara, tempat Sarimin di tahan. Dan Pengacara itu pun sampai di dekat sel Sarimin…

PENGACARA:
(Masih terus menyanyi) Happy happy…. Semua bisa Happy…

Sampai kemudian nyanyian berhenti. Dengan gayanya yang khas, Pengacara Bensar kembali menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya…

PENGACARA:
Bagimana Sarimin, apakah kamu merasa happy hari ini? Tenanglah, ini Abang Bensar sudah datang. Abang akan negosiasikan semua perkara kau.

Mengerti kau negosiasi?! Ah, sudahlah, tak usah kau berpikir yang berat-berat. Biar aku yang pikir saja gimana baiknya. Percayalah sama Abang…

Apa sih perkara yang tidak bisa abang selesaikan? Artis yang mau cerai…, begitu Abang tangani, dijamin langsung cerai. Terdakwa ilegal logging…, begitu Abang tangani, dijamin bisa langsung bebas kabur ke luar negeri…

Makanya, kau tenang saja di situ… Biar aku urus sebentar sama Pak Polisi. Biar lancar semuanya…

Lalu Pengacara berjalan ke arah belakang, seakan mendekati Polisi yang ada di pengacara-dan-wayang-polisi2.jpgbelakang. Dan Pengacara bensar pun berbicara dengan Polisi, yang tampak bayangannya, berupa wayang…


PENGACARA:
Ah, Apa kabar, Pak… Wah, tambah ganteng saja nih… Mungkin Bapak bisa tolong belikan makan atau minum buat klien saya… Nanti kembaliannya buat Bapak….


(SUARA ) WAYANG POLISI:
Maaf, dilarang membawa makanan dalam penjara!

PENGACARA:
Ah, aneh kali ini Pak Polisi… Kenapa makanan dak boleh masuk penjara? Narkoba saja bisa dibawa masuk ke penjara. Kimbek kali! Ingatlah Pak Polisi…, klien aku itu masih berstatus tersangka. Masih tahanan sementara. Jadi mesti kau hargai hak-hak pidananya.

(SUARA ) WAYANG POLISI:
Semua ada tata tertibnya. Ada peraturannya. Ada etikanya! Sebagai Pengacara, Saudara mestinya tahu itu!

PENGACARA:
Betul-betul aneh ini Polisi! Baru kali ini ada polisi mengajak bertengkar pengacara. Biasanya polisi macam kalian itu kan bertengkarnya sama tentara…

Tampak Pengacara Bensar kesal, dan segera meninggalkan Polisi itu. Ia segera kembali ke dekat sel penjara Sarimin.

PENGACARA:
(Kepada Sarimin) Biarlan nanti aku atur sama komandannya. Polisi emang suka berlagak begitu. Suka akting. Lagaknya kayak Politron… Polisi Sinetron…

Sekarang kau dengar… Biar semua gampang dan cepet beres, aku sarankan agar kau akui saja semuanya. Ini akan jadi kredit point yang bagus, karna kamu akomodatif. Artinya kamu dianggap bersikap baik Kalau kau bersikap baik, pasti nanti hakim akan member kau keringanan hukuman. Jadi, yang penting sekarang ini kau harus mengaku salah…

SUARA SARIMIN:
Mengaku salah bagaimana? Memangnya saya salah apa?

PENGACARA:
Aduuh! Kan tadi aku sudah bilang, tak perlulah kau membantah. Apa kau pikir kalau kau melawan kau akan menang. Jangankan orang kecil macam kau, majalah Time yang besar saja bisa divonis kalah kok! Makanya aku bilang, peluang terbaikmu adalah mengaku salah!

SUARA SARIMIN:
Iya… tapi salah saya apa?

PENGACARA:
Salah kau ya karna kau tidak mengerti kau berbuat salah! Bodoh betul kau ini ya… Kau pikir kau berbuat benar. Padahal kau berbuat salah. Kebenaran itu kadang menyesatkan, Sarimin. Kau bukannya benar, tetapi hanya merasa benar. Orang yang merasa benar itu belum tentu benar. Makanya ketika kau merasa benar, kau justru bisa bersalah. Karna benar, maka kamu salah!

Kau harus fahami betul itu. Makanya aku membantu kau, agar kau tidak tersesat di jalan yang kamu anggap benar itu! Kau mestinya beruntung aku mau jadi pembela kau.

Mendadak terdengar suara bunyi handphone, dengan nada dering yang norak… Pengecara Bensar dengan penuh gaya langsung mengambil handphone dari sakunya,

PENGACARA:
(Bicara di handphone-nya) Hallo sayang…Abang lagi sibuk nih. Lagi ketemu klien.. Sudahlah, kamu chek in dulu lah. Nanti Abang susul, ya…

Lalu mematikan handphone-nya, dan masih dengan penuh gaya bicara kembali pada Sarimin di balik selnya…

PENGACARA:
Maaf, bukannya gaya… Tapi ada klien lain yang mesti aku urus. Yah, maklumlah pengacara laris. Sudah pastilah orang miskin macam kau tak mampu membayar aku. Makanya kau mesti bersyukur, aku mau membela kau!

Aku tahu, banyak suara-suara miring di luar sana. Menganggap akupengacara mata duitan. Malah oleh kolega-koleganya saya sering distilahkan dengan pengacara begundal. Taik kucinglah semua! Pukima!

Sekarang aku mau buktikan, kalau aku juga punya perasaan keadilan. Aku juga mau membela orang lemah macam kau, Sarimin! Aku akan berjuang habis-habisan buat kau! Kalau perlu, nanti akan aku bentuk TPS… Tim Pembela Sarimin!

Memperlihatkan koran pada Sarimin…

PENGACARA:
Kau lihat ini… Kamu jadi berita di koran-koran., karna kau dianggap korban ketidakadilan..

Terlihat koran dengan berita Sarimin yang jadi headline itu kepada para pemusik. Pada saat bersamaan para pemusik segera bernyanyi, menghentak, dengan gaya hip hop yang rampak:

Sarimin jadi berita

Di koran-koran mendadak ia

Jadi ternama

Simbol korban ketidakadilan

Seolah-olah hukum adalah

Alat menindas orang yang lemah…

Seolah-olah tak ada lagi

keadilan di negri ini

Brengsek! Brengsek!

Hukum kita brengsek

Brengsek! Brengsek!

Semua orang bilang

Hukum kita brengsek!

Nyanyian berhenti. Pengacara itu kaget.

PENGACARA:
Apa kau bilang? Hukum kita kita brengsek?? Tidak betul itu! Hukum di negeri ini tidak brengsek… tapi luar biasa brengsek!

Kembali mendekati dan bicara pada Sarimin…

PENGACARA:
Tapi kita tak bolehlah putus asa… Aku yakin aku masih bisa membantumu, Sarimin. Aku jamin, kamu akan mendapat bagian keadilan. Memang kau tak akan menang. Tapi kau akan bangga, karena namamu akan dikenang. Kau akan jadi simbol dari perjuangan menegakkan keadilan. Ini peluang bagus buat kamu, Min… Artinya kalau kau nanti mati, kau tidak akan mati sia-sia!

SUARA SARIMIN:
Saya sudah tua… mati juga tidak apa-apa…

PENGACARA:
Eee, janganlah kau mati begitu saja. Nanti sia-sia aku membela kau!

Dengar ya, Min… Syarat untuk jadi simbol perjuangan, kau harus mati secara dramatis. Pejuang terkadang dikenang bukan karna apa yang telah dilakukannya, tetapi pada bagaimana cara matinya. Semangkin dramatis kematiannya, semangkin hebatlah dia…

Nah, makanya, nati biar aku aturlah sama Polisi itu, bagaimana baiknya cara kau mati. Aku sih kau mati dengan cara yang heroik. Mungkin diracun arsenik. Tapi aku kira itu bukan cara mati yang kreatif. Mesti lebih dramtis dikitlah. Mungkin kau disiksa lebih dulu. Di cabut sati persatu jari kau, lalu dicongkel mata kau… wah, itu kematian yang dramatis, Min! Gimana? Kamu mau kan?

Kalau kau mati dengan cara seperti itu, maka kematian kau itu akan dikenang sebagai korban kekejaman hukum. Namamu akan dijadikan monumen abadi… Itu berarti kau untung, dan aku pun untung. Itu primsip keadilan dalam hukum, Min! Kau untung jadi simbol ketidakadilan, aku pun untung karena jadi pembela korban ketidakadilan…

Pengacara itu nampak begitiu bahagia, memeluk tas golf-nya, mengambil kaca rias dan mengamati wajahnya, merapikan sisiran rambutnya, bahkan ia memupur pipinya dan mengoleskan lips gloss pada bibirnya, sambil terus berbicara…

PENGACARA:
Bayangkan, Min… Aku akan bisa mensejajarkan namaku di barisan para pejuang hukum. Pejuang keadilan! Ini peluang baik buat karier kepengacaraanku. Siapa tahu nanti aku bisa dapat Yap Tiap Him Award…

Makanya, Min, kau harus mengaku salah! Itu namanya kamu dapat karunia kesalahan! Kamu telah dipilih oleh Tuhan untuk menjadi orang yang salah…

SUARA SARIMIN:
(Begitu memelas) Saya ndak ngerti… Omongan sampeyan malah bikin saya bingung…

PENGACARA:
Jangankan kamu, saya sendiri kadang bingung dengan omongan saya kok… Maklumlah, Min, omongan pengacara…

SUARA SARIMIN:
Saya berbuat baik, kok malah disuruh ngaku salah… Menurut Kitab Bantur Jambul Tangkur Munyuk, berbuat baik itu ndak salah kok…

PENGACARA:
Eee, jangan ngacau kau. Bertahun-tahun aku belajar hukum, tidak ada itu…apa kau bilang tadi? Apa? Kitab Bantur Jambul Tangkur Munyuk… Ahh, tidak ada itu kitab hukum macam itu! Ngaco kali kau!

Sudahlah! Kau ngaku salah apa susahnya sih! Bagaimana mungkin aku bisa membela kau kalau kau tidak bersalah.

Lagi pula Pak Polisi itu sudah bilang kau bersalah. Bagaimana mungkin kau masih saja merasa tidak bersalah, kalau Polisi sudang bilang kau bersalah.

SUARA SARIMIN:
Jadi saya harus ngaku salah?

Mendadak terdengar suara bentakan Polisi, bersama menculnya bayangan wayang Polisi…

SUARA POLISI:
Sudah ngaku saja salah. Sudah dibela masih saja ngeyel tak bersalah! PENGACARA:

Tuh, dengar apa kata Pak Polisi… Aku mau membela kau kalau kau mau ngaku bersalah, Min! Pengacara macam aku ini sudah terbiasa membela orang yang salah, nanti aku malah bingung kalau membela orang tidak bersalah. Makanya, kamu mengaku salah saja ya, Min…

Terdengar suara wayang Polisi, membentak Sarimin,

SUARA POLISI:
Kalau kamu ngaku salah, nanti saya atur sama Mas Pengacara…

PENGACARA:
Orang salah ngaku salah itu sudah biasa. orang yang bener tapi mau ngaku salah, itu baru mulia! Makanya kalau kau ngaku salah, kau akan jadi orang mulia!

Kembali suara wayang Polisi, membentak Sarimin,

SUARA POLISI:
Kamu tak punya pilihan, Sarimin! Kamu tidak bisa melawan hukum! Hukum telah menganggapmu bersalah!.. Bersalah!… Bersalah! Bersalah!…

Suara Polisi yang meninggi itu kemudian menjadi gema: “Bersalah! Bersalah! Bersalah!” Makin lama gema suara itu makin membahana, seperti mengepung dan mengurung Sarimin…

Bersamaan dengan itu, lampu perlahan-lahan meredup, menggelap. Hingga yang terdengar hanya gema suara Polisi dan Pengacara yang saling bersahut-sahutan, berulang-ulang, saling tumpuk, dan terus mengepung menggema:

GEMA SUARA PENGACARA:
Kau mesti beruntung karena menjadi orang yang terhukum, Sarimin!

GEMA SUARA POLISI:
Kamu telah menghina Bapak Hakim Agung!

GEMA SUARA PENGACARA:
Kamu telah dipilih Tuhan untuk menjadi orang yang bersalah!

GEMA SUARA POLISI:
Kamu berbahaya karena bersikeras merasa benar!

Bersamaan dengan gema suara-suara itu, di bagian belakang layar muncul bayangan-bayangan yang berlesetan. Bayang-bayang wayang Polisi dan Pengacara, bayang-bayang yang bertumpuk-tumpuk, berkelebatan, kadang bayang-bayang itu membesar dan seakan siap menerkam, bersamaan dengan gema suara yang tumpang tindih dan berulang-ulang:

GEMA SUARA PENGACARA:
Kau harus merasa beruntung karena kau menjadi orang yang terhukum!

GEMA SUARA POLISI:
Kamu telah menghina Bapak Hakim Agung!

GEMA SUARA PENGACARA:
Kamu telah dipilih Tuhan untuk menjadi orang yang bersalah!

GEMA SUARA POLISI:
Kamu berbahaya karena bersikeras merasa benar!

Di antara gema suara yang terus bersahut-sahutan itu terdengar rintihan Sarimin…

SARIMIN:
Ampun… Ampun…

Lalu suara-suara yang bergema itu perlahan menghilang. Ada kesunyian yang membentang. Lalu cahaya yang pucat dan layu bagai membelah kepedihan. Cahya itu menyorot ke Sarimin, yang tampak tak berdaya di balik jeruji sel penjara. Kesunyian yang menekan tampak bagai jaring yang meringkus Sarimin.

Pada layar di bagian belakang, muncul bayangan yang samar, simbolis, semacam Dewi Keadilan, sosok yang menggambarkan kehadiran Hakim Agung…

SARIMIN:
Maafkan saya, Bapak Hakim Agung…

Terdengar sosok Hakim Agung di bayangan layar itu berbicara pada Sarimin. Suara dingin dan datar:

SUARA HAKIM AGUNG:
Kalau saja saya bisa memaafkanmu, Sarimin…

SARIMIN:
Maafkan saya…

SUARA HAKIM AGUNG:
Tapi hukum tidak bisa ditegakkan dengan maaf, Sarimin..

SARIMIN:
(Menghiba) Maafkan saya…

SUARA HAKIM AGUNG:
Kamu jangan salah faham, Sarimin… Bukan saya yang menghukum kamu. Hukumlah yang menghukummu…

SARIMIN:
(Makin menghiba) Ampuni saya…

SUARA HAKIM AGUNG:
Hukum punya jalan keadilan sendiri, Sarimin.

Makin lama Sarimin makin menghiba dan mulai merangkak-rangkak, bersujud di bawak sel penjara…

SARIMIN:
(Makin menghiba tak berdaya) Ampuni saya…

SUARA HAKIM AGUNG:
Tak ada gunanya kamu merasa benar kalau hukum mengganggpmu tidak benar…

SARIMIN:
Maafkan saya… Maafkan saya… Maafkan saya…

SUARA HAKIM AGUNG:
Biarlah hukum yang menentukan, Min… Bukan saya…

Di bagian layar itu pula, muncul bayangan monyet, yang menjerit-jerit, muncul di sela-sela gema suara Hakim Agung

SUARA HAKIM AGUNG:
Bukan kamu… Hanya hukum yang benar…

Kembali terdengar suara monyet memekik-mekik…

SUARA HAKIM AGUNG:
Bukan saya… Bukan kamu…

Sementara Sarimin terus menghiba memohon ampunan…

SARIMIN:
Maafkan saya… Maafkan saya… Maafkan saya… Maafkan saya…

SUARA HAKIM AGUNG:
Ini Negara hukum…. (Terdengar suara monyet)… Ini Negara hukum…. (Terdengar suara monyet)… Ini Negara hukum… (Terdengar suara monyet)…

Suara Hakim Agung terus terdengar bertumpang tindih dengan suara pekikan monyet, sementara Sarimin terus merangkak-angkak, bersujud…

Sampai kemudian Sariin merasa aneh dengan gema suara Hakim Agung dan suara monyet yang bagai mengepung menerornya itu. Sarimin jadi termangu, memandang bingung ke luar penjara saat gema semua suara itu melenyap. Segalanya bagai di ruang hampa…

SARIMIN:
Aneh… Tadi itu suara Hakim Agung atau suara monyet ya?!

Gelap menyergap seketika. Black out!!
SELESAI.

Yogyakarta, 2007

Catatan-catatan tekhnis:

1 Nama ini boleh diganti, dengan nama penonton yang hadir. Penonton yang dikenal sebagai public figure, yang familiar dengan audience.

2 Di sinilah, secara tekhnis, aktor pembantu mulai menempatkan diri di balik tirai. Sementara aktor utama, pelakon monolog ini, bisa mempersiapkan diri mengganti kostum untuk adegan berikutnya.

3 Ini menjadi semacam trick pemanggungan: hingga muncul kejutan, seperti sulap, seakan aktor itu bisa berubah dalam sekejap. Padahal, yang di balik layar tadi adalah pemeran pengganti (yang secara postur dan bentuk tubuh, sama dengan aktor pemeran monolog ini)

4 Pada saat dan selama dialog Sarimin, boneka itu ‘bergerak’ mengikuti dialog. Secara tehknis yang menggerakkan boneka itu bisa crew artistik atau yang membantu. Tapi akan lebih bagus bila yang menggerakkan boneka itu justru aktor pemeran monolog ini sendiri. Di sini, secara tekhnis suara Sarimin juga bisa disuarakan oleh aktor monolog ini secara langsung dengan intoneasi dan karakter suara yang berbeda.

5 Di sini dipilih lagu dangdut “Tembok Derita”. Lagu ini dibawakan dengan gaya agung, bergaya Gregorian, hingga muncul semacam parody dari lagu dangdut itu, sekaligus menjadi gambaran suasana yang anomaly.

BLACK JACK - Benny Yohanes


Monolog
BLACK JACK
Karya Benny Yohanes



DI ATAS PANGGUNG, DUA MEJA BESAR HITAM DISUSUN BERBENTUK ”T”. MEJA YANG MELINTANG LEBIH TINGGI DARI MEJA YANG MEMBUJUR. DI ATAS MEJA YANG MELINTANG TAMPAK BERBAGAI SATWA BUAS YANG DIAWETKAN. MEJA YANG MEMBUJUR TERTUTUP KAIN PUTIH TRANSPARAN.

DIBELAKANG MEJA YANG MELINTANG, DENGAN KETINGGIAN MELEBIHI MEJA DI DEPANNYA, SEBUAH BINGKAI BESI SETINGGI PINTU TERPANCANG. DI DALAM BINGKAI ITU BLACK JACK HAMPIR MENGHABISKAN MAKAN SIANGNYA. BLACK JACK MENJILATI PINGGIRAN PIRING ALUMINIUM DENGAN LIDAH PANJANGNYA. BLACK JACK MENGENAKAN GAUN PANJANG BERLENGAN PANJANG, BERWARNA ABU-ABU KELAM. BIBIR DAN LIDAHNYA TAMPAK SANGAT MERAH. SANGGUL BESAR YANG HITAM DAN ELOK MENGHIASI BELAKANGNYA.

DARI LUAR RUANGAN TERDENGAR SUARA SIRINE MOBIL PASUKAN ANTI HURU-HARA. TERDENGAR SUARA GADUH DEMONSTRAN DARI LUAR. DITEPIS SUARA ANJING MENYALAK. SUARA DEMONSTRAN DARI BALIK SPEAKER GENGGAM BALIK MENIMPAL.

SUARA DEMONSTRAN BERSAHUTAN:

’Kami tolak pengosongan makam!’ Walikota picik. Tak punya hormat. Picik! Makam tak bisa dibongkar!!’ ngerti kau Walikota?!’ ’Makam bukan tanah terlantar. Itu tempat ayah kami. Ibu kami. Sodara-sodara kami. Mereka punya hak tetap di sana!’ ’Kami tolak penggusuran makam’ ’ Kalian PKI. Walikota PKI!’ ’PKI! PKI! PKI! PKI!......’

TERDENGAR SERIAL LETUSAN SENJATA KE UDARA. SUARA TUBUH-TUBUH TIARAP DAN TERSUNGKUR. BLACK JACK MENYALAKAN LAMPU SOROT MENGARAHKAN KE MEJA. ASAP CERUTU DISEMBURKAN KE ATAS MEJA.


BLACK JACK:
Pengosongan makam akan jalan terus. Terus ! katanya rakyat menolak. Siapa bilang? Ada yang bayarin orang-orang itu. Aku tidak akan bilang siapa. Belum saatnya. Nanti mereka popular dong.

BLACK JACK MEMENCET TOMBOL TELEPON SAMBIL MEMBERSIHKAN SILILIT DI GIGINYA. BICARA DENGAN ORANG DISEBERANG TELEPON

Pak Nyoto. Nanti sore tolong antar saya ke dokter hewan Taufik Ismail. Kata dokter Taufik, ada gejala caries.


TELEPON DITUTUP. BLACK JACK BICARA SENDIRI SAMBIL MENGGOSOK GIGINYA DENGAN UJUNG SAPU TANGAN

Caries atau Rabies ? dokter Taufik itu diagnosanya suka mencla-mencle. Begitu itu, kalo dokter hewan terlalu rajin nulis sajak.

BLACK JACK MENGAMBIL SENJATA PEMBURU LARAS PANJANG. MEMBIDIK SASARAN KE ARAH PENONTON. PELATUK DITARIK. TERDENGAR LETUSAN BESAR KE ARAH PENONTON. SUARA ANEKA SATWA YANG SEKARAT TERDENGAR. BLACK JACK TERSENYUM BANGGA

Aku ini seneng plihara hewan. Bukan Cuma sekedar seneng ya. Aku ini ngrasa senasib ama hewan hewan itu. Setiap kali aku ngelus piaraanku, rasanya kok seperti mbaca buku sejarah.

Karena aku suka sejarah, semua tanah kuburan terlantar di kota ini akan dikosongkan! Dewan sudah setuju karena alasannya masuk akal. Pembebasan makam memang bertahap. Paling dulu makam yang di tengah kota. Wartawan-wartawan yang ceriwis suka nyinyir bertanya: setelah kosong rencananya di bangun apartemen?! Hemmh, wartawan sekarang kepalanya curigaan terus. Siapa yang ngasih pelajaran budi-pekerti sama mereka sih?

BLACK JACK MEMBUKA SELUBUNG MEJA YANG MEMBUJUR. TERLIHAT MINIATUR KOMPLEK BANGUNAN MEGAH BERSEGI LIMA

Ini yang saya mau bangun. Wartawan ngerumpi lagi:‘ Wah, Walikota mau bangun sekolah intelejen di tengah kota.‘ Bukan! Bukan sekolah intelejen. Tapi memang ada hubungannya. Di bekas makam ini akan saya bangun asrama, galeri, ruang lab, kantor kearsipan, dan taman bermain.

Untuk siapa? Ini akan jadi Univeritas penelitian setiap jenis hewan liar di dunia. Paling besar dan lengkap di Asia. Woow! Mulut wartawan pada melongo. Saya tahu mereka sinis. Jangan curiga dulu, Pak Rosihan. Ini proyek non komersial.

LAYAR VISUALISASI MENYALA. SELURUH DETIL KOMPLEK BANGUNAN TERLIHAT. BLACK JACK MENERANGKAN DENGAN UJUNG LARAS SENAPANNYA

Bangunan pertama ini asrama. Setiap hewan liar yang sudah masuk asrama, akan dicukur, disuntik anti-virus, divaksinasi, diransum makanan yang sesuai dengan habitat awalnya. Detak jantungnya akan dianalisis setiap akhir pecan. Pakar perilaku hewan dari IPB akan meruntut garis silsilah mereka, sampai Sembilan generasi ke belakang.

PADA LAYAR VISUALISASI NAMPAK SEDERET FOTO PEJABAT PUBLIK YANG TERKENAL

Team sukses saya, ketuanya Sdr. Akbar Witjaksana Ph.D, sekarang ini lagi nyusun seri ensiklopedi satwa, lebih rinci, ilmioah dan bergambar. Alokasi dananya 40 miliar, diambil dari anggaran taktis APBD. Wartawan ribut-ribut soal dana ini. Saya tegaskan ya, ini biaya untuk bikin ensiklopedi. Ini proyek intelektual. Ndak ada yang murah untuk kerja ilmiah. Tak bisa diirit-irit seperti gaya hidup mahasiswa. Apa kita ndak malu sebagai bangsa, kalo team Sdr. Akbar Cuma makan di warteg setiap harinya, padahal bikin temuan-temuan ilmiah yang menguras otak?

DARI LUAR RUANGAN TERDENGAR PIDATO MAHASISWA YANG BERAPI-API. LALU TERDENGAR DERU PANSER, DISUSUL KEPANIKAN DAN LOLONGAN. BLACK JACK MENUJU KE SUDUT RUANGAN YANG BERTIANG. DIA KENCING, DENGAN CARA MENUNGGING SAMBIL MENGANGKAT SEBUAH KAKINYA MENEMPEL KE TIANG. SEMBARI KENCING, BLACK JACK MENGAKTIFKAN TELEPON GENGGAMNYA.

Sobron, kamu masih di lapangan? Ya, begitu. Tidak ada pembicaraan lagi. Pukul! Bungkam! Minta bantuan Brimob. Nyoto sudah transfer dana ke rekeningnya. Kontak Hercules juga. Suruh anak buahnya menyusup. Sobron, saya tunggu darah Cobra itu. Bagus memang untuk Prostate. Heeh, kencing saya makin lancer. Kirim ke kantor, jangan ke rumah dinas. Dua mahasiswa mati? Lumrah. Kamu cepat menyingkir dari lapangan. Wartawan?! Tolak wawancara. Biar si Hercules yang tangani. Sobron, Viagra yang kemaren palsu. Ndak ada efeknya. Siapa yang ngedrop? Anjing..!! Si Fery itu memang maling. Suru Kapolsek tangkap dia. Ndak ada amplop lagi. Kapolsek masih ngutang sama kita.

SUARA KENCING MENGERAS SEPERTI SEMPROTAN BRANWEER. SEJUMLAH CIPRATAN AIR JATUH KE TEMPAT PENONTON. PENONTON MUNGKIN NGEDUMEL, ATAU PINDAH TEMPAT. BAU AMONIAK MENYENGAT.

LAYAR VISUALISASI KINI MEMPERLIHATKAN BANGUNAN SILINDER, TANPA JENDELA, DENGAN UJUNG MENUMPUL DAN SATU PINTU UTAMA YANG LANCIP DAN SEMPIT

Ini bangunan yang menarik. Gagasannya disumbangkan dari kantor Depnakertrans, Pakar arsitektur bersungut, katanya bangunan ini bikin geli dan buruk sirkulasinya. Wartawan Koran kuning bahkan lebih sinis. Katanya ini semacam reinkarnasi Penis.

Tepat, sodara Moamar Emka. Di sini memang bakal jadi ruang Lab, untuk analisis semua jeroan. Di sini kelamin setiap hewan akan diklasifikasi berdasarkan bibit, bobot, dan motif evolusinya. Diteliti cara kerja dan variasidaya penetrasinya. Lalu data iniakan di cross check menurut garis keturunan hewan-hewan itu. Jangan keliru sodara Moamar Emka, istilah cross check bukan monopoli dunia selebriti.

TELEPON BERDERING. BLACK JACK MENEKAN TOMBOL SP-PHONE

Ya, nyoto kenapa? Benar begitu? Shiit! Mobilisir satpol PP. Kontak Kapolda dan Pangdam. Kepung, lalu usir. Cabut dan bakar semua patok-patoknya. LSM gaya apa, begitu? Mosok rakyat dipengaruhi untuk membangun tenda di atas kuburan. Perjuangan semprul. Kuburan itu sudah dibebaskan. Titik! Tidak ada ganti rugi, Nyoto, Ahli waris apa? Kok tega-teganya. Mosok tulang-tulang mau dijadikan obyek transaksi. LSM keblinger. Segera Nyoto. Laksanakan!

MENUTUP TELEPON

Edhan! Kenapa mereka terus saja ngrusui rencana-rencana Walikota. Memangnya kuburan itu milik siapa? Logikanya apa kok kuburan minta ganti rugi. Apa kuburan itu, tulang-tulang itu, barang dagangan? Walikota mau membangun Universitas hewan di atas tanah tidak produktif itu. Ini kerjaan ilmiah. Menampung banyak tenaga kerja. Merekrut banyak ahli-ahli spesialis. Bisa ngasih makan ribuan mulut yang masih hidup. Kok dibilang kejem?

Berpikir maju, dong. Tanah itu hajat orang yang masih hidup. Yang masih perlu ikhtiar. Yang mati sudah punya tempat leluasa di alam baka. Yang mati jangan dipolitisir, jangan diojok-ojok supaya punya nafsu duniawi lagi. Itu rakus dan koruptif.
Kalo pendemo-pendemo itu mau sabar, nanti mereka khan bisa melamar jadi satpam atau cleaning service di Universitas hewan. Mereka akan dapat gaji yang sah. Rencana simpatik begini kok dituduh PKI.

LAYAR VISUALISASI KINI MENAMPILKAN GAMBAR-GAMBAR PERKEMBANGAN ALAT-ALAT GENITAL HEWAN, LENGKAP DENGAN PERIODISASINYA

Tim ahli pimpinan Sdr. Akbar Witjaksana sudah mengabarkan temuan yang menarik. Berdasarkan fakta-fakta erkeologi yang dikaji ulang dari sejumlah hewan maka alat-alat genitalnya makin membonsai.

Tapi pengkerdilan kelamin ini berbanding lurus dengan perlonjakan nafsu membunuhnya. Makin mini ukurannya, makin ganas dan rakuslah kelakuan kewan-kewan itu. Studi cross check jadi sangat penting disini.

Waktu temuan ini dipublikasikan, masih saja ada wartawan yang mudheng lalu dengan sembrono bertanya: Manfaat ilmiahnya apa cross check kelamin begituan? Begini, ya Mas Jiwo Tejo, anda ini khan wartawan yang ngerti tradisi tho?

Ramalan perkembangan kelamin kewan yang di cross check sampai tahap-tahap evolusi mutakhirnya, membikin kita bisa mbaca tradisi membunuh hewan-hewan dari masa ke masa. Analisis cross check juga penting untuk mendeteksi berbagai kelemahan genetic, penyakit bawaan dan gejala penyimpangan orientasi seksual, yang terwariskan dari setiap periode keturunan kewan-kewan itu. Dengan begitu, setiap aspek manipulasi dan inkonsistensi yang disembunyikan oleh sifat-sifat kehewanan akan terbongkar dengan sendirinya. Paham mas Jiwo Tejo?!

TELEPON BERDERING. BLACK JACK TIDAK MENANGGAPI. SUARA DERING TERDENGAR DARI BERBAGAI SUDUT, BAHKAN DARI ARAH PENONTON. BLACK JACK MENGARAHKAN SENAPAN, LALU MENEMBAK KE LANGIT PANGGUNG. GAGANG-GAGANG TELEPON BERJATUHAN DARI LANGIT PANGGUNG. SUARA-SUARA TERDENGAR DARI GAGANG YANG BERJUNTAL. BLACK JACK MELETUSKAN LAGI SENAPANNYA. SUARA-SUARA REDA

Banyak yang curiga, kenapa seorang walikota antusias banget pelajari rahasia kelakuan binatang. Di Koran, saya baca tulisan Mochtar bin Lubis. Dia bilang, masa lalu walikota kurang sedap. Pikirannya dipengaruhi trauma masa kecil. Kabarnya, walikota dibesarkan ibu tiri. Didik bareng hewan piaraan. Shit!!!

BLACK JACK MEMUKUL SOSOK ANJING YANG DIAWETKAN DENGAN GAGANG SENAPANNYA. KEPALA ANJING JATUH KE LANTAI. BLACK JACK MENANGGALKAN GAUN HITAMNYA. TERLENTANG DI LANTAI HANYA MENGENAKAN UNDERWEAR.) MUSIC BOX BERBUNYI. (SEIRING DENGAN DENTINGAN MUSIK, DARI LANGIT PANGGUNG PERLAHAN TURUN FIGUR-FIGUR PIPIH: SOSOK IBU, ANJING-ANJING HERDER, PIRING ALUMINIUM, BOCAH LELAKI YANG MEMAKAI ROK, TANAMAN-TANAMAN BONSAI DAN CERET YANG MENGEPULKAN ASAP. SELURUH BENDA-BENDA PIPIH ITU MEMBENTUK KONFIGURASI YANG MENGEPUNG BLACK JACK.
BLACK JACK MERAPAT DI BELAKANG SOSOK IBU

Aku punya masa lalu yang menyenangkan. Memang. Aku dibesarkan ibu tiri. Wartawan tahu itu semua. Tak ada masalah hidup dengan ibu Fatmawati. Dia wanita gesit, penuh disiplin. Ibu Fatma itu, penyayang binatang yang lembut dan telaten. Kelebihannya yang lain, ibu penggemar fanatic pohon bonsai.

HERDER MENYALAK. BLACK JACK MENGELUSI MONCONG ANJING-ANJING PIPIH ITU

Di rumah kami, ibu memang pelihara empat herder. Masing-masing herder garis keturunannya beda. Tapi mereka tetap di satu kandangkan.

BLACK JACK BERLUTUT DI DEPAN SOSOK BOCAH LELAKI YANG MEMAKAI ROK

Sejak kecil, aku diwajibkan hidup membaur. Tidak pernah menolak apa yang harus kupakai. Ibu Fatma bilang begini:‘Jack, semua yang berbeda, harus diperlakukansama.‘ Ibu sangat teguh pertahankan prinsip itu.


BLACK JACK MENYANGGA PIRING DENGAN KEPALANYA

Setiap hari ibu Fatma slalu masak. Tidak pernah beli di warung, atau pesan catering. Ibu masak tak pernah pakai bumbu. Tangannya dicelupkan ke sayuran yang berair. Lalu masakanpun rampung.

Makanan saya dengan makanan herder-herder itu tak pernah dibedakan. Menu dan porsinya selalu sama. Sesekali, kukira ibu keliru membagikan piring. Piring saya diberikan pada herder, sehingga saya makan pakai piring hewan piaraan ibu. Saya sendiri tak bisa teliti betul membedakannya, karena semua piring di rumah kelihatannya serupa.

BLACK JACK MENJILATI PIRING DENGAN LIDAHNYA

Makanan di piring harus selalu habis, tak boleh ada sisa. Ibu Fatma menunjuk pada herdernya:’Lihat hewan-hewan itu. Piringnya bersih. Lidahnya bisa mencuci, Jack. Mereka adalah mahkliuk yang bisa berterima kasih pada Yang Kuasa. Tiru itu.‘
Di rumah, kami selalu kekurangan air. Akupun belajar mencuci piring dengan lidahku, meniru herder-herder itu. Selai lagi, ibu Fatma ngasih aku nasehat:‘Ega, dunia ini milik semua mahkluk. Kamu tak boleh membeda-bedakan mahkluk. Setiap mahkluk dapat kesempatan dipuji, dihukum juga. Kamu tak bisa minta pujian ibu, sebelum kamu bisa lebih baik dari piaraan ibu. Kamu dengar Ega?! Kamu paham itu, Jack?!!!‘

BLACK JACK MELEPAS SANGGULNYA, LALU DIPAKAI SEBAGAI BANTAL. BLACK JACK MERINGKUK DI ANTARA TANAMAN-TANAMAN BONSAI. SIARAN BERITA TENTANG PASUKAN BAMBU RUNCING YANG BERHASIL MENYERGAP TANGSI BELANDA TERDENGAR DARI SEBUAH RADIO TUA

Suatu hari, waktu Belanda mendarat lagi di Surabaya, ibu pergi ke pasar. Herder-herder kami dilepas di pekarangan belakang. Di pekarangan belakang itu, belasan bonsai kesayangan ibu dipelihara.

Sampai tengah hari, ibu belum pulang. Biasanya kami sudah selesai makan siang pada jam itu. Herder-herder juga biasanya sudah kenyang diransum. Tapi sampai pukul dua, ibu belum muncul juga. Saya dengar di radio, pasukan Belanda bikin rusuh lagi di kota. Agresi kedua. Semua herder melai menggeram-geram. Gelisah, mendengus. Mondar-mandir, lidah menjulur, ekornya dikibas-kibas.

BLACK JACK BERLAKU SEPERTI HERDER

Menjelang senja, hewan-hewan lapar itu mulai mengendus-endus pohon bonsai ibu dengan sungutnya. Kakinya menggaruk-garuk tanah penyangga taneman. Lalu si Herder mulai mengunyah daun-daunnya, rantingnya. Saya coba menggebah. Tapi si Bima, herder jantan paling bongsor, menerkam perut saya. Mencakar paha, mengoyak dengkul saya, lalu menyalak dengan keras. Herder lain ikut memburu. Saya lari menuju pintu belakang.

BLACK JACK MENGGIGIT SANGGULNYA, MERANGKAK MENUJU KAKI MEJA. MATANYA BASAH. TELEPON GENGGAMNYA MENYALA

Ya, Sobron. Ibu-ibu menangis di kuburan. Sudah disiram? Tetap bertahan. Ya, sudah kuduga. Tidak, aku tidak nangis, Sobron. Mana bisa? Sobron, beli nasi bungkus secukupnya. Kasih makan orang-orang itu. Mereka akan jadi hewan kalau terlalu lapar.

BLACK JACK TERDUDUK DI BINGKAI PINTU

Aku nangis. Nahan laper. Perih di perut bekas cakar si Bima.dengkulku terus berdarah. Di radio, aku denger suara Kris Biantoro nyanyi lagu Dhondong apa Salak. Kemana ibu? Katanya Cuma ke pasar.

Anjing-anjing tambah ganas menggunduli daun dan makan abis pohon bonsai ibu. Sesudah merusak, keempatnya bergolek tertib di depan kandang. Rumah gelap tanpa penerangan.

BLACK JACK MENDEKATI POHON BONSAI. MENCOBA MENGGIT GIGIT DAUNNYA. POHON YANG DIGIGIT ITU DI CABUTNYA, LALU DISUSUPKANNYA KE BALIK UNDERWEARNYA

Mulanya aku takut kegelapan. Tapi tidak lagi, setelah kutiru kelakuan herder-herder itu. Aku merasa tubuhku jadi serba tajam. Ada pisau tumbuh di dalam kepalaku.

BLACK JACK MENDEKATI SOSOK BOCAH LELAKI YANG MENGENAKAN ROK. ROK ITU DILEPAS. DARI SELANGKANGAN BOCAH ITU MENYEMBUL PISAU BERKILAT. BLACK JACK MERENGGUT PISAU ITU, LALU MEMOTONG KEPALA BOCAH. BLACK JACK TERTAWA

Hak… hak… hak… kini aku besar. Black Jack sudah besar, bu! Dia tidak takut gelap, bu! Mana gelap? Kusabung kamu!!

BLACK JACK BERGULINGAN, MELOLONG BEBAS, DAN DENGAN GEMBIRA MENEBAS SEMUA SOSOK DI DEPANNYA DENGAN PISAU TERHUNUS. TAK LAMA DIA RUBUH DI DEPAN MEJA YANG MEMBUJUR. TUBUHNYA MENIMPA MINIATUR UNIVERSITAS HEWAN. MINIATUR HANCUR

Ini tidak lama. Daun tak bikin kenyang. Perutku lapar. Aku nangis lagi.

BLACK JACK MEMENCET TOMBOL SP-PHONE

Nyoto, si Bima sudah di ransum? Kasih dobel. Ya! Dobel!
Dan Nyoto, aku akan makam malam di sini.

BLACK JACK MENGENAKAN KAIN PENUTUP MEJA SEBAGAI MANTEL

Ibu Fatma baru datang menjelang subuh, esok harinya. Di tangan ibu, ada selembar bendera yang dijahit tangan. Wajah ibu lusuh dan kusut. Herder-herder menyalak. Ibu merangkuli mereka semua. Si Bima menciumi ibu.

Kasih ibu sepanjang zaman. Diantara kesal, aku gembira. Ibu akan merangkulku juga. Saya masih nangis di kaki meja makan. Rasanya ibu belum denger tangisku. Suara adzan subuh dari mesjid di ujung jalan. Tapi, tiba-tiba.... ibu melolong panjang dari pekarangan belakang. Lalu saya mendengar pintu dapur dibanting dengan hebat. Ibu merebus air. Saya memperkeras tangisan, berharap perhatian. Adzan selesai. Lampu rumah tidak dinyalakan. Sepi sekali di rumah. Matahari sembunyi.

BLACK JACK MENEMPELKAN DADANYA PADA CERET YANG MENGEPULKAN ASAP

Akhirnya, ibu Fatmawati menghampiri saya. Menenteng air yang sudah di jerang. Asapnya bergumpalan. Sepatah kata saja keluar dari mulut ibu:
MANDI!!!!!

GEMA SUARA: MANDI!... MANDI!... MANDI!... MANDI!!!... TERDENGAR PEKAK DI SEANTERO RUANGAN. TUBUH BLACK JACK GEMETAR, LALU DIA MELOLONG HEBAT, DI TIMPALI SUARA GONGGONGAN ANEKA ANJING YANG MEMBURU

Aaaaaaaakkkkhhhhh..........!!!!!!!!!

BLACK JACK MELEPAS UNDERWEARNYA, LALU MEMPERLIHATKAN PUNGGUNGNYA, TAMPAK BEKAS LUKA BAKAR YANG BERAT, BLACK JACK MENGUCAP LIRIH

Air itu... benar-benar mendidih.!!

PADA LAYAR VISUALISASI TAMPAK CLOSE-UP DAGING PUNGGUNG YANG TERBAKAR. KULIT JANGAT TERKELUPAS, DAGING MENTAH YANG MEMUTIH. ASAP MENGEPUL DARI PERMUKAANNYA. BLACK JACK MENGENAKAN KEMBALI GAUN PANJANGNYA

Umur Black Jack baru sembilan tahun, waktu ibu Fatmawati mengguliti punggungnya. Sejak itulah, dari siang ke malam, dari malam ke pagi, dari pagi ke hari, dari hari ke tahun, Black Jack tidak bisa berhenti, menggambar muka-muka anjing. Membaca kisah-kisah anjing. Bermimpi membelah kepala-kepala anjing di kamar mandi. Umur tiga belas tahun, untuk pertama kalinya Black Jack bermain asmara dengan seekor anjing. Umur delapan belas tahun, Black Jack sudah terbiasa makan jeroan anjing.

DENTANG JAM BANDUL TERDENGAR BERAT. DARI BALIK BINGKAI PINTU MUNCUL NYOTO, BERSERAGAM PUTIH, KOPIAH HITAM, KACAMATA HITAM. NYOTO MEMBAWA NAMPAN PERAK BESAR. DI ATAS NAMPAN TERHIDANG JEROAN SEGAR, JEROAN MENTAH BERDARAH

NYOTO:
Makan malam siap, walikota.

BLACK JACK:
Si Bima?


NYOTO MENGANGGUK KHIDMAT. MENARUH NAMPAN DI MEJA, LALU MENGHILANG MENUJU GELAP.
BLACK JACK MENYANTAP MAKAN MALAMNYA DENGAN TANGAN TELANJANG. BIBIR DAN LIDAHNYA MAKIN MERAH.
DARI LUAR RUANGAN TERDENGAR KEMBALI SUARA PARA PENDEMO
:
”Makam tak bisa dibongkar! Dengar kau Walikota? Dengar! Makam ini ayah kami. Ibu kami. Makam bukan tanah terlantar. Makam itu tempat keramat. Kamu Walikota korup. Mau membongkar makam demi uang. Pikiran najis! Walikota tak bermoral! Korup! Walikota antek PKI‘

BLACK JACK TERUS MENYANTAP MAKAN MALAMNYA

Aku sudah membongkar makamku. Menggali kuburan masa laluku. Aku tidak korup sama riwayatku. Itu sebabnya aku terpilih sebagai Walikota. Darimana datangnya korupsi? Mungkin dari punggung pemimpin yang tak kunjung sembuh. Hmm… aku tidak tahu. Aku tidak ngerti tudingan orang-orang itu, yang kulakukan Cuma belajar lebih menyayangi hewan-hewan. Jeroan ini sehat.

SEUNTAI BLUES MENGALUN, BERSAMA GELAP YANG MENYERGAP


Selesai

MAYAT TERHORMAT - Agus Noor dan Indra Tranggono


MAYAT TERHORMAT
Monolog

karya: Agus Noor dan Indra Tranggono

PROLOG:
Selamat malam,…bl a,bla,bla…..(improvisasi)
Sebelum pertunjukan ini dimulai, marilah ada baiknya kita membangun kesepakatan, yaitu hendaknya pertunjukan kita malam ini tidak diganggu bunyi tu-la-lit-tu-la-lit ponsel anda atau pager. Bunyi-bunyi ilegal untuk sementara diharamkan. Maka saya memberi kesempatan kepada anda untuk mengeksplorasi naluri-naluri purba anda: segeralah anda menjadi pembunuh. Bunuhlah pager dan handphone anda ! Ini jauh lebih baik katimbang anda membunuh orang, atau membacok, hanya karena perbedaan visi atau perbedaan pendapat. Kalau nanti ternyata masih tu-la-lit-tu-la-lit, nikmatilah risikonya dipisuhi penonton lain.
Baiklah saudara. Meskipun saya berdiri di sini dengan wajah coreng moreng kayak badut, sesungguhnya saya ini bukan badut. Karena terus terang saja, saya tidak ingin memperbanyak jumlah badut di negeri ini yang dari hari ke hari jumlahnya terus menggelembung. Kita sudah polusi badut, over kuota. Semua posisi sudah diisi oleh orang-orang yang lucu dan menggemaskan, sampai-sampai tukang monolog yang sok nglucu terancam kehilangan sandang pangannya.
Oke, sekarang saya ingin mengajak para penonton yang terhormat untuk sekejap menengok keberadaan mayat-mayat. Tapi saya harap anda jangan membayangkan suasana horor seperti yang sering terlihat dalam sinetron-sinetron misteri di televisi. Kalau horor di televisi itu, tidak menakutkan. Tapi justru malah menggelikan. Tidak membikin bulu kuduk berdiri, tapi malah membikin satu-satunya elemen dalam tubuh saya berdiri. Yah…itulah salah satu kelebihan bangsa kita: terlalu cerdas, sehingga apa pun yang dilakukan seringnya meleset dari sasaran. Mau bikin horor malah menggelikan. Mau mengusut perkara dan menuntaskan kecurangan-kecurangan, ee…hasil yang dicapai malah penundaan-penundaan dan pengampunan.
Nah sekarang, kita mulai saja pertunjukan ini dengan pantun pendek:
Kapal keruk talile kenceng, nyemplung laut dihadang gelombang
Nonton monolog obat puyeng, asal rileks dan dada lapang

BAGIAN PERTAMA
Sebuah sel panggung. Remang dan sayup. terdengar jeruji dipukul monoton. Lalu perlahan sepotong cahaya bagai lembing perak, menghujam tubuh SIWI yang lunglai kepayahan bersandar di jeruji sambil memukul-mukulkan piring seng. Sesekali mengerang, bahkan meraung…
SIWI terus memukul-mukul piring seng. Sampai kemudian muncul suara derap sepatu. Semula pelan, kemudian mengeras dan mengeras. SIWI tergeragap. mendadak piring seng itu berhenti bersuara. menolak dibunyikan. SIWI sekuat tenaga berusaha terus membunyikan piring itu ke jeruji sel. tetapi piring seng itu tertahan diam.
SIWI: (marah kepada piring seng)
Kenapa? Takut? Kamu ini aneh lho, cuma piring seng saja kok langsung gemeter begitu mendengar derap sepatu. Ayo terus bersuara. Bernyanyilah. Karena hanya kamulah satu-satunya sahabat saya di sini. (Siwi mencoba sekuat tenaga menggerakkan piring itu, tetapi piring itu tetap tak bergerak) Dasar piring pengecut! Ingat, eksistensimu ini sudah kuangkat, sehingga kamu tidak sekadar menjadi alat makan, tapi subyek yang bersuara. Kamu punya hak bersuara. Ayo bersuara! (Kembali Siwi berusaha membunyikan piring itu, tetapi tetap tak bisa). Ayo, toh, sebagai perkakas yang nasibnya sudah saya naikkan derajatnya, mestinya kamu harus tunduk kepadaku. Ngerti! (Malah mendadak, piring itu menyerang kepala Siwi) Eit, kok malah menyerang. Oo, tahu saya, pasti kamu sudah kongkalingkong dengan para aparat itu untuk melawan saya, iya kan?! Pasti diam-diam, saat saya tertidur, kamu keluar sel ini kasak-kusuk dengan mereka, dan menyusun rencana supaya tidak loyal lagi padaku. (Piring itu menggeleng)
Sudah jangan mungkir. Di sini, kamulah satu-satunya sahabatku. Saya berteman dengan kamu, karena hanya dengan beginilah saya bisa memelihara akal saya. Menjaga kemampuan saya untuk memelihara harapan, impian. Alangkah konyolnya jika saya sudah tidak mempunyai harapan. Dan lebih konyol lagi, jika saya tidak punya kemampuan untuk memelihara harapan. Jadi, tolong, janganlah sekali-kali kamu membelot, melawanku. Terimalah ketulusan cintaku….. Atau jangan-jangan kamu ingin agar saya “ad interim” kan? Dik Piring, kamu harus bersyukur, karena kamu mempunyai kedudukan yang sejajar denganku. Jangan bertingkah, lu. Saya mutasi jadi kakus, di-beol-in kamu !
Mendadak seperti terdengar lagi langkah kaki — atau entah apa — begitu pelan, seperti bisikan, membuat SIWI menajamkan pendengarannya, mendekatkan telinganya ke piring seng itu. Mendadak piring seng itu meloncat melacang, seperti kaget dan ketakutan.
SIWI : (Berbicara pada piring seng)
Hai, mau ke mana? Jangan tinggalkan aku. Cepat turun sini. Jangan ngambeg gitu….Ada apa? (Piring seng itu masih melayang-layang, bergerak-gerak seperti bicara) Kamu ngomong apa, sih? Ngomong saja terus terang? (Piring seng itu turun mendekati Siwi, nampak berbisik) Ayo toh jangan bisik-bisik begitu. Ah, yang bener! Kamu jangan sembarangan bisik-bisik lho. Atau kamu mau jadi tukang bisik? Semprul! Yang menentukan kamu mau jadi apa itu aku. Nasibmu sepenuhnya di tanganku. Aku bisa saja menjadikanmu terhormat, tapi juga bisa menjadikan kamu sekadar barang rombengan. Begitu saja kok repot. Sini, apa kamu ingin saya jadikan barang rombengan?!(Piring menggeleng).
Makanya, sebagai aparat kamu ini jangan semena-mena, apalagi dengan orang sipil macam aku. (Piring ngambeg, lalu melayang lagi menjauhi Siwi). Lho,lho…jangan kabur….Percayalah, meskipun aku ini sipil yang sedang berkuasa — setidak-tidaknya atas dirimu — aku tidak akan menyakiti kamu, apalagi menculik atau melenyapkan kamu. Aku justru ingin menjadikanmu piring yang mandiri, piring yang merdeka….
Di gertak begitu, piring itu langsung mengkerut, takut. Lalu SIWI berusaha membunyikan piring itu kembali, tetapi mendadak terdengar suara derap sepatu, membuat SIWI ketakutan.
SIWI: (Setelah suara sepatu itu berlalu, ngomong kepada piring seng)
Ternyata kita ini sama-sama penakut, ya. Ternyata ada yang lebih berkuasa daripada saya yang orang sipil ini. Ternyata ada yang lebih aparat daripada aparat macam kamu. Mereka adalah aparat yang hanya bisa membentak, memerintah dan memaksa kita untuk patuh melalui teror dan ketakutan. Ternyata kita ini senasib. Ternyata kita ini sama-sama sipil! Sama-sama rombengan! (Membanting piring seng).
SIWI terpuruk. Musik tipis mengalun. Sel itu kembali ditangkup kesunyian yang menekan. Siwi menggelar tikar. Minum. Suasana kendor….Siwi mengambil kartu, lalu membanting-banting kartu seakan-akan sedang berjudi….
SIWI: (Setengah mengeluh, setengah meracau)
Penjara… Kuburan…. apakah yang membedakan keduanya? Barangkali tak ada. Setiap orang tak ada yang ingin memikirkan keduanya. Berusaha sedapat mungkin tak bersentuhan dengannya. Orang tak ingin berhubungan dengan kuburan, karena selalu mengingatkan pada kematian. Dan orang tak mau berurusan dengan penjara, karena juga sering kali berujung kematian…
Dengan payah, ia berusaha bangkit, kembali menerawang keluar jeruji, memukul-mukul piring seng, kemudian bergerak pelan ke arah bibir panggung, dan suara musik yang sayup perlahan menghilang, bagai angin yang bergerak menjauh…
SIWI: (Kepada penonton)
Anda pasti membayangkan, kalau saya ini tokoh besar. Tokoh oposisi yang ditangkap kemudian dipenjarakan. Ya, setidaknya seorang demonstran militan. Wouw…betapa gagah dan mulianya prasangkaan saudara itu. Semestinya, saya ini harus merawat kesalahpahaman itu sebaik mungkin, agar saya bisa sedikit terhibur. Sehingga diam-diam saya ini bisa merasa bahwa diri saya ini memang orang penting, orang besar yang selalu ditakuti penguasa.
Tapi, sebentar….(Mencermati sosoknya sendiri) Saya kok ya curiga, jangan-jangan saya ini memang orang besar,…. Setidak-tidaknya ada yang besar di dalam diri saya…. Iya lho, jangan-jangan saya ini benar-benar pemberani, militan dan cerdas. (Siwi meminta konfirmasi pada pring yang tergolek di lantai, lalu mematut diri seperti orang bercermin) Iya kan ? Coba lihat, setidaknya saya ini punya potongan sebagai pembangkang.. (Bertanya kepada piring) Pantas kan saya jadi pembangkang ? Soalnya, jadi pembangkang itu ternyata ada enaknya: kalau nasib baik, bisa terpelanting naik jadi penguasa atau setidak-tidaknya jadi petinggi negara. Perkara sesudah jadi penguasa lalu lupa berjuang, itu bukan soal pengkhianatan. Bukan. Itu justru menunjukkan sikap Konsisten untuk selalu tidak konsisten….(Pause)
Tapi celakanya, saya ini cuma seorang juru kunci. Kekuasaan saya cuma sebatas kuburan dan tulang-tulang berserakan. Itupun cuma juru kunci kuburan umum. Tentu, nasib saya akan jauh lebih baik, misalnya, kalau saya ini juru kunci Taman Makam Pahlawan. Sebab, menjadi juru kunci Taman Makam Pahlawan tentu lebih prestisius dan memiliki banyak privilige. Lha ya jelas, lha wong yang diurusi itu jazad para pahlawan.Ingat…p a h a l a w a n (sambil menggelembungkan mulut). Meskipun yang disebut pahlawan itu lebih pada orang-orang yang memegang senapan. Istilah yang digunakan saja beda. Kalau orang bersenapan yang mati maka ia disebut gugur dalam tugas: Gugur satu tum uh seribu, tunai sudah janji bhakti…. Lho mati saja ada lagunya. Coba kalau orang biasa yang mati, paling banter disebut meninggal. Apalagi kalau hanya kere yang mati, maka dengan semena-mena ia disebut tewas atau koit atau bahkan modar. Kok nggak ada ya kere mati disebut gugur dalam tugas. Padahal seorang kere pun pada galibnya juga punya tugas mulia…, karena kemuliaan itu ada ukurannya sendiri-sendiri, tergantung bagaimana kita memaknai kemuliaan itu,…..meskipun ya kebangetan jika tiba-tiba ada kere yang merasa benar-benar mulia. Gila masyarakat kita ini, ternyata masyarakat mayat pun disekat-sekat oleh kelas, tergantung dari status sosialnya. Dan sejarah yang ditulis para pendekar, cenderung menganggap senapan sebagai ukuran kepahlawanan. Bukan pada kecemerlangan otak, ketulusan pengabdian, dan ketegaran integritas dirinya.
Tapi, saya tidak ambil peduli. Meskipun mayat-mayat yang saya urusi tidak dikategorikan sebagai pahlawan, saya toh bangga. Bangga sekaligus terharu, karena mayat-mayat yang saya urus tak pernah mengeluh, meskipun tempat persemayamannya…panas, gerah, sumuk,….Mereka tidak minta AC untuk ruang kuburnya. Sangat berbeda dengan mayat-mayat di kuburan Senayan, baru sekali saja jadi mayat, sudah macem-macem menuntut ini-itu, minta kenaikan gaji…
Akhirnya saya paham. Kalau toh mereka itu tak banyak menuntut ini-itu, barangkali mayat-mayat itu memang sudah lama terdidik dan terbiasa hidup menderita ketika hidup di dunia. Sehingga wajar, misalnya, jika mereka lebih merasa nyaman di kuburan. Karena di dalam kubur mereka tidak pernah mengalami tekanan-tekanan dalam bentuk apa pun. Mayat-mayat yang urus itu begitu santun. Mereka adalah klien-klien saya yang terhormat, meskipun bisa jadi mereka mati tidak dengan cara terhormat. Mungkin saja ada yang terpaksa diseyogyakan untuk mati karena diberi bonus peluru, atau mendapatkan kehormatan dengan dijerat lehernya, atau dipaku kepalanya, diperam dalam kulkas…Dan ada satu mayat perempuan yang membisiki, bahwa ia mati disebabkan kemaluannya dimasuki benda bulat , panjang dan tumpul: selonjor besi. Ya….selonjor besi yang bulat, panjang dan tumpul itu dimasukkan pelan-pelan, kemudian ditekan sekuat tenaga. Sehingga rahimnya hancur, kemudian ia dibuang di sebuah hutan. Saya benar-benar terkesima dengan nasib mayat sahabat saya itu. Mbak, mbak, mbak…wahai mayat yang selalu hadir dalam mimpi burukku, di manakah kamu ? Ceritakan padaku tentang dirimu…
- Apa sih status Anda waktu hidup di dunia?
+ Saya hanyalah seorang buruh…
- Lalu kenapa Anda sampai meninggal?
+ Saya dituduh memimpin demonstrasi kenaikan gaji.
- Bukankah Anda yang bernama….
+ Jangan sebut nama saya. Nama saya telah menjadi hantu yang menakutkan bagi orang-orang yang dengan bangganya menghabisi saya demi perut mereka.
- Tapi nama Anda sudah sangat terkenal. Bahkan menjadi legenda yang cukup menggoncang dunia peradilan…
+ Dunia peradilan hanya terguncang. Namun tak mampu berbuat apa-apa. Nama saya hanya berhenti sebagai fakta, sebagai data yang disimpan dalam berkas-berkas mereka.
- Apakah Anda bisa menyebut nama orang-orang yang melenyapkan Anda?
+ Tidak. Kalau saya sebutkan, mereka pasti akan membunuh saya lagi. Saya takut untuk mati yang kedua kali.
SIWI tersadarkan. Lalu berkata:
Kenapa aku justru dleweran ngurusi persoalan besar yang masih gelap ? Bukankah persoalanku sendiri masih gelap ? Aku sendiri tak pernah tahu, bahwa diriku memiliki kelayakan untuk dikurung seperti ini. Tapi soalnya barangkali bukan layak atau tidak layak untuk dipenjara. Yang jelas, kasus ini butuh korban. Butuh tumbal. Dan aku menolak untuk ditumbalkan !
Besok, kepada interogrator akan saya katakan persoalan yang sesungguhnya. Biar semuanya jelas. (SIWI MENGANTUK) Oalllah…..interograsi, interograsi….Lagi-lagi interograsi…..
Mendadak terdengar derap suara sepatu. SIWI ketakutan. Ia segera bersembunyi dan tidur meringkuk di salah satu ruangan sel.
Musik keras menyapu.
BAGIAN DUA
Ketika SIWI tertidur, setting jeruji penjara berubah menjadi gerbang kuburan yang mendadak terbuka. Terdengar suara deru truk, mengeram dalam kelam. lalu mengendap derap kaki, memasuki kuburan, teriakan-teriakan yang seakan menyembunyikan rahasia, tetapi diucapkan dengan tergesa. Semua menggambarkan suasana pemakaman ratusan mayat, yang serba darurat: cepat dan gawat. SIWI, perlahan-lahan bangun dari tidurnya, tergeragap menyaksikan semua itu. Lalu ia pelan-pelan mengendap dalam gelap. Sampai kemudian suara truk menderu, menjauh.
SIWI: (Mengamati timbunan tanah, sesekali mengoreknya dengan tangannya, gugup….)
Satu.., tiga… sepuluh… Empat ratus….seribu lima ratus….lima ribu…. (Terus menghitung).
Dari malam ke malam semakin banyak saja mayat yang mereka lemparkan ke kuburan terpencil ini. Ini sudah malam yang ke sepuluh atau entah ke berapa. Otak saya jadi malas mengingat, karena begitu seringnya hal ini terjadi. Aneh. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Sepanjang saya jadi penjaga makam, baru kali ini saya mengalami kejadian seaneh ini. Saya memang mendengar kalau saat ini sering terjadi pembunuhan. Jangan-jangan ini bukan sekadar pembunuhan, tapi pembantaian… (Siwi terus bergerak ke sekeliling panggung, mengamati “mayat-mayat” yang terkubur bergelimpangan tak sempurna. Ia terkepung oleh hamparan mayat yang begitu mengenaskan. Berulangkali ia memungut sesuatu dan mengamati “benda” yang ada di tangannya, dan ia selalu kaget terbelalak). Kepala…biji mata….tangan….kaki… Gila…tubuh manusia dicerai berai seenak wudelnya sendiri. Rupanya iblis sudah menjelma pada diri manusia. Perilaku mereka jauh lebih iblistik daripada iblis itu sendiri. (Siwi terus bergerak mengamati “mayat-mayat” yang bergelimpangan. Musik. Siwi menguburkan mayat-mayat dalam suasana yang karikatural, sampai akhirnya terhenti ketika menjumpai mayat perempuan berkuning langsat)
Astaga…saya kenal perempuan ini. Kenapa ia harus mati. Gila…aroma kematiannya masih terasa menyengat, dan dari selangkangnya masih mengalir darah. Sempat-sempatnya pembunuh itu menyempurnakan keiblisannya sehingga hancurlah kehormatan perempuan ini…(Mayat perempuan itu merintih)
“Saya tidak tahu apa kesalahan kami. Tiba-tiba saya lihat puluhan orang datang menyerbu toko kami. Harta benda kami dijarah. Mereka seperti menumpahkan kebencian kepada kami. Papah dan mamah saya disiksa, sementara saya dan cacik saya dijadikan pesta. Keluarga kami dibantai. Toko kami dibakar lalu papah saya dilempar ke dalam lautan api. Juga mamah saya, cacik saya, engkoh saya, dan saya…”
Gila ! Peradaban apa ini ? Bagaimana mungkin nafsu dan kekejaman bisa bekerja sama secara kompak begini? Manajemen kekejaman macam apa yang mereka gunakan? Apakah ini yang disebut kekejaman dengan paradigma baru? (Pause) Paradigma-paradigma ndasmu!
Siwi mengangkat satu persatu mayat itu, dengan perasaan tertahan. Ia berulangkali mau muntah mencium anyir darah. Ia mematung di antara “mayat-mayat”. Cemas.
SIWI : Barangkali kuburan ini tak cukup menampung mayat-mayat tak bernama itu. Ribuan orang mati, serapuh daun rontok ditiup angin. (Pause) Kenapa begitu gampang orang mati? Kenapa begitu ringan orang membunuh, seringan orang mencabuti bulu ketiak?. Mereka tak lagi butuh alasan untuk membunuh. Dan para korban pun dipaksa tak boleh tahu kenapa harus mati. Apakah mereka harus mati hanya karena berbeda warna kulitnya, beda bentuk matanya, berlainan cara bicara dan bahasanya, atau hanya karena tidak sama ketika menyembah Tuhannya. Kenapa untuk semua perbedaan itu, sekarang ini orang harus mati ?
Aneh, begitu banyak orang tak berdosa mati. Sementara orang yang dosanya luar biasa banyaknya malah tidak mati-mati. Ini sangat-sangat tidak fair. Ini sudah kebangeten. (Pause) Saya jadi percaya, maut ternyata tidak bisa bekerja sendirian. Sebab, maut bisa diciptakan. Maut bisa diselenggarakan oleh siapa pun yang berkuasa. Mereka bisa menaburkan maut kapan saja, sehingga udara yang terhisap selalu berbau kematian. Ya…kematian yang bisa di order kapan saja…. (Siwi menyulut rokoknya. Menghembuskan asap kuat-kuat)
(Siwi tiba-tiba tersadar jika dirinya telah ngelantur) Lho, lho….saya ini kan cuma penjaga makam, juru kunci kuburan, kok heroik banget ta ? Seharusnya, saya tak perlu repot-repot memikirkan soal ini. Biarin aja, gitu aja kok repot. Bukankah bagi saya kematian itu sudah menjadi hal biasa. Malah, kalau sehari tak ada orang mati, bagi saya justru aneh. Saya jadi kehilangan peluang. Penghasilan pun berkurang. Jadi mestinya kalau ada orang mati, diam-diam saya bersyukur. Itulah sebabnya, — jangan bilang-bilang ya — setiap hari saya sering berdoa agar Tuhan memperbanyak jumlah angka kematian: Tuhan kirimkan kematian ke kuburan kami, Gusti Allah paringana sripah…
Tapi tentu saja, saya cuma berharap pada kematian yang wajar. Yaitu, orang yang benar-benar mati karena dipanggil Tuhan, bukan karena dimatikan. Lho…jelek-jelek, saya ini penjaga makam yang sedikit tahu etika, tahu fair play, win and win solution, cingcay…. Karena itu pula, di kuburan sini saya tak pernah main kadal-kadalan. Saya ogah melakukan korupsi, habis memang tidak ada yang layak dikorupsi di sini. Apa, bunga? Masih lumayan kalau bunga bank! Apa, kemenyan? Lumayan juga, bisa untuk mut-mutan. Mosok, saya harus rebutan dengan dhemit?
Kalau toh saya harus melakukan tindakan ilegal, paling banter saya cuma menyewakan tempat bagi pasangan yang nggak kuat sewa hotel. Short-time di sini lebih murah..
Nah, lihat, di pojok yang gelap sebelah sana biasanya mereka main. Cukup menggelar koran. Heran saya, apa ya mereka nggak takut ganthet! Tapi ini juga keuntungan sampingan yang cukup lumayan. Di samping dapat uang sewa tempat, sekali-kali saya juga bisa…. mengintip mereka….Jadi setiap malam saya bisa lihat siaran langsung”BF”. Pada awalnya memang seru dan syur. Tapi lama-lama bosen juga. Habis gayanya monoton sih…Mereka kurang berani melakukan terobosan kreatif dan penjelajahan estetik. Terlalu kuno dan konvensional!
Ya, begitulah, saudara-saudara. Ternyata saya tak cuma berurusan dengan mayat, tapi juga dengan bermacam orang dengan beragam watak. Ada yang memang datang untuk ziarah kubur. Tapi ada juga yang datang untuk minta berkah. Itu lho, di tengah-tengah itu, biasanya puluhan orang bertirakat di bawah pohon beringin besar itu. Katanya sih ada yang menunggu pohon beringin itu. Kata orang-orang itu juga, di bawah pohon beringin itu tersimpan harta karun yang luar biasa banyaknya. Pikiran gendheng macam apa ini. Apa ya memang dulu ada raja yang menguras duit negara lalu menyimpannya di bawah akar-akar beringin itu, sehingga harta korupsinya tak terlacak?! Tidak faham saya. Lho percaya kok sama beringin…
BREAK. ISTIRAHAT.
SIWI tersentak. Ia mendengar suara mengerang. Suara itu sesungguhnya sudah mulai terdengar sayup saat siwi masih asyik bicara. Sampai kemudian erangan itu menyadarkan SIWI dan membuatnya segera mencari asal suara. Lalu ia mendapati satu tubuh yang tergolek, kotor dan payah, setengah hidup-setengah mati, tangannya menggapai-gapai minta tolong. segera SIWI membopong tubuh itu, kepayahan menyeretnya ke tempat yang lebih terang. Dengan satu gerakan, SIWI berubah posisi: menggeletak payah dengan tangan menggapai-gapai. siwi berubah peran jadi mayat (seorang mahasiswa)
MAHASISWA: (Mengerang kepayahan)
Tollooonggg….. aduhhhh…aduhhhh…panas….panas…panas (Terus mengerjat-ngerjat)….Tolong….air….air…..kalau ada teh panas juga boleh…..
Dengan satu gerakan mayat itu kembali berubah jadi SIWI: Mencoba menolong dan menenangkan
SIWI: Tenang, Mas… Tenang… Saya Siwi. Ya… S..i..w..i..(Es -ai - double you- ai)! Penjaga makam di sini. Nggak usah takut. Ayo, duduklah. Mau minum lagi? (Siwi bergerak mengambil air minum, kembali, dan meminumkannya pada mahasiswa itu, imajiner) Nah, begitu kan enak. Mas aman di sini.
SIWI berubah jadi mahasiswa
MAHASISWA:
Apakah saya ada di neraka ? Kok panasnya bukan main….Aduhhhh jangan masukkan saya ke neraka…..Jangan….Jangan siksa saya….Jangan potong kemaluan saya. Percayalah….selama hidup jadi mahasiswa, saya selalu menggunakan kemaluan saya untuk hal-hal yang tidak memalukan. Tapi….. kalau toh cuma sesekali….pernah juga….Tapi,…tapi… itu saya lakukan dengan amat sangat terpaksa, karena nggak kuat nagmept. Tapi itu cuma sekali,….she, dua kali….Pertama dengan pacar saya….Kedua, dengan ibu kost saya….Tapi percayalah, dialah yang memaksa saya, sehingga saya pun terpaksa dengan penuh suka rela, memenuhi permintaannya yang penuh paksaan itu….Itupun terpaksa saya lakukan, karena saya mencoba menghargai paksaannya yang memang saya harapkan
SIWI: Anda ini kok malah bikin pengakuan segala…Ehhh Mas…berdosa ya berdosa, tapi jangan jujur-jujur amat. Mestinya Anda ini justru harus berbelit-belit, bahkan kalau perlu bikin segala macam trik, biar pemeriksaannya bisa lebih dramatik. Pakai pura-pura sakit, siapa tahu nanti dikasihani, terus diampuni. Tapi ngapai pakai ngaku-ngaku segala, lha wong situ masih di alam kubur. Belum di alam sono….
MAHASISWA:
Lho,….saya masih di alam kubur ? Pantesan…kok gelap. Trus, anda ini siapa ? Interogrator alam kubur ya ? Aduhhhhhh….jangan periksa saya. Jangan. Saya tidak siap diperiksa. Jangan….jangan ! Jangan cecar saya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit. Jangan….Selama hidup jadi mahasiswa, saya sudah terlalu capek menjawab pertanyaan yang sulit-sulit dari dosen saya, apalagi untuk pertanyaan bersifat esai,….saya malah sering bingung. Kalau you mau bertanya kepada saya, yang gampang-gampang saja ya….chek point saja. Jadi saya tinggal melingkari saja….
SIWI: Saya ini Siwi…..Penjaga kuburan ini. Tenanglah,…anda nggak usah panik. Anda ini belum mati. Ayo diminum lagi….Nah, segar kan ? Nah, duduklah dengan tenang. Ambil nafas dalam-dalam lalu hembuskan pelan-pelan. Tak perlu khawatir,…di sini anda aman.
MAHASISWA: (kembali panik)
Tapi orang-orang bertopeng itu ? Jumlah mereka banyak. Sangat banyak. Lihat ! Lihat ! Mereka berderap-derap kemari. Jangan….jangan siksa saya ! jangan bunuh saya ! Bukan saya penggeraknya. Bukan. Jangan….jangan copot jantung saya….
SIWI:
Jantung ? Bukankah jantung anda masih ada ? Coba….raba dada anda…Nah masih berdenyut kan ? Anda masih hidup
MAHASISWA:
Benarkah saya masih hidup. Kemarin saya merasa sudah mati. Dada saya terasa pecah. Entah oleh apa. Entah oleh siapa. Tapi saya melihat kelebat orang-orang bertopeng itu meringkus saya, membekap saya, mencekik saya…. Tubuh saya berulangkali dibanting, diinjak, diludahi. Dan mendadak ada tangan-tangan berkelebat menghunjamkan belati di dada saya. Ya….. darah segar muncrat. Terus mengalir. Deras. Amat deras. Sampai berliter-liter. Pandangan saya berkunang-kunang. Saya jatuh…terkapar…tak berdaya…. Di dalam kesadaran saya yang timbul tenggelam, saya rasakan mereka menyeret tubuh saya. Terus menyeret sampai jauh. Sampai saya sadar….sampai akhirnya anda menemukan saya di sini…di kuburan sunyi ini…(Pause).
Mas Siwi,…saya berterimakasih karena anda telah menyelamatkan saya. Tapi meski nasibnya cukup beruntung, saya toh tetap sedih. Puluhan, bahkan ratusan teman saya mati mengenaskan di jalan-jalan, di selokan-selokan. Mereka beramai-ramai dibantai, justru ketika mencoba menghentikan pembantaian gila ini. Kami memperjuangkan pikiran waras, tapi orang-orang bertopeng itu menjawabnya dengan nyalak senapan dan gebukan pentungan. Mas Siwi, kita harus menghentikan proyek gila ini !
SIWI:
Kita ? Kita siapa ? bagaimana pun kita ini beda. Anda mahasiswa. Saya cuma juru kunci. Mahasiswa itu masa depannya jelas, bisa lulus sarjana, jadi birokrat, jadi politikus, jadi pengusaha….Sedang juru kunci ? Mau jadi apa ? Juru kunci itu jabatan paripurna. Pol. Mosok, ada juru kunci terpeleset jadi Dirjen Pemakaman…..
MAHASISWA:
Meskipun mas Siwi ini cuma juru kunci, tapi Mas Siwi tahu banyak soal pembantai ini. Mas Siwi mesti berani jadi saksi kunci untuk membongkar kasus ini…
SIWI: (kaget, bahkan setengah takut)
Saksi kunci ? Aduhhhhh…jangan Mas…apalah saya ini. Saya ini cuma teri yang gampang diuntal oleh ikan-ikan kakap
MAHASISWA:
Justru karena kita teri, maka kita harus berani bersaksi, agar ikan-ikan besar itu tidak sewenang-wenang melalap jutaan teri yang lain. Tapi semuanya terserah mas Siwi. Saya cuma menganjurkan….
Dan kelebat bayangan orang-orang bertopeng itu bagai bermunculan dari rimbun kelam. SIWI ketakutan, mencoba sembunyi. Sementara SIWI sendiri langsung pontang-panting menyelamatkan diri. Beberapa saat kemudian, kelebat bayangan “orang-orang bertopeng” itu menghilang. SIWI merasa selamat dari ancaman, meski ia masih juga cemas dan ngos-ngosan.
SIWI: Orang-orang bertopeng itu lagi. Siapakah sebenarnya mereka? Apa hubungan orang-orang bertopeng itu dengan pembantaian demi pembantaian yang kini berkecamuk di mana-mana?! Apakah orang-orang bertopeng itu yang mengirim mayat-mayat ke sini? (SIWI mengamati sekeliling, melangkah hati-hati, takut menginjak mayat-mayat yang bergelimpangan memenuhi kuburan) Bau kematian yang berpusaran memenuhi udara. Apakah mereka tak bisa lebih beradab sedikit dengan memberi penghormatan yang layak bagi mayat-mayat ini? Boleh jadi ketika hidup, mayat-mayat ini memang pencoleng, perusuh, pemberontak — atau apa saja. Tetapi bukan berarti mayat-mayat ini boleh dilempar begitu saja ke kuburan, tanpa penghormatan.
Lalu SIWI bergerak ke satu sudut, mengambil bendera-bendera putih mungil yang terikat pada batang-batang bambu kecil. kemudian mencapkan bendera-bedera putih itu ke tanah, seperti tengah menanam nisan, sambil terus bicara….
SIWI: Aku tak kenal kalian, tapi aku tak bisa membiarkan kalian terkubur tanpa penghormatan. (Menancapkan bendera-bendera putih itu) Anggap saja ini upacara kecil bagi kematian kalian. Semoga saja bisa membuat kalian sedikit terhibur. Aku tak punya banyak dana untuk membiayai upacaya besar bagi penguburan kalian. Aku cuma penjaga kuburan. Maafkan, kalau upacara ini kurang sempurna. Tak ada terompet yang mengringi pemakaman kalian, tak ada tembakan salvo, tak ada liputan televisi, tak ada bunga, tak ada kembang api…. (Terus menanami bendera-bendera putih itu, sampai hampir memenuhi semua sudut kuburan. Sementara itu bagai doa yang mengiringi upacara kecil SIWI, terdengar suara gemeremang, seperti suara-suara orang bertahil. Seperti suara-suara orang berdoa yang menggigil. Begitu gaib. Suara itu menjadi bagian dari upacara penguburan yang tengah dilakukan SIWI). Istirahatlah dengan damai. Tak usah kalian mengutuk mereka yang membantai kalian. Aku tahu, kalian marah dan menyimpan dendam karena kematian kalian yang terasa begini hina. bagikupara pembantai kalianlah yang jauh lebih hina. Siapa pun yang membantai kalian, sungguh luar biasa menjijikkan. Memuakkan! Kukira hanya setan — setidaknya mereka yang bersekutu dengan kekuasaan setan — yang bisa melakkan pembantaian macam ini.. Celakanya, kita tak pernah tahu siapa mereka itu. Ya…bagi mereka…orang-orang macam kalian lain tak lebih dari seekor hama yang selalu dianggap mengancam hasil panen kekuasaan mereka. Padahal mereka tidak pernah menanam. Tidak pernah, kecuali memaksa memeras keringat orang lain untuk bercocok tanam. Mereka tak lebih dari mandor-mandor yang menganggap kekerasan sebagai kebenaran.
Sambil terus menanam bendera-bendera putih kecil itu, dalam benak SIWI berkecamuk kegelisahan bercampur kecemasan. Sampai kemudian terdengar suara tangis bayi yang menyayat-nyayat. Tangi itu mula-mula terdengar sesekali, membuat SIWI menajamkan pendengarannya. Lalu tangin itu menghilang. Siwi kembali menanam bendera-bendera putih itu denga khusyuk. lalu kembali terdengar suara bayi melengking, SIWI mencari sumber suara. Tapi sia-sia. Suara bayi itu selalu mendadak lenyap ketika SIWI mendekat.
SIWI:
Aneh… Jangan-jangan bayi itu anak jin yang dibuang ke kuburan ini. Tapi untuk apa jin itu membuang anaknya sendiri? Dia bukan termasuk mahluk yang tidak bertanggungjawab seperti manusia yang gemar membuang bayi dari hasil hubungan yang tak resmi.
Kembali terdengar suara tangis bayi. Kali ini segera di susul tangis bayi-bayi yang lain.Tangis bayi itu bagai bermunculan dari segala penjuru, menjadi nyanyi keperihan yang berkumandang memenuhi malam. SIWI benar-benar dikepung suara bayi….
SIWI : Saya curiga, suara-suara itu adalah tangis arwah bayi. Saya curiga…… ada begitu banyak bayi dibunuh. Jangan-jangan…..pembantaian tidak hanya menelan korban orang-orang tua…tapi juga bayi-bayi….
SIWI bergerak ke sekeliling panggung. Ia berjalan di antara hamparan mayat-mayat…. sampai kemudian ia terpekik kaget ketika di antara timbunan mayat, ia menemukan puluhan mayat bayi.
SIWI:
Edan!!! Ternyata dugaan saya tidak meleset. Mereka juga membantai bayi-bayi…. Bayi-bayi pun dibunuh tanpa ampun. Bayi-bayi pun dibantai secara beruntun. Rupanya mereka tak ubahnya raksasa yang meramu nyawa bayi menjadi jamu, yang direguk supaya bisa hidup abadi. Gila. Langkah generasi sedang dimatikan. Generasi demi generasi dilenyapkan dari rahim zaman, untuk diganti mesin-mesin yang hanya bisa patuh….
SIWI mencoba mengubur puluhan mayat bayi itu dengan khidmat, sambil menembangkan keperihan…. terkadang ia seperti menimang-nimang….
SIWI : (Menembang)
Di bening matamu kuberkaca
mencari makna duka lara
Di tangismu kudengar nyanyian
adakah itu nyanyian Tuhan….
Tidurlah tidur anak kehidupan
Tidurlah tidur dalam kedamaian….
Sambil terus menembang, Siwi mengubur dan menancapkan bedera-bendera putih itu. Ia tak pernah menyadari, betapa puluhan mata menatapnya dari balik belukar. Sampai kemudian SIWI terkejut, ketika puluhan orang bertopeng telah mengepungnya. SIWI merayap mundur. Orang-orang bertopeng terus mengepung…. Ketika SIWI menyadari bahwa ia tak punya kesempatan untuk meloloskan diri, ia lalu mencoa memberanikan diri untuk menghadapi puluhan orang bertopeng itu. Keberaniannya bangkit, seperti keberanian orang yang sudah tak punya pilihan. Maka SIWI mencoba berdiri tegar, meski tetap saja gemetar. Ia berusaha berkata tegas meski tetap saja cemas. Di puncak kegeramannya ia mengaum:
SIWI :
Barangkali otakku terlalu beku untuk bisa mengurai silang sengkarut persoalan yang membuat begitu banyak orang takut. Atau barangkali aku terlalu gegabah untuk menjamah masalah yang mendadak tumpah ruah. Atau barangkali, aku terlalu nekad, terlalu berani untuk memasuki rimba persoalan yang nggegirisi ini…
Kalau akhirnya kuputuskan untuk bersaksi, bukan karena aku ingin jadi pahlawan. Bukan. Sebab kepahlawanan itu rapuh. Dan kepahlawanan itu dari hari ke hari semakin merosot harganya. Aku bersaksi karena aku sekadar ingin menebus rasa bersalah, dan rasa berdosa saya terhadap mayat-mayat sahabat saya. Sebab selama ini aku lebih banyak diam, lebih banyak bungkam…. Ternyata tidak selama diam itu emas.
Kenapa tragedi kemanusiaan yang jelas dan gamblang, selalu dibuat ngambang ?
Kenapa orang yang sudah jelas bersalah, justru dilindungi dan diberi ampunan ?
Kenapa orang-orang yang jelas menjadi korban justru dinistakan dan diberi hukuman ?
Aku jadi curiga, ada begitu banyak kepentingan sedang dipertahankan.
Aku jadi curiga, ada begitu banyak nama yang hendak diselamatkan demi kehormatan yang dipaksakan. Kehormatan yang dipahatkan dan dijulangkan di antara nisan-nisan tak bernama.
Aku jadi curiga, ada begitu banyak fakta sedang ditenggelamkan.
Aku jadi curiga banyak kisah nestapa, hanya dijadikan cerita yang asyik untuk dopidatokan.
Aku jadi curiga terhadap segala kecurigaan yang dibudidayakan untuk menciptakan ketakutan.
Aku jadi curiga terhadap semua sandiwara yang dimainkan.
Aku jadi curiga, bahwa kecurigaanku pun selalu dicurigai
Aku jadi curiga….
Aku curiga…..
Aku curiga…..
Aku curiga…..
Aku curiga…..
Mendadak ada jaring-jaring besar turun yang memerangkap SIWI. SIWI berjuang keras untuk lolos dari jaring itu. Ia berteriak-teriak marah dan terus bergulat mencoba meloloskan diri dari belitan jaring raksasa itu. Tapi jaring itu ternyata lebih kuat.. Jaring itu terus membungkus, meringkus. Siwi terus saja mengerjat meronta-ronta mencoba membebaskan diri. Teriakannya kian lama kian melemah. tenaganya terkuras, lantas perlahan lemas. Lampu perlahan meredup.Kemudian terdengar sayup suara jeruji dipukuli, seperti bagian awal. Dentang itu perlahan mengeras, dan mengeras. Sampai panggung menggelap. Dan yang tersisa hanya cahaya yang bagai lembing perak menimpa kisi-kisi jeruji. Sementara dentang jeruji dipukuli masih sesekali terdengar….
.
Bantul 26 Februari 2000

Dimainkan Butet Kartaredjasa
Pemandu Pengolah Gagasan: Adi Wicaksono
Supervisi Penyutradaraan: Jujuk Prabowo
Penata Musik: Djaduk Ferianto
Pemusik: Djaduk, Indra Gunawan, Jono, Koco, Margiyono, Vievien
Dimainkan pertama kali di Graha Bakti Budaya, TIM, 27 s/29 Maret 2000, dan di Purna Budaya Yogyakarta, 7 & 8 April 2000.